KRISTUS SEBAGAI WAKIL MEREKA YANG TERTINDAS
Sejak manusia jatuh dalam dosa maka
manusia yang semula harusnya memerintah atau berada pada posisi menaklukkan
dunia akhirnya gagal menjalankan tugas tersebut. Manusia bahkan takluk pada
keterbatasan dirinya sendiri akibat hukum dosa di dalam dia, (kej 1:28). Sejak
saat itu pula manusia berusaha melakukan dan mencari penaklukan sesuai standar
dan keinginannya sendiri yang justru mencelakakan searah dengan ayat Alkitab
yang mengatakan seluruh keinginan kehendak manusia itu berasal dari dosa yang
jahat, (kejadian 6: 5, roma 3: 10-12). Jadi dalam hal ini manusia mencari
pemuasan diri dalam upaya penaklukan yang dia lakukan. Namun upaya itu
sebenarnya berawal dari penindasan dosa yang dialami setiap manusia di dalam
dirinya. Sebab setiap akal budi, perasaan, pikiran manusia telah lekat dengan
dosa. Inilah yang akan sedikit demi sedikit disadarkan dan dilepaskan oleh
Yesus di dalam kita jika kita sudah masuk dalam kepenuhanNya, atau saya
sebutkan sebagai Kristologi sejati. Mengalami Kristus secara nyata dan pribadi.
Secara Rohaniah dan bukan sebatas lahiriah semata.
Sebenarnya jika kita mengkaji dengan
Kristus sebagai dasar dan menilai secara batiniah dengan penglihatan Kristus,
pikiran Kristus maka kita akan mendapati bahwa usaha penindasan dan penaklukan
yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa-bangsa Asia, Afrika,
ataupun Amerika itu adalah manifestasi dari ketertindasan dosa di dalam diri.
Begitu pula dengan kita secara pribadi, manusia sesungguhnya ditindas oleh dosa
yang ada di dalam dia. Setiap gerak-gerik upaya dan hasrat hidupnya berasal
dari keinginan yang tertindas yang tidak pernah terpenuhi secara utuh dan
benar. Hanya Yesus Kristus yang sanggup memuaskan dan melepaskan kita dari
tindasan dosa itu. Jadi dengan Kristologi sejati kita nyata akan bisa melihat
dan menilai segala sesuatu bukan hanya dari luarnya saja tetapi intinya kita
tahu dan nilai, sumber dari segala sesuatu kejadian itu kita telaah dan ketahui
karena kita memiliki pikiran Kristus yang menilai dan menyingkapkan segala sesuatu.
Sebenarnya dosa yang lekat dalam diri
manusia itu sifatnya menindas dan tertindas. Menindas manusia itu sendiri dan
membuat manusia itu merasa tertindas dalam hidupnya baik secara nayat atau
secara tidak langsung. Kembali hanya Kristus yang sanggup memberi kelepasan dan
keasadaran bagi kita akan hal ini. Mari kita bahas bersama tentang kebenaran
Kristus sebagai solusi pembebas bagi manusia atas segala penindasan dan
ketertindasannya.
1. Kristus mewakili mereka yang tertindas
Sebenarnya jika masuk dalam pikiran
Kristus yang utuh menilai secara khusus hingga kedalaman batiniah perseorangan
serta pikiran Kristus yang utuh menilai secara umum hingga seluas mungkin maka
kita akan dapati, di bawah kolong langit ini adakah manusia yang benar-benar
bebas dan tidak tertindas sama sekali baik secara jasmani ataupun batiniah?
Jika kita akan membantahnya dan mengatakan ada manusia yang demikian maka kita
sama halnya menyangkal iman kita kepada Kristus karena ternyata ada manusia
yang bisa bebas tanpa Kristus dan itu berarti setiap kita punya kemampuan atau
kesempatan yang sama untuk meraihnya. Namun pada kenyataannya kita harus akui
pertama dalam diri kita dahulu bahwa kita sadar dalam diri yang terbatas dan
dihidupi oleh hukum dosa ini maka manusia tidak ada yang tidak tertindas dalam
dirinya. Baru kita sadar seutuhnya di dunia ini seluruh manusia mengalami hal
yang sama walaupun dalam keadaan hidup lahiriah yang berbeda yaitu mengalami
penindasan. Apa yang menindas manusia? Dosa dan maut, itu jelas. Namun
syukurlah kepada Tuhan sebab Yesus Kristus telah hadir bagi kita untuk merasakan
hidup manusia yang tertindas, Dia ditindas namun tidak tertindas, Dia ditekan
namun tidak tertekan, satu-satunya manusia yang tidak terjajah oleh apapun
meski Dia tunduk pada hukum taurat namun malah Dia sanggup menggenapinya dalam
tubuh manusia yang terbatas secara jasmaniah. Inilah kemenangan di balik
penindasan. Inilah Kristus, hidup ilahi Allah yang dinyatakan bagi kita.
“Tetapi harta ini kami
punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang
melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal
kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;
kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun
tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami,
supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang
masih hidup ini terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus menjadi nyata
di dalam tubuh kami yang fana ini.” 2 Korintus 4: 7-11
“Sebab Imam Besar yang kita punya,
bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita,
sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.”
Ibrani 4: 15
Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Yesus
Kristus adalah Pribadi Ilahi yang turut merasakan bahkan lebih dulu merasakan
segenap penderitaan manusia. Penderitaan atau penindasan yang dialami manusia
intinya bukan pada peristiwa lahiriah semata yang nampak kasat mata. Itu
hanyalah manifestasi atau hasil nyata yang tampak di luar. Penindasan yang
sesungguhnya ada dalam setiap batin, hati perasaan dan akal pikiran setiap
manusia. Dan penindasan itu adalah dosa atau inti hidup dosa yang ada dalam
diri setiap manusia. Jika manusia hidup lebih berdasar dari hidup dosa atau
hukum dosa yang ada dalam dia maka hidupnya berada dalam penindasan hukum dosa
itu. Hukum dosa itu ada dan lekat erat dengan hati dan jiwa manusia serta
daging jasmaninya tetapi roh kita yang berasal dari Allah tidak terjamah
sedikitpun olehnya. Roh Kudus yang kita terima oleh Yesus Kristus,
membangkitkan kembali roh kita agar dari situ terbangun suatu hubungan yang
memerdekakan dalam Dia. Inilah kemenangan atas penindasan dosa. Hidup dalam Roh
atau oleh Roh bukan sekedar tafsiran dan anjuran umum yang menitikberatkan pada
perbuatan baik melulu. Tetapi ini bersifat lebih dalam dari itu di mana
kehendak Roh hidup dan bekerja luas dalam diri kita serta kehendakNya menjadi
kehendak kita, suatu kesatuan yang utuh antara kita dengan Allah dalam pekerjaan
Roh Kristus atau Roh KudusNya di dalam diri kita yang mau rela diperbaharui
dari hari ke hari.
Jadi jelas di sini penindasan tidak hanya
dialami oleh bangsa yang terjajah tetapi penindasan dialami pula oelh bangsa
atau pihak yang menjajah dan menindas. Mengapa manusia menindas satu dengan
yang lain dan mengapa manusia merasa tertindas? Karena ada hukumm penindasan di
dalam manusia oleh karena dosa. Ada hukum dosa yang menindas di dalam diri
manusia. Hanya oleh Yesus Kristus, Imam besar Agung itulah maka kita akan selamat
dan terbebas dari penindasan. Kristus adalah pribadi Allah yang membebaskan
manusia dan Kristus juga adalah pribadi Manusia yang mewakili manusia untuk
menyatakan kebebasan di hadapan Allah, agar di dalam Dia manusia menikmati kembali
kemerdekaan yang sesungguhnya. Ini bukan dinilai secara lahiriah dalam berbagai
peristiwa sukses jasmaniah tetapi dinilai secara Rohaniah di dalam batin,
kebebasan yang berawal dari dalam batin oleh Roh.
“kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada
mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh
tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat, lalu dibunuh dan bangkit
sesudah tiga hari.” Markus 8: 31
Sejak saya memberitakan keutuhan Pribadi
Kristus dalam keberadaanNya sebagai Allah sekaligus sebagai manusia sempurna
yang harus kita akui dalam diri kita secara pribadi, saya mendapati banyak
sekali penolakan bahkan terutama dari kalangan yang kelihatan sudah banyak
melayani dan lama hidup dalam pengiringan akan Tuhan. Raut wajah mereka jelas
tahu bahwa apa yang disampaikan benar adanya namun di hati mereka, mereka
menolak kebenaran itu. Padahal dalam lubuk hati batiniah mereka, mereka tahu
betapa benar pengajaran akan Kristus tersebut dan mereka mengakuiNya. Namun masih
eratnya diri dan kiblat diri dengan pribadi dosa maka penolakan terjadi. Ini
juga bisa terjadi karena pengajaran akan Kristus secara utuh akan amat
bertentangan dengan pribadi dosa dan segala keinginannya di dalam diri kita. Ketidakmauan
untuk mengakui Keakuan Kristus atau Kepribadian Kristus disebabkan masih
kuatnya ego diri yang lekat dengan pribadi dosa di dalam diri. Padahal inilah
sumber penindasan yang manusia alami. Lihatlah Kristus Tuhan kita yang sudah
lebih dahulu ditolak. Sebenarnya para Imama farisi, dan ahli-ahli taurat sudah
tahu akan keberadaanNya sebagai Anak Allah dan Mesias yang dijanjikan itu namun
kehadiranNya dalam rupa demikian dan dalam pribadi demikian tidak sesuai dengan
keinginan mereka. Ini membuat mereka menolak Dia meskipun mereka dalam hatinya
tahu bahwa Dia benar. Jika mereka tahu
Dia tidak benar maka mereka tidak perlu menyalibkan Dia atau merasa begitu
terusik oleh kehadiranNya dan pengajaranNya. Dari sini kita melihat bahwa
keinginan manusia yang bersumber dan lekat dengan dosa itu melebihi kebenaran.
Manusia sebenarnya mencari keinginannya dan kesenangan sesuai kemauannya, bukan
mencari kebenaran. Sebab kebenaran yang dicari oleh manusia pun adalah untuk
memusakan keinginannya masing-masing. Padahal itupun bukan Kebenaran sejati.
Sebab Kebenaran sejati hanya ada dalam Yesus Kristus dan untuk mencari
Kebenaran dengan sungguh, atau menginginkan Kebenaran dengan sungguh itu
berawal dari penerimaan sepenuhnya terhadap Kristus.

No comments:
Post a Comment