
Pemerintah China mulai melakukan tekanan terhadap pemeluk Kristen dan Katolik. Mereka menutup gereja, menghancurkan tanda salib, membakar injil, serta memaksa pemeluk Kristen menyangkal keimanan mereka dengan menandatangani suatu formulir. Saat ini, ada sekitar 38 juta pemeluk Kristen di China.
Oleh: Christopher Bodeen (Associated Press)
Pemerintah China menggrebek beberapa kongregasi Kristen di Beijing dan beberapa provinsi lain. Mereka menghancurkan tanda salib, membakar injil, menutup gereja, dan memerintah jamaah untuk menandatangani perjanjian melepaskan kepercayaan mereka. Hal ini menurut laporan para pendeta dan satu grup yang memantau agama di China.
Bob Fu, anggota grup asal Amerika Serikat Chna Aid, mengatakan penutupan gereja di provinsi Henan dan gereja besar yang penting di Beijing dalam beberapa minggu belakangan, menandai “eskalasi yang signifikan” dari penggrebekan tersebut.
“Komunitas internasional harus waspada dan marah atas pelanggaran terang-terangan terhadap kebebasan beragama ini,” tulisnya dalam sebuah surel.
Di bawah Presiden Xi Jinping, pemimpin China yang paling kuat sejak Mao Zedong, pemeluk agama melihat kebebasan mereka menyusut secara dramatis, bahkan saat negara itu mengalami kebangkitan religius.
Pakar dan aktivis mengatakan, seiring dia menumpuk kekuasaan, Xi melakukan supresi yang sangat sistematis terhadap Kristen di negara itu, sejak kebebasan beragama dimasukkan ke dalam konstitusi China pada tahun 1982.
Fu juga memberikan rekaman video dari apa yang tampak seperti tumpukan injil yang terbakar. Ia juga menunjukkan formulir yang menyatakan, orang yang menandatangani dokumen itu telah melepaskan kepercayaan mereka.
Dia mengatakan, hal itu menjadi kali pertama—sejak Revolusi Budaya Mao yang radikal pada 1966-1976—pemeluk Kristen diharuskan membuat deklarasi semacam itu, dengan ancaman akan dikeluarkan dari sekolah dan kehilangan tunjangan.
Seorang pendeta Kristen di kota Nanyang, Henan, mengatakan tanda salib, injil, dan perabotan dibakar saat penggrebekan gerejanya pada tanggal 5 September.
Pastor itu, yang meminta untuk tidak diidentifikasi untuk menghindari pembalasan dari pihak pemerintah, mengatakan beberapa orang memasuki gereja jam 5 pagi, saat gereja baru dibuka. Mereka lalu mulai mengambil barang-barang.
Dia mengatakan, gereja telah melakukan diskusi dengan pemerintah lokal yang meminta gereja untuk “reformasi” sendiri. Tapi belum ada kesepakatan yang tercapai atau dokumen resmi yang dikeluarkan.
Hukum China mengharuskan pemeluk agama untuk beribadah hanya di kongregasi yang terdaftar di pemerintah, namun jutaan dari mereka adalah jamaah apa yang disebut gereja bawah tanah (tidak resmi) atau rumah-rumah gereja yang melanggar aturan pemerintah.
Seorang petugas pemerintah yang dihubungi melalui telepon di kota Nanyang membantah tuduhan itu, mengatakan bahwa pemerintah menghormati kebebasan beragama. Pria itu menolak untuk memberikan namanya, sesuatu yang biasa dilakukan pejabat dan petugas pemerintah China.
Sedangkan seseorang yang menjawab telepon di kantor urusan agama lokal mengatakan, mereka “masih belum jelas” soal perkara itu.
Di Beijing, gereja Zion ditutup pada hari Minggu (9/9), oleh sekitar 60 pekerja pemerintah yang tiba pada pukul 4.30 pagi. Mereka diiringi oleh bus, mobil polisi, dan truk pemadam kebakaran, ujar pendeta gereja itu, Ezra Jin Mingri, Senin (10/9). Zion dikenal sebagai rumah gereja terbesar di Beijing, yang memiliki enam cabang.
Pemerintah mengatakan gereja itu ilegal dan menyegel properti gereja, ujar Jin. Hal itu dilakukan pemerintah setelah membekukan aset pribadi pendeta tersebut, dalam upaya memaksanya mengikuti keinginan mereka.
“Gereja-gereja akan terus berkembang. Memblokir tempatnya hanya akan menajamkan konflik,” ujar Jin pada Associated Press melalui telepon.
Sebuah peringatan diunggah pada hari Minggu (9/9) di situs pemerintah distrik Chaoyang di Beijing, mengatakan Gereja Zion telah ditutup karena tidak mendaftarkan diri ke pemerintah.
Seluruh agama yang diakui secara resmi di China nampaknya telah mengalami penggrebekan. Contoh yang paling ekstrem, sekitar 1 juta penduduk Uighur dan anggota kelompok minoritas Muslim lainnya di barat laut negara itu telah ditahan di kamp indoktrinasi, tempat mereka dipaksa untuk menyangkal Islam dan mengakui kesetiaan mereka pada Partai Komunis.
Pemerintah China mengatakan, mereka mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mengeliminasi ekstremisme, namun membantah telah membangun kamp.
China memiliki sekitar 38 juta Protestan, dan pakar memperkirakan, negara itu akan memiliki komunitas Kristen terbesar dalam beberapa dekade.
Keterangan foto utama: Lukisan religius Kristen dan Injil dipajang di balik jeruji di suatu Gereja Katolik tidak resmi di kota Jiexi, di provinsi Guangdong. Satu grup yang mengawasi Kristen di China mengatakan, pemerintah telah melakukan penggrebekan pada kongregasi di Beijing dan beberapa provinsi lain, menghancurkan tanda salib, membakar injil, dan memerintahkan jamaan untuk menyangkal iman mereka. (Foto: AP/Andy Wong)
No comments:
Post a Comment