1.
Latar Belakang
Pada 1550 di Belanda saat itu Negeri
tersebut mengalami penjajahan dari Spanyol yang beragama Katolik. Sementara di Belanda
muncullah kaum-kaum Calvinis. Kaum Calvinis yang beraliran protestan ini
ditindas oleh raja Spanyol. Dengan demikian terjadilah pemberontakan dan
akhirnya Belanda Utara dapat merdeka pada 1590. Saat itu perang di Belanda
masih berlangsung selama setengah abad lamanya. Portugal yang saat itu turut
menjadi jajahan Spanyol turut terjun dalam perang tersebut sebagai rekan
Spanyol. Di Belanda Utara yang sudah lebih dulu merdeka agama Katolik menyusut
sebab ditekan karena dicurigai menjadi mata-mata Spanyol.Jadi ketika awal
Belanda tiba di Indonesia pada 1596 di Belanda masih berkecamuk perang melawan
penjajah Spanyol dan Portugal.
Saat
tiba di Indonesia ternyata Portugal sudah lebih dahulu menjejakan kakinya di
sini. semangat perlawanan kedua kubu di Eropa tersulut dan berlanjut di
Indonesia. Hal ini turut berimbas pada persaingan agama kedua belah pihak. Di
mana Portugal menyebarkan Katolik dan Belanda menyebarkan Protestan. Satu
kemenangan bersejarah Belanda atas Portugal terjadi di Ambon. Di mana Belanda
di bawah pimpinan Admiral Stephen Van der Haghen berhasil menumbangkan Portugal
di Ambon dan merayakan kemenangan itu pada hari minggu tanggal 27 Februari 1605
dalam sebuah Ibadah syukuran. Dalam ibadah tersebutlah untuk pertama kali tata
cara ibadah Protestan diperkenalkan di Indonesia.
Pada 1602 Belanda membentuk VOC
(Vereenigde Oost Indische Compagnie) sebagai lembaga perdagangan dan
pemerintahan yang wilayahnya meliputi Madagaskar hingga Magelhaes, wilayah itu
mencakup Indonesia dan VOC bertanggung jawab penuh atas misi penginjilan
Protestan di negeri-negeri jajahan Belanda. Lembaga inilah yang akhirnya
menanamkan Kekristenan Calvinis di Indonesia. Ketika VOC dibubarkan pada 31
desember 1799 maka dengan sendirinya nusantara berada langsung di bawah jajahan
pemerintah Belanda. Jadi periode 1605-1799 adalah periode di mana gereja
protestan Indonesia berada di bawah kepengurusan VOC. Pada saat VOC mengurus
sistem penginjilan dia menerapkan caranya dalam monopoli perdagangan. Siapa
punya wilayah maka agamanya yang berlaku. Oleh karena itu Katolik merosot jauh
saat Belanda menguasai Indonesia di mana para Imamnya diusir dan warga dipaksa
memeluk protestan. Alasan para Imam katolik diusir karena dicurigai sebagai
mata-mata musuh yaitu Portugal dan Spanyol.
2. Hal yang menonjol
Beberapa pendeta yang terkenal saat itu
adalah Sebastian Danckaerts, Adrian Huselbos, dan Heurnius. Danckaerts selain
pandai bahasa melayu juga memeperhatikan dunia sekolah. Atas usulnya setiap
hari setiap murid sekolah mendapat jatah beras dari pemerintah Belanda. Dia
membuka sekolah guru untuk melatih “penolong” yang cocok bagi pekerjaan di
sekolah dan di jemaat. Di sinilah asal-usul kepengurusan gereja atau para
pelayan pembantu. Huselbos adalah pendeta pertama yang membentuk Majelis Gereja
di Jakarta. Di sinilah cikal-bakal Majelis dalam jemaat. Sementara Heurnius
satu-satunya pendeta yang bekerja keras menginjil pada kaum tiong hoa di
Indonesia, bahkan dia menerjemahkan pengakuan iman rasuli dan tulisan-tulisan
Kristen ke dalam bahasa tiong hoa. Inilah cikal-bakal mengapa banyak orang
tiong hoa Indonesia yang memeluk agama Kristen.
Pada tahun 1733 terjemahan Alkitab ke
dalam bahasa melayu secara utuh selesai dicetak. Alkitab bahasa melayu itu
adalah terjemahan Melchior Leijdeker seorang pendeta Batavia tahun 1678-1701. Gaya bahasanya amat tinggi
sehingga perlu ditambahkan daftar kata-kata yang tidak dipahami. Sebelumnya
sudah ada terjemahan Valentijn yang memakai bahasa sederhana namun banyak mengalami
kesalahan dalam penerjemahannya karena mengikuti gaya bahasa sehari-hari.
Terjemahan ini tidak diterima untuk dicetak, namun saat Valentijn berusaha
menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa melayu, tidak ada pendeta lain yang giat
menerjemahkan seperti halnya dia.
3. Perbedaan tujuan
Dalam naungan VOC yang lebih mengutamakan
kepentingan dagang dan bisnis negara maka gereja akhirnya harus tunduk misi
penginjilannya kepada misi perdagangan VOC. Para pendeta yang menginjil diawasi
agar tidak ada yang sampai kegiatan kerohaniannya bisa menyulut pemberontakan
terhadap Belanda. Para pendeta harus berhati-hati dan menempatkan kepentingan
VOC di atas penginjilan. Hal itu nampak pada pemecatan dan pemulangan para
pendeta yang dinilai VOC telah membahayakan dan menegur gaya hidup VOC yang
berfoya-foya, menindas, dan bergelimang dosa. Dalam hal ini VOC memiliki
kewenangan untuk memecat dan mengganti pendeta. Dalam kebaktian para pendeta
diharuskan untuk memuji tindakan VOC dan berdoa memohonkan berkat Tuhan atas
senjata-senjata mereka. Hal ini membuat para pendeta Belanda enggan datang ke
Indonesia karena hanya akan menjadi budak VOC dan tidak bebas dalam
memberitakan Injil. Mungkin hal inilah yang mnenyebabkan mengapa Belanda
mendatangkan banyak penginjil dari Jerman. VOC juga menolak membangun suatu
lembaga pendidikan Teologi dengan alasan keuangan. Selain itu VOC juga menolak
mengangkat pendeta dari pribumi. Cornelis senen seorang tokoh penginjilan asal
Banda tidak pernah ditahbiskan menjadi pendeta karena ia tidak bisa lulus test menurut metodologi
barat meskipun sepanjang hidupnya dia membaktikan diri dalam pelayanan.
Akibatnya selama VOC berkuasa di Indonesia kekristenan mengalami kekurangan
tenaga penginjil dan pengajar sehingga pengenalan Allah hanya seperti baju luar
tanpa memahamai isi di dalamnya. Hal itu membuat jemaat masih terpengaruh
tahyul kepercayaan leluhur dalam kekristenan mereka. Gereja Indonesia di bagian
barat akhirnya menjadi gereja benteng dalam arti gereja yang dibentengi VOC
dari penduduk mayoritas muslim. Di mana gereja tersebut menjadi Eropa Sentris
sehingga dianggap umum sebagai rakyat yang terpisah dari pribumi yang
seolah-olah kodratnya sebagai orang Indonesia asli pudar karena menganut agama
barat. Sementara gereja di Indonesia timur menjadi gereja benteng pula dalam
arti yang lain yaitu menjadi salah satu benteng kekuatan VOC untuk memperkuat
dirinya dan kepentingannya dalam petualangannya di Indonesia.
Sesudah saman VOC
Akibat kerugian terus-menerus oleh karena berbagai
perlawanan dan ongkos perang serta para pejabat yang korupsi akhirnya VOC bubar
pada 31 desember 1799. Sejak 1 Januari gereja yang tadinya diasuh VOC akhirnya
dipegang oleh pemerintah Belanda secara langsung. Pemerintah lalu menyerahkan
penginjilan kepada para lembaga swasta dan organisasi lingkungan Gereja
Protestan di Indonesia atau GPI. Pada era ini munculah tokoh-tokoh Zendeling
atau penginjil di Indonesia yang bersifat pietis atau revival.
1. Para Zendeling (Pietis)
Para Zendeling lebih kritis dan merdeka
dalam menyampaikan suara Tuhan. Mereka bahkan berani menunjukan sikap kritis
terhadap gereja, negara, dan kebudayaan setempat. Pemahaman mereka adalah
sebagai berikut:
1. Usaha penginjilan tidak
perlu terikat dengan gereja sebagai lembaga yang mapan.
2. Gereja tidak perlu terikat
dengan negara.
3. Kebudayaan setempat umumnya
buruk karena itu perlu dijauhkan dari gereja.
4. Bersifat individualistis di
mana seseorang dicabut dari kolektifitas lingkungannya (keselamatan pribadi).
5. Paternalistis, merasa lebih
tinggi terhadap penduduk pribumi termasuk bagi mereka yang telah masuk Kristen.
6. Mutu iman lebih bergantung
pada manusia itu sendiri dan bukan lebih kepada kasih karunia Allah. Hal ini
membuat banyak pelayan jemaat pribumi yang kompetensinya dalam pelayanan dan
pengetahuan Firman dianggap rendah. Kalau sebelumnya para pelayan pribumi disepelekan
karena ras maka sekarang mereka disepelekan karena ilmu dan keimanan.
2. Dua wadah penginjilan
Ada dua wadah penginjilan saat itu:
1. GPI atau Indische Kerk,
yaitu gereja negeri yang meliputi orang Kristen berkebangsaan Eropa dan
kemudian turut bergabung orang Kristen pribumi.
2. Lembaga-lembaga penginjilan
swasta yang melakukan kegiatan di sejumlah daerah atas isin Belanda.
Ada dua hal alasan Belanda
membentuk dua wadah penginjilan ini:
1. Di Indonesia terdapat jemaat
bekas asuhan VOC. Sebagai ahli waris VOC maka jemaat itu harus dipelihara dalam
sebuah wadah gereja yang tertata baik yaitu GPI.
2. Pemerintah Belanda sadar
bahwa muslim umumnya memusuhi Belanda daripada memusuhi Kristen hingga ingin
secepatnya agar daerah-daerah yang masih beragama suku dapat diinjili dan masuk
Kristen bukannya islam. Karena itu Belanda meluaskan pekabaran injil
lembaga-lembaga lain yang tidak di bawah pemerintah Belanda.

No comments:
Post a Comment