Sunday, September 9, 2018

SELAMAT DARI PERTEMPURAN IWO JIMA

Perang dunia II tampaknya akan segera berakhir, demikian media massa NewYork membahasnya. Hal ini amat menarik hati bagi segenap keluarga Amerika yang ditinggal suami ataupun anak mereka dalam pertempuran di Asia Pasifik melawan Jepang. Saya Danny Keys adalah salah satu dari sekitar 70 ribu marinir yang akan diterjunkan langsung dalam serbuan ke pulau Iwo Jima. Setelah selang 4 tahun berjibaku di sepanjang kepulauan pasifik dari Australia hingga Saipan Filipina, kini di awal tahun 1945 Amerika mulai menerobos masuk ke wilayah Jepang. Sasarannya adalah sebuah pulau gersang di sebelah tenggara Jepang yang strateegis untuk dijadikan pangkalan sebelum serbuan langsung ke daratan Jepang, yaitu pulau Iwo Jima yang memiliki dua pangkalan udara.
     Kakek saya seorang veteran perang dan ayah seorang petani gandum biasa. Perang dunia dua segera membawa saya yang tadinya seorang anak petani biasa tiba-tiba telah menenteng senjata mesin dan tergabung dalam korps marinir Amerika. Saya sebenarnya sudah muak dengan perang ini apalagi sejak berkali-kali menerima surat dari ibu yang berlinang-linang ingin saya segera kembali. Biasanya Komandan regu kami tidak meneruskan surat kepada para anggotanya sebab katanya itu melemahkan semangat prajurit, namun beberapa kali teman saya Hayes berhasil menyelundupkan surat saya hingga sampai ke tangan saya.




     Saya tahu kali ini akan berat sebab Jepang tak akan mudah menyerahkan pulaunya sendiri ke tangan Amerika untuk dijadikan pangkalan guna serangan penghabisan untuk mengakhiri perang dunia II sebelum Natal. Dalam hati saya, “Ah Tuhan Yesus, ijinkan Natal ini saya masih bersama ibu dan keluargaku di rumah.” Kami sering mendengar bagaimana Jepang mengeksekusi tawanan Amerika dengan Samurai, dan pulau itu tampaknya akan menjadi “neraka” bagi Marinir AS. Saya ada dalam kesatuan divisi marinir ke 3 yang sebenarnya kelasnya masih berada di bawah divisi elit ke 4 dan 5 yang akan diterjunkan bersamaan dengan kami. Korps Amphibi yang terkenal itu pun akan turut memperkuat penyerbuan nanti yaitu pada tanggal 19 Februari 1945.
     Dulu saya seorang anak sekolah Minggu yang taat, diantar oleh tetangga kami yang saya panggil kakek Hans, seorang tua yang sudah ubanan yang selalu ke gereja pagi-pagi benar hingga dia bisa selalu menggandeng saya bersamanya untuk menikmati sekolah Minggu. Saya duduk manis dan terpukau-pukau mendengarkan guru kami bercakap-cakap banyak hal tentang Alkitab. Sayangnya saya remaja yang nakal, tidak suka sekolah dan gemar mencuri bersama kedua sepupu saya yang lebih tua. Lulus susah payah dari sekolah menengah hanya untuk masuk wajib militer,…namun beberapa hari terakhir ini saya selalu memikirkan Tuhan. Rasanya seperti maut sudah di depan mata dan saya harus banyak “beres-beres” dengan Dia. “Tuhan, katanya tidak ada kesalahan yang tidak Engkau ampuni, sekali ini saja jika saya selamat maka saya akan pulang.” Rasanya saya meminta sesuatu yang mustahil apalagi setelah mendapat berita bahwa kami akan ditempatkan di front depan untuk melapis barikade pertama yang terdiri dari pasukan elite. Rasanya saya benar-benar menyesal kini telah terjebak dalam komplotan marinir yang sedang menuju lubang kuburannya sendiri di pulau yang asing.



     Letnan Jenderal Holand Smith komandan USMC (Komandan Korps Marinir AS) akan menjadi pemimpin serangan ini. Dia dengan tegap berkata bahwa Tuhan di pihak Amerika dan operasi hanya akan berlangsung selama lima hari. Wah tampaknya asyik dan tidak begitu sulit kedengarannya. Yah mereka para pemimpin selalu menyampaikan segala sesuatu tampak akan begitu mudah. Malam itu tepat sebelum hari penyerbuan esok harinya, di atas kapal perang yang membawa kami saya berdoa dengan sungguh dan saya rasa itu untuk pertama kalinya semenjak saya usia 10 tahun. Saya tahu jauh di NewYork ibu saya juga berdoa untuk saya. “Tuhan, jika memang demikian kata mereka, bahwa hanya akan 5 hari saja, berikanlah saya 5 hari saja dan selamat.” Demikian pinta saya dalam doa. Kami diyakinkan dengan telah diluluhlantakannya terlebih dahulu seluruh basis pertahanan Jepang di pulau itu. Bagaimana tidak Amerika telah membom setiap sisi pulau bahkan sejak dari Juli tahun lalu sebelum kami akan melakukan serangan darat besok.
     Siang itu 19 February 1945, ini adalah serangan darat pertama Amerika untuk masuk menguasai pulau. Diperkirakan sisa kekuatan Jepang tinggal 30% saja akibat dibom habis-habisan oleh B 24 Liberator dan B 29 Super fortress selama lebih dari 6 bulan. Memasuki bibir pantai dari pulau yang kering gersang bebatuan itu, kami melihat divisi elit di depan merayap perlahan dan kian lama kian cepat. Tiada ada aral melintang dan tidak ada sedikitpun tembakan perlawanan musuh. Ketika itu divisi kami sudah mulai terjun ke pantai. Kami berlarian melapis mereka yang sudah lebih dulu masuk ke pantai dan beriringan seperti semut rangrang banyaknya. Teman saya Bill baru saja tersenyum dan berkata bahwa ini tidak sesulit yang ditakutkan sebelum desingan peluru menembus kepalanya tepat di bawah topi pelindung. Rentetan peluru dan desingan mortar serta bom dan  senjata berat terdengar dari berbagai penjuru segera setelah itu. Kami berupaya berlindung di tengah padang pasir terbuka di tepi pantai Iwo Jima. Benar-benar makanan empuk bagi Jepang yang rupanya sengaja membuat kami memenuhi pantai sebelum melepaskan tembakan dari atas gunung dan beberapa bunker yang tersisa.


     Saya tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan beberapa rekan saya setelah itu, kami kocar-kacir di bibir pantai sementara sokongan udara dan tembakan meriam dari kapal perang berusaha melindungi kami. Sebuah guncangan keras di depan saya membuat saya terpental amat jauh sepertinya beberapa meter sebelum akhirnya sinar amat menyilaukan dan menyakitkan kepala membuat saya tertidur,….atau mati. Pertempuran yang direncanakan hanya berlangsung 5 hari ternyata berakhir pada hari ke 36. Sebulan lebih sisa-sisa pertahanan Jepang di sana mati-matian melawan marinir AS sebelum akhirnya Jepang berhasil ditaklukkan. Dari pulau itulah awalnya Amerika membangun kekuatan untuk membom kekuasaan Jepang di Hiroshima dan Nagasaki dan mengakhiri perang dunia II.
     Bagaimana dengan saya? Saya tidak sadar selama 5 hari menurut para medis di atas kapal perang yang membawa saya. Seorang tentara menemukan saya tanpa sengaja masih dalam keaadan hidup saat senja menjelang malam ketika pasukan yang lain sedang bersiap kembali ke kapal. Saya beruntung hanya kehilangan pendengaran saja dan beberapa luka bakar di sekujur tubuh. Namun secara ajaib saya selamat dari “pembantaian” di hari pertama itu. Belakangan saya tahu ada sekitar 3000 tentara AS  yang tewas saat itu dari keseluruhan 6000 tentara yang dinyatakan tewas selama sebulan lebih pertempuran Iwo Jima. Saya bersyukur dapat menjadi salah satu dari sekian kecil jumlah mereka yang selamat dari serangan awal itu. Tampaknya TanganNya masih berencana membawa saya untuk pulang bertemu ibu sekeluarga dan Dia masih mengisinkan saya memperbaiki kembali hidup saya. Saya, Danny Keys akhirnya pulang dengan bangga bukan sebagai seorang veteran perang yang diberitakan media saat itu sebagai pahlawan Iwo Jima namun saya merasa bangga bahwa “Komandan Agung” saya berdiri di depan saya dan menghalau ledakan mortir musuh sehingga saya masih selamat. Saya tahu kuasa doa begitu besar berkarya bahkan di tengah situasi perang sesulit apapun. Perang Iwo Jima memang direncanakan berlangsung selama 5 hari dan itu benar-benar terjadi bagi saya. Saya hanya berada dalam perang itu selama 5 hari saja dan akhirnya dipulangkan.
berikut adalah foto-foto seputar perang tersebut dari arsip negara.
















No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...