Ketika saya mendalami segenap realita masa
sekarang, bagaimana tidak kita setiap hari melihat kebebasan ekspresi hati
setiap orang di sosial media dan acara televisi yang memaki-maki dan mengutuk
sesama. Akhirnya anak-anak pun merasa itu adalah hal yang lumrah. Sepertinya ungkapan
memberkati ini sudah usang dan hanya sebatas formalitas dan rutinitas belaka.
Ketika orang menjahati kita, yang keluar
adalah umpatan, makian dan kutuk. Ini bukanlah cermin anak Tuhan saudaraku.
Sesusah apapun yang kita rasakan mari kita bawa itu dalam Kristus. Sebagaimana
Amsal berkata bahwa ketika kita memberkati itu berarti kita membawa apa yang
kita alami kepada Tuhan dan menjadi hak Tuhan untuk bertindak. Kita dikuatkan
untuk mensyukuri orang agar dia berubah dan diubahkan oleh Tuhan.
Ingat Yunus yang disuruh Tuhan ke Niniwe
namun dia lebih suka ke Tarsis? Dia melakukan penyangkalan tugas kepada Allah
karena tidak mau dan tidak senang jika bangsa Niniwe yang jahat berubah baik
dan selamat. Dia lebih suka melihat kehancuran bangsa itu. Di sini kita belajar
bagaimana kasih Allah harus semakin nyata dalam diri kita dan permohonan kita.
Kita selayaknya mau
mengucapkan berkat bagi musuh kita agar mereka berubah dan kita bahagia atas
perubahan mereka. Sebagaimana Allah bahagia atas kasihNya bagi semua orang agar
setiap orang jangan binasa melainkan beroleh selamat. Kita memiliki Yesus dalam
diri kita dan hidup kita yang akan selalu mendampingi dan menghibur kita untuk
melewati berbagai tantangan dan gelora hidup. Kita tidak sendiri.
“biarlah bersorak-sorai dan bersukacita orang-orang yang ingin
melihat aku dibenarkan! Biarlah mereka tetap berkata: Tuhan itu besar, Dia
menginginkan keselamatan hambaNya! Dan lidahku akan menyebut-nyebut keadilanMu,
memuji-muji Engkau sepanjang hari.”
Mazmur 35: 27-28

No comments:
Post a Comment