Friday, September 14, 2018

Berbagi kasih


“JawabNya: Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.”

Lukas 3 : 11

Ayat di atas adalah kisah tentang Yesus Kristus saat sedang menginjil Kerajaan Allah di mana Dia mengajak orang-orang untuk belajar mengasihi salah satunya lewat saling memberi makan, berbagi pangan bagi yang serba berkekurangan dan susah. Ada seorang dokter dermawan bernama Lie Dharmawan. Dia adalah dokter bedah dengan empat spesialisasi penyakit bedah. Dia seorang dokter yang menimba ilmu hingga strata 3 di Jerman. Dokter Lie pulang ke Indonesia meski ditawari pekerjaan yang mapan dan sukses di Jerman. Apa yang mendorongnya pulang ke Indonesia? Rupanya di Indonesia dokter Lie menggenapi pesan ibunya dan sekaligus adalah cita-citanya sejak kecil yaitu menjadi dokter yang membantu orang miskin dan tidak mampu. Hingga akhirnya dia membuat sebuah rumah sakit terapung yang beroperasi di dalam sebuah kapal sederhana namun berperalatan medis yang lengkap. Dia beserta dokter yang lain yang tergabung dalam komunitas dokter share mengarungi lautan Indonesia dari pulau ke pulau untuk memberi pelayanan pengobatan gratis. Sudah banyak pasien di daerah terpencil dan pasien dari rakyat miskin yang akhirnya tertolong oleh dokter Lie. Semua pelayanan kesehatan yang mereka lakukan atas dasar kemanusiaan yang gratis tanpa dipungut biaya sepeser pun. Mereka bergerak oleh kerelaan diri dan topangan dana dari banyak donatur.
“Jika bukan mereka yang datang kepada kita, maka kitalah yang harus datang ke mereka.” Ungkap dokter Lie yang sudah berusia 66 tahun itu seputar alasan mengapa dia membuat rumah sakit terapung.
     Ada satu saat di mana dalam sebuah dialog di televisi, dokter Lie amat terharu dan berat untuk berkata-kata. Saat itu adalah saat di mana dia ditanya apa alasan utama yang mendorong dia melakukan kegiatan sukarela tersebut. Dokter Lie mengungkapkan bahwa itu ada kaitan dengan pesan ibunya kepadanya dulu.
“Jika kamu jadi dokter, jangan memeras orang miskin. Mereka bisa bayar kamu tapi di rumah mereka pulang dan menangis karena…………tidak ada uang beli beras.”
Saat mengutarakan hal itu terlihat dokter Lie amat terharu dan penuh rasa iba.
     Dia menceritakan bagaimana dulu mereka hidup susah sepeninggal ayahnya. Adiknya paling bungsu meninggal saat pergolakan perang kemerdekaan. Setelah jaman merdeka ayahnya meninggal dan mereka jatuh miskin. Ibunya membanting tulang bekerja sebagai pencuci baju dan pekerjaan keras lainnya. Suatu hari Lie kecil berlari-lari datang ke ibunya dan meminta makan karena lapar, ibunya hanya mengusap kepala Lie dan menyuruhnya bermain lagi. Hingga suatu saat Lie akhirnya mengerti bahwa pada saat itu mereka sudah kehabisan makanan. Pengalaman itu membuat dokter Lie akhirnya bertekad menjadi seorang dokter yang bekerja melayani sesama yang berkesusahan hingga kini. Dia sebenarnya punya kesempatan untuk hidup mewah di Jerman sebagai dokter spesialis dalam 4 bidang pembedahan tetapi dia memilih berada kembali di Indonesia untuk tujuan mulia.
     Saya ingat juga ketika saya merantau di Jakarta pada 2004-2006. Saat di mana saya berteman dengan seorang dari Medan yang segereja dengan saya. Setiap hari minggu dia tahu kalau saya yang saat itu tinggal di pastori pasti tidak ditinggali makanan atau setidaknya uang belanja makanan dari pastori tersebut. Dia selalu memanggil saya makan bersama di rumah makan terdekat. Ada satu saat di mana saya bertanya mengapa dia mau selalu berbagi dengan saya seperti itu. Dia lalu bercerita bahwa dulu sebelum ayahnya meninggal, ayahnya pernah berpesan demikian: “Nak, jika kamu merantau nanti dan punya uang, ingatlah jangan lupa memberi makan orang yang kelaparan.”
     Saya terenyuh dalam keharuan. Teman saya saat itu adalah seorang tukang parkir di Pt. Pertamina dan dia mengamalkan pesan ayahnya. Pada tahun 2008 lalu saya ingat saat sedang ada pelayanan di Manado di sebuah perusahaan asuransi. Bersama seorang pendeta, kami tim melakukan ibadah rutin setiap minggu di perusahan tersebut. Selesai ibadah, di siang yang terik itu saya dan teman saya keluar sejenak. Di samping kami ada sebuah tempat sampah yang besar dan datanglah dua orang anak dengan pakaian kotor dan bau serta berpenampilan kotor mendekati tong sampah itu serta mengais-ngais di dalamnya. Mereka memakan kue-kue sisa dalam tong itu dan meminum sisa-sisa air mineral yang ada dalam tong itu. Seorang ibu muda pegawai perusahan setempat keluar dan menegur kedua anak tersebut agar tidak menghamburkan sampah. Mereka hanya mengais-ngais isi tong itu dan hendak pergi setelah memakan apa yang tersisa dari ibadah tadi. Saya dan teman saya mengambil dua buah dus berisi kue sisa konsumsi dalam mobil dan memberi kepada mereka berdua. Di kota-kota besar di negara berkembang seperti Indonesia gelandangan dan kaum pinggiran seperti itu adalah realita yang umum. Herannya saya kaget kalau hal serupa itu ternyata sudah ada di Manado, di tempat kita.
     Pada saat saya bertugas di Tatelu sekitar 2010, di mana saya saat itu adalah seorang wartawan lepas sekaligus editor di sebuah majalah rohani lokal saya ingat sebuah pengalaman yang memberi hikmah. Saya sedang makan di sebuah rumah makan kecil dan terjadi ribut-ribut di depan. Seorang tukang ojek memarahi seorang ibu muda yang sedang menggendong bayinya yang berusia 1 tahun. Ketika saya keluar begitu jelas apa yang sedang dipersoalkan. Ibu itu tampak murung dan sayu dengan tatapan hampa menyiratkan sebuah keputus asaan.  Dia korban kekerasan dalam rumah tangga. Dipukul di kepala oleh suaminya memakai kayu ketela pohon. Karena tidak tahan dia lalu lari dari rumah dan berniat menyingkir ke keluarganya yang berada di Mapanget. Dia lalu menaiki sebuah ojek dan mereka berangkat. Namun sialnya ibu itu tidak kunjung menemukan alamat jelas keluarganya di sana hingga berjam-jam mereka berputar-putar dan tak kunjung menemukan. Mereka lalu kembali ketika hari sudah jauh siang. Saat itulah mereka berhenti tepat di rumah makan di mana saya berada.     
     Tukang ojek tersebut sudah kesal sebab ibu itu ternyata tidak punya uang untuk membayar ojek. Dia memarahi ibu itu dan mungkin dia memang belum mendapat uang sejak pagi. Beberapa orang tua di situ turut berkumpul dan melihat peristiwa itu. Saya tergerak untuk menghentikan suasana yang tidak mengenakkan itu. Saya tanya berapa biasa ongkos ke Mapanget, dan setelah tukang ojek menyebut sejumlah uang, saya menyodorkan bayarannya. Dengan mata terpejam yang menyiratkan antara rasa malu, segan, dan butuh dia mengambil uang tersebut.
     Cukup lama terjadi kerumunan orang di situ. Mereka bertanya ini dan itu pada ibu muda tersebut, dia banyak diam dan hanya bisa menjawab satu-satu dengan jawaban datar. Tatapannya kosong sambil menggendong sang bayi. Seorang oma di rumah makan itu menawarkan makanan untuk ibu dan sang bayi. Ada air mata menetes di wajah ibu tersebut saat dia sudah tidak mampu dijejali banyak pertanyaan. Mereka para penduduk setempat bermufakat cara terbaik untuk menolong dia. Jika anda adalah seorang suami tentu anda tidak mau bukan istri anda mengalami kejadian seperti itu? Terlepas masalah apapun dalam keluarga, jadikan Kristus sebagai kekuatan kita dan perekat kita agar kita tidak mudah kalap. Saya juga ingat di kampung saya ada seorang bapak yang setiap kali berdoa di acara apapun, dia selalu mengucapkan kalimat: “Ya Tuhan, kami tidak lupa untuk mereka yang sedang kelaparan, berilah mereka reseki dan makanan.”
     Di pengalaman lainnya saya ingat tatkala ada seorang pelayan Tuhan yang dengan sengaja tidak membayarkan hak dari rekan sekerjanya atau pekerjanya dalam pelayanan. Dia lalu menjadi marah ketika pekerjanya itu akhirnya memutuskan bekerja dahulu untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Dia lalu berkata kalau pekerjanya itu adalah Yudas yang hanya mementingkan perut. Saya hanya diam dalam hati mendalami dan memahami apa yang terjadi. Bukan main jaman ini, tatkala pelayan Tuhan pun ada yang setega itu, tidak mau memperhatikan hak dan kebutuhan jasmani dari sesama rekan dan pekerjanya sendiri.
     Saudaraku, kita punya Yesus Kristus. Dia yang paling mengerti kita agar dalam Dia kita bisa mengerti siapa dan apa kita sebetulnya. Kita bisa mengerti Allah, dan mengerti diri kita dengan benar, dan akhirnya mengerti hidup ini dengan benar. Ayat di atas mengingatkan kita untuk saling berbagi kasih salah satunya lewat saling memberi makan bagi yang berkesusahan. Ini bukan untuk memanjakan orang tetapi kita tahu di mana saat melihat dan mempedulikan mereka yang benar-benar butuh dan mana saat bersikap yang mendidik untuk membangun hidup sesama agar bisa mandiri bersama. Inilah kita, rekan dan saudara dalam Kristus. Kita berbagi Yesus dalam segala hal.
     “Ya Bapa yang baik, dalam segala yang kami alami biarlah kami semakin mengenal Engkau dan semakin dekat dengan Engkau. Hingga kami dapat memahami diri ini dan hidup ini dengan benar sebab kami pun telah belajar untuk memahami Engkau. Kami memiliki Engkau sebagai kekayaan kami dalam segala hal hingga olehnya kami tidak berkekurangan. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya. Sebab makanan kami bukan hanya roti jasmani melainkan Roti Firman yang hidup yang akan menghidupi kami secara Rohani.
     Kami bangga memiliki Engkau ya Yesus sebab kami dipenuhiMu dengan berkat jasmani dan rohani. Inilah kami, biarlah segenap realita dan pengalaman hidup kami membawa hikmah dan hikmat tentang Engkau. Kami selamat di dalam Engkau. Jika dunia saling merampas makanan, berjejal untuk makanan fana dengan berbagai usaha yang saling merusak sesama maka kami terpelihara dalam Engkau. Kami saling berbagi dalam Engkau. Engkaulah yang tidak bisa dirampas oleh apapun, milik kami yang sempurna yang menyempurnakan kami senantiasa. Amin.”

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...