Kisah 2:1-4
“Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang
memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka
lidahlidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka
masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai
berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu
kepada mereka untuk mengatakannya.”
HARI kenaikan
Isa Almasih diikuti dengan hari Pentakosta yang ditandai dengan pencurahan Roh
Kudus. Murid-murid Tuhan Yesus yang
menjadi rasulrasul menunggu selama 10 hari di Yerusalem.
Dan pada hari
ke-10 bersamaan dengan hari ke-50 sejak Yesus bangkit dari kematian, sekitar 120
orang murid-murid mengalami baptisan Roh
Kudus di sebuah kamar loteng yang ditumpangi oleh mereka di Yerusalem. Terjadi
perubahan drastis, Petrus yang tadinya pengecut menjadi pemberani dan
khotbahnya di serambi Salomo menyebabkan 3000 orang bertobat dan memberi diri
dibaptis.
Fenomena ini
berlanjut terus, rasul-rasul memberitakan
Injil dengan kuasa Roh Kudus sehingga Injil terus merambah sampai ke seantero
dunia. Dan kalau kita menjadi pengkikut Kristus hari ini, tidak terlepas dari
peristiwa yang melanda murid-murid pada masa itu.
Awal abad
ke-20, Kebangunan Rohani terjadi di Wales, Inggris tahun 1904, Kebangunan
Rohani di Topeka Kansas, Amerika tahun 1906 menandai berkobarnya pekabaran
Injil oleh kuasa Roh Kudus sampai kini bahkan sampai kepada Kedatangan Yesus
Kristus kembali ke bumi ini.
Gerakan
Pantekosta atau Pentakosta di Indonesia diawali dengan datangnya dua keluarga
misionaris dari Amerika Serikat pada tahun 1921. Dari Pelabuhan Seattle,
Washington, tanggal 4 Januari 1921, sebuah kapal berbendera Jepang, Suwa Maru,
melepas jangkar untuk tujuan yang amat jauh, membelah samudera Pasifik. Seperti
biasanya Suwa Maru mengangkut penumpang dan barang. Namun hari itu, kapal ini
mengangkut enam penumpang yang sedang menuju Pelabuhan Internasional Batavia,
kini Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Keenam
penumpang itu sedang membuat sejarah penting untuk suatu gerakan besar di
Indonesia. Mereka adalah Cornelis Groesbeek (46 tahun) dan istrinya Marie
Groesbeek serta dua anaknya Jinny (8 tahun) dan Corrie (6 tahun), dan Dirk
Richard Van Klaveren (43 tahun) bersama istrinya (40 tahun).
Mereka sedang
dalam perjalanan misi penginjilan ke Indonesia menyebarkan pengajaran yang
dalam 15 tahun terakhir amat menggetarkan Amerika, sejak kebangunan rohani di
Azusa Street.
Perjalanan misi
dua keluarga penginjil ini berawal dari sangat rajinnya mereka mengikuti
kebaktian di Gereja Bethel Temple, Seattle. Bukan kebaktian biasa, memang. Di
sana mereka menyaksikan banyak orang dibaptis Roh Kudus, di sembuhkan dari
bermacam-macam penyakit, orang-orang bertobat dan menyerahkan diri dibaptis
air.
Ketika mereka
yakin dengan penglihatan yang diterima, mereka menyampaikannya kepada Gembala
Sidang Rev. W.H. Offiler. Sang gembala mendapat konfirmasi bahwa perjalanan
misi ke Indonesia adalah kehendak Tuhan.
Maka
dikerahkannya seluruh anggota jemaat untuk mendukung misi tersebut.
Program
pengiriman misionaris pun didukung para anggota jemaat. Di saat program
pencarían dana sudah berhasil mengumpulkan 1.700 Dollar AS, bantuan yang datang
berhenti.
Padahal tim
misi membutuhkan 2.200 Dollar AS. Masih kurang 500 Dollar AS.
“Dalam beberapa
waktu tak ada satu dollar pun yang kami terima, karena itu kami pun mulai ragu
jangan-jangan kami keliru merestui dan merencanakan perjalanan misi ini,” kata
Rev. Offiler.
Mereka pun
bergumul, berusaha mencari tahu kehendak Tuhan. “Kami menyerahkan persoalan ini
kepada Tuhan dan menunggu jawabannya, sementara waktu keberangkatan sudah
semakin dekat. Keuangan tetap suram dan tidak berubah,” seperti dikutip Pdt.
Dr. Nicky J.
Sumual dari malalah The Voice of Healing, Dallas, Texas, tahun 1952, untuk
bukunya Sejarah Gereja Pentakosta. Angka 500 Dollar AS menjadi ganjalan, tapi
itu membuat mereka banyak bertanya soal misi penginjilan ke Indonesia itu
kepada Tuhan.
Suatu hari
selesai kebaktian, ada seorang wanita penderita tumor ganas datang meminta
pelayanan doa kepada Rev. Offiler. Menurut wanita itu ia diberitahu dokter yang
sudah merawatnya selama lima tahun bahwa ia harus segera dioperasi. Jika dalam
tiga hari tumor itu tidak diangkat dari tubuhnya, dokter sudah tidak mau
bertanggung jawab lagi atasnya. Rev. Offiler pun mendoakannya.
Setelah
didoakan wanita itu pulang karena dia mulai merasa ada perubahan yang baik di
tubuhnya yang selama ini sakit.
Setelah
beberapa saat ia di rumahnya, pada waktu dia berjalan tanpa ia sadari ada
gumpalan daging yang jatuh dari tubuhnya. Ia kemudia sadar bahwa ia telah
disembuhkan. Ia berdoa dan berkata, “Tuhan, saya akan pergi lagi ke dokter
bedah yang menangai saya selam ini. Jika dokter itu membenarkan bahwa saya
telah sembuh, saya akan memberikan 500 Dollar AS kepada Rev.
Offiler.”
Memang wanita itu benar-benar sembuh, dan ia menunaikan nazarnya, memberikan
500 Dollar AS kepada Rev. Offiler. Dengan dicukupinya kebutuhan dana untuk
rencana perjalanan misi ke Indonesia, keluarga Groesbeek dan Van Klaveren pun
berangkat ke Indonesia dengan kapal Suwa Maru. Mereka tiba di Jakarta sekitar
dua bulan kemudian, awal Maret 1921. Mereka memulai misinya di Jawa dan Bali
dengan ditandai mujizat kesembuhan dan melalui murid-muridnya seterusnya ke
seluruh nusantara.

No comments:
Post a Comment