Sunday, September 9, 2018

MENIKMATI KEADILAN SEJATI

“Aku hendak bersyukur kepada Tuhan karena keadilanNya, dan bermazmur bagi nama Tuhan, yang maha tinggi.”
Mazmur 7: 17

     Ketika saya berada di salah satu mini bus jurusan tangkoko bitung ke kauditan, ada pemandangan tidak lazim pada sopir yang saya naiki mobilnya. Dia menyetir sambil menggendong bayi sekitar satu tahunan umurnya. Bayi itu menangis sepanjang jalan dan sopir tersebut kebingungan bagaimana hendak membujuknya. Seorang ibu di samping saya yangkebetulan ada di belakang sopir turut berusaha menenangkan bayi tersebut namun usaha itu sia-sia tampaknya, malahan si bayi lebih keras menangis.
    Kami para penumpang sadar bahwa kondisi ini tentu membahayakan perjalanan sebab bayi tersebut mulai meronta-ronta memanggil ibunya. Sopir tersebut yang kelihatan masih cukup muda tampak kelabakan, dia harus mengendalikan si bayi sambil menyetir. Seorang ibu yang ada di belakang marah-marah sebab dia harus turun terlalu jauh dari rumahnya. Si sopir terlambat mendengar suaranya yang meminta kendaraan berhenti. Sopir tersebut tampak kesal dengan tanggung jawab ganda yang harus dijalaninya hari itu, mencari nafkah sambil menjaga anak.
     Ketika saya bertugas di Tatelu empat tahun yang lalu, saya ingat sebuah kejadian berhikmah ketika saya singgah hendak makan di sebuah tempat makan di sana. Saat itu di luar terdengar ribut-ribut seperti seseorang yang kesal dan marah. Ada seorang tukang ojek yang memarahi seorang ibu muda yang menggendong bayinya perempuan. Beberapa orang tua yang ada di situ ikut mengerumuni mereka dan menyimak apa yang terjadi.
     Rupanya berawal dari kejadian tadi pagi ketika ibu muda itu datang dan singgah duduk di teras tempat makan itu. Di situ ada nenek yang empunya tempat makan dan beberapa orang tua. Mereka mendapati kalau wanita itu sedang lari dari rumahnya dan hendak mencari perlindungan. Dia tampak begitu galau dengan tatapan yang kosong seolah putus asa dan tidak bisa berpikir jauh. Dia baru saja dipukul oleh suaminya di kepala dengan batang ubi kayu. Mereka lalu berniat membantu dengan menyarankan wanita itu untuk pergi ke keluarganya terdekat yang dia ingat. Namun ibu itu kesulitan mengingat di mana kira-kira kerabatnya yang bisa dia tuju. Nah, saat itu ada ojek yang kebetulan lewat dan dipanggil oleh mereka.
     Menurut penuturan tukang ojek itu, dia akhirnya menuruti permintaan orang-orang tua di situ untuk mengantar ibu tersebut ke keluarganya terdekat. Sayangnya ibu tersebut tidak memiliki uang sedikitpun dan mereka yang ada di situ tidak memberikan uang ongkos kepada ojek yang bersedia mengantarnya. Mereka semua hanya mengandalkan keluarga ibu ini yang akan dicari.
     Perjalanan pun ke Wilayah Mapanget, dengan di antar ojek tersebut ibu itu pergi mencari keluarganya di Mapanget. Alhasil dari pagi hingga sore itu sekitaran jam setengah tiga pencarian mereka tidak ada hasil. Mereka akhirnya kembali ke temapat makan di mana ojek tersebut mengambil itu tadi pagi. Di situlah ojek tersebut menumpahkan amarahnya pada ibu yang sedang galau dan takut itu. Saya tepat berada di situ dan keluar melihat apa gerangan yang terjadi.
     Ibu itu menangis sambil menggendong bayi yang ada di pelukannya sementara tukang ojek masih tetap marah dengan kesalnya. Saya mengganti ongkos ojek tersebut untuk menenangkan suasana. Mereka lalu menginterogasi ibu tersebut dengan berbagai pertanyaan lagi namun ibu itu hanya diam dan tatapannya kosong. Sesekali tangannya mengusap bayi perempuan di pelukannya. Mereka menanyakan di mana tepatnya rumahnya, karena berhubung rumahnya berada jauh dari Tatelu dan tidak hendak saya sebutkan di sini alamatnya dan nama keluarganya. Mereka tampaknya mulai mengenal siapa suami dan ayah mertuanya. Namun tidak ada yang berani mengambil tindakan mengantarnya pulang ke sana. Mereka baru berpikir untuk menyerahkan ibu ini dalam perlindungan dan urusan kepolisian. Sungguh tragis dan menyedihkan, kelanjutannya saya tidak begitu tahu namun saya yakin mereka tidak akan membiarkan ibu tersebut terlantar.
     Lain lagi ketika saya ada di Manado. Kejadian itu seingat saya mungkin sekitar 3 tahun yang lalu. Tepat di trotoar dekat golden saya bertemu seorang nenek beserta dua orang anak kecil yang adalah cucunya. Yang satu berusia kurang lebih tiga tahun dan yang satunya lagi masih bayi dalam gendongan. Ini adalah malam kedua di mana saya melihat nenek itu di situ. Dia tampak duduk dan meminta-minta.
     Saya mencoba dekati nenek itu dan bertanya apa sebab dia seperti itu. Nenek itu lalu bercerita tentang anaknya perempuan yang bekerja di Balikpapan dan sudah dua bulan tidak ada kabar. Nenek itu tinggal bersama dua cucunya sementara ibu mereka tinggal bekerja di Kalimantan. Ayah kedua anak itu sudah pergi entah kemana meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga. Nah, nenek itu menceritakan kalau sudah tiga bulan ini dia tidak menerima upah dari pekerjaannya sebagai tukang cuci baju sementara bayaran uang kost sudah ditagih dan menunggak. Akhirnya mereka diusir dari kost dan nenek itu putus asa dengan biaya hidup di tangan yang kian menipis tak ada sanak keluarga.
     Anaknya biasanya mengirimkan uang dari Balikpapan tempat dia mencari nafkah sejak ditinggal suaminya. Namun sudah dua bulan ini tidak ada kiriman uang bahkan kabar sekalipun. Akhirnya nenek itu nekad mengemis di pinggir trotoar. Saya tersentuh dengan keluhannya dan memberikan sejumlah uang yang menurut saya dapat membantunya dalam beberapa hari ini. Seingat saya keesokannya dan seterusnya saya sudah tidak melihat lagi nenek tersebut di situ dan di tempat-tempat yang lain.
     Beberapa orang sering menyepelehkan kesusahan orang lain. Memang ada yang suka menipu. Namun jika hanya untuk keuntungan sesaat mana mau orang bersikap nekad seperti itu padahal dia bisa menikmati hidup sebagai orang kaya. Soalnya ada beberapa orang yang sering berkata bahwa mereka yang pura-pura mengemis itu adalah orang-orang yang sebenarnya kaya atau berkecukupan namun suka mengeruk keuntungan demikian. Saya berpikir, betapa bodohnya saya jika saya seorang yang kaya ataupun hidup terjamin namun mau berpanas-panas, bersusah dan buang malu seperti itu. Tidakkah lebih baik saya tinggal di rumah, dan menikmati kekayaan saya? Kita punya hikmat dan Roh kudus yang membuat kita bisa menilai mana yang layak dikasihani dan dibantu secara materi dan mana yang tidak bukan? Saya percaya mereka yang bersusah-susah berjualan kacang atau meminta pengasihan adalah orang-orang yang memang butuh bantuan. Mungkin ada beberapa di antara mereka yang hanya memanfaatkan keadaan dirinya atau orang lain, niscaya Tuhan yang maha adil tahu dan melihat mereka.
     Saya teringat kejadian desember yang lalu (2014) ketika saya sebagai dosen di sebuah STT di Tomohon tempat saya mengajar. Waktu itu saya diundang oleh sebuah persekutuan yang kebetulan beberapa pengurusnya adalah mantan mahasiswa saya. Menurut kabar yang saya terima di samping undangan, saya dan beberapa dosen serta hamba Tuhan tamu lainnya akan menerima semacam pemberian atau penghargaan berupa kado natal. Hal itu memang sudah realita simbolis kita di sini dalam setiap ibadah pranatal. Saat itu saya bertemu dengan teman akrab saya. Dia berusia jauh lebih tua dari saya dan sudah beberapa tahun terkena strok (sakit lumpuh akibat tekanan darah tinggi). Namun kondisi fisiknya dalam beberapa tahun masih stabil dalam arti bisa berjalan dan beraktifitas seperti biasa meski untuk beberapa hal dia sudah terbatas. Dia mengalami gangguan kelumpuhan di mulut, lidah, dan saraf otak sehingga membuat dia lamban berbicara dan sering sudah sulit dimengerti.
     Dia aktif juga dalam persekutuan doa itu. Malam itu dia mengenakan kemeja anggun seragam baru persekutan tersebut, nampaknya itu adalah baju baru mereka untuk perayaan Natal malam itu. Ketika selesai acara kotbah dan acara sudah di penghujung, tibalah saat di mana pembagian kado Natal secara simbolis. Satu-persatu para hamba Tuhan dan dosen-dosen dipanggil. Teman saya yang lain yang adalah seorang hamba Tuhan dari luar kota, yang ikut sebagai rekan dari orang yang diundang turut pula menerima bingkisan. Dia tentu amat senang.
     Saya dipanggil terakhir berhubung saya yang paling muda di antara semua penerima kado simbolis tersebut. Nah, sebelumnya saya sudah memperhatikan gelagat yang ganjil dari teman saya yang sedang strok itu. Dia tiada kunjung dipanggil ke depan, padahal teman-teman lain dipanggil. Mungkin karena panitia menempatkan teman saya ini sebagai anggota persekutuan makanya dia dianggap orang dalam sementara yang menerima hadiah penghargaan adalah mereka para tamu undangan. Ketika saya dipanggil terakhir dan menerima kado natal tersebut teman saya yang sakit tiba-tiba memberi piring yang masih ada sisa makanan yang sedang dia makan kepada saya. Saya heran tatkala dia jatuh terlentang di tempat duduknya dan membuat panik suasana. Dia mengalami kejang-kejang dan serangan strok saat itu juga.
     Kami berusaha menenangkannya, seisi acara riuh dan memperhatikan kami. Kami mendoakan dia yang sudah muntah-muntah dan kejang serta segera membawanya ke rumah sakit terdekat dan menghubungi keluarganya. Kami menduga dia terkena serangan strok akibat makanan yang dimakan yaitu daging. Namun setiba di rumah sakit tensi darahnya normal dan per-nya juga normal. Dia lalu dirujuk ke rumah sakit di Tomohon yang lebih lengkap.
     Dua hari kemudian dia dipulangkan dari rumah sakit sebab dokter telah menyerah. Dia akhirnya meninggal di rumah dua hari setelah kejadian tragis itu. Kami berduka termasuk saya yang sedih dan merenungi hikmah di balik peristiwa itu. Sejak dulu saya selalu berpendapat tidak begitu baik sebetulnya pemberian kado Natal secara simbolis di depan umum saat ibadah jika itu hanya membawa ketidaknyamanan hati sesama jemaat. Kadang ada orang-orang yang terlewatkan baik sengaja atau tidak yang tentu akan mengurangi hikmah ibadah tersebut. Malam itu terlepas akibat apapun yang dialami Oleh teman saya, saya telah mengambil hikmah dari peristiwa itu dan prinsip tersendiri.
     Yang menjadi perenungan kita dari beberapa peristiwa di atas adalah kita memang tidak akan menemukan keadilan seadil-adilnya dari dunia ini. Hubungan sosial manusia bahkan dalam lingkup berjemaat sekalipun terkadang saling menyakiti. Namun satu hal, sejahat, sekejam apapun dunia ini jika saudara dan saya punya Yesus dalam diri dan hidup kita maka kita akan menikmati keadilan secara pribadi di dalam iman dan hati kita yang selalu dipulihkanNya setiap saat, ya setiap saat.

     Bagi ibu muda, seorang nenek tua, dan teman saya di atas, dunia ini terasa mengucilkan dan tidak adil. Saya pun sering merasakannya termasuk mungkin saudara juga. Inilah realita hidup yang harus kita jalani dan kalahkan. Mengalahkannya bukan dengan tindakan represif atau protes sedemikian rupa melainkan menyerahkan diri kita dalam kasih Yesus yang akan memulihkan kita hingga kita kebal terhadapa apapun ketidakadilan dunia ini. Yesus adalah Hikmat dan Kekuatan kita.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...