YESUS DALAM BANGSA
AMERIKA LATIN

“Penderitaan Kristus,
Tuhan, tercermin pada wqjah-wqjah rakyat yang menderita karena penindasan”
(Puebla).
Kali ini membahas
bagaimana “Kristus Spanyol” diserahkan kepada Amerika Latin mulai dari
Christophorus Columbus dan Francisco Pizarro. Berhadapan dengan itu Kristus
digambarkan sebagai “Pembebas” yang adalah ciptaan para teolog pembebasan
sebagai reaksi terhadap “Kristus Spanyol itu” (Leonardo Boff, Jon Sobrino
demikian juga Everardo Ramirez Toro).
Adalah sangat penting
untuk menyadari, bahwa petualanganpetualangan yang dilakukan orang-orang
Portugis dan Spanyol sejak abad ke-15 itu, bertepatan dengan perebutan kembali
atau reconquista seluruh semenanjung Iberia. Sejak berabad-abad telah
teijadi di Spanyol, al-Andalus bagi orang Muslim, suatu kehidupan masyarakat
yang semakin berkembang - simbiose' - antara orang Yahudi, Kristen dan Muslim.
Dalam tahun 1492, dengan
jatuhnya Granada, lengkaplah perebutan kembali Spanyol dari tangan orang-orang
Moro. Peristiwa ini menandai berakhirnya kuasa Islam di semenanjung Iberia.
Selama periode “reconquista” yang berselang berabad-abad tidak hanya
orang-orang Muslim yang diusir dari wilayah itu, tetapi juga orang Yahudi. Dari
Spanyol yang “paling Kristen”, di bawah pemerintahan Ferdinand dan Isabella,
ada sekitar 150.000 orang Yahudi “dikeluarkan”.2 Banyak dari
golongan yang terakhir ini mencari perlindungan pada wilayah Islam di Afrika
Utara dan bagian-bagian lain dari dunia Arab sebelah Timur. Maimonides, ahli
filsafat Yahudi terkenal yang berasal dari Cordoba, akhirnya meninggal di
Fosfat dekat Kairo, Mesir dalam tahun 1204. Christophorus (“Penjunjung
Kristus”) Columbus.
Berakhirnya “reconquista”
dalam tahun 1492 bertepatan dengan “penemuan” Amerika oleh Christophorus
Columbus, orang Genoa itu, bukanlah suatu hal yang kebetulan terjadi. Orang
orang seperti Columbus melakukan petualangan-petualangan seperti ini,
digerakkan oleh suatu kombinasi dari “nafsu untuk mengejar keuntungan dan
kesalehan”3, dengan bertekanan pada urutan yang seperti ini. “Don
Quixote rohani dan Sancho Pancha materialis itu naik kapal dengan tujuan
'Hindia'. Akan tetapi sanak saudara dari yang terakhir jauh lebih banyak dari
yang pertama”.4 Salah satu penyebab yang mendorong orang untuk
memprakarsai usaha seperti itu adalah suatu pengetahuan yang pada saat itu
belum lama ditemukan, yakni bahwa bumi bukan berbentuk dataran yang ceper,
melainkan berbentuk bulat, sehingga dapat dikelilingi dengan kapal. Apapun
motivasi tambahannya (mungkin sematamata hanya hasrat untuk bertualang saja),
tetapi keinginan dasariah “mengelilingi” dunia Islam. Dengan cara demikian
mereka ingin merebut rintangan dari dunia Islam yang telah begitu lama
diperangi di berbagai front.
Terdapat suatu legenda
mengenai seorang imam Johannes, seorang raja Kristen yang konon tinggal di
“seberang” dunia Islam. Legenda ini memainkan peran yang penting sepanjang Abad
Pertengahan. Kalau orang-orang Kristen dapat mengikat peijanjian persekutuan
dengan dia, maka inereka bersama-sama mampu mengalahkan orang-orang Muslim, dan
dengan demikian masih dapat merealisirkan tujuan asli dari Penang Salib.5
Tentang Columbus dikatakan, bahwa ia sadar akan anti nama depannya,
Christophorus, yakni “Penjunjung Kristus”.
Seiring dengan itu,
timbullah pertanyaan bagaimana ia telah menghayati tugas yang terkandung dalam
namanya itu? Apakah ia menyampaikan atau mengkhianati Kristus? Dan bagaimana
Kristus disambut, ditemukan dan dililiat oleh orang-orang Indian? Columbus
sendiri menulis: “Aku berlayar dalam nama Tritunggal yang kudus dan di
dalam-Nya aku berharap memperoleh kemenangan”. Ia melihat penemuannya yang
besar itu sebagai wujud yang nyata dari nubuat Yesaya 60:9. “Kapal-kapal dari
Tarsis mengangkut perak dan emasnya demi kemuliaan nama Tuhan”.
Anggapannya bahwa
petualangannya ada kaitan dengan gagasan Perang Salib, dapat disimpulkan dari
ambisinya untuk mengambil sejumlah uang dari negeri-negeri yang baru ditemukan
itu. Uang itu dimaksudkan untuk membiayai suatu ekspedisi yang terdiri dari
10.000 anggota kavaleri dan 100.000 infanteri yang akan diberangkatkan ke Tanah
Suci untuk membebaskan Yerusalem dari orang-orang Turki.
Pada tanggal 2 Oktober
1492 Columbus mendarat di pulau Guanahani, salah satu pulau dari kepulauan
Bahama, yang ia beri nama San Salvador. Apakah pulau itu dan penduduknya mempunyai
nama sendiri, tidak dipedulikan. Yang akan kami bicarakan selaajutnya ialah
bagaimana pertemuan “Salvador”, yaitu “Sang Pembebas”, dengan apa yang kemudian
dikenal dengan nama Amerika Latin akan berlangsung. Setelah terjadi
“reconquista” selama delapan abad, orang-orang Spanyol yang ikut Columbus
berpegang pada tiga prinsip, yakni:
1.
Bahwa Tuhan berkenan atas dibunuhnya dan dirampoknya orang kafir.
2.
Bahwa para prajurit dan para imam adalah golongan sosial yang mulia.
3.
Bahwa bekerja adalah hina dan negeri yang direbutitu adalah milik kerajaan
dan kaum bangsawan yang merebutnya. Gereja membenarkan perebutan ini dan
memperoleh bagian dari harta milik negeri itu.
Gagasan-gagasan inilah
yang sangat mempengaruhi kolonisasi dan usaha untuk mengkristenkan penduduk.
Tidak disangsikan lagi
bahwa perebutan Amerika Latin berlangsung secara bengis dan kejam. Pada tahun
1552, setahun sesudah Francisco Pizarro merebut Peru, Barth°lome de las Casas
menulis kepada raja Spanyol, Charles I, yang dalam kedudukannya sebagai Kaisar
dari Kekaisaran Romawi yang Suci, bernama Charles V.
“Di negeri Castilia Baru
terjadi kebengisan setiap hari Hukuman dari sorga akan turun atas orang yang
bersalah, yakni mereka yang telah melakukannya. Tuhan kita, Yesus Kristus,
disalib kembali setiap jam di Castilia Baru ... Wanitawanita muda bangsa
Indian direnggut dari keluarga mereka dan dipaksa untuk melayani nafsu birahi
orang Spanyol. Banyak orang Spanyol memelihara harem, tempat tinggal selirselir.
Menurut pendapatku, kelakuan itu lebih cocok dengan tanda Bulan Sabit daripada
Salib yang tidak bernoda.”' (Tidak perlu dikemukakan lagi bahwa kritiknya
terhadap orang-orang Spanyol cukup beralasan. Secara sepintas lalu ia juga
menyerang orang-orang Muslim. Hal ini lebih memperjelas bagaimana orang-orang
Spanyol menilai orang-orang Moro dan tidak mengenai kenyataan orang-orang Moro
itu sendiri).
Bartolome de las Casas,
penulis dari Brevisima Relackin de la destruciOn de las Indias occidentales (1552)
membuka rahasia tentang pemerasan yang kejam dan kematian “sebelum waktunya”
dari orang-orang Indian yang malang itu. Ia menyebut orang-orang Spanyol
penindas-penindas yang menyebut dirinya orang Kristen. Ia berpendapat, bahwa
mereka mempertaruhkan keselamatan jiwa mereka sendiri dengan memperlakukan
orang-orang Indian demikian. Apabila orang-orang Spanyol itu tidak menghentikan
penghinaan, perkosaan dan pemerasan terhadap orang Indian, maka menurut de las
Casas, mereka pasti akan kena kutuk. Karena adalah mustahil bagi orang yang
berbuat tidak benar untuk diselamatkan. Bagi de las Casas jelaslah, bahwa
keselamatan orang-orang Kristen lebih terancam daripada keselamatan orang-orang
kafir! “Orang Indian yang masih kafir tetapi hidup, lebih baik nasibnya
daripada orang Indian yang sudah Kristen tetapi mati” Ia lebih cenderung
melihat orang Indian sebagai orang “miskin” - dalam arti kata injili - daripada
orang “kafir”. Dalam suratnya kepada kaisar, Las Casas mengemukakan lebih jauh
bahwa bilamana pertobatan orang Indian tidak dapat berlaku tanpa kematian dan
pembinasaan, maka adalah lebih baik bagi mereka untuk tidak menjadi Kristen
sama sekali. Bagi Las Casas, Kristus berbicara dari antara orang-orang Indian.
Di Hindia, demikian tulis Las Casas, aku melihat Yesus Kristus, Tuhan kita,
dicambuk, dihancurkan, bukan satu kali, tetapi beduta kali.
Dari surat yang pertama
itu nyata, apa yang menjadi ciri khas dari sejarah Amerika Latin, yakni:
- keterpautan pekabaran Injil dengan penaklukan dan pendudukan.
- perasaan lebih unggul dari orang-orang Eropa terhadap orang-orang
Indian.
Dengan kata lain, sejarah
orang Indian di Amerika Latin sejak tahun 1492 dapat dinilai sebagai sejarah
penderitaan, atau seperti dikatakan Galeano: pemerasan dari suatu benua selama
lima abad. Mereka dikenakan pemerasan ekonomi, terganggu dan terasing dalam
kehidupan kultural dan ditaklukkan dalam hal keagamaan.
Para
raja Katolik menerima dari Paus Alexander VI suatu Motu proprio (surat
keputusan Paus) yang menurut perhitungan dikarang tanggal 4 Mei 1493, yang
berjudul: Inter cetera. Menurut Prien, surat keputusan ini tidak boleh
disalahtafsirkan sebagai surat wasiat hibah. Makna surat ini ialah bahwa Paus
secara hukum internasional mengakui hak milik para raja tersebut atas
wilayah-wilayah di Hindia Barat, yang pada kenyataannya sudah lebih dulu
direbut. Pengakuan dari Paus sebagai penguasa tertinggi kaum Kristen mensyahkan
pemilikan itu dan menyatakan bawahannya berkewkjiban untuk menyebarkan agama.
sebenarnya, tujuan petualang2 tsb spt Christophe Columb adalah INDONESIA, negir penghasil rempah2, bukan India. India membeli rempah2 dari Indonesia dan India lah yg memperkenalkan rempah2 itu kepada bangsa Arab dan bangsa Arab yg memperkenalkan rempah2 itu kepada bangsa Eropa. Waktu itu, cengkeh sangat mahal harganya bahkan lebih mahal dari emas dan mereka menyebutnya : emas hitam.
ReplyDeletegood insight
ReplyDelete