Friday, September 28, 2018

Mengenang Pdt Advent Bangun, kesaksiannya saat menerima Yesus Kristus

Legenda Film Laga yang Kini Jadi Pendeta

Berkiprah sebagai aktor laga dan membintangi lebih dari 60 judul
film sejak era 70-an, membuat nama Advent
Bangun begitu melegenda. Namun, pria yang juga
mantan atlet karate nasional itu kini telah beralih profesi.
Ditemui di rumahnya di Jagakarsa,
Jakarta Selatan, dengan ramah dan penuh canda
Advent mengisahkan kehidupannya setelah
meninggalkan gemerlap layar perak.
“Sekarang saya sudah jadi pendeta penuh,” ia
mengawali kisah. “Tahun 2000 saya ambil
keputusan dan stop semua dari dunia keartisan,”
ungkap pria yang kerap memainkan karakter
antagonis itu seraya tertawa.
Pria kelahiran Kabanjahe, Sumatera Utara, 12
Oktober 1952 itu nampak sederhana dengan
mengenakan kaos berwarna abu-abu dan celana
panjang hitam. Meski usianya hampir genap 60
tahun, ia masih terlihat bugar dengan
posturnya yang tinggi besar.
Menurutnya, apa yang dilakukannya di dunia
perfilman sudah cukup. Bahkan, kerinduan pun
sudah tak ada lagi. “Umur saya hampir 60 tahun,
jadi bukan bidang saya lagilah,” ujar bintang film
‘Golok Setan’, ‘Dendam Dua Jagoan’, dan
‘Sumpah Si Pahit Lidah’ itu.
Sejak menjadi pendeta, praktis keseharian Advent
diisi dengan berbagai kegiatan kerohanian. Ia pun
mengaku kerap berkotbah melayani jemaat di
berbagai daerah di Tanah Air, bahkan hingga mancanegara.
“Sekarang ya kotbah di mana-mana. Kalau di
Indonesia saya sudah seluruhnya, sampai ke
Papua sana. Saya juga pernah ke Singapura,
Amerika, Australia, Korea Selatan dan lain-lain,”
paparnya antusias.
Bungsu dari delapan bersaudara itu punya banyak
cerita menarik selama menjalani tugasnya
sebagai pendeta. Salah satunya, ia mengaku
pernah ditantang berkelahi oleh seorang pemuda
saat hendak berkotbah di Manado memenuhi undangan
Ketua Partai Damai Sejahtera Ruyandi Hutasoit kala itu.9+ 4
“Waktu itu dia colek saya dan bilang, heh, nanti
berantem ya! Saya tertawa saja,” kisahnya.
“Waktu saya kotbah dia kaget, dan pas turun dia
langsung peluk saya dan nangis. Katanya, dia
nggak tahu saya sudah jadi pendeta. Dia pikir
saya bodyguard-nya Ruyandi Hutasoit,”
kenangnya tanpa mampu menahan tawa.
Suami dari Lois Riani Amalia Sinulingga serta
ayah lima anak itu mengaku hidupnya memang
banyak berubah setelah menjadi pendeta.
Sebelumnya ia adalah sosok yang keras dan temperamental.
“Dulu saya memang orang yang emosian. Kalau
dulu ditantang berantam sih, sudah saya hajar
langsung tanpa ampun. Sekarang sudah jadi
pendeta ya beda, lebih belajar mengasih,” katanya
dengan tatapan lurus ke depan. Seolah hendak
mengatakan bahwa ia tak menyesal dengan
pilihannya meninggalkan dunia karate dan
perfilman yang telah membuatnya terkenal.
Sinar matanya yang tajam menyiratkan perasaan
bahagia menjalani hidupnya sekarang ini sebagai
pendeta dan mengurus keluarga. “Hidup ini kan
seperti uap air. Sebentar ada, lalu hilang.
Makanya, mengalir saja sekarang,” mendadak ia berfilsafat.
“Kalau dulu kan menggebu-gebu, pengen ini-itu.
Ada sih satu cita-cita untuk membuat sebuah
panti jompo atau panti asuhan. Pokoknya saya
mau bermanfaat buat orang banyak,” tambahnya.

Advent Bangun Tolak Ratusan Juta untuk Main
Film ‘The Raid’
Berbincang dengan Advent Bangun tentu kurang
afdol tanpa menyinggung soal film laga.
Kebetulan, fenomena film ‘The Raid’ baru saja
mengguncang jagad perfilman Tanah Air.
Ketika disinggung soal itu,
Advent ternyata punya cerita yang mengejutkan.
Advent ternyata sempat dibujuk sutradara Gareth
Evans untuk bermain dalam film yang kemudian
dibintangi Iko Uwais itu. Namun, ia menolak.
Padahal, tawaran honornya menggiurkan. Tak
hanya menelepon, sutradara asal Wales itu
bahkan sampai bolak-balik menyambangi
rumahnya untuk bernegosiasi. “Dia terus membujuk.
Tawaran uangnya cukup
besar lho. Tapi saya tolak,” ungkapnya. Berapa?
“Ah, itu rahasia dialah, nggak enak,” hindarnya.
Namun, ketika didesak, apakah sampai
angka ratusan juta, Advent pun mengiyakan. Kini,
 setelah tahu filmnya meledak luar biasa,
bahkan mendapat sambutan hangat di berbagai
negara, menyesalkah Advent? Ia menggeleng
mantap. “Dari tahun 1976 saya sudah main lebih
dari 60 judul film. Sinetron sudah nggak terhitung.
Jadi tahun 2000 sudah stop semua,” tandasnya seraya tersenyum.
Bungsu dari delapan bersaudara itu lebih jauh
mengungkapkan, dirinya tak ingin kembali
berakting laga lantaran dirasanya bertentangan
dengan nuraninya sebagai pendeta. “Kotbah saya
kan tentang kasih. Bukan dendam, kebencian,
amarah. Sementara kalau film seperti itu buntutbuntutnya
kan disakiti, balas dendam,” paparnya.
Lantas, bagaimana jika tawarannya tidak
beradegan laga? “Nah, kalau begitu saya masih maulah.
Misalnya menasihati seseorang, seperti
bidang saya sekarang. Kalau bertarung-tarung
lagi nggaklah. Mungkin kalau sekadar flashback,
ya bolehlah,” ujarnya.
Advent mengawali kariernya sebagai pegawai
negeri di Bea & Cukai Tanjung Balai, Karimun. Ia
juga tercatat sebagai atlet karate nasional yang
kerap meraih juara satu di berbagai kejuaraan
nasional dan internasional selama 12 tahun sejak
1972 hingga 1984. Prestasi di dunia karate itu
pula yang kemudian membukakan jalannya ke dunia
seni peran. Sejak 1976 hingga 2000, ia telah membintangi
lebih dari 60 judul film, di antaranya ‘Rajawali
Sakti’ (1976), ‘Dua Pendekar Pembelah
Langit’ (1977), ‘Golok Setan’ (1983),
‘Carok’ (1985), ‘Dendam Dua Jagoan’ (1986),
dan ‘Pendekar Bukit Tengkorak’ (1987).
Dalam setiap film yang dibintanginya, Advent
kebanyakan memainkan peran antagonis, dan
bersanding dengan tokoh protagonis, Barry Prima
yang kerap jadi lawan mainnya. Meski dirinya kini
telah memutuskan untuk menjadi pendeta,
namanya tetap dikenal sebagai legenda hidup film laga nasional.
Sebelum Jadi Pendeta, Advent Bangun ‘Mampir’
Jadi Penyanyi Dangdut Apa jadinya jika pria bertampang sangar itu jadi
penyanyi dangdut? Menjadi penyanyi dangdut
ternyata pernah dilakoni pria yang kerap
memainkan karakter antagonis dalam kebanyakan
filmnya itu. Hal tersebut diakuinya terjadi ketika
industri perfilman Tanah Air sempat terpuruk pada 1992.
“Iya, dulu saya memang sempat jadi penyanyi
dangdut pas industri film jatuh. Saya nyanyi
dangdut dari tahun 1992 sampai 1994 lah,” ungkapnya seraya tertawa.
Dikisahkan, dulu ketika berjaya dirinya memang
tidak pernah menabung dan kerap berfoya-foya.
Alhasil, terpuruknya dunia perfilman Tanah Air
berimbas pada keadaan ekonominya yang menurun.
“Pada saat perfilman itu mati, barulah saya sadar
dan sangat menghargai uang. Saya butuh materi
untuk menghidupi diri. Padahal sebelumnya
nggak, uang buat senang-senang saja,” kisah
bungsu dari delapan bersaudara itu. Pada masa
itu musik dangdut memang sangat digandrungi masyarakat.
Ditawari bernyanyi, ia pun menyambutnya.
“Waktu itu ada yang ngajak nyanyi di Depok,
Jawa Barat dengan bayaran pertama Rp 13.500.
Saya sikat saja langsung,” katanya. Sejak itu, tak
dinyana dirinya mendapat apresiasi yang bagus
dan tawaran manggung pun kian banyak.
“Saya itu manggung di mana-mana di Indonesia.
Bayarannya lama-lama dari Rp 5 juta sampai Rp
10 juta, cuma nyanyi dua lagu,” paparnya seraya
tertawa lepas. “Mereka suka karena lihat Advent
Bangun si bintang film laga dan karateka bernyanyi,” sambungnya.
Pernah punya pengalaman buruk saat bernyanyi
di panggung? “Puji Tuhan, nggak ya. Di kepala
saya itu sudah ada dan hapal 60 judul lagu
dangdut, jadi kalau orang minta apa saya tahu.
Kalau nggak kan gawat,” kata bintang film ‘Golok
Setan’, ‘Dendam Dua Jagoan’, dan ‘Sumpah Si Pahit Lidah’.
Pria yang kini berprofesi sebagai pendeta itu
memang tak mengalami kesulitan berarti saat
menyanyikan lagu dangdut. “Saya kan orang
Batak Karo. Batak Karo itu cengkoknya ada mirip
dangdutnya. Jadi nyambunglah walaupun nggak
dangdut-dangdut banget,” tuturnya. ( bar/hkm )
Advent Bangun: Tuhan Saya Dulu Karate dan Film
Sejak tahun 2000, legenda aktor laga Advent
Bangun memutuskan untuk meninggalkan dunia
karate dan seni peran yang membesarkan namanya.
Semenjak itu hingga sekarang,
ia telah menjadi seorang pendeta.
Apa alasan di balik keputusan Advent menjadi
pendeta? Jauh sebelum namanya dikenal, Advent
ternyata punya masa lalu yang pahit. Sejak kecil,
setiap orangtuanya tak di rumah, ia mengaku
kerap dianiaya salah seorang abangnya yang baru keluar
dari penjara. Penganiayaan tak sampai di situ, abangnya itu
bahkan pernah pula menginjak-injaknya dan
mencoba menenggelamkannya di sungai.
Beruntung nyawa Advent masih tertolong karena
perbuatan tersebut diketahui warga.
“Itu saya ditarik ke sungai, dipukul dan diinjakinjak,
ditenggelamkan. Hampir mau mati saya.
Untung waktu itu banyak yang lihat dan
menolong, akhirnya abang saya itu kabur,” kisah
bungsu dari delapan bersaudara itu.
Bukan itu saja, Advent pernah pula bersama
kakak perempuannya diganggu sekelompok
pemuda mabuk. Karena sang kakak diganggu,
Advent pun melawan. Namun lantaran perkelahian
tak seimbang, dirinya pun nyaris mati dikeroyok.
“Kakak saya berhasil lari. Saya lawan, tapi saya
jadi dikeroyok sama sekitar 30 orang dan nyaris
ditikam. Untung saya berhasil selamat,” katanya.
Berbagai trauma itu kemudian berubah menjadi
dendam membara di hati Advent. Alhasil, ia pun
memutuskan untuk kabur dari rumah
mendaftarkan diri pada sebuah perguruan karate.
Advent Bangun punya masa lalu yang pahit
hingga membuatnya trauma dan menyimpan
dendam membara. Tak ingin menjadi pria lemah,
ia pun mendaftarkan diri pada perguruan karate.
Semenjak itu, pria kelahiran Kabanjahe, Sumatera
Utara, 12 Oktober 1952 itu giat berlatih karate. Ia
bahkan menempa diri dan berlatih lebih giat
dibandingkan murid-murid seperguruannya yang lain.
 “Pagi, siang, sore, malam saya latihan terus.
Kalau orang latihan satu jam, saya dua jam.
Kalau yang lain latihan dua jam, saya empat jam.
Prinsip saya itu dari dulu memang harus selalu
nomor satu,” ungkapnya. Sejak saat itu,
Advent pun berubah jadi pria tangguh
dan bergabung menjadi atlet karate
nasional. Ia kerap meraih juara satu di berbagai
kejuaraan nasional dan internasional selama 12
tahun sejak 1972 hingga 1984.
“Saya itu dulu tanding karate kayak pelampiasan
dendam saja. Amarah rasanya terlampiaskan
kalau lawan tumbang,” ujarnya. “Saya itu sempat
dapat julukan dokter gigi, karena sering
mematahkan gigi lawan,” sambungnya seraya tertawa.
Prestasi di dunia karate itu pula yang kemudian
membukakan jalan Advent ke dunia seni peran.
Sejak 1976 hingga 2000, ia telah membintangi
lebih dari 60 judul film, di antaranya ‘Rajawali
Sakti’ (1976), ‘Dua Pendekar Pembelah
Langit’ (1977), ‘Golok Setan’ (1983),
‘Carok’ (1985), ‘Dendam Dua Jagoan’ (1986),
dan ‘Pendekar Bukit Tengkorak’ (1987).
Pada masa itu, nama Advent begitu berjaya
sebagai tokoh film laga berkarakter antagonis
yang kerap disandingkan dengan aktor protagonis
Namun sayang, sifat jahatnya dalam
film itu ikut terbawa hingga ke rumah tangganya.
Nama besar Advent di dunia karate dan film
membuat dirinya menjadi sosok yang angkuh dan
temperamental serta pencemburu. Hampir setiap
hari dirinya terlibat cekcok dan memaki isterinya
Lois Riani Amalia Sinulingga. Namun, sang
isterinya tetap bertahan dan bahkan selalu
mendoakannya. Singkat cerita, ia pun mengalami sebuah
pertobatan saat terpaksa mengantarkan isterinya
ke gereja. “Pas di gereja itu saya mendengar
kotbah yang bilang, kuduslah kamu sebab Aku
kudus. Lalu, berusahalah hidup damai dengan
semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab
tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat
Tuhan,” katanya menuturkan.
Ketika itu, Advent pun mengaku menangis sejadijadinya.
“Itu saya cari tempat dan nangis karena
malu. Rasanya seperti tertampar. Saya sudah terlalu
banyak dendam, marah, benci sama banyak orang,” kisahnya.
Sejak saat itu, ayah lima anak ini pun perlahan
mulai berubah menjadi sosok yang baik. Pada 25
Februari 1999 ia pun dibabtis dan bahkan kini
telah menjadi seorang pendeta yang lebih dikenal
dengan nama Thomas Bangun.
“Segala kesombongan saya di dunia karate dan
film telah hancur. Dulu Tuhan saya itu karate dan
film, sekarang sudah tidak lagi. Semua sudah
saya tinggalkan dan saya hidup bahagia tanpa
dendam. Sekarang yang ada hanya kasih,” tandasnya.

KARATE PERNAH JADI TUHAN SAYA
Telah menjadi  tekadnya, hidup dan matinya akan ia berikan bagi kecintaannya
terhadap bela diri. Menjadi juara karate selama dua belas tahun berturut-turut,
adalah bukti bahwa Advent Bangun sangat serius menekuni olahraga tersebut.
Bahkan keahliannya dalam bidang bela diri ini membawanya melanglang buana
dalam dunia film laga, dirinya mencatat telah membintangi 60 film.
“Dulu.. Tuhan saya itu karate,” demikian ungkap pria yang bernama lengkap Thomas
Advent Bangun ini.
Awal ketertarikan Advent kepada karate bermula dari pengalaman traumatis yang
menghantuinya.
Suatu malam, Advent Bangun pulang bersama dengan kakak perempuannya
melewati sebuah bioskop. Di pinggir bioskop itu banyak anak-anak muda yang
Sekarang setelah menjadi Pendeta

sedang berkumpul sambil minum-minuman keras.
“Mereka lihat kakak saya, dipikir perempuan nakal. Karena diganggu, saya lawan.
Saya langsung dipukulin sama sekitar 30an orang. Saya dihajar sama 30 orang itu,
rasanya seperti slow motion semua. Sampai ada yang ambil pisau, saya mau ditikam
tapi saya bisa loncat ke belakang seperti salto gitu.” Advent bangun yang tidak
berdaya di hajar oleh massa terus meronta, dan ketika bisa lepas dari mereka ia
segera lari sekencang mungkin. Kejadian itu menyisakan rasa sakit dan dendam di
hati Advent.
Hingga ia suatu saat ia melihat sebuah latihan karate, dimana mereka dengan
tangan kosong mampu menghancurkan es balok dan papan, timbul keyakinan dalam
hatinya, “Kalau saya latihan seperti itu, 100 orang juga bisa dibabat.”
Ia pun mendaftar untuk ikut latihan karate itu. Dendam dan rasa sakit dihatinya,
membuat dirinya berlatih ekstra keras, “Kalau orang latihan sejam, saya dua jam.
Kalau yang lain latihan dua jam, saya empat jam. Saya ngga mau kalah sama orang,
saya harus the best..!”
Dendam dalam hati Advent, dilampiaskannya sewaktu bertarung. Jika belum
membuat lawan babak belur, ia belum merasakan kepuasan. Sakit hati yang begitu
dalam itu dikarenakan apa yang ia alami sewaktu kecil. Saat itu, kakak kecilnya
menganiayanya dengan begitu kejam.
“Saya ditarik ke sungai, sungainya dangkal, dan saya di injak-injak disitu. Saya
banyak minum air waktu itu, sudah hampir mati, tapi untung ada orang yang lihat.
‘Woi.. itu Advent Bangun mau dibunuh sama abangnya!!’ Semua orang datang dan
akhirnya abang saya lari.”
Setiap pertandingan, menjadi ajang pelampiasan dendam baginya. Satu hal yang ia
inginkan, juara. Advent tidak mau membagi posisi puncak di dunia karate dengan
siapapun.
“Begitu dimulai, kaki kanan saya itu seperti punya mata. Begitu jaraknya sesuai, dia
otomatis keluar. Waktu itu saya seperti marah. Setiap saya bisa melampiaskannya,
saya merasa puas. Puas banget! Dan orang semakin takut sama saya, sampai saya
dapat gelar ‘dokter gigi’ karena saya hobinya bikin gigi rontok.”
Begitu dikuasai oleh amarah dan dendamnya, sifat keras Advent Bangun ini terbawa
dalam kehidupan rumah tangganya.
“Sesudah menikah, saya kaget karena saya mengenal dia tidak cukup lama. Hanya
selama enam bulan. Selama saya mengenal itu, saya lihat dia bisa sabar menunggu
saya pulang kantor. Ternyata tidak sepenuhnya seperti itu. (Sesudah menikah)
waktu pergi ke mall atau ke super market, rupanya dia menunggu saya kelamaan.
Saya dateng, dia langsung marah, dan langsung banting pintu,” ungkap istri Advent,
Louis Sulingga.
Bukan hanya tidak sabar, Advent ternyata juga pria pencemburu. Jika istrinya pulang
tidak tepat waktu, maka sang istri akan menerima luapan amarahnya. Louis sempat
merasa menyesal telah menikahi pria yang ditolak oleh kedua orangtuanya tersebut.
“Saya merasa kok rumah tangga saya seperti ini. Saya berdoa, ‘Tuhan tolong saya,
kalau semua ini terjadi karena kesalahan saya, karena dosa-dosa saya, saya minta
ampun. Saya mau bertobat, saya mau kembali sama Tuhan. Tuhan Yesus tolong
saya. Pulihkan rumah tangga saya, buka jalan bagi hidup saya,’” demikian Louis
kembali berharap pada Tuhan agar dapat memulihkan kehidupan rumah tangganya.
Menghadapi Advent yang temperamental dan keras, Louis seperti tidak berdaya.
Apalagi ketika Advent tidak senang dengan gereja yang dikunjungi oleh Louis.
Dulu saat aktif dalam film-film laga

“Kalau kamu kegereja itu lagi, awas kamu! Saya hajar kamu! Apa itu, lompat-lompat,
nyanyi-nyanyi, muji-muji! Gereja apaan itu! Sesat itu!” demikian Advent mencerca
istrinya. Karena istrinya memilih gereja yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya,
Advent tidak mau sekamar lagi dengannya selama satu tahun. “Jijik.. marah..” Advent menceritakan perasaannya kala itu.
Louis hanya bisa berlari ke kamarnya dan menangis kepada Tuhan. Ia memohon
kepada Tuhan agar terus diberikan kekuatan untuk mengasihi Advent. Cintanya
pada Tuhan, mengalahkan rasa takut Louis kepada Advent, entah mendapat
kekuatan dari mana, Louis membuat keputusan yang sangat berani. Ia mengatakan
dengan jujur kepada Advent bahwa dirinya ingin dibabtis selam.
“Itu mau meledak rasanya,” ungkap Advent. Wajahnya memerah, dan dia hanya bisa
menatap istrinya sambil menahan amarah. Namun sungguh ajaib, yang terlontar
dari mulutnya adalah, “Ya udah, aku anterin kamu.”
Benar, seperti yang dikatakannya. Advent mengatarkan istrinya untuk dibabtis
selam. Saat mengikuti ibadah sebelum acara pembabtisan itu, sesuatu terjadi dalam
hidup Advent.
 “Hamba Tuhan itu mengkotbahkan tentang kuduslah kamu sebab aku kudus. Ada
dua ayat, yaitu 1 Petrus 1:16 dan Ibrani 12:14, Berusahalah hidup damai dengan
semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun
akan melihat Tuhan. Firman itu keras, seperti saya kena tendangan di dada saya.
Kedua firman itu membuat saya menangis, saya terlalu banyak marah, dendam,
benci pada semua orang. Jadi disitu saya seperti tertemplak, seperti ditampar..”
Advent yang malu menangis di depan orang lain, berseru kepada Tuhan di balik
sebuah tiang gereja itu. Dia benar-benar menyadari bahwa dirinya memerlukan
Tuhan untuk mengubah hidupnya. Sepulangnya dari pembabtisan istrinya, dia
bicara empat mata dengan Louis, “Mah, saya mau pelepasan dan saya mau
dibabtis.”
Namun setelah memutuskan untuk bertobat, proses yang harus dijalani Advent
tidaklah mudah. Apa lagi saat ia diperingatkan oleh istrinya tentang kebanggaannya
pada semua pialanya, hal itu membuat Advent berang. Tiga hari ia mendiamkan
istrinya, Advent merenung dan matanya tertuju pada sebuah ayat.
“Saya lagi baca firman, Filipi 3:7-8, saya sangat kaget membaca firman itu: Semua
ku anggap rugi setelah pengenalan akan Kristus. Semua ku anggap sampah. Yesus

lebih mulia dari segala-galanya.” Setelah perenungan yang dalam akan ayat tersebut, Advent sadar bahwa dirinya telah terikat dengan semua piala dan kesombongannya. Ia menyingkirkan semua piala-pialanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada kesombongan. Sejak itu Thomas Advent Bangun memutuskan hubungan dengan dunia karate. Karate bukan lagi Tuhan dalam hidup Advent, dia memilih Yesus yang menjadi penguasa tunggal atas kehidupannya.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...