Di suatu malam yang senyap pada Juni 1987, saya terbangun karena
sesuatu. Mulanya saya pikir itu mimpi tetapi… tidak! Saya bangkit dari tempat tidur untuk
memeriksa, apakah tv masih menyala. Tidak….semua senyap.
Saya masuk ke kamar
anak-anak. Mungkin salah satu dari keempat anak saya menjadi iseng dan menyalakan
tape. Namun semuanya tidur. Kecuali Jeriel putera bungsu kami yang baru berusia
2 tahun. Ia sedang duduk menatap langit dari balik jendela kaca,
“Eh apa yang sedang kau lakukan Jeriel?” Tanya saya.
Ia memalingkan wajah ke
arah saya. Matanya bulat lucu menatap heran.
“Mami…nyanyian..”. Saya usap rambutnya yang ikal dan ikut-ikutan
menatap keluar jendela. Hitam… pekat.
“Ya, mami juga mendengarnya sayang. Dan sekarang bobo lagi ya….”
Saya menggendong tubuhnya dan meletakkannya di tempat tidur. Hati
saya berdebar-debar. Ada apa ini?
Di ruang tidur kami, saya bengunkan suami. Ia
membuka mata denagn susah payah dan menggelengkan dua kali ketika saya bertanya
apakah ia mendengar suara musik. Kemudian suami saya mendengkur kembali. Musik
yang indah itu terus mendayu-dayu. Kemudian secara mendadak berhenti. Sebuah
suara dengan nada tinggi bersuara indah sekali. Seolah-olah datang dari kebun,
bergetar di atas kolam renang yang ada di halaman belakang. Saya bisa mendengar
kata-katanya dengan sangat jelas:
“Dalam setiap perkara, pujilah Dia.
Tiap hari, pujilah Dia.
Hanya Dia yang layak, menerima pujian,
Meskipun kesakitan datang menerjang,
Tetap nyatakan, Dialah Tuhan,
Dan berikanlah bagiNya pujian….”
Keesokan harinya mentari bersinar dengan terang. Suami saya pergi ke
tempat pekerjaannya, dan saya hilangkan pikiran tentang musik tengah malam.
Tatkala saya asyik di dapur, Jeriel tiba-tiba bertanya : “Mami, siapa yang
bernyanyi?”
Saya menahan napas. Saya tidak bermimpi. Suara
itu, seperti suara malaikat, saya kira.
Tapi….masa iya?...Dan kalau itu suara
malaikat..apa artinya?
Aneh, sungguh aneh.
Dua bulan kemudian, Rabu tanggal 19 Agustus, Jeriel sangat
aktif. Ia melupakan tidur siangnya dan memanjat-manjat sofa saya sepanjang
siang. Saya ingin tidur siang tatkala Jeriel naik ke atas tempat tidur.
“Mami,..main”. Ajaknya kepada saya. Saya tunjuk matanya dan berkata :
“Mata..mata…” Kemudian mulutnya, pipinya, dan hidungnya. Anak itu pun tertawa
tebahak-bahak, lalu saya menutup permainan ini dengan kata-kata : “Mama sayang
Jeriel, Yesus sayang Jeriel!” Ia lalu mengecup saya dan berkata : “Jeriel
sayang mami dan Jeriel Yesus sayang mami.”
Ia duduk dengan
rileks, kemudian menunjuk sebuah gambar yang saya gantung di dinding.
“Mami, itu Yesus!”
Hati saya bergetar. Berbulan-bulan saya mengajarkan siapa itu
Yesus dan sekarang dia menunjuk gambarNya. Petang itu Jeriel menjadi pusat
perhatian. Semua saudaranya yang berkumpul tertawa bersama dia. Mereka
merencanakan untuk pergi berenang di halaman, dan karena saya merasa kurang
enak badan, suami saya mengatakan akan mengawasi anak-anak tatkala saya tidur
sejenak.
Saya membaringkan diri di sofa dan dalam sekejap saya tertidur.
Tiba-tiba saya bangun. “Mamie, Jeriel jatuh di kolam.” Itulah puteri saya yang
berusia 6 tahun. Matanya penuh dengan takut. Saya melompat dan segera berlari
ke sana. Di tepi kolam, suami saya sedang membungkuk di atasnya memberikan
pertolongan pertama pada kecelakaan berupa pernafasan buatan. “panggil
Ambulans”, teriaknya. Dalam sekejap sebuah Ambulans melarikan Jeriel ke rumah
sakit.
Anak-anak yang lain
menangis keras-keras.
“Jeriel mati, Jeriel mati.” Puteri sulung saya terisak-isak,
“saya tidak mau Jeriel mati.” Saya mencoba menenangkan mereka. “Jeriel ada
dalam tangan Tuhan. Kita harus mempercayakan semua kepadaNya. Sekarang
berdoalah, agar Jeriel sembuh kembali. Kita satu keluarga dan harus bersatu
dalam Yesus, tidak peduli apapun yang terjadi.” Setelah menitipkan anak-anak
kepada tetangga, saya lalu ke rumah sakit.
Bersama suami, saya
menunggu di lobi rumah sakit. Dengan terbata-bata suami saya mengisahkan bahwa
ia pergi ke gudang sebentar saja untuk mengambil mainan.
Dalam waktu singkat Jeriel berlari menuju kolam dan tercebur di
sana. Ketika dokter muncul, wajahnya kelabu. “Kita berhasil membuat jantungnya
berdetak lemah, tapi ingat mungkin ada kerusakan otak.”
“Saya tidak peduli,” Kata saya, “Saya ingin bayi saya hidup.”
Akhirnya dokter tersebut mengijinkan kami melihat Jeriel. Ia berada di ruang
khusus dengan macam-macam mesin yang berdesah-desah. Saya mengusap rambutnya
yang ikal. Matanya tertutup. Betapa kecilnya dan betapa tak berdayanya dia di
sana. Dokter kemudian memutuskan untuk memindahkan Jeriel ke rumah sakit pusat
anak-anak yang memiliki fasilitas lebih baik.
Di rumah sakit yang
besar itu saya merasa sedang berada dalam mimpi buruk. “Tuhan, tolong sadarkan
saya, dan biarlah ini hanya merupakan mimpi buruk saja…”
Dokter di sana kemudian menemui kami. “Putera anda berada dalam
keadaan koma yang amat dalam. Otaknya kekurangan oksigen untuk waktu yang lama.
Kelihatannya rusak.”
Suami saya dan saya berpegangan tangan dan berdoa. Kawan-kawan
mulai muncul satu-persatu dan berdoa bersama… Saya merasakan kehadiran Roh
Kudus di sekitar kami. Dokter memberikan vonisnya bahwa Jeriel mati 90 %. Ia
masih hidup dalam arti bernafas karena bantuan mesin pernafasan dan mesin
jantung yang mengikhtiarkan ia hidup secara semu. Berapa lama? Ilmu pengetahuan
tidak tahu! Saya mulai menangis lagi. Seorang sahabat memeluk saya dan berkata
lembut : “Kau harus menyerahkan puteramu kepada Yesus.”
Petang itu saya
berlutut di samping Jeriel. Dengan tangan saya menggenggam tangannya. Tuhan
bisa menyembuhkan Jeriel. Saya seolah merasa tangan Jeriel bergerak. Hati saya
melonjak! Tapi laporan yang masuk makin lama makin buruk. Hari Minggu, empat
hari sesudah Jeriel berada dalam keadaan koma yang dalam, dokter menyarankan
untuk mencabut alat-alat yang menunjangnya untuk hidup terus.
“Kasihan anak ini tersiksa. Sebaiknya kita biarkan dia pergi.
Namun kehendak anda berdua tetap menjadi kata terakhir.” Dokter kelihatannya
bicara hati-hati.
Suami saya berpikir untuk setuju dengan dokter namun saya
menentangnya habis-habisan. Malam itu saya tinggal lagi di rumah sakit,
ditemani seorang teman baik saya bernama Rachel. Saya tertidur kelelahan. Namun
saya bermimpi bangkit dari sofa itu dan berjalan masuk ke kamar Jeriel.
Tubuhnya dihiasi bermacam-macam selang dan jarum beraneka warna. Saya berlutut
di sampingnya dan berbisik lembut di telinganya : “Jeriel, sayangnya mami….”
Kata saya pelan. “Papi dan mami senantiasa mengajar Jeriel untuk dengar-dengaran. Mami selalu mengajar
kalau di atas segala-galanya ada Tuhan yang maha kuasa. Kalau Dia memanggil
Jeriel, kau juga harus dengar-dengaran kepadaNya.”
Saya gendong anak
saya, dan tiba-tiba semua selang dan jarum berguguran. Saya dekap tubuhnya yang
lemah tidak berdaya sambil menangis tersedih-sedih. Kemudian seseorang
memanggil nama saya, saya menengok. Itu Yesus! Sinar mataNya sangat penuh rasa
iba. “sembuhkan dia ya Tuhan…” Jauh dalam hati saya memohon. Namun saya tahu
jawaban yang ada.
Kemudian saya sambung, “Tatkala anak ini lahir, kami
menyerahkannya kepadaMu Tuhan. Anak ini milik Tuhan. Saya selalu berdoa agar
kehendak Tuhan yang jadi…”
Ia tersenyum : “AnakKu, Aku mengasihimu dan akan memberikan
kekuatan bagimu.”
Saya dekap Jeriel dengan keras, kemudian saya letakkan Jeriel di
bawah kaki Tuhan. Kemudian saya mundur, tatkala Yesus mengangkat tubuh Jeriel,
dalam sekejap Jeriel bangkit. Ia menatap Yesus kemudian tersenyum lebar dan
berkata : “Halo Yesus, Tuhan Yesus mendorong Jeriel kepada saya, dan kami
memainkan permainan yang biasa kami lakukan. Saya sentuh hidungnya, telinganya,
pipinya, mulutnya dan mengakhirinya dengan kata-kata yang biasa : “Mami sayang
Jeriel, Yesus sayang Jeriel!”
Ia mencium saya dan berkata : “Jeriel sayang mami, dan Yesus
sayang mami.” Kemudian Tuhan Yesus menggendong Jeriel dan membawanya keluar
ruangan. Tuhan mengisyaratkan saya untuk ikut. Kami kemudian berjalan lewat
koridor rumah sakit yang gelap, melalui ruang penerima tamu langsung ke pintu
muka. Di sana kami berhenti.
Saya melihat sebuah bukit yang dipenuhi rumput hijau dan langit
yang bening serta bersih. Saya menunggu dibalik pintu, menatap Tuhan Yesus
meletakkan Jeriel di tanah. Dalam sekejap anak itu berlari menaiki bukit hijau kemudian berhenti untuk memetik
sekuntum bunga.
Ia menghitung tajuk
bunga tersebut : “Satu, dua, tiga, sembilan!” Dia belum bisa berhitung.
“lihat”, Kata Yesus kepada saya, “Ia hidup, semua yang berada dalam
pemeliharaanKu hidup dan tumbuh…” Kemudian Yesus berjalan bersama Jeriel menapak bukit. Sekali Jeriel menengok ke
belakang dan berkata : “Mami, Jeriel sayang mami.” Kemudian mereka lenyap….
Keesokan harinya saya
terjaga dan segera dihujani pertanyaan oleh Rachel. “Tahukah kamu, bahwa kamu
berjalan saat kau tidur?” Ia kemudian bercerita kalau saya berjalan waktu tidur
menuju lobi depan lewat koridor.
“Masa?” Tanya saya tak percaya.
“Ya, dan jalannya lurus.” Maksud Rachel, saya tidak bertabrakan
dengan tembok atau benda lain. “Lihat”, Katanya menunjuk sepatu saya yang
terpakai dalam keadaan tertukar padahal saat tidur saya melepasnya.
Seorang suster yang dari tadi berdiri di samping menimpali :
“Saya harap saya tidak mengganggu anda, tatkala anda berada dalam kamar Jeriel
dan berdoa.”
Saya tercengang, saya pikir ini semua mimpi…tapi…ini kenyataan.
Dua bulan yang lalu
saya juga “bermimpi” mendengar suara malaikat dan musik. Tapi musik itu sungguh
ada dan Jeriel juga mendengarnya. Mengapa? Melihat ke belakang saya kini
mengerti, kalau Tuhan mempersiapkan saya saat itu. Tapi semalam? Saya segera
berdiri dan menuju ke kamar Jeriel, setengah berharap menemukan tempat tidurnya
kosong. Tetapi ia masih terbaring di sana dipenuhi jarum-jarum dan selang.
Mesin-mesin masih
berdesis tetapi ada sesuatu yang berubah. Tatkala saya perhatikan, saya seolah
berkeyakinan bahwa Jeriel yang terbaring di sini bukan lagi Jeriel yang dahulu
saya kenal. Sesuatu telah berubah. Kemudian saya mengerti, Jeriel sudah pergi,
hanya tubuhnya yang ada di sini.
Semuanya berjalan lebih mudah sejak saat itu. Saya segera
berkeyakinan untuk tidak berkeras mempertahankan mesin-mesin itu bekerja terus
untuk anak saya. Saya telah merelakannya. Namun suami saya dan saya tidak perlu
mengambil keputusan itu. 48 Jam kemudian jantung Jeriel berhenti berdenyut
dengan sendirinya dan untuk pertama kalinya sesudah kecelakaan itu, bibirnya
tersenyum.
Ditulis oleh ibu kandung Jeriel,
Nyonya M. Yates.
Guideposts, February 1989

No comments:
Post a Comment