“JawabNya:
Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak
punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.”
Lukas
3 : 11
Ayat di atas adalah kisah tentang Yesus Kristus saat sedang
menginjil Kerajaan Allah di mana Dia mengajak orang-orang untuk belajar
mengasihi salah satunya lewat saling memberi makan, berbagi pangan bagi yang
serba berkekurangan dan susah. Ada seorang dokter dermawan bernama Lie
Dharmawan. Dia adalah dokter bedah dengan empat spesialisasi penyakit bedah.
Dia seorang dokter yang menimba ilmu hingga strata 3 di Jerman. Dokter Lie
pulang ke Indonesia meski ditawari pekerjaan yang mapan dan sukses di Jerman.
Apa yang mendorongnya pulang ke Indonesia? Rupanya di Indonesia dokter Lie
menggenapi pesan ibunya dan sekaligus adalah cita-citanya sejak kecil yaitu
menjadi dokter yang membantu orang miskin dan tidak mampu. Hingga akhirnya dia
membuat sebuah rumah sakit terapung yang beroperasi di dalam sebuah kapal
sederhana namun berperalatan medis yang lengkap. Dia beserta dokter yang lain
yang tergabung dalam komunitas dokter share mengarungi lautan Indonesia dari
pulau ke pulau untuk memberi pelayanan pengobatan gratis. Sudah banyak pasien
di daerah terpencil dan pasien dari rakyat miskin yang akhirnya tertolong oleh
dokter Lie. Semua pelayanan kesehatan yang mereka lakukan atas dasar
kemanusiaan yang gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun. Mereka bergerak oleh
kerelaan diri dan topangan dana dari banyak donatur.
“Jika bukan mereka yang datang kepada kita, maka kitalah yang
harus datang ke mereka.” Ungkap dokter Lie yang sudah berusia 66 tahun itu
seputar alasan mengapa dia membuat rumah sakit terapung.
Ada satu saat di mana
dalam sebuah dialog di televisi, dokter Lie amat terharu dan berat untuk
berkata-kata. Saat itu adalah saat di mana dia ditanya apa alasan utama yang
mendorong dia melakukan kegiatan sukarela tersebut. Dokter Lie mengungkapkan
bahwa itu ada kaitan dengan pesan ibunya kepadanya dulu.
“Jika kamu jadi dokter, jangan memeras orang miskin. Mereka bisa
bayar kamu tapi di rumah mereka pulang dan menangis karena…………tidak ada uang
beli beras.”
Saat mengutarakan hal itu terlihat dokter Lie amat terharu dan
penuh rasa iba.
Dia menceritakan
bagaimana dulu mereka hidup susah sepeninggal ayahnya. Adiknya paling bungsu
meninggal saat pergolakan perang kemerdekaan. Setelah jaman merdeka ayahnya
meninggal dan mereka jatuh miskin. Ibunya membanting tulang bekerja sebagai
pencuci baju dan pekerjaan keras lainnya. Suatu hari Lie kecil berlari-lari
datang ke ibunya dan meminta makan karena lapar, ibunya hanya mengusap kepala Lie
dan menyuruhnya bermain lagi. Hingga suatu saat Lie akhirnya mengerti bahwa
pada saat itu mereka sudah kehabisan makanan. Pengalaman
itu membuat dokter Lie akhirnya bertekad menjadi seorang dokter yang bekerja
melayani sesama yang berkesusahan hingga kini. Dia sebenarnya punya kesempatan
untuk hidup mewah di Jerman sebagai dokter spesialis dalam 4 bidang pembedahan
tetapi dia memilih berada kembali di Indonesia untuk tujuan mulia.
Saya
ingat juga ketika saya merantau di Jakarta pada 2004-2006. Saat di mana saya
berteman dengan seorang dari Medan yang segereja dengan saya. Setiap hari
minggu dia tahu kalau saya yang saat itu tinggal di pastori pasti tidak
ditinggali makanan atau setidaknya uang belanja makanan dari pastori tersebut.
Dia selalu memanggil saya makan bersama di rumah makan terdekat. Ada satu saat
di mana saya bertanya mengapa dia mau selalu berbagi dengan saya seperti itu.
Dia lalu bercerita bahwa dulu sebelum ayahnya meninggal, ayahnya pernah
berpesan demikian: “Nak, jika kamu merantau nanti dan punya uang, ingatlah
jangan lupa memberi makan orang yang kelaparan.”
Saya
terenyuh dalam keharuan. Teman saya saat itu adalah seorang tukang parkir di
Pt. Pertamina dan dia mengamalkan pesan ayahnya. Pada tahun
2008 lalu saya ingat saat sedang ada pelayanan di Manado di sebuah perusahaan
asuransi. Bersama seorang pendeta, kami tim melakukan ibadah rutin setiap
minggu di perusahan tersebut. Selesai ibadah, di siang yang terik itu saya dan
teman saya keluar sejenak. Di samping kami ada sebuah tempat sampah yang besar
dan datanglah dua orang anak dengan pakaian kotor dan bau serta berpenampilan
kotor mendekati tong sampah itu serta mengais-ngais di dalamnya. Mereka memakan
kue-kue sisa dalam tong itu dan meminum sisa-sisa air mineral yang ada dalam
tong itu. Seorang ibu muda pegawai perusahan setempat keluar dan menegur kedua
anak tersebut agar tidak menghamburkan sampah. Mereka hanya mengais-ngais isi
tong itu dan hendak pergi setelah memakan apa yang tersisa dari ibadah tadi.
Saya dan teman saya mengambil dua buah dus berisi kue sisa konsumsi dalam mobil
dan memberi kepada mereka berdua. Di kota-kota besar di negara berkembang
seperti Indonesia gelandangan dan kaum pinggiran seperti itu adalah realita
yang umum. Herannya saya kaget kalau hal serupa itu ternyata sudah ada di
Manado, di tempat kita.
Pada
saat saya bertugas di Tatelu sekitar 2010, di mana saya saat itu adalah seorang
wartawan lepas sekaligus editor di sebuah majalah rohani lokal saya ingat
sebuah pengalaman yang memberi hikmah. Saya sedang makan di sebuah rumah makan
kecil dan terjadi ribut-ribut di depan. Seorang tukang ojek memarahi seorang
ibu muda yang sedang menggendong bayinya yang berusia 1 tahun. Ketika saya
keluar begitu jelas apa yang sedang dipersoalkan. Ibu itu tampak murung dan
sayu dengan tatapan hampa menyiratkan sebuah keputus asaan. Dia korban kekerasan dalam rumah tangga.
Dipukul di kepala oleh suaminya memakai kayu ketela pohon. Karena tidak tahan
dia lalu lari dari rumah dan berniat menyingkir ke keluarganya yang berada di
Mapanget. Dia lalu menaiki sebuah ojek dan mereka berangkat. Namun sialnya ibu
itu tidak kunjung menemukan alamat jelas keluarganya di sana hingga berjam-jam
mereka berputar-putar dan tak kunjung menemukan. Mereka lalu kembali ketika
hari sudah jauh siang. Saat itulah mereka berhenti tepat di rumah makan di mana
saya berada.
Tukang ojek tersebut
sudah kesal sebab ibu itu ternyata tidak punya uang untuk membayar ojek. Dia
memarahi ibu itu dan mungkin dia memang belum mendapat uang sejak pagi.
Beberapa orang tua di situ turut berkumpul dan melihat peristiwa itu. Saya
tergerak untuk menghentikan suasana yang tidak mengenakkan itu. Saya tanya
berapa biasa ongkos ke Mapanget, dan setelah tukang ojek menyebut sejumlah
uang, saya menyodorkan bayarannya. Dengan mata terpejam yang menyiratkan antara
rasa malu, segan, dan butuh dia mengambil uang tersebut.
Cukup lama terjadi
kerumunan orang di situ. Mereka bertanya ini dan itu pada ibu muda tersebut,
dia banyak diam dan hanya bisa menjawab satu-satu dengan jawaban datar.
Tatapannya kosong sambil menggendong sang bayi. Seorang oma di rumah makan itu
menawarkan makanan untuk ibu dan sang bayi. Ada air mata menetes di wajah ibu
tersebut saat dia sudah tidak mampu dijejali banyak pertanyaan. Mereka para
penduduk setempat bermufakat cara terbaik untuk menolong dia. Jika anda adalah seorang suami tentu anda tidak mau
bukan istri anda mengalami kejadian seperti itu? Terlepas masalah apapun dalam
keluarga, jadikan Kristus sebagai kekuatan kita dan perekat kita agar kita
tidak mudah kalap. Saya juga ingat di kampung saya ada seorang bapak yang
setiap kali berdoa di acara apapun, dia selalu mengucapkan kalimat: “Ya Tuhan,
kami tidak lupa untuk mereka yang sedang kelaparan, berilah mereka reseki dan
makanan.”
Di
pengalaman lainnya saya ingat tatkala ada seorang pelayan Tuhan yang dengan
sengaja tidak membayarkan hak dari rekan sekerjanya atau pekerjanya dalam
pelayanan. Dia lalu menjadi marah ketika pekerjanya itu akhirnya memutuskan
bekerja dahulu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dia lalu berkata kalau
pekerjanya itu adalah Yudas yang hanya mementingkan perut. Saya hanya diam
dalam hati mendalami dan memahami apa yang terjadi. Bukan main jaman ini,
tatkala pelayan Tuhan pun ada yang setega itu, tidak mau memperhatikan hak dan
kebutuhan jasmani dari sesama rekan dan pekerjanya sendiri.
Saudaraku, kita punya
Yesus Kristus. Dia yang paling mengerti kita agar dalam Dia kita bisa mengerti
siapa dan apa kita sebetulnya. Kita bisa mengerti Allah, dan mengerti diri kita
dengan benar, dan akhirnya mengerti hidup ini dengan benar. Ayat di atas
mengingatkan kita untuk saling berbagi kasih salah satunya lewat saling memberi
makan bagi yang berkesusahan. Ini bukan untuk memanjakan orang tetapi kita tahu
di mana saat melihat dan mempedulikan mereka yang benar-benar butuh dan mana
saat bersikap yang mendidik untuk membangun hidup sesama agar bisa mandiri
bersama. Inilah kita, rekan dan saudara dalam Kristus. Kita berbagi Yesus dalam
segala hal.
“Ya Bapa yang baik,
dalam segala yang kami alami biarlah kami semakin mengenal Engkau dan semakin
dekat dengan Engkau. Hingga kami dapat memahami diri ini dan hidup ini dengan
benar sebab kami pun telah belajar untuk memahami Engkau. Kami memiliki Engkau
sebagai kekayaan kami dalam segala hal hingga olehnya kami tidak berkekurangan.
Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Sebab makanan kami
bukan hanya roti jasmani melainkan Roti Firman yang hidup yang akan menghidupi
kami secara Rohani.
Kami bangga memiliki Engkau ya Yesus sebab
kami dipenuhiMu dengan berkat jasmani dan rohani. Inilah kami, biarlah segenap
realita dan pengalaman hidup kami membawa hikmah dan hikmat tentang Engkau.
Kami selamat di dalam Engkau. Jika dunia saling merampas makanan, berjejal
untuk makanan fana dengan berbagai usaha yang saling merusak sesama maka kami
terpelihara dalam Engkau. Kami saling berbagi dalam Engkau. Engkaulah yang
tidak bisa dirampas oleh apapun, milik kami yang sempurna yang menyempurnakan
kami senantiasa. Amin.”

No comments:
Post a Comment