Tuesday, July 9, 2019

KRISTOLOGI LANJUTAN, SEPERTI APA GAMBARAN YESUS KRISTUS BAGI BANGSA AMERIKA LATIN?

YESUS DALAM BANGSA AMERIKA LATIN
“Penderitaan Kristus, Tuhan, tercermin pada wqjah-wqjah rakyat yang menderita karena penindasan” (Puebla).

Kali ini membahas bagaimana “Kristus Spanyol” diserahkan kepada Amerika Latin mulai dari Christophorus Columbus dan Francisco Pizarro. Berhadapan dengan itu Kristus digambarkan sebagai “Pembebas” yang adalah ciptaan para teolog pembebasan sebagai reaksi terhadap “Kristus Spanyol itu” (Leonardo Boff, Jon Sobrino demikian juga Everardo Ramirez Toro).
Adalah sangat penting untuk menyadari, bahwa petualangan­petualangan yang dilakukan orang-orang Portugis dan Spanyol sejak abad ke-15 itu, bertepatan dengan perebutan kembali atau reconquista seluruh semenanjung Iberia. Sejak berabad-abad telah teijadi di Spanyol, al-Andalus bagi orang Muslim, suatu kehidupan masyarakat yang semakin berkembang - simbiose' - antara orang Yahudi, Kristen dan Muslim.
Dalam tahun 1492, dengan jatuhnya Granada, lengkaplah perebutan kembali Spanyol dari tangan orang-orang Moro. Peristiwa ini menandai berakhirnya kuasa Islam di semenanjung Iberia. Selama periode “reconquista” yang berselang berabad-abad tidak hanya orang-orang Muslim yang diusir dari wilayah itu, tetapi juga orang Yahudi. Dari Spanyol yang “paling Kristen”, di bawah pemerintahan Ferdinand dan Isabella, ada sekitar 150.000 orang Yahudi “dikeluarkan”.2 Banyak dari golongan yang terakhir ini mencari perlindungan pada wilayah Islam di Afrika Utara dan bagian-bagian lain dari dunia Arab sebelah Timur. Maimonides, ahli filsafat Yahudi terkenal yang berasal dari Cordoba, akhirnya meninggal di Fosfat dekat Kairo, Mesir dalam tahun 1204. Christophorus (“Penjunjung Kristus”) Columbus.
Berakhirnya “reconquista” dalam tahun 1492 bertepatan dengan “penemuan” Amerika oleh Christophorus Columbus, orang Genoa itu, bukanlah suatu hal yang kebetulan terjadi. Orang orang seperti Columbus melakukan petualangan-petualangan seperti ini, digerakkan oleh suatu kombinasi dari “nafsu untuk mengejar keuntungan dan kesalehan”3, dengan bertekanan pada urutan yang seperti ini. “Don Quixote rohani dan Sancho Pancha materialis itu naik kapal dengan tujuan 'Hindia'. Akan tetapi sanak saudara dari yang terakhir jauh lebih banyak dari yang pertama”.4 Salah satu penyebab yang mendorong orang untuk memprakarsai usaha seperti itu adalah suatu pengetahuan yang pada saat itu belum lama ditemukan, yakni bahwa bumi bukan berbentuk dataran yang ceper, melainkan berbentuk bulat, sehingga dapat dikelilingi dengan kapal. Apapun motivasi tambahannya (mungkin semata­mata hanya hasrat untuk bertualang saja), tetapi keinginan dasariah “mengelilingi” dunia Islam. Dengan cara demikian mereka ingin merebut rintangan dari dunia Islam yang telah begitu lama diperangi di berbagai front.
Terdapat suatu legenda mengenai seorang imam Johannes, seorang raja Kristen yang konon tinggal di “seberang” dunia Islam. Legenda ini memainkan peran yang penting sepanjang Abad Pertengahan. Kalau orang-orang Kristen dapat mengikat peijanjian persekutuan dengan dia, maka inereka bersama-sama mampu mengalahkan orang-orang Muslim, dan dengan demikian masih dapat merealisirkan tujuan asli dari Penang Salib.5 Tentang Columbus dikatakan, bahwa ia sadar akan anti nama depannya, Christophorus, yakni “Penjunjung Kristus”.
Seiring dengan itu, timbullah pertanyaan bagaimana ia telah menghayati tugas yang terkandung dalam namanya itu? Apakah ia menyampaikan atau mengkhianati Kristus? Dan bagaimana Kristus disambut, ditemukan dan dililiat oleh orang-orang Indian? Columbus sendiri menulis: “Aku berlayar dalam nama Tritunggal yang kudus dan di dalam-Nya aku berharap memperoleh keme­nangan”. Ia melihat penemuannya yang besar itu sebagai wujud yang nyata dari nubuat Yesaya 60:9. “Kapal-kapal dari Tarsis mengangkut perak dan emasnya demi kemuliaan nama Tuhan”.
Anggapannya bahwa petualangannya ada kaitan dengan gagasan Perang Salib, dapat disimpulkan dari ambisinya untuk mengambil sejumlah uang dari negeri-negeri yang baru ditemukan itu. Uang itu dimaksudkan untuk membiayai suatu ekspedisi yang terdiri dari 10.000 anggota kavaleri dan 100.000 infanteri yang akan diberangkatkan ke Tanah Suci untuk membebaskan Yerusa­lem dari orang-orang Turki.
Pada tanggal 2 Oktober 1492 Columbus mendarat di pulau Guanahani, salah satu pulau dari kepulauan Bahama, yang ia beri nama San Salvador. Apakah pulau itu dan penduduknya mem­punyai nama sendiri, tidak dipedulikan. Yang akan kami bicarakan selaajutnya ialah bagaimana pertemuan “Salvador”, yaitu “Sang Pembebas”, dengan apa yang kemudian dikenal dengan nama Amerika Latin akan berlangsung. Setelah terjadi “reconquista” selama delapan abad, orang-orang Spanyol yang ikut Columbus berpegang pada tiga prinsip, yakni:
1.    Bahwa Tuhan berkenan atas dibunuhnya dan dirampoknya orang kafir.
2.    Bahwa para prajurit dan para imam adalah golongan sosial yang mulia.
3.    Bahwa bekerja adalah hina dan negeri yang direbutitu adalah milik kerajaan dan kaum bangsawan yang merebut­nya. Gereja membenarkan perebutan ini dan memperoleh bagian dari harta milik negeri itu.
Gagasan-gagasan inilah yang sangat mempengaruhi kolonisasi dan usaha untuk mengkristenkan penduduk.
Tidak disangsikan lagi bahwa perebutan Amerika Latin berlangsung secara bengis dan kejam. Pada tahun 1552, setahun sesudah Francisco Pizarro merebut Peru, Barth°lome de las Casas menulis kepada raja Spanyol, Charles I, yang dalam kedudukannya sebagai Kaisar dari Kekaisaran Romawi yang Suci, bernama Charles V.
“Di negeri Castilia Baru terjadi kebengisan setiap hari Hukuman dari sorga akan turun atas orang yang bersalah, yakni mereka yang telah melakukannya. Tuhan kita, Yesus Kristus, disalib kembali setiap jam di Castilia Baru ... Wanita­wanita muda bangsa Indian direnggut dari keluarga mereka dan dipaksa untuk melayani nafsu birahi orang Spanyol. Banyak orang Spanyol memelihara harem, tempat tinggal selir­selir. Menurut pendapatku, kelakuan itu lebih cocok dengan tanda Bulan Sabit daripada Salib yang tidak bernoda.”' (Tidak perlu dikemukakan lagi bahwa kritiknya terhadap orang-orang Spanyol cukup beralasan. Secara sepintas lalu ia juga menyerang orang-orang Muslim. Hal ini lebih memperjelas bagaimana orang-orang Spanyol menilai orang-orang Moro dan tidak mengenai kenyataan orang-orang Moro itu sendiri).
Bartolome de las Casas, penulis dari Brevisima Relackin de la destruciOn de las Indias occidentales (1552) membuka rahasia tentang pemerasan yang kejam dan kematian “sebelum waktunya” dari orang-orang Indian yang malang itu. Ia menyebut orang-orang Spanyol penindas-penindas yang menyebut dirinya orang Kristen. Ia berpendapat, bahwa mereka mempertaruhkan keselamatan jiwa mereka sendiri dengan memperlakukan orang-orang Indian demikian. Apabila orang-orang Spanyol itu tidak menghentikan penghinaan, perkosaan dan pemerasan terhadap orang Indian, maka menurut de las Casas, mereka pasti akan kena kutuk. Karena adalah mustahil bagi orang yang berbuat tidak benar untuk diselamatkan. Bagi de las Casas jelaslah, bahwa keselamatan orang-orang Kristen lebih terancam daripada keselamatan orang­-orang kafir! “Orang Indian yang masih kafir tetapi hidup, lebih baik nasibnya daripada orang Indian yang sudah Kristen tetapi mati” Ia lebih cenderung melihat orang Indian sebagai orang “miskin” - dalam arti kata injili - daripada orang “kafir”. Dalam suratnya kepada kaisar, Las Casas mengemukakan lebih jauh bahwa bilamana pertobatan orang Indian tidak dapat berlaku tanpa kematian dan pembinasaan, maka adalah lebih baik bagi mereka untuk tidak menjadi Kristen sama sekali. Bagi Las Casas, Kristus berbicara dari antara orang-orang Indian. Di Hindia, demikian tulis Las Casas, aku melihat Yesus Kristus, Tuhan kita, dicambuk, dihancurkan, bukan satu kali, tetapi beduta kali.
Dari surat yang pertama itu nyata, apa yang menjadi ciri khas dari sejarah Amerika Latin, yakni:
-    keterpautan pekabaran Injil dengan penaklukan dan pendudukan.
-    perasaan lebih unggul dari orang-orang Eropa terhadap orang-orang Indian.
Dengan kata lain, sejarah orang Indian di Amerika Latin sejak tahun 1492 dapat dinilai sebagai sejarah penderitaan, atau seperti dikatakan Galeano: pemerasan dari suatu benua selama lima abad. Mereka dikenakan pemerasan ekonomi, terganggu dan terasing dalam kehidupan kultural dan ditaklukkan dalam hal keagamaan.

Para raja Katolik menerima dari Paus Alexander VI suatu Motu proprio (surat keputusan Paus) yang menurut perhitungan dikarang tanggal 4 Mei 1493, yang berjudul: Inter cetera. Menurut Prien, surat keputusan ini tidak boleh disalahtafsirkan sebagai surat wasiat hibah. Makna surat ini ialah bahwa Paus secara hukum internasional mengakui hak milik para raja tersebut atas wilayah-wilayah di Hindia Barat, yang pada kenyataannya sudah lebih dulu direbut. Pengakuan dari Paus sebagai penguasa tertinggi kaum Kristen mensyahkan pemilikan itu dan menyatakan bawahannya berkewkjiban untuk menyebarkan agama.

2 comments:

  1. sebenarnya, tujuan petualang2 tsb spt Christophe Columb adalah INDONESIA, negir penghasil rempah2, bukan India. India membeli rempah2 dari Indonesia dan India lah yg memperkenalkan rempah2 itu kepada bangsa Arab dan bangsa Arab yg memperkenalkan rempah2 itu kepada bangsa Eropa. Waktu itu, cengkeh sangat mahal harganya bahkan lebih mahal dari emas dan mereka menyebutnya : emas hitam.

    ReplyDelete

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...