Setelah di
atas kita telah meninjau pandangan umum tentang sifat–sifat ketuhanan pada anak-anak maka kita masuk pada
perkembangan jiwa ketuhanannya di usia remaja. Perkembangan sifat ketuhanan
pada remaja dipengaruhi oleh faktor jasmani dan rohaninya yang berkembang oleh
penghayatan diri maupun dorongan apa yang dia terima dari luar. Faktor-faktor
yang menjadi penentu perkembangan itu adalah:
a.
Pertumbuhan
pikiran dan mental
Remaja lebih bebas dalam berkreasi
terhadap sifat ketuhanannya. Pedoman yang cenderung konservatif yang sifatnya
mengikat baik dalam liturgi maupun doktrin membuat mereka gerah. Mereka
cenderung ingin sesuatu yang mendukung keingintahuannya tentang Tuhan dalam
gaya dunia mereka yang bebas dan terbuka mengemukakan pendapat. Mereka sudah
lebih kritis dan tidak bisa diarahkan lagi seperti anak kecil dalam pedoman
keimanannya. Itu dikarenakan mereka telah memasuki area-area baru dalam
pergaulan hidupnya yang memperkenalkan mereka bukan hanya pada dunia ketuhanan
tapi pada dunia sosial, olahraga, kesenian, mode, ekonomi, dll. Dan itu terjadi
dalam hidupnya dengan porsi yang sama atau setara. Dalam fase ini remaja
ditemui lebih senang mengikuti pertumbuhan pikiran dan mentalnya dalam dia
mengenal Tuhan.
b.
Perkembangan
perasaan
Di mana seorang remaja telah beralih
dari perasaan anak-anak menuju perasaan yang mengarah pada kedewasaan menilai,
melihat, dan menentukan sikap. Di sini mereka yang terlatih sejak kecil dalam
paham-paham agama akan terdorong membawa perasaannya di dalam ketuhanannya.
Sementara mereka yang tidak terlatih ketuhanannya akan terdorong pada
perasaannya sendiri dan bisa saja itu tanpa kekang dan batas. Faktor perasaan
menjadi penentu yang penting dalam perkembangan ketuhanan pada remaja sebab
sebagaimana mereka rentan dengan perasaan mereka yang sedang dalam masa latihan
menjadi dewasa demikian pula oleh perasaan itu mereka akan segera membuat konsep tentang Tuhan secara tidak langsung.
c.
Pergaulan
Di mana pergaulan menjadi faktor
eksternal yang paling utama di dalam seorang remaja berkembang sifat
ketuhanannya. Ini bukan hanya berbicara di lingkungan mana saja dia berada tapi
berbicara mengenai bagaimana pembawaan dirinya dalam setiap lingkungan tersebut
dan sejauh mana dia diterima oleh lingkungan-lingkungan itu. Seorang anak yang
selalu diterima dan yang sering tertolak akan sangat berbeda perkembangan
ketuhanannya. Ada dua kemungkinan yang
akan terjadi bagi remaja yang menghadapi salah satu dari kedua kasus itu.
Pertama jika dia selalu diterima umumnya ketuhanannya tidak akan kuat tergantung apa yang dia
terima dari lingkungan itu. Jika sebagaian besar adalah hal sekuler maka dia
tidak akan kuat dalam konsep ketuhanannya. Kemungkinan kedua yang menurut saya
amat jarang terjadi pada remaja yang selalu diterima adalah jika dia menjadi
pribadi yang kuat dalam konsep ketuhanannya dari dalam diri pribadi. Sebab dia
sudah amat terbiasa dengan keadaan memiliki banyak teman dan orang-orang yang
selalu ada buat dia. Meskipun kemungkinan apapun selalu ada, tergantung dari
apa yang dia terima selama dia diperhatikan, apakah itu mengarahkannya untuk
menikmati Tuhan secara pribadi atau menikmati Tuhan sebatas pada pergaulan
sosial. Kedua adalah jika dia seorang remaja yang selalu terolak dia akan
menjadi pribadi yang penuh pesimis dan kebencian serta kekecewaan kepada Tuhan
dan cenderung mempersalahkan Tuhan atas keberadaan pribadinya yang sulit
diterima. Ada banyak keterbatasan diri yang dia miliki yang bersifat dalam diri
dan bukan karena dari kondisi luarnya. Itu bisa mendorong dia menjadi pribadi
yang bahkan tidak akan percaya Tuhan atau memusuhi Tuhan. Namun kemungkinan
kedua dari keberadaan dia sebagai remaja yang sering tertolak, adalah dia
justru akan memiliki hubungan pribadi yang amat kuat dan lekat dengan Tuhannya
dalam sifat ketuhanannya. Hal ini sebagian besar terjadi pada anak-anak yang
sejak kecil telah ditanamkan jiwa ketuhanan yang mendalam dan dilatih dalam
keagamaan yang tidak hanya bersifat rutinitas tapi menjadi kesukaannya.

No comments:
Post a Comment