Perang
dunia II tampaknya akan segera berakhir, demikian media massa NewYork
membahasnya. Hal ini amat menarik hati bagi segenap keluarga Amerika yang
ditinggal suami ataupun anak mereka dalam pertempuran di Asia Pasifik melawan
Jepang. Saya Danny Keys adalah salah satu dari sekitar 70 ribu marinir yang
akan diterjunkan langsung dalam serbuan ke pulau Iwo Jima. Setelah selang 4
tahun berjibaku di sepanjang kepulauan pasifik dari Australia hingga Saipan
Filipina, kini di awal tahun 1945 Amerika mulai menerobos masuk ke wilayah
Jepang. Sasarannya adalah sebuah pulau gersang di sebelah tenggara Jepang yang
strateegis untuk dijadikan pangkalan sebelum serbuan langsung ke daratan
Jepang, yaitu pulau Iwo Jima yang memiliki dua pangkalan udara.
Kakek saya seorang veteran perang dan ayah
seorang petani gandum biasa. Perang dunia dua segera membawa saya yang tadinya
seorang anak petani biasa tiba-tiba telah menenteng senjata mesin dan tergabung
dalam korps marinir Amerika. Saya sebenarnya sudah muak dengan perang ini
apalagi sejak berkali-kali menerima surat dari ibu yang berlinang-linang ingin
saya segera kembali. Biasanya Komandan regu kami tidak meneruskan surat kepada
para anggotanya sebab katanya itu melemahkan semangat prajurit, namun beberapa
kali teman saya Hayes berhasil menyelundupkan surat saya hingga sampai ke
tangan saya.
Saya tahu kali ini akan berat sebab Jepang
tak akan mudah menyerahkan pulaunya sendiri ke tangan Amerika untuk dijadikan
pangkalan guna serangan penghabisan untuk mengakhiri perang dunia II sebelum
Natal. Dalam hati saya, “Ah Tuhan Yesus, ijinkan Natal ini saya masih bersama
ibu dan keluargaku di rumah.” Kami sering mendengar bagaimana Jepang
mengeksekusi tawanan Amerika dengan Samurai, dan pulau itu tampaknya akan
menjadi “neraka” bagi Marinir AS. Saya ada dalam kesatuan divisi marinir ke 3
yang sebenarnya kelasnya masih berada di bawah divisi elit ke 4 dan 5 yang akan
diterjunkan bersamaan dengan kami. Korps Amphibi yang terkenal itu pun akan
turut memperkuat penyerbuan nanti yaitu pada tanggal 19 Februari 1945.
Dulu saya seorang anak sekolah Minggu yang
taat, diantar oleh tetangga kami yang saya panggil kakek Hans, seorang tua yang
sudah ubanan yang selalu ke gereja pagi-pagi benar hingga dia bisa selalu
menggandeng saya bersamanya untuk menikmati sekolah Minggu. Saya duduk manis
dan terpukau-pukau mendengarkan guru kami bercakap-cakap banyak hal tentang
Alkitab. Sayangnya saya remaja yang nakal, tidak suka sekolah dan gemar mencuri
bersama kedua sepupu saya yang lebih tua. Lulus susah payah dari sekolah
menengah hanya untuk masuk wajib militer,…namun beberapa hari terakhir ini saya
selalu memikirkan Tuhan. Rasanya seperti maut sudah di depan mata dan saya
harus banyak “beres-beres” dengan Dia. “Tuhan, katanya tidak ada kesalahan yang
tidak Engkau ampuni, sekali ini saja jika saya selamat maka saya akan pulang.”
Rasanya saya meminta sesuatu yang mustahil apalagi setelah mendapat berita
bahwa kami akan ditempatkan di front depan untuk melapis barikade pertama yang
terdiri dari pasukan elite. Rasanya saya benar-benar menyesal kini telah
terjebak dalam komplotan marinir yang sedang menuju lubang kuburannya sendiri
di pulau yang asing.
Letnan Jenderal Holand Smith komandan USMC
(Komandan Korps Marinir AS) akan menjadi pemimpin serangan ini. Dia dengan
tegap berkata bahwa Tuhan di pihak Amerika dan operasi hanya akan berlangsung
selama lima hari. Wah tampaknya asyik dan tidak begitu sulit kedengarannya. Yah
mereka para pemimpin selalu menyampaikan segala sesuatu tampak akan begitu
mudah. Malam itu tepat sebelum hari penyerbuan esok harinya, di atas kapal
perang yang membawa kami saya berdoa dengan sungguh dan saya rasa itu untuk
pertama kalinya semenjak saya usia 10 tahun. Saya tahu jauh di NewYork ibu saya
juga berdoa untuk saya. “Tuhan, jika memang demikian kata mereka, bahwa hanya
akan 5 hari saja, berikanlah saya 5 hari saja dan selamat.” Demikian pinta saya
dalam doa. Kami diyakinkan dengan telah diluluhlantakannya terlebih dahulu
seluruh basis pertahanan Jepang di pulau itu. Bagaimana tidak Amerika telah
membom setiap sisi pulau bahkan sejak dari Juli tahun lalu sebelum kami akan
melakukan serangan darat besok.
Siang itu 19 February 1945, ini adalah
serangan darat pertama Amerika untuk masuk menguasai pulau. Diperkirakan sisa
kekuatan Jepang tinggal 30% saja akibat dibom habis-habisan oleh B 24 Liberator
dan B 29 Super fortress selama lebih dari 6 bulan. Memasuki bibir pantai dari
pulau yang kering gersang bebatuan itu, kami melihat divisi elit di depan
merayap perlahan dan kian lama kian cepat. Tiada ada aral melintang dan tidak
ada sedikitpun tembakan perlawanan musuh. Ketika itu divisi kami sudah mulai
terjun ke pantai. Kami berlarian melapis mereka yang sudah lebih dulu masuk ke
pantai dan beriringan seperti semut rangrang banyaknya. Teman saya Bill baru
saja tersenyum dan berkata bahwa ini tidak sesulit yang ditakutkan sebelum
desingan peluru menembus kepalanya tepat di bawah topi pelindung. Rentetan
peluru dan desingan mortar serta bom dan
senjata berat terdengar dari berbagai penjuru segera setelah itu. Kami
berupaya berlindung di tengah padang pasir terbuka di tepi pantai Iwo Jima.
Benar-benar makanan empuk bagi Jepang yang rupanya sengaja membuat kami
memenuhi pantai sebelum melepaskan tembakan dari atas gunung dan beberapa
bunker yang tersisa.
|
|
Bagaimana dengan saya? Saya tidak sadar
selama 5 hari menurut para medis di atas kapal perang yang membawa saya. Seorang
tentara menemukan saya tanpa sengaja masih dalam
keaadan hidup saat senja menjelang malam ketika pasukan yang lain
sedang bersiap kembali ke kapal. Saya beruntung hanya kehilangan pendengaran
saja dan beberapa luka bakar di sekujur tubuh. Namun secara ajaib saya selamat
dari “pembantaian” di hari pertama itu. Belakangan saya tahu ada sekitar 3000
tentara AS yang tewas saat itu dari
keseluruhan 6000 tentara yang dinyatakan tewas selama sebulan lebih pertempuran
Iwo Jima. Saya bersyukur dapat menjadi salah satu dari sekian kecil jumlah
mereka yang selamat dari serangan awal itu. Tampaknya TanganNya masih berencana
membawa saya untuk pulang bertemu ibu sekeluarga dan Dia masih mengisinkan saya
memperbaiki kembali hidup saya. Saya, Danny Keys akhirnya pulang dengan bangga
bukan sebagai seorang veteran perang yang diberitakan media saat itu sebagai
pahlawan Iwo Jima namun saya merasa bangga bahwa “Komandan Agung” saya berdiri
di depan saya dan menghalau ledakan mortir musuh sehingga saya masih selamat.
Saya tahu kuasa doa begitu besar berkarya bahkan di tengah situasi perang
sesulit apapun. Perang Iwo Jima memang direncanakan berlangsung selama 5 hari
dan itu benar-benar terjadi bagi saya. Saya hanya berada dalam perang itu
selama 5 hari saja dan akhirnya dipulangkan.
berikut adalah foto-foto seputar perang tersebut dari arsip negara.















No comments:
Post a Comment