Friday, September 14, 2018

Modal masa depan

“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.”
Amsal 19 : 20.

     Ayat ini menguatkan kita untuk berbagi didikan dengan sesama terkhususnya terhadap anak-anak kita maupun anak didik kita. Itu agar supaya mereka memiliki masa depan. Orang terdidik cenderung diyakini memiliki masa depan. Jika kita kaji makin dalam di dalam Yesus maka kita akan mendapati bahwa menjadi orang terdidik dalam areanya Allah itu bukan sebatas seperti pandangan dunia di mana keterdidikan dilihat sebatas sekolah dan berpendidikan tinggi atau kedisiplinan keluarga. Sebab semua manusia telah gagal dalam didikan Allah karena dosa namun kita yang mau tinggal dalam Kristus berhak menerima didikan Allah dan berhak disebut sebagai orang-orang terdidik, sebab memiliki Yesus sebagai pendidik sejati kita.
Jika didikan dunia sebatas pada intelektualitas dan moralitas maka didikan Allah di dalam kita itu lebih dari milik dunia. Sebab kita menikmati KebenaranNya, Kebenaran dalam berpengetahuan akal budi atau intelek dan kebenaran dalam bersikap baik atau moral. Di dalam Kristus kita menikmati satu kesatuan antara didikan pengetahuan dan didikan sikap hidup. Kita beroleh pembaharuan akal budi dan sikap, semua berawal dari Dia. Di dalam Yesus maka kita akan kuat sebab Intelektualitas kepintaran kita adalah moral sikap hidup kita yang baik. Moral sikap hdup kita yang baik pun adalah intelektualitas akal budi kita sebab Kristuslah yang menjadi Intelektualitas dan Moralitas kita. Jika mau melihat Manusia yang benar-benar berintelektual dan berakal budi luhur, maka lihatlah Yesus. Di dalam Dia kita belajar menikmati Intelektual yang benar yang menjadi hidup kita. Jika mau melihat Manusia yang benar-benar bermoralitas utuh sempurna maka lihatlah Yesus.
     Di dalam Dia kita belajar dan menikmati Moralitas yang benar dan yang menjadi hidup kita. Sebab intelektual dan moral adalah satu di dalam Kristus. Itu telah Dia nyatakan dalam hidupNya sebagai manusia Ilahi dahulu. Milik dunia terpisah karena dosa, seorang berintelektual belum tentu bermoral benar, seorang bermoral belum tentu itu karena dia benar-benar berhati baik dan terdidik karena karakter diri berbeda jauh dengan kebenaran Ilahi. Ada banyak orang berlaku moral karena terpaksa, karena aturan, karena kewajiban, dan karena mencari muka, bukan karena moral baik itu menjadi hidupnya. Setiap orang punya standar kebaikan dan standar moral masing-masing. Namun Moralitas yang benar hanya ada di dalam Yesus dan itu telah Dia nyatakan dalam seluruh hidupNya. Di dalam Yesus yang sudah kita terima kita menikmati Dia sebagai Moral hidup kita dan Intelektual akal budi kita. Kita menyerahkan segala keberadaan diri kita dalam berpikir dan bersikap kepada Dia hingga makin lama secara alami Dia akan menyatukan akal budi kita dan sikap kita dalam KebenaranNya. Inilah kualitas hidup seorang Kristen, seorang pengikut Kristus, di mana dia memiliki apa yang dunia tidak miliki, yaitu kesatuan aspek hidup dalam kebenaran Allah.
     Lihat Yesus, Intelektual akal budiNya menjadi hidupNya dan muncul dalam sikapNya yang baik dan benar. Lihat Yesus, Moralitas sikapNya itu menjadi HidupNya dan muncul dalam hikmat akal budi yang benar. Itupun menjadi milik kita dan diperkenankan kepada kita sejak kita terima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Banyak orang mencari hal-hal lahiriah dan materi semata di dalam Yesus, tetapi kita diajar dan dididik untuk mencari dan mendalami Dia sebagai Pribadi dalam segala hal. Tidak salah kita mencari harta dan materi tetapi carilah Tuhan dalam segala yang kita cari. Agar lewat segala realita hidup ini kita menerima hikmatNya dan himahNya untuk kita semakin mengenal Dia. Itulah apa yang disebut dengan carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya maka semua akan ditambahkan kepada kita. Kerajaan Allah dan Kebenaran Allah itu ada dan sempurna dalam Pribadi Yesus dan kita telah menerima Dia untuk semakin kita dalami dan menyatu dengan Dia. Agar lewat itu kita semakin mengenal Dia, Kerajaan Allah dan Kebenaran Alah yang nyata dalam satu wujud sempurna, Yesus Kristus Tuhan.
     Kitalah orang-orang terdidik, yang mau dididik Allah dalam Yesus. Didikan dunia berbeda jauh dengan didikan Allah. Terjadi penurunan makna didikan ketika kita memahaminya dalam makna dunia. Dunia menilai didikan seperti halnya sebuah tindakan pendisiplinan atau otoriter dari oknum berwewenang tertentu yang akan membebani kita dengan berbagai latihan dan aturan keras dan berat. Didikan dalam makna Allah itu jauh berbeda dengan makna dunia.
     Didikan dalam makna Allah itu utuh dalam kebaikan dan kebenaran. DidikanNya lemah lembut sebagaimana ungkapan Yesus yang memanggil marilah sebab kuk Nya ringan bagi kita. Kuk dunialah yang berat. Didikan Allah itu utuh dalam setiap realita hidup kita. Sejak kita tinggal di dalam Dia maka kita telah masuk dalam ranah pendidikan Allah. Apapun yang kita alami jika kita mau lekat dan peka dengan DIa maka kita akan tahu bahwa itu menjadi jalan bagiNya untuk mendidik kita.
Ini bukan seperti makna dunia yaitu hajaran dan kekangan, melainkan penghiburan dan penguatanNya bagi kita itupun adalah didikanNya. Didikan Allah itu utuh bagi kita yang di dalam Yesus dan yang mau makin mendalami Pribadi Kristus. Itu utuh dalam setiap yang kita alami. Jalan hidup kita dan pengalaman kita menjadi sarana Allah untuk mendidik kita dalam kasih dan kebenaranNya. Ini mencakup semua aspek, baik kelembutan maupun ketegasanNya.
     Suatu saat saya berada di sebuah bus dan di dekat saya ada dua orang pria bercerita tentang anak-anak mereka yang sudah menanjak dewasa. Seorang berkata bahwa dia berprinsip modal masa depan bagi anak-anaknya adalah sekolah dan didikan, tanah dan rumah biar mereka cari sendiri. Ini tentulah bijak. Seorang pria yang lain pun berujar bahwa jika memang ada warisan maka tidak ada salahnya membagi itu pada mereka. Ini pun juga bijak. Namun lebih bijak lagi dan berdampak kekal adanya jika modal yang kita berikan apapun itu, ada Yesus di dalamNya.
Ada Yesus yang kita tanamkan kepada anak-anak kita dan generasi didik kita hingga Yesuslah yang akan memperkaya hidupnya dalam segala kebenaran. Apapun yang kita miliki biarlah itu menjadi sarana Allah untuk membawa kita semakin lekat dan mengenal Kristus dan bukan menjadi sarana bagi dosa untuk membuat kita semakin jauh dari Allah. Jika Kristus menjadi Pribadi segalanya dalam diri kita maka harta dan materi semelimpah apapun yang kita miliki itu takkan menyesatkan kita melainkan kita makin menikmati Kristus dalam segala sesuatu. Benarlah kata rasul Yohanes bahwa barangsiapa tinggal di dalam Kristus dia tidak berbuat dosa lagi,
(1 Yohanes 3 : 6).
     Apa modal kita bagi anak-anak kita? Apakah ada Yesus di dalamnya? Apakah ada Yesus di dalam didikan kita dan pemberian kita? Apakah ada KasihNya dan KebenaranNya di dalam didikan kita dan pemberian kita bagi mereka? Ajarilah mereka Yesus, kuatkan mereka dan motivasi mereka untuk menuju kepada Yesus selalu. Hingga akhirnya kita semua mencapai pengenalan akan Allah yang nyata dan utuh dalam Yesus.

     “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun Ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita, bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.” (Efesus 3 : 18 – 21).

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...