“Dengarkanlah
nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.”
Amsal
19 : 20.
Jika didikan dunia sebatas pada intelektualitas dan moralitas
maka didikan Allah di dalam kita itu lebih dari milik dunia. Sebab kita
menikmati KebenaranNya, Kebenaran dalam berpengetahuan akal budi atau intelek
dan kebenaran dalam bersikap baik atau moral. Di dalam Kristus kita menikmati
satu kesatuan antara didikan pengetahuan dan didikan sikap hidup. Kita beroleh
pembaharuan akal budi dan sikap, semua berawal dari Dia. Di dalam Yesus maka
kita akan kuat sebab Intelektualitas kepintaran kita adalah moral sikap hidup
kita yang baik. Moral sikap hdup kita yang baik pun adalah intelektualitas akal
budi kita sebab Kristuslah yang menjadi Intelektualitas dan Moralitas kita. Jika
mau melihat Manusia yang benar-benar berintelektual dan berakal budi luhur,
maka lihatlah Yesus. Di dalam Dia kita belajar menikmati Intelektual yang benar
yang menjadi hidup kita. Jika mau melihat Manusia yang benar-benar bermoralitas
utuh sempurna maka lihatlah Yesus.
Di dalam Dia kita
belajar dan menikmati Moralitas yang benar dan yang menjadi hidup kita. Sebab
intelektual dan moral adalah satu di dalam Kristus. Itu telah Dia nyatakan
dalam hidupNya sebagai manusia Ilahi dahulu. Milik dunia terpisah karena dosa,
seorang berintelektual belum tentu bermoral benar, seorang bermoral belum tentu
itu karena dia benar-benar berhati baik dan terdidik karena karakter diri
berbeda jauh dengan kebenaran Ilahi. Ada banyak orang berlaku moral karena
terpaksa, karena aturan, karena kewajiban, dan karena mencari muka, bukan
karena moral baik itu menjadi hidupnya. Setiap orang punya standar kebaikan dan
standar moral masing-masing. Namun Moralitas yang benar hanya ada di dalam
Yesus dan itu telah Dia nyatakan dalam seluruh hidupNya. Di dalam Yesus yang
sudah kita terima kita menikmati Dia sebagai Moral hidup kita dan Intelektual
akal budi kita. Kita menyerahkan segala keberadaan diri kita dalam berpikir dan
bersikap kepada Dia hingga makin lama secara alami Dia akan menyatukan akal
budi kita dan sikap kita dalam KebenaranNya. Inilah
kualitas hidup seorang Kristen, seorang pengikut Kristus, di mana dia memiliki
apa yang dunia tidak miliki, yaitu kesatuan aspek hidup dalam kebenaran Allah.
Lihat Yesus, Intelektual akal budiNya menjadi hidupNya dan muncul dalam
sikapNya yang baik dan benar. Lihat Yesus, Moralitas sikapNya itu menjadi
HidupNya dan muncul dalam hikmat akal budi yang benar. Itupun menjadi milik
kita dan diperkenankan kepada kita sejak kita terima Dia sebagai Tuhan dan
Juruselamat pribadi. Banyak orang mencari hal-hal lahiriah dan materi semata di
dalam Yesus, tetapi kita diajar dan dididik untuk mencari dan mendalami Dia
sebagai Pribadi dalam segala hal. Tidak salah kita mencari harta dan materi
tetapi carilah Tuhan dalam segala yang kita cari. Agar lewat segala realita
hidup ini kita menerima hikmatNya dan himahNya untuk kita semakin mengenal Dia.
Itulah apa yang disebut dengan carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya
maka semua akan ditambahkan kepada kita. Kerajaan Allah dan Kebenaran Allah itu
ada dan sempurna dalam Pribadi Yesus dan kita telah menerima Dia untuk semakin
kita dalami dan menyatu dengan Dia. Agar lewat itu kita semakin mengenal Dia,
Kerajaan Allah dan Kebenaran Alah yang nyata dalam satu wujud sempurna, Yesus
Kristus Tuhan.
Kitalah orang-orang
terdidik, yang mau dididik Allah dalam Yesus. Didikan dunia berbeda jauh dengan
didikan Allah. Terjadi penurunan makna didikan ketika kita memahaminya dalam
makna dunia. Dunia menilai didikan seperti halnya sebuah tindakan pendisiplinan
atau otoriter dari oknum berwewenang tertentu yang akan membebani kita dengan
berbagai latihan dan aturan keras dan berat. Didikan dalam makna Allah itu jauh
berbeda dengan makna dunia.
Didikan dalam makna
Allah itu utuh dalam kebaikan dan kebenaran. DidikanNya lemah lembut
sebagaimana ungkapan Yesus yang memanggil marilah sebab kuk Nya ringan bagi
kita. Kuk dunialah yang berat. Didikan Allah itu utuh dalam setiap realita
hidup kita. Sejak kita tinggal di dalam Dia maka kita telah masuk dalam ranah
pendidikan Allah. Apapun yang kita alami jika kita mau lekat dan peka dengan
DIa maka kita akan tahu bahwa itu menjadi jalan bagiNya untuk mendidik kita.
Ini bukan seperti makna dunia yaitu hajaran dan kekangan,
melainkan penghiburan dan penguatanNya bagi kita itupun adalah didikanNya.
Didikan Allah itu utuh bagi kita yang di dalam Yesus dan yang mau makin
mendalami Pribadi Kristus. Itu utuh dalam setiap yang kita alami. Jalan hidup
kita dan pengalaman kita menjadi sarana Allah untuk mendidik kita dalam kasih
dan kebenaranNya. Ini mencakup semua aspek, baik kelembutan maupun
ketegasanNya.
Suatu saat saya
berada di sebuah bus dan di dekat saya ada dua orang pria bercerita tentang
anak-anak mereka yang sudah menanjak dewasa. Seorang berkata bahwa dia
berprinsip modal masa depan bagi anak-anaknya adalah sekolah dan didikan, tanah
dan rumah biar mereka cari sendiri. Ini tentulah bijak. Seorang pria yang lain
pun berujar bahwa jika memang ada warisan maka tidak ada salahnya membagi itu pada
mereka. Ini pun juga bijak. Namun lebih bijak lagi dan berdampak kekal adanya
jika modal yang kita berikan apapun itu, ada Yesus di dalamNya.
Ada Yesus yang kita tanamkan kepada anak-anak kita dan generasi
didik kita hingga Yesuslah yang akan memperkaya hidupnya dalam segala
kebenaran. Apapun yang kita miliki biarlah itu menjadi sarana Allah untuk
membawa kita semakin lekat dan mengenal Kristus dan bukan menjadi sarana bagi
dosa untuk membuat kita semakin jauh dari Allah. Jika Kristus menjadi Pribadi segalanya
dalam diri kita maka harta dan materi semelimpah apapun yang kita miliki itu
takkan menyesatkan kita melainkan kita makin menikmati Kristus dalam segala
sesuatu. Benarlah kata rasul Yohanes bahwa barangsiapa tinggal di dalam Kristus
dia tidak berbuat dosa lagi,
(1 Yohanes 3 : 6).
Apa modal kita bagi
anak-anak kita? Apakah ada Yesus di dalamnya? Apakah ada Yesus di dalam didikan
kita dan pemberian kita? Apakah ada KasihNya dan KebenaranNya di dalam didikan
kita dan pemberian kita bagi mereka? Ajarilah mereka Yesus, kuatkan mereka dan
motivasi mereka untuk menuju kepada Yesus selalu. Hingga akhirnya kita semua
mencapai pengenalan akan Allah yang nyata dan
utuh dalam Yesus.
“Aku
berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami,
betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,dan
dapat mengenal kasih itu, sekalipun Ia melampaui segala pengetahuan. Aku
berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dialah,
yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau
pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi
Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun
sampai selama-lamanya. Amin.” (Efesus 3 : 18 – 21).

No comments:
Post a Comment