Friday, July 19, 2019

Kristus dan ironi antara penindasan dan penaklukkan atas sesama manusia 1


KRISTUS SEBAGAI WAKIL MEREKA YANG TERTINDAS
     Sejak manusia jatuh dalam dosa maka manusia yang semula harusnya memerintah atau berada pada posisi menaklukkan dunia akhirnya gagal menjalankan tugas tersebut. Manusia bahkan takluk pada keterbatasan dirinya sendiri akibat hukum dosa di dalam dia, (kej 1:28). Sejak saat itu pula manusia berusaha melakukan dan mencari penaklukan sesuai standar dan keinginannya sendiri yang justru mencelakakan searah dengan ayat Alkitab yang mengatakan seluruh keinginan kehendak manusia itu berasal dari dosa yang jahat, (kejadian 6: 5, roma 3: 10-12). Jadi dalam hal ini manusia mencari pemuasan diri dalam upaya penaklukan yang dia lakukan. Namun upaya itu sebenarnya berawal dari penindasan dosa yang dialami setiap manusia di dalam dirinya. Sebab setiap akal budi, perasaan, pikiran manusia telah lekat dengan dosa. Inilah yang akan sedikit demi sedikit disadarkan dan dilepaskan oleh Yesus di dalam kita jika kita sudah masuk dalam kepenuhanNya, atau saya sebutkan sebagai Kristologi sejati. Mengalami Kristus secara nyata dan pribadi. Secara Rohaniah dan bukan sebatas lahiriah semata.
     Sebenarnya jika kita mengkaji dengan Kristus sebagai dasar dan menilai secara batiniah dengan penglihatan Kristus, pikiran Kristus maka kita akan mendapati bahwa usaha penindasan dan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa terhadap bangsa-bangsa Asia, Afrika, ataupun Amerika itu adalah manifestasi dari ketertindasan dosa di dalam diri. Begitu pula dengan kita secara pribadi, manusia sesungguhnya ditindas oleh dosa yang ada di dalam dia. Setiap gerak-gerik upaya dan hasrat hidupnya berasal dari keinginan yang tertindas yang tidak pernah terpenuhi secara utuh dan benar. Hanya Yesus Kristus yang sanggup memuaskan dan melepaskan kita dari tindasan dosa itu. Jadi dengan Kristologi sejati kita nyata akan bisa melihat dan menilai segala sesuatu bukan hanya dari luarnya saja tetapi intinya kita tahu dan nilai, sumber dari segala sesuatu kejadian itu kita telaah dan ketahui karena kita memiliki pikiran Kristus yang menilai dan menyingkapkan segala sesuatu.
     Sebenarnya dosa yang lekat dalam diri manusia itu sifatnya menindas dan tertindas. Menindas manusia itu sendiri dan membuat manusia itu merasa tertindas dalam hidupnya baik secara nayat atau secara tidak langsung. Kembali hanya Kristus yang sanggup memberi kelepasan dan keasadaran bagi kita akan hal ini. Mari kita bahas bersama tentang kebenaran Kristus sebagai solusi pembebas bagi manusia atas segala penindasan dan ketertindasannya.

1. Kristus mewakili mereka yang tertindas
     Sebenarnya jika masuk dalam pikiran Kristus yang utuh menilai secara khusus hingga kedalaman batiniah perseorangan serta pikiran Kristus yang utuh menilai secara umum hingga seluas mungkin maka kita akan dapati, di bawah kolong langit ini adakah manusia yang benar-benar bebas dan tidak tertindas sama sekali baik secara jasmani ataupun batiniah? Jika kita akan membantahnya dan mengatakan ada manusia yang demikian maka kita sama halnya menyangkal iman kita kepada Kristus karena ternyata ada manusia yang bisa bebas tanpa Kristus dan itu berarti setiap kita punya kemampuan atau kesempatan yang sama untuk meraihnya. Namun pada kenyataannya kita harus akui pertama dalam diri kita dahulu bahwa kita sadar dalam diri yang terbatas dan dihidupi oleh hukum dosa ini maka manusia tidak ada yang tidak tertindas dalam dirinya. Baru kita sadar seutuhnya di dunia ini seluruh manusia mengalami hal yang sama walaupun dalam keadaan hidup lahiriah yang berbeda yaitu mengalami penindasan. Apa yang menindas manusia? Dosa dan maut, itu jelas. Namun syukurlah kepada Tuhan sebab Yesus Kristus telah hadir bagi kita untuk merasakan hidup manusia yang tertindas, Dia ditindas namun tidak tertindas, Dia ditekan namun tidak tertekan, satu-satunya manusia yang tidak terjajah oleh apapun meski Dia tunduk pada hukum taurat namun malah Dia sanggup menggenapinya dalam tubuh manusia yang terbatas secara jasmaniah. Inilah kemenangan di balik penindasan. Inilah Kristus, hidup ilahi Allah yang dinyatakan bagi kita.
“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. Sebab kami, yang masih hidup ini terus-menerus diserahkan kepada maut karena Yesus menjadi nyata di dalam tubuh kami yang fana ini.” 2 Korintus 4: 7-11

     “Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.” Ibrani 4: 15
     Ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Yesus Kristus adalah Pribadi Ilahi yang turut merasakan bahkan lebih dulu merasakan segenap penderitaan manusia. Penderitaan atau penindasan yang dialami manusia intinya bukan pada peristiwa lahiriah semata yang nampak kasat mata. Itu hanyalah manifestasi atau hasil nyata yang tampak di luar. Penindasan yang sesungguhnya ada dalam setiap batin, hati perasaan dan akal pikiran setiap manusia. Dan penindasan itu adalah dosa atau inti hidup dosa yang ada dalam diri setiap manusia. Jika manusia hidup lebih berdasar dari hidup dosa atau hukum dosa yang ada dalam dia maka hidupnya berada dalam penindasan hukum dosa itu. Hukum dosa itu ada dan lekat erat dengan hati dan jiwa manusia serta daging jasmaninya tetapi roh kita yang berasal dari Allah tidak terjamah sedikitpun olehnya. Roh Kudus yang kita terima oleh Yesus Kristus, membangkitkan kembali roh kita agar dari situ terbangun suatu hubungan yang memerdekakan dalam Dia. Inilah kemenangan atas penindasan dosa. Hidup dalam Roh atau oleh Roh bukan sekedar tafsiran dan anjuran umum yang menitikberatkan pada perbuatan baik melulu. Tetapi ini bersifat lebih dalam dari itu di mana kehendak Roh hidup dan bekerja luas dalam diri kita serta kehendakNya menjadi kehendak kita, suatu kesatuan yang utuh antara kita dengan Allah dalam pekerjaan Roh Kristus atau Roh KudusNya di dalam diri kita yang mau rela diperbaharui dari hari ke hari.
     Jadi jelas di sini penindasan tidak hanya dialami oleh bangsa yang terjajah tetapi penindasan dialami pula oelh bangsa atau pihak yang menjajah dan menindas. Mengapa manusia menindas satu dengan yang lain dan mengapa manusia merasa tertindas? Karena ada hukumm penindasan di dalam manusia oleh karena dosa. Ada hukum dosa yang menindas di dalam diri manusia. Hanya oleh Yesus Kristus, Imam besar Agung itulah maka kita akan selamat dan terbebas dari penindasan. Kristus adalah pribadi Allah yang membebaskan manusia dan Kristus juga adalah pribadi Manusia yang mewakili manusia untuk menyatakan kebebasan di hadapan Allah, agar di dalam Dia manusia menikmati kembali kemerdekaan yang sesungguhnya. Ini bukan dinilai secara lahiriah dalam berbagai peristiwa sukses jasmaniah tetapi dinilai secara Rohaniah di dalam batin, kebebasan yang berawal dari dalam batin oleh Roh.

     “kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.” Markus 8: 31

     Sejak saya memberitakan keutuhan Pribadi Kristus dalam keberadaanNya sebagai Allah sekaligus sebagai manusia sempurna yang harus kita akui dalam diri kita secara pribadi, saya mendapati banyak sekali penolakan bahkan terutama dari kalangan yang kelihatan sudah banyak melayani dan lama hidup dalam pengiringan akan Tuhan. Raut wajah mereka jelas tahu bahwa apa yang disampaikan benar adanya namun di hati mereka, mereka menolak kebenaran itu. Padahal dalam lubuk hati batiniah mereka, mereka tahu betapa benar pengajaran akan Kristus tersebut dan mereka mengakuiNya. Namun masih eratnya diri dan kiblat diri dengan pribadi dosa maka penolakan terjadi. Ini juga bisa terjadi karena pengajaran akan Kristus secara utuh akan amat bertentangan dengan pribadi dosa dan segala keinginannya di dalam diri kita. Ketidakmauan untuk mengakui Keakuan Kristus atau Kepribadian Kristus disebabkan masih kuatnya ego diri yang lekat dengan pribadi dosa di dalam diri. Padahal inilah sumber penindasan yang manusia alami. Lihatlah Kristus Tuhan kita yang sudah lebih dahulu ditolak. Sebenarnya para Imama farisi, dan ahli-ahli taurat sudah tahu akan keberadaanNya sebagai Anak Allah dan Mesias yang dijanjikan itu namun kehadiranNya dalam rupa demikian dan dalam pribadi demikian tidak sesuai dengan keinginan mereka. Ini membuat mereka menolak Dia meskipun mereka dalam hatinya tahu bahwa Dia benar. Jika mereka  tahu Dia tidak benar maka mereka tidak perlu menyalibkan Dia atau merasa begitu terusik oleh kehadiranNya dan pengajaranNya. Dari sini kita melihat bahwa keinginan manusia yang bersumber dan lekat dengan dosa itu melebihi kebenaran. Manusia sebenarnya mencari keinginannya dan kesenangan sesuai kemauannya, bukan mencari kebenaran. Sebab kebenaran yang dicari oleh manusia pun adalah untuk memusakan keinginannya masing-masing. Padahal itupun bukan Kebenaran sejati. Sebab Kebenaran sejati hanya ada dalam Yesus Kristus dan untuk mencari Kebenaran dengan sungguh, atau menginginkan Kebenaran dengan sungguh itu berawal dari penerimaan sepenuhnya terhadap Kristus.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...