Tinjauan di
bawah ini adalah tinjauan umum yang saya kembangkan sesuai kekayaan pemahaman
saya pribadi dari apa yang saya lihat, temui, dan alami. Sifat agama pada anak
tumbuh mengikuti pola ideas consep on outhrority. Maksudnya ide keagamaan pada
anak hampir sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka meskipun
sudah memiliki bawaan dari dalam diri sejak lahir. Berdasarkan hal itu maka
sifat-sifat keagamaan yang timbul pada anak-anak terbagi atas:
1.
Unreflective
(tidak mendalam)
Anak dalam tipe ini sudah puas dengan
apa yang dia terima tentang Tuhan sehingga dia merasa tidak perlu mengkaji
lebih jauh lagi. Ini dikarenakan daya tangkap yang lemah atau juga
keingintahuan yang tidak kuat.
2.
Egosentris
Anak dengan sifat keegoan yang kuat
akan memiliki sifat ketuhanan yang amat kuat dalam hal dia membela pendapatnya
tentang Tuhan padahal dia sendiri belum sepenuhnya benar dan masih bimbang
dengan apa yang dia pegang. Sifat ketuhanan seperti ini amat berbahaya sebab
amat mudah menyalahkan pendapat lain yang belum tentu benar-benar salah atau
benar-benar berseberangan dengannya. Mereka cenderung akan menganggap orang
lain yang berbeda pendapat sebagai oknum yang dimusuhi dan sering kali itu
tanpa mereka sadari.
3.
Anthromorphis
Sifat keagamaan seperti ini meyimpulkan
bahwa Tuhan sebagamaimana halnya manusia. Anak cenderung ingin mengimani dan
melihat Tuhan secara nyata dalam bentuk fisik. Mereka amat mengagungkan sosok
yang menjadi pembimbing mereka tentang Tuhan sebagai sosok yang wajar dijadikan
teladan ketimbang Tuhan itu sendiri.
4.
Perbalis
dan ritualis
Sifat keagamaan ini muncul sebatas
kerajinan seorang anak mengikuti ritual agama. Di mana mereka hanya melatih
diri dan terlatih terhadap agamanya lebih sebatas lahiriah. Menghafal ayat,
mendengar lagu dan cerita agama, ikut kegiatan agama, dll tanpa menghiraukan
atau terpikat dengan esensi dan isi dari agamanya. Hingga mereka tidak
betul-betul memahami dan mencintai Tuhannya.
5.
Imitatif
Sifat ini adalah sifat peniru. Di mana
seorang anak hanya menjadi pelaku peniru dalam ketuhanan dan keberagamaan.
Mirip dengan yang di atas namun sifat ini tidaklah memiliki kecintaan yang
sungguh pada ritualitas agamanya. Dia bisa meniru semua ritual agama yang dia
lihat, sebab sejak kecil dia terbiasa meniru dalam menunjukkan ketuhanannya.
Kemungkinan besar anak-anak ini dididik dalam keluarga yang tidak memiliki
patokan agama yang kuat.
6.
Rasa
heran
Sifat keagamaan ini sangat tipis
perbedaannya dengan sifat kegamaan yang murni. Mereka tampak sangat mencintai
agama ataupun Tuhannya dikarenakan terdorong oleh rasa kagum akan kuasa dan
kebesaran yang sifatnya jasmaniah. Mereka fasih dalam berbicara tentang Tuhan
tapi jika ditelaah itu sebenarnya hanya sebatas pada kekagumannya terhadap
kemahakuasaan oknum yang diyakininya. Namun sebenarnya secara pribadi di dalam
bati mereka belum betul-betul memahami dan menikmati ketuhanannya.
Semua sifat keagamaan di atas dialami
juga oleh orang-orang dewasa dalam skala kedewasaan secara usia yang sudah
berbeda tipe dan sifatnya dari anak-anak meskipun hakekatnya sama. Semua tipe
ketuhanan itu akan benar dan murni jika dibawa di dalam Kristus. Di dalam
Dialah kita akan masuk pada proses pembenaran dan pemurnian setiap hari lewat
kehidupan pergaulan dengan Dia dalam segala hal.

No comments:
Post a Comment