Sunday, February 24, 2019

Sejarah Gereja Protestan di Indonesia

1.       

Latar Belakang
     Pada 1550 di Belanda saat itu Negeri tersebut mengalami penjajahan dari Spanyol yang beragama Katolik. Sementara di Belanda muncullah kaum-kaum Calvinis. Kaum Calvinis yang beraliran protestan ini ditindas oleh raja Spanyol. Dengan demikian terjadilah pemberontakan dan akhirnya Belanda Utara dapat merdeka pada 1590. Saat itu perang di Belanda masih berlangsung selama setengah abad lamanya. Portugal yang saat itu turut menjadi jajahan Spanyol turut terjun dalam perang tersebut sebagai rekan Spanyol. Di Belanda Utara yang sudah lebih dulu merdeka agama Katolik menyusut sebab ditekan karena dicurigai menjadi mata-mata Spanyol.Jadi ketika awal Belanda tiba di Indonesia pada 1596 di Belanda masih berkecamuk perang melawan penjajah Spanyol dan Portugal.
     Saat tiba di Indonesia ternyata Portugal sudah lebih dahulu menjejakan kakinya di sini. semangat perlawanan kedua kubu di Eropa tersulut dan berlanjut di Indonesia. Hal ini turut berimbas pada persaingan agama kedua belah pihak. Di mana Portugal menyebarkan Katolik dan Belanda menyebarkan Protestan. Satu kemenangan bersejarah Belanda atas Portugal terjadi di Ambon. Di mana Belanda di bawah pimpinan Admiral Stephen Van der Haghen berhasil menumbangkan Portugal di Ambon dan merayakan kemenangan itu pada hari minggu tanggal 27 Februari 1605 dalam sebuah Ibadah syukuran. Dalam ibadah tersebutlah untuk pertama kali tata cara ibadah Protestan diperkenalkan di Indonesia.
     Pada 1602 Belanda membentuk VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) sebagai lembaga perdagangan dan pemerintahan yang wilayahnya meliputi Madagaskar hingga Magelhaes, wilayah itu mencakup Indonesia dan VOC bertanggung jawab penuh atas misi penginjilan Protestan di negeri-negeri jajahan Belanda. Lembaga inilah yang akhirnya menanamkan Kekristenan Calvinis di Indonesia. Ketika VOC dibubarkan pada 31 desember 1799 maka dengan sendirinya nusantara berada langsung di bawah jajahan pemerintah Belanda. Jadi periode 1605-1799 adalah periode di mana gereja protestan Indonesia berada di bawah kepengurusan VOC. Pada saat VOC mengurus sistem penginjilan dia menerapkan caranya dalam monopoli perdagangan. Siapa punya wilayah maka agamanya yang berlaku. Oleh karena itu Katolik merosot jauh saat Belanda menguasai Indonesia di mana para Imamnya diusir dan warga dipaksa memeluk protestan. Alasan para Imam katolik diusir karena dicurigai sebagai mata-mata musuh yaitu Portugal dan Spanyol.
2.       Hal yang menonjol
     Beberapa pendeta yang terkenal saat itu adalah Sebastian Danckaerts, Adrian Huselbos, dan Heurnius. Danckaerts selain pandai bahasa melayu juga memeperhatikan dunia sekolah. Atas usulnya setiap hari setiap murid sekolah mendapat jatah beras dari pemerintah Belanda. Dia membuka sekolah guru untuk melatih “penolong” yang cocok bagi pekerjaan di sekolah dan di jemaat. Di sinilah asal-usul kepengurusan gereja atau para pelayan pembantu. Huselbos adalah pendeta pertama yang membentuk Majelis Gereja di Jakarta. Di sinilah cikal-bakal Majelis dalam jemaat. Sementara Heurnius satu-satunya pendeta yang bekerja keras menginjil pada kaum tiong hoa di Indonesia, bahkan dia menerjemahkan pengakuan iman rasuli dan tulisan-tulisan Kristen ke dalam bahasa tiong hoa. Inilah cikal-bakal mengapa banyak orang tiong hoa Indonesia yang memeluk agama Kristen.
     Pada tahun 1733 terjemahan Alkitab ke dalam bahasa melayu secara utuh selesai dicetak. Alkitab bahasa melayu itu adalah terjemahan Melchior Leijdeker seorang pendeta Batavia  tahun 1678-1701. Gaya bahasanya amat tinggi sehingga perlu ditambahkan daftar kata-kata yang tidak dipahami. Sebelumnya sudah ada terjemahan Valentijn yang memakai bahasa sederhana namun banyak mengalami kesalahan dalam penerjemahannya karena mengikuti gaya bahasa sehari-hari. Terjemahan ini tidak diterima untuk dicetak, namun saat Valentijn berusaha menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa melayu, tidak ada pendeta lain yang giat menerjemahkan seperti halnya dia.


3.       Perbedaan tujuan
     Dalam naungan VOC yang lebih mengutamakan kepentingan dagang dan bisnis negara maka gereja akhirnya harus tunduk misi penginjilannya kepada misi perdagangan VOC. Para pendeta yang menginjil diawasi agar tidak ada yang sampai kegiatan kerohaniannya bisa menyulut pemberontakan terhadap Belanda. Para pendeta harus berhati-hati dan menempatkan kepentingan VOC di atas penginjilan. Hal itu nampak pada pemecatan dan pemulangan para pendeta yang dinilai VOC telah membahayakan dan menegur gaya hidup VOC yang berfoya-foya, menindas, dan bergelimang dosa. Dalam hal ini VOC memiliki kewenangan untuk memecat dan mengganti pendeta. Dalam kebaktian para pendeta diharuskan untuk memuji tindakan VOC dan berdoa memohonkan berkat Tuhan atas senjata-senjata mereka. Hal ini membuat para pendeta Belanda enggan datang ke Indonesia karena hanya akan menjadi budak VOC dan tidak bebas dalam memberitakan Injil. Mungkin hal inilah yang mnenyebabkan mengapa Belanda mendatangkan banyak penginjil dari Jerman. VOC juga menolak membangun suatu lembaga pendidikan Teologi dengan alasan keuangan. Selain itu VOC juga menolak mengangkat pendeta dari pribumi. Cornelis senen seorang tokoh penginjilan asal Banda tidak pernah ditahbiskan menjadi pendeta karena  ia tidak bisa lulus test menurut metodologi barat meskipun sepanjang hidupnya dia membaktikan diri dalam pelayanan. Akibatnya selama VOC berkuasa di Indonesia kekristenan mengalami kekurangan tenaga penginjil dan pengajar sehingga pengenalan Allah hanya seperti baju luar tanpa memahamai isi di dalamnya. Hal itu membuat jemaat masih terpengaruh tahyul kepercayaan leluhur dalam kekristenan mereka. Gereja Indonesia di bagian barat akhirnya menjadi gereja benteng dalam arti gereja yang dibentengi VOC dari penduduk mayoritas muslim. Di mana gereja tersebut menjadi Eropa Sentris sehingga dianggap umum sebagai rakyat yang terpisah dari pribumi yang seolah-olah kodratnya sebagai orang Indonesia asli pudar karena menganut agama barat. Sementara gereja di Indonesia timur menjadi gereja benteng pula dalam arti yang lain yaitu menjadi salah satu benteng kekuatan VOC untuk memperkuat dirinya dan kepentingannya dalam petualangannya di Indonesia.
Sesudah saman VOC
     Akibat kerugian terus-menerus oleh karena berbagai perlawanan dan ongkos perang serta para pejabat yang korupsi akhirnya VOC bubar pada 31 desember 1799. Sejak 1 Januari gereja yang tadinya diasuh VOC akhirnya dipegang oleh pemerintah Belanda secara langsung. Pemerintah lalu menyerahkan penginjilan kepada para lembaga swasta dan organisasi lingkungan Gereja Protestan di Indonesia atau GPI. Pada era ini munculah tokoh-tokoh Zendeling atau penginjil di Indonesia yang bersifat pietis atau revival.
1.       Para Zendeling (Pietis)
     Para Zendeling lebih kritis dan merdeka dalam menyampaikan suara Tuhan. Mereka bahkan berani menunjukan sikap kritis terhadap gereja, negara, dan kebudayaan setempat. Pemahaman mereka adalah sebagai berikut:
1.       Usaha penginjilan tidak perlu terikat dengan gereja sebagai lembaga yang mapan.
2.       Gereja tidak perlu terikat dengan negara.
3.       Kebudayaan setempat umumnya buruk karena itu perlu dijauhkan dari gereja.
4.       Bersifat individualistis di mana seseorang dicabut dari kolektifitas lingkungannya (keselamatan pribadi).
5.       Paternalistis, merasa lebih tinggi terhadap penduduk pribumi termasuk bagi mereka yang telah masuk Kristen.
6.       Mutu iman lebih bergantung pada manusia itu sendiri dan bukan lebih kepada kasih karunia Allah. Hal ini membuat banyak pelayan jemaat pribumi yang kompetensinya dalam pelayanan dan pengetahuan Firman dianggap rendah. Kalau sebelumnya para pelayan pribumi disepelekan karena ras maka sekarang mereka disepelekan karena ilmu dan keimanan.

2.       Dua wadah penginjilan
     Ada dua wadah penginjilan saat itu:
1.       GPI atau Indische Kerk, yaitu gereja negeri yang meliputi orang Kristen berkebangsaan Eropa dan kemudian turut bergabung orang Kristen pribumi.
2.       Lembaga-lembaga penginjilan swasta yang melakukan kegiatan di sejumlah daerah atas isin Belanda.
Ada dua hal alasan Belanda membentuk dua wadah penginjilan ini:
1.       Di Indonesia terdapat jemaat bekas asuhan VOC. Sebagai ahli waris VOC maka jemaat itu harus dipelihara dalam sebuah wadah gereja yang tertata baik yaitu GPI.
2.       Pemerintah Belanda sadar bahwa muslim umumnya memusuhi Belanda daripada memusuhi Kristen hingga ingin secepatnya agar daerah-daerah yang masih beragama suku dapat diinjili dan masuk Kristen bukannya islam. Karena itu Belanda meluaskan pekabaran injil lembaga-lembaga lain yang tidak di bawah pemerintah Belanda.

     Pada saat itu GPI terdiri dari gereja-gereja yang sudah mapan dalam struktur organisasi yaitu GPM Gereja Protestan Maluku, GMIM Gereja Masehi Injili di Minahasa, GMIT Gereja Masehi Injili Di Timor, GPIB Gereja Protestan Indonesia Barat, dsb. Selain wadah GPI ada juga gereja-gereja yang lain yang terbentuk secara sukuisme yaitu HKBP Huria Kristen Batak Protestan di Sumatera Utara, GKJW Gereja Kristen Jawi Wetan dan gereja-gereja minoritas hasil pekerjaan para Zendeling.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...