“Aku hendak bersyukur kepada Tuhan karena keadilanNya, dan
bermazmur bagi nama Tuhan, yang maha tinggi.”
Mazmur 7: 17
Ketika saya berada di salah satu mini bus jurusan tangkoko bitung ke
kauditan, ada pemandangan tidak lazim pada sopir yang saya naiki mobilnya. Dia
menyetir sambil menggendong bayi sekitar satu tahunan umurnya. Bayi itu menangis
sepanjang jalan dan sopir tersebut kebingungan bagaimana hendak membujuknya.
Seorang ibu di samping saya yangkebetulan ada di belakang sopir turut berusaha
menenangkan bayi tersebut namun usaha itu sia-sia tampaknya, malahan si bayi
lebih keras menangis.
Kami para penumpang sadar bahwa kondisi ini
tentu membahayakan perjalanan sebab bayi tersebut mulai meronta-ronta memanggil
ibunya. Sopir tersebut yang kelihatan masih cukup muda tampak kelabakan, dia
harus mengendalikan si bayi sambil menyetir. Seorang ibu yang ada di belakang
marah-marah sebab dia harus turun terlalu jauh dari rumahnya. Si sopir
terlambat mendengar suaranya yang meminta kendaraan berhenti. Sopir tersebut
tampak kesal dengan tanggung jawab ganda yang harus dijalaninya hari itu, mencari
nafkah sambil menjaga anak.
Ketika saya bertugas di Tatelu empat tahun
yang lalu, saya ingat sebuah kejadian berhikmah ketika saya singgah hendak
makan di sebuah tempat makan di sana. Saat itu di luar terdengar ribut-ribut
seperti seseorang yang kesal dan marah. Ada seorang tukang ojek yang memarahi
seorang ibu muda yang menggendong bayinya perempuan. Beberapa orang tua yang ada di situ ikut
mengerumuni mereka dan menyimak apa yang terjadi.
Rupanya berawal dari
kejadian tadi pagi ketika ibu muda itu datang dan singgah duduk di teras tempat
makan itu. Di situ ada nenek yang empunya tempat makan dan beberapa orang tua.
Mereka mendapati kalau wanita itu sedang lari dari rumahnya dan hendak mencari
perlindungan. Dia tampak begitu galau dengan tatapan yang kosong seolah putus
asa dan tidak bisa berpikir jauh. Dia baru saja dipukul oleh suaminya di kepala
dengan batang ubi kayu. Mereka lalu
berniat membantu dengan menyarankan wanita itu untuk pergi ke keluarganya
terdekat yang dia ingat. Namun ibu itu kesulitan mengingat di mana kira-kira
kerabatnya yang bisa dia tuju. Nah, saat itu ada ojek yang kebetulan lewat dan
dipanggil oleh mereka.
Menurut penuturan
tukang ojek itu, dia akhirnya menuruti permintaan orang-orang tua di situ untuk
mengantar ibu tersebut ke keluarganya terdekat. Sayangnya ibu tersebut tidak
memiliki uang sedikitpun dan mereka yang ada di situ tidak memberikan uang
ongkos kepada ojek yang bersedia mengantarnya. Mereka semua hanya mengandalkan
keluarga ibu ini yang akan dicari.
Perjalanan pun ke
Wilayah Mapanget, dengan di antar ojek tersebut ibu itu pergi mencari
keluarganya di Mapanget. Alhasil dari pagi hingga sore itu sekitaran jam
setengah tiga pencarian mereka tidak ada hasil. Mereka akhirnya kembali ke
temapat makan di mana ojek tersebut mengambil itu tadi pagi. Di situlah ojek
tersebut menumpahkan amarahnya pada ibu yang sedang galau dan takut itu. Saya
tepat berada di situ dan keluar melihat apa gerangan yang terjadi.
Ibu itu menangis
sambil menggendong bayi yang ada di pelukannya sementara tukang ojek masih
tetap marah dengan kesalnya. Saya mengganti ongkos ojek tersebut untuk
menenangkan suasana. Mereka lalu menginterogasi ibu tersebut dengan berbagai
pertanyaan lagi namun ibu itu hanya diam dan tatapannya kosong. Sesekali
tangannya mengusap bayi perempuan di pelukannya. Mereka menanyakan di mana
tepatnya rumahnya, karena berhubung rumahnya berada jauh dari Tatelu dan tidak
hendak saya sebutkan di sini alamatnya dan nama keluarganya. Mereka tampaknya
mulai mengenal siapa suami dan ayah mertuanya. Namun tidak ada yang berani
mengambil tindakan mengantarnya pulang ke sana. Mereka baru berpikir untuk
menyerahkan ibu ini dalam perlindungan dan urusan kepolisian. Sungguh tragis
dan menyedihkan, kelanjutannya saya tidak begitu tahu namun saya yakin mereka
tidak akan membiarkan ibu tersebut terlantar.
Lain lagi ketika saya
ada di Manado. Kejadian itu seingat saya mungkin sekitar 3 tahun yang lalu.
Tepat di trotoar dekat golden saya bertemu seorang nenek beserta dua orang anak
kecil yang adalah cucunya. Yang satu berusia kurang lebih tiga tahun dan yang
satunya lagi masih bayi dalam gendongan. Ini adalah malam kedua di mana saya
melihat nenek itu di situ. Dia tampak duduk dan meminta-minta.
Saya mencoba dekati nenek
itu dan bertanya apa sebab dia seperti itu. Nenek itu lalu bercerita tentang
anaknya perempuan yang bekerja di Balikpapan dan sudah dua bulan tidak ada
kabar. Nenek itu tinggal bersama dua cucunya sementara ibu mereka tinggal
bekerja di Kalimantan. Ayah kedua anak itu sudah pergi entah kemana
meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang kepala keluarga. Nah, nenek itu
menceritakan kalau sudah tiga bulan ini dia tidak menerima upah dari
pekerjaannya sebagai tukang cuci baju sementara bayaran uang kost sudah ditagih
dan menunggak. Akhirnya mereka diusir dari kost dan nenek itu putus asa dengan
biaya hidup di tangan yang kian menipis tak ada sanak keluarga.
Anaknya biasanya
mengirimkan uang dari Balikpapan tempat dia mencari nafkah sejak ditinggal suaminya.
Namun sudah dua bulan ini tidak ada kiriman uang bahkan kabar sekalipun.
Akhirnya nenek itu nekad mengemis di pinggir trotoar. Saya tersentuh dengan
keluhannya dan memberikan sejumlah uang yang menurut saya dapat membantunya
dalam beberapa hari ini. Seingat saya keesokannya dan seterusnya saya sudah
tidak melihat lagi nenek tersebut di situ dan di tempat-tempat yang lain.
Beberapa orang sering
menyepelehkan kesusahan orang lain. Memang ada yang suka menipu. Namun jika
hanya untuk keuntungan sesaat mana mau orang bersikap nekad seperti itu padahal
dia bisa menikmati hidup sebagai orang kaya. Soalnya ada beberapa orang yang
sering berkata bahwa mereka yang pura-pura mengemis itu adalah orang-orang yang
sebenarnya kaya atau berkecukupan namun suka mengeruk keuntungan demikian. Saya
berpikir, betapa bodohnya saya jika saya seorang yang kaya ataupun hidup
terjamin namun mau berpanas-panas, bersusah dan buang malu seperti itu.
Tidakkah lebih baik saya tinggal di rumah, dan menikmati kekayaan saya? Kita
punya hikmat dan Roh kudus yang membuat kita bisa menilai mana yang layak
dikasihani dan dibantu secara materi dan mana yang tidak bukan? Saya percaya
mereka yang bersusah-susah berjualan kacang atau meminta pengasihan adalah
orang-orang yang memang butuh bantuan. Mungkin ada beberapa di antara mereka
yang hanya memanfaatkan keadaan dirinya atau orang lain, niscaya Tuhan yang
maha adil tahu dan melihat mereka.
Saya teringat
kejadian desember yang lalu (2014) ketika saya sebagai dosen di sebuah STT di
Tomohon tempat saya mengajar. Waktu itu saya diundang oleh sebuah persekutuan
yang kebetulan beberapa pengurusnya adalah mantan mahasiswa saya. Menurut kabar
yang saya terima di samping undangan, saya dan beberapa dosen serta hamba Tuhan
tamu lainnya akan menerima semacam pemberian atau penghargaan berupa kado
natal. Hal itu memang sudah realita simbolis kita di sini dalam setiap ibadah
pranatal. Saat itu saya bertemu dengan teman akrab saya. Dia berusia jauh lebih
tua dari saya dan sudah beberapa tahun terkena strok (sakit lumpuh akibat
tekanan darah tinggi). Namun kondisi fisiknya dalam beberapa tahun masih stabil
dalam arti bisa berjalan dan beraktifitas seperti biasa meski untuk beberapa
hal dia sudah terbatas. Dia mengalami gangguan kelumpuhan di mulut, lidah, dan
saraf otak sehingga membuat dia lamban berbicara dan sering sudah sulit
dimengerti.
Dia aktif juga dalam
persekutuan doa itu. Malam itu dia mengenakan kemeja anggun seragam baru
persekutan tersebut, nampaknya itu adalah baju baru mereka untuk perayaan Natal
malam itu. Ketika selesai acara kotbah dan acara sudah di penghujung, tibalah
saat di mana pembagian kado Natal secara simbolis. Satu-persatu para hamba
Tuhan dan dosen-dosen dipanggil. Teman saya yang lain yang adalah seorang hamba
Tuhan dari luar kota, yang ikut sebagai rekan dari orang yang diundang turut
pula menerima bingkisan. Dia tentu amat senang.
Saya dipanggil
terakhir berhubung saya yang paling muda di antara semua penerima kado simbolis
tersebut. Nah, sebelumnya saya sudah memperhatikan gelagat yang ganjil dari
teman saya yang sedang strok itu. Dia tiada kunjung dipanggil ke depan, padahal
teman-teman lain dipanggil. Mungkin karena panitia menempatkan teman saya ini
sebagai anggota persekutuan makanya dia dianggap orang dalam sementara yang
menerima hadiah penghargaan adalah mereka para tamu undangan. Ketika saya
dipanggil terakhir dan menerima kado natal tersebut teman saya yang sakit
tiba-tiba memberi piring yang masih ada sisa makanan yang sedang dia makan
kepada saya. Saya heran tatkala dia jatuh terlentang di tempat duduknya dan
membuat panik suasana. Dia mengalami kejang-kejang dan serangan strok saat itu
juga.
Kami berusaha
menenangkannya, seisi acara riuh dan memperhatikan kami. Kami mendoakan dia
yang sudah muntah-muntah dan kejang serta segera membawanya ke rumah sakit
terdekat dan menghubungi keluarganya. Kami menduga dia terkena serangan strok
akibat makanan yang dimakan yaitu daging. Namun setiba di rumah sakit tensi
darahnya normal dan per-nya juga normal. Dia lalu dirujuk ke rumah sakit di
Tomohon yang lebih lengkap.
Dua hari kemudian dia
dipulangkan dari rumah sakit sebab dokter telah menyerah. Dia akhirnya
meninggal di rumah dua hari setelah kejadian tragis itu. Kami berduka termasuk
saya yang sedih dan merenungi hikmah di balik peristiwa itu. Sejak dulu saya
selalu berpendapat tidak begitu baik sebetulnya pemberian kado Natal secara
simbolis di depan umum saat ibadah jika itu hanya membawa ketidaknyamanan hati
sesama jemaat. Kadang ada orang-orang yang terlewatkan baik sengaja atau tidak
yang tentu akan mengurangi hikmah ibadah tersebut. Malam itu terlepas akibat
apapun yang dialami Oleh teman saya, saya telah mengambil hikmah dari peristiwa
itu dan prinsip tersendiri.
Yang menjadi
perenungan kita dari beberapa peristiwa di atas adalah kita memang tidak akan
menemukan keadilan seadil-adilnya dari dunia ini. Hubungan sosial manusia
bahkan dalam lingkup berjemaat sekalipun terkadang saling menyakiti. Namun satu
hal, sejahat, sekejam apapun dunia ini jika saudara dan saya punya Yesus dalam
diri dan hidup kita maka kita akan menikmati keadilan secara pribadi di dalam
iman dan hati kita yang selalu dipulihkanNya setiap saat, ya setiap saat.
Bagi ibu muda,
seorang nenek tua, dan teman saya di atas, dunia ini terasa mengucilkan dan
tidak adil. Saya pun sering merasakannya termasuk mungkin saudara juga. Inilah
realita hidup yang harus kita jalani dan kalahkan. Mengalahkannya bukan dengan
tindakan represif atau protes sedemikian rupa melainkan menyerahkan diri kita
dalam kasih Yesus yang akan memulihkan kita hingga kita kebal terhadapa apapun
ketidakadilan dunia ini. Yesus adalah Hikmat dan Kekuatan kita.

No comments:
Post a Comment