Legenda
Film Laga yang Kini Jadi Pendeta
Berkiprah sebagai aktor laga
dan membintangi lebih dari 60 judul
film sejak era 70-an, membuat
nama Advent
Bangun begitu melegenda. Namun,
pria yang juga
mantan atlet karate nasional
itu kini telah beralih profesi.
Ditemui di rumahnya di
Jagakarsa,
Jakarta Selatan, dengan ramah
dan penuh canda
Advent mengisahkan kehidupannya
setelah
meninggalkan gemerlap layar
perak.
“Sekarang saya sudah jadi
pendeta penuh,” ia
mengawali kisah. “Tahun 2000
saya ambil
keputusan dan stop semua dari
dunia keartisan,”
ungkap pria yang kerap
memainkan karakter
antagonis itu seraya tertawa.
Pria kelahiran Kabanjahe,
Sumatera Utara, 12
Oktober 1952 itu nampak
sederhana dengan
mengenakan kaos berwarna
abu-abu dan celana
panjang hitam. Meski usianya
hampir genap 60
tahun, ia masih terlihat bugar
dengan
posturnya yang tinggi besar.
Menurutnya, apa yang
dilakukannya di dunia
perfilman sudah cukup. Bahkan,
kerinduan pun
sudah tak ada lagi. “Umur saya
hampir 60 tahun,
jadi bukan bidang saya
lagilah,” ujar bintang film
‘Golok Setan’, ‘Dendam Dua
Jagoan’, dan
‘Sumpah Si Pahit Lidah’ itu.
Sejak menjadi pendeta, praktis
keseharian Advent
diisi dengan berbagai kegiatan
kerohanian. Ia pun
mengaku kerap berkotbah
melayani jemaat di
berbagai daerah di Tanah Air,
bahkan hingga mancanegara.
“Sekarang ya kotbah di
mana-mana. Kalau di
Indonesia saya sudah
seluruhnya, sampai ke
Papua sana. Saya juga pernah ke
Singapura,
Amerika, Australia, Korea
Selatan dan lain-lain,”
paparnya antusias.
Bungsu dari delapan bersaudara
itu punya banyak
cerita menarik selama menjalani
tugasnya
sebagai pendeta. Salah satunya,
ia mengaku
pernah ditantang berkelahi oleh
seorang pemuda
Ketua
Partai Damai Sejahtera Ruyandi Hutasoit kala itu.9+ 4
“Waktu
itu dia colek saya dan bilang, heh, nanti
berantem
ya! Saya tertawa saja,” kisahnya.
“Waktu
saya kotbah dia kaget, dan pas turun dia
langsung
peluk saya dan nangis. Katanya, dia
nggak
tahu saya sudah jadi pendeta. Dia pikir
saya
bodyguard-nya Ruyandi Hutasoit,”
kenangnya
tanpa mampu menahan tawa.
Suami
dari Lois Riani Amalia Sinulingga serta
ayah
lima anak itu mengaku hidupnya memang
banyak
berubah setelah menjadi pendeta.
Sebelumnya
ia adalah sosok yang keras dan temperamental.
“Dulu
saya memang orang yang emosian. Kalau
dulu
ditantang berantam sih, sudah saya hajar
langsung
tanpa ampun. Sekarang sudah jadi
pendeta
ya beda, lebih belajar mengasih,” katanya
dengan
tatapan lurus ke depan. Seolah hendak
mengatakan
bahwa ia tak menyesal dengan
pilihannya
meninggalkan dunia karate dan
perfilman
yang telah membuatnya terkenal.
Sinar
matanya yang tajam menyiratkan perasaan
bahagia
menjalani hidupnya sekarang ini sebagai
pendeta
dan mengurus keluarga. “Hidup ini kan
seperti
uap air. Sebentar ada, lalu hilang.
Makanya,
mengalir saja sekarang,” mendadak ia berfilsafat.
“Kalau
dulu kan menggebu-gebu, pengen ini-itu.
Ada
sih satu cita-cita untuk membuat sebuah
panti
jompo atau panti asuhan. Pokoknya saya
mau
bermanfaat buat orang banyak,” tambahnya.
Advent Bangun Tolak Ratusan
Juta untuk Main
Film ‘The Raid’
Berbincang
dengan Advent Bangun tentu kurang
afdol
tanpa menyinggung soal film laga.
Kebetulan,
fenomena film ‘The Raid’ baru saja
mengguncang
jagad perfilman Tanah Air.
Ketika
disinggung soal itu,
Advent
ternyata punya cerita yang mengejutkan.
Advent
ternyata sempat dibujuk sutradara Gareth
Evans
untuk bermain dalam film yang kemudian
dibintangi
Iko Uwais itu. Namun, ia menolak.
hanya
menelepon, sutradara asal Wales itu
bahkan
sampai bolak-balik menyambangi
rumahnya
untuk bernegosiasi. “Dia terus membujuk.
Tawaran
uangnya cukup
besar
lho. Tapi saya tolak,” ungkapnya. Berapa?
“Ah,
itu rahasia dialah, nggak enak,” hindarnya.
Namun,
ketika didesak, apakah sampai
angka
ratusan juta, Advent pun mengiyakan. Kini,
setelah tahu filmnya meledak luar biasa,
bahkan
mendapat sambutan hangat di berbagai
negara,
menyesalkah Advent? Ia menggeleng
mantap.
“Dari tahun 1976 saya sudah main lebih
dari
60 judul film. Sinetron sudah nggak terhitung.
Jadi
tahun 2000 sudah stop semua,” tandasnya seraya tersenyum.
Bungsu
dari delapan bersaudara itu lebih jauh
mengungkapkan,
dirinya tak ingin kembali
berakting
laga lantaran dirasanya bertentangan
dengan
nuraninya sebagai pendeta. “Kotbah saya
kan
tentang kasih. Bukan dendam, kebencian,
amarah.
Sementara kalau film seperti itu buntutbuntutnya
kan
disakiti, balas dendam,” paparnya.
Lantas,
bagaimana jika tawarannya tidak
beradegan
laga? “Nah, kalau begitu saya masih maulah.
Misalnya
menasihati seseorang, seperti
bidang
saya sekarang. Kalau bertarung-tarung
lagi
nggaklah. Mungkin kalau sekadar flashback,
ya
bolehlah,” ujarnya.
Advent
mengawali kariernya sebagai pegawai
negeri
di Bea & Cukai Tanjung Balai, Karimun. Ia
juga
tercatat sebagai atlet karate nasional yang
kerap
meraih juara satu di berbagai kejuaraan
nasional
dan internasional selama 12 tahun sejak
1972
hingga 1984. Prestasi di dunia karate itu
pula
yang kemudian membukakan jalannya ke dunia
seni
peran. Sejak 1976 hingga 2000, ia telah membintangi
lebih
dari 60 judul film, di antaranya ‘Rajawali
Sakti’
(1976), ‘Dua Pendekar Pembelah
Langit’
(1977), ‘Golok Setan’ (1983),
‘Carok’
(1985), ‘Dendam Dua Jagoan’ (1986),
dan
‘Pendekar Bukit Tengkorak’ (1987).
Dalam
setiap film yang dibintanginya, Advent
bersanding
dengan tokoh protagonis, Barry Prima
yang
kerap jadi lawan mainnya. Meski dirinya kini
telah
memutuskan untuk menjadi pendeta,
namanya
tetap dikenal sebagai legenda hidup film laga nasional.
Sebelum
Jadi Pendeta, Advent Bangun ‘Mampir’
Jadi
Penyanyi Dangdut Apa jadinya jika pria bertampang sangar itu jadi
penyanyi
dangdut? Menjadi penyanyi dangdut
ternyata
pernah dilakoni pria yang kerap
memainkan
karakter antagonis dalam kebanyakan
filmnya
itu. Hal tersebut diakuinya terjadi ketika
industri
perfilman Tanah Air sempat terpuruk pada 1992.
“Iya,
dulu saya memang sempat jadi penyanyi
dangdut
pas industri film jatuh. Saya nyanyi
dangdut
dari tahun 1992 sampai 1994 lah,” ungkapnya seraya tertawa.
Dikisahkan,
dulu ketika berjaya dirinya memang
tidak
pernah menabung dan kerap berfoya-foya.
Alhasil,
terpuruknya dunia perfilman Tanah Air
berimbas
pada keadaan ekonominya yang menurun.
“Pada
saat perfilman itu mati, barulah saya sadar
dan
sangat menghargai uang. Saya butuh materi
untuk
menghidupi diri. Padahal sebelumnya
nggak,
uang buat senang-senang saja,” kisah
bungsu
dari delapan bersaudara itu. Pada masa
itu
musik dangdut memang sangat digandrungi masyarakat.
Ditawari
bernyanyi, ia pun menyambutnya.
“Waktu
itu ada yang ngajak nyanyi di Depok,
Jawa
Barat dengan bayaran pertama Rp 13.500.
Saya
sikat saja langsung,” katanya. Sejak itu, tak
dinyana
dirinya mendapat apresiasi yang bagus
dan
tawaran manggung pun kian banyak.
“Saya
itu manggung di mana-mana di Indonesia.
Bayarannya
lama-lama dari Rp 5 juta sampai Rp
10
juta, cuma nyanyi dua lagu,” paparnya seraya
tertawa
lepas. “Mereka suka karena lihat Advent
Bangun
si bintang film laga dan karateka bernyanyi,” sambungnya.
Pernah
punya pengalaman buruk saat bernyanyi
di
panggung? “Puji Tuhan, nggak ya. Di kepala
saya
itu sudah ada dan hapal 60 judul lagu
dangdut,
jadi kalau orang minta apa saya tahu.
Kalau
nggak kan gawat,” kata bintang film ‘Golok
Setan’,
‘Dendam Dua Jagoan’, dan ‘Sumpah Si Pahit Lidah’.
memang
tak mengalami kesulitan berarti saat
menyanyikan
lagu dangdut. “Saya kan orang
Batak
Karo. Batak Karo itu cengkoknya ada mirip
dangdutnya.
Jadi nyambunglah walaupun nggak
dangdut-dangdut
banget,” tuturnya. ( bar/hkm )
Advent
Bangun: Tuhan Saya Dulu Karate dan Film
Sejak
tahun 2000, legenda aktor laga Advent
Bangun
memutuskan untuk meninggalkan dunia
karate
dan seni peran yang membesarkan namanya.
Semenjak
itu hingga sekarang,
ia
telah menjadi seorang pendeta.
Apa
alasan di balik keputusan Advent menjadi
pendeta?
Jauh sebelum namanya dikenal, Advent
ternyata
punya masa lalu yang pahit. Sejak kecil,
setiap
orangtuanya tak di rumah, ia mengaku
kerap
dianiaya salah seorang abangnya yang baru keluar
dari
penjara. Penganiayaan tak sampai di situ, abangnya itu
bahkan
pernah pula menginjak-injaknya dan
mencoba
menenggelamkannya di sungai.
Beruntung
nyawa Advent masih tertolong karena
perbuatan
tersebut diketahui warga.
“Itu
saya ditarik ke sungai, dipukul dan diinjakinjak,
ditenggelamkan.
Hampir mau mati saya.
Untung
waktu itu banyak yang lihat dan
menolong,
akhirnya abang saya itu kabur,” kisah
bungsu
dari delapan bersaudara itu.
Bukan
itu saja, Advent pernah pula bersama
kakak
perempuannya diganggu sekelompok
pemuda
mabuk. Karena sang kakak diganggu,
Advent
pun melawan. Namun lantaran perkelahian
tak
seimbang, dirinya pun nyaris mati dikeroyok.
“Kakak
saya berhasil lari. Saya lawan, tapi saya
jadi
dikeroyok sama sekitar 30 orang dan nyaris
ditikam.
Untung saya berhasil selamat,” katanya.
Berbagai
trauma itu kemudian berubah menjadi
dendam
membara di hati Advent. Alhasil, ia pun
memutuskan
untuk kabur dari rumah
mendaftarkan
diri pada sebuah perguruan karate.
Advent
Bangun punya masa lalu yang pahit
hingga
membuatnya trauma dan menyimpan
dendam
membara. Tak ingin menjadi pria lemah,
Semenjak
itu, pria kelahiran Kabanjahe, Sumatera
Utara,
12 Oktober 1952 itu giat berlatih karate. Ia
bahkan
menempa diri dan berlatih lebih giat
dibandingkan
murid-murid seperguruannya yang lain.
“Pagi, siang, sore, malam saya latihan terus.
Kalau
orang latihan satu jam, saya dua jam.
Kalau
yang lain latihan dua jam, saya empat jam.
Prinsip
saya itu dari dulu memang harus selalu
nomor
satu,” ungkapnya. Sejak saat itu,
Advent
pun berubah jadi pria tangguh
dan
bergabung menjadi atlet karate
nasional.
Ia kerap meraih juara satu di berbagai
kejuaraan
nasional dan internasional selama 12
tahun
sejak 1972 hingga 1984.
“Saya
itu dulu tanding karate kayak pelampiasan
dendam
saja. Amarah rasanya terlampiaskan
kalau
lawan tumbang,” ujarnya. “Saya itu sempat
dapat
julukan dokter gigi, karena sering
mematahkan
gigi lawan,” sambungnya seraya tertawa.
Prestasi
di dunia karate itu pula yang kemudian
membukakan
jalan Advent ke dunia seni peran.
Sejak
1976 hingga 2000, ia telah membintangi
lebih
dari 60 judul film, di antaranya ‘Rajawali
Sakti’
(1976), ‘Dua Pendekar Pembelah
Langit’
(1977), ‘Golok Setan’ (1983),
‘Carok’
(1985), ‘Dendam Dua Jagoan’ (1986),
dan
‘Pendekar Bukit Tengkorak’ (1987).
Pada
masa itu, nama Advent begitu berjaya
sebagai
tokoh film laga berkarakter antagonis
yang
kerap disandingkan dengan aktor protagonis
Namun
sayang, sifat jahatnya dalam
film
itu ikut terbawa hingga ke rumah tangganya.
Nama
besar Advent di dunia karate dan film
membuat
dirinya menjadi sosok yang angkuh dan
temperamental
serta pencemburu. Hampir setiap
hari
dirinya terlibat cekcok dan memaki isterinya
Lois
Riani Amalia Sinulingga. Namun, sang
isterinya
tetap bertahan dan bahkan selalu
mendoakannya.
Singkat cerita, ia pun mengalami sebuah
pertobatan
saat terpaksa mengantarkan isterinya
ke
gereja. “Pas di gereja itu saya mendengar
kudus.
Lalu, berusahalah hidup damai dengan
semua
orang dan kejarlah kekudusan, sebab
tanpa
kekudusan tidak seorang pun akan melihat
Tuhan,”
katanya menuturkan.
Ketika
itu, Advent pun mengaku menangis sejadijadinya.
“Itu
saya cari tempat dan nangis karena
malu.
Rasanya seperti tertampar. Saya sudah terlalu
banyak
dendam, marah, benci sama banyak orang,” kisahnya.
Sejak
saat itu, ayah lima anak ini pun perlahan
mulai
berubah menjadi sosok yang baik. Pada 25
Februari
1999 ia pun dibabtis dan bahkan kini
telah
menjadi seorang pendeta yang lebih dikenal
dengan
nama Thomas Bangun.
“Segala
kesombongan saya di dunia karate dan
film
telah hancur. Dulu Tuhan saya itu karate dan
film,
sekarang sudah tidak lagi. Semua sudah
saya
tinggalkan dan saya hidup bahagia tanpa
dendam.
Sekarang yang ada hanya kasih,” tandasnya.
KARATE
PERNAH JADI TUHAN SAYA
Telah menjadi tekadnya, hidup dan matinya akan ia berikan
bagi kecintaannya
terhadap bela diri.
Menjadi juara karate selama dua belas tahun berturut-turut,
adalah bukti bahwa
Advent Bangun sangat serius menekuni olahraga tersebut.
Bahkan keahliannya
dalam bidang bela diri ini membawanya melanglang buana
dalam dunia film laga,
dirinya mencatat telah membintangi 60 film.
“Dulu.. Tuhan saya itu
karate,” demikian ungkap pria yang bernama lengkap Thomas
Advent Bangun ini.
Awal ketertarikan
Advent kepada karate bermula dari pengalaman traumatis yang
menghantuinya.
Suatu malam, Advent
Bangun pulang bersama dengan kakak perempuannya
melewati sebuah
bioskop. Di pinggir bioskop itu banyak anak-anak muda yang
|
Sekarang setelah menjadi Pendeta
|
“Mereka lihat kakak
saya, dipikir perempuan nakal. Karena diganggu, saya lawan.
Saya langsung dipukulin
sama sekitar 30an orang. Saya dihajar sama 30 orang itu,
rasanya seperti slow
motion semua. Sampai ada yang ambil pisau, saya mau ditikam
tapi saya bisa loncat
ke belakang seperti salto gitu.” Advent bangun yang tidak
berdaya di hajar oleh
massa terus meronta, dan ketika bisa lepas dari mereka ia
segera lari sekencang
mungkin. Kejadian itu menyisakan rasa sakit dan dendam di
hati Advent.
Hingga ia suatu saat ia
melihat sebuah latihan karate, dimana mereka dengan
tangan kosong mampu
menghancurkan es balok dan papan, timbul keyakinan dalam
hatinya, “Kalau saya
latihan seperti itu, 100 orang juga bisa dibabat.”
Ia pun mendaftar untuk
ikut latihan karate itu. Dendam dan rasa sakit dihatinya,
membuat dirinya
berlatih ekstra keras, “Kalau orang latihan sejam, saya dua jam.
Kalau yang lain latihan
dua jam, saya empat jam. Saya ngga mau kalah sama orang,
saya harus the best..!”
Dendam dalam hati
Advent, dilampiaskannya sewaktu bertarung. Jika belum
membuat lawan babak
belur, ia belum merasakan kepuasan. Sakit hati yang begitu
dalam itu dikarenakan
apa yang ia alami sewaktu kecil. Saat itu, kakak kecilnya
menganiayanya dengan
begitu kejam.
“Saya ditarik ke
sungai, sungainya dangkal, dan saya di injak-injak disitu. Saya
banyak minum air waktu
itu, sudah hampir mati, tapi untung ada orang yang lihat.
‘Woi.. itu Advent
Bangun mau dibunuh sama abangnya!!’ Semua orang datang dan
akhirnya abang saya
lari.”
Setiap pertandingan,
menjadi ajang pelampiasan dendam baginya. Satu hal yang ia
inginkan, juara. Advent
tidak mau membagi posisi puncak di dunia karate dengan
siapapun.
“Begitu dimulai, kaki
kanan saya itu seperti punya mata. Begitu jaraknya sesuai, dia
otomatis keluar. Waktu
itu saya seperti marah. Setiap saya bisa melampiaskannya,
saya merasa puas. Puas
banget! Dan orang semakin takut sama saya, sampai saya
dapat gelar ‘dokter
gigi’ karena saya hobinya bikin gigi rontok.”
Begitu dikuasai oleh
amarah dan dendamnya, sifat keras Advent Bangun ini terbawa
dalam kehidupan rumah
tangganya.
“Sesudah menikah, saya
kaget karena saya mengenal dia tidak cukup lama. Hanya
selama enam bulan.
Selama saya mengenal itu, saya lihat dia bisa sabar menunggu
saya pulang kantor.
Ternyata tidak sepenuhnya seperti itu. (Sesudah menikah)
waktu pergi ke mall
atau ke super market, rupanya dia menunggu saya kelamaan.
Saya dateng, dia
langsung marah, dan langsung banting pintu,” ungkap istri Advent,
Louis Sulingga.
Bukan hanya tidak
sabar, Advent ternyata juga pria pencemburu. Jika istrinya pulang
tidak tepat waktu, maka
sang istri akan menerima luapan amarahnya. Louis sempat
merasa menyesal telah
menikahi pria yang ditolak oleh kedua orangtuanya tersebut.
“Saya merasa kok rumah
tangga saya seperti ini. Saya berdoa, ‘Tuhan tolong saya,
kalau semua ini terjadi
karena kesalahan saya, karena dosa-dosa saya, saya minta
ampun. Saya mau bertobat,
saya mau kembali sama Tuhan. Tuhan Yesus tolong
saya. Pulihkan rumah
tangga saya, buka jalan bagi hidup saya,’” demikian Louis
kembali berharap pada
Tuhan agar dapat memulihkan kehidupan rumah tangganya.
Menghadapi Advent yang
temperamental dan keras, Louis seperti tidak berdaya.
Apalagi ketika Advent
tidak senang dengan gereja yang dikunjungi oleh Louis.
|
Dulu saat aktif dalam film-film laga
|
nyanyi-nyanyi,
muji-muji! Gereja apaan itu! Sesat itu!” demikian Advent mencerca
istrinya. Karena
istrinya memilih gereja yang tidak sesuai dengan keinginan hatinya,
Advent tidak mau
sekamar lagi dengannya selama satu tahun. “Jijik.. marah..” Advent menceritakan
perasaannya kala itu.
Louis hanya bisa
berlari ke kamarnya dan menangis kepada Tuhan. Ia memohon
kepada Tuhan agar terus
diberikan kekuatan untuk mengasihi Advent. Cintanya
pada Tuhan, mengalahkan
rasa takut Louis kepada Advent, entah mendapat
kekuatan dari mana,
Louis membuat keputusan yang sangat berani. Ia mengatakan
dengan jujur kepada
Advent bahwa dirinya ingin dibabtis selam.
“Itu mau meledak
rasanya,” ungkap Advent. Wajahnya memerah, dan dia hanya bisa
menatap istrinya sambil
menahan amarah. Namun sungguh ajaib, yang terlontar
dari mulutnya adalah,
“Ya udah, aku anterin kamu.”
Benar, seperti yang
dikatakannya. Advent mengatarkan istrinya untuk dibabtis
selam. Saat mengikuti
ibadah sebelum acara pembabtisan itu, sesuatu terjadi dalam
hidup Advent.
“Hamba Tuhan itu mengkotbahkan tentang
kuduslah kamu sebab aku kudus. Ada
dua ayat, yaitu 1
Petrus 1:16 dan Ibrani 12:14, Berusahalah hidup damai dengan
semua orang dan
kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun
akan melihat Tuhan.
Firman itu keras, seperti saya kena tendangan di dada saya.
Kedua firman itu
membuat saya menangis, saya terlalu banyak marah, dendam,
benci pada semua orang.
Jadi disitu saya seperti tertemplak, seperti ditampar..”
Advent yang malu
menangis di depan orang lain, berseru kepada Tuhan di balik
sebuah tiang gereja
itu. Dia benar-benar menyadari bahwa dirinya memerlukan
Tuhan untuk mengubah
hidupnya. Sepulangnya dari pembabtisan istrinya, dia
bicara empat mata
dengan Louis, “Mah, saya mau pelepasan dan saya mau
dibabtis.”
Namun setelah
memutuskan untuk bertobat, proses yang harus dijalani Advent
tidaklah mudah. Apa
lagi saat ia diperingatkan oleh istrinya tentang kebanggaannya
pada semua pialanya,
hal itu membuat Advent berang. Tiga hari ia mendiamkan
istrinya, Advent
merenung dan matanya tertuju pada sebuah ayat.
“Saya lagi baca firman,
Filipi 3:7-8, saya sangat kaget membaca firman itu: Semua
ku anggap rugi setelah
pengenalan akan Kristus. Semua ku anggap sampah. Yesus
lebih mulia dari
segala-galanya.” Setelah perenungan yang dalam akan ayat tersebut, Advent sadar
bahwa dirinya telah terikat dengan semua piala dan kesombongannya. Ia
menyingkirkan semua piala-pialanya dan mengucapkan selamat tinggal kepada
kesombongan. Sejak itu Thomas Advent Bangun memutuskan hubungan dengan dunia
karate. Karate bukan lagi Tuhan dalam hidup Advent, dia memilih Yesus yang
menjadi penguasa tunggal atas kehidupannya.

No comments:
Post a Comment