Saturday, February 2, 2019

Guru Sekolah minggu dan Guru Agama wajib tahu, Bermacam ciri-ciri Sifat Ketuhanan pada anak.


          Tinjauan di bawah ini adalah tinjauan umum yang saya kembangkan sesuai kekayaan pemahaman saya pribadi dari apa yang saya lihat, temui, dan alami. Sifat agama pada anak tumbuh mengikuti pola ideas consep on outhrority. Maksudnya ide keagamaan pada anak hampir sepenuhnya dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka meskipun sudah memiliki bawaan dari dalam diri sejak lahir. Berdasarkan hal itu maka sifat-sifat keagamaan yang timbul pada anak-anak terbagi atas:
1.        Unreflective (tidak mendalam)
Anak dalam tipe ini sudah puas dengan apa yang dia terima tentang Tuhan sehingga dia merasa tidak perlu mengkaji lebih jauh lagi. Ini dikarenakan daya tangkap yang lemah atau juga keingintahuan yang tidak kuat.
2.        Egosentris
Anak dengan sifat keegoan yang kuat akan memiliki sifat ketuhanan yang amat kuat dalam hal dia membela pendapatnya tentang Tuhan padahal dia sendiri belum sepenuhnya benar dan masih bimbang dengan apa yang dia pegang. Sifat ketuhanan seperti ini amat berbahaya sebab amat mudah menyalahkan pendapat lain yang belum tentu benar-benar salah atau benar-benar berseberangan dengannya. Mereka cenderung akan menganggap orang lain yang berbeda pendapat sebagai oknum yang dimusuhi dan sering kali itu tanpa mereka sadari.

3.        Anthromorphis
Sifat keagamaan seperti ini meyimpulkan bahwa Tuhan sebagamaimana halnya manusia. Anak cenderung ingin mengimani dan melihat Tuhan secara nyata dalam bentuk fisik. Mereka amat mengagungkan sosok yang menjadi pembimbing mereka tentang Tuhan sebagai sosok yang wajar dijadikan teladan ketimbang Tuhan itu sendiri.
4.        Perbalis dan ritualis
Sifat keagamaan ini muncul sebatas kerajinan seorang anak mengikuti ritual agama. Di mana mereka hanya melatih diri dan terlatih terhadap agamanya lebih sebatas lahiriah. Menghafal ayat, mendengar lagu dan cerita agama, ikut kegiatan agama, dll tanpa menghiraukan atau terpikat dengan esensi dan isi dari agamanya. Hingga mereka tidak betul-betul memahami dan mencintai Tuhannya.
5.        Imitatif
Sifat ini adalah sifat peniru. Di mana seorang anak hanya menjadi pelaku peniru dalam ketuhanan dan keberagamaan. Mirip dengan yang di atas namun sifat ini tidaklah memiliki kecintaan yang sungguh pada ritualitas agamanya. Dia bisa meniru semua ritual agama yang dia lihat, sebab sejak kecil dia terbiasa meniru dalam menunjukkan ketuhanannya. Kemungkinan besar anak-anak ini dididik dalam keluarga yang tidak memiliki patokan agama yang kuat.
6.        Rasa heran
Sifat keagamaan ini sangat tipis perbedaannya dengan sifat kegamaan yang murni. Mereka tampak sangat mencintai agama ataupun Tuhannya dikarenakan terdorong oleh rasa kagum akan kuasa dan kebesaran yang sifatnya jasmaniah. Mereka fasih dalam berbicara tentang Tuhan tapi jika ditelaah itu sebenarnya hanya sebatas pada kekagumannya terhadap kemahakuasaan oknum yang diyakininya. Namun sebenarnya secara pribadi di dalam bati mereka belum betul-betul memahami dan menikmati ketuhanannya.

Semua sifat keagamaan di atas dialami juga oleh orang-orang dewasa dalam skala kedewasaan secara usia yang sudah berbeda tipe dan sifatnya dari anak-anak meskipun hakekatnya sama. Semua tipe ketuhanan itu akan benar dan murni jika dibawa di dalam Kristus. Di dalam Dialah kita akan masuk pada proses pembenaran dan pemurnian setiap hari lewat kehidupan pergaulan dengan Dia dalam segala hal.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...