“Perbuatan
tanganNya ialah Kebenaran dan keadilan, segala titahNya teguh, kokoh untuk
seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.”
Mazmur
111:7-8
Dahulu kala manusia membuat benteng yang
kokoh untuk mengokohkan kerajaannya dan bangsanya. Kekokohan sebuah kerajaan
dilihat dari seberapa kuat tembok pertahanan kotanya. Pada masa kaisar Mongolia
Jenghis Khan dan Khubilai Khan berkuasa, bangsa china adalah yang paling
merasakan dampak dari ambisi penguasaan Mongolia. Dalam waktu hamper bersamaan
Mongolia menyerang daerah-daerah sekitarnya, jangankan china, rusia dan
negeri-negeri di eropa pun sempat mereka invasi. Sejarah Indonesia mencatat
pada masa runtuhnya kerajaan Singasari, bangsa Mongolia pernah menginvasi
sampai ke pulau Jawa.
Untuk mengokohkan kekaisarannya dan
menahan serangan bangsa Mongolia maka dinasti Qin memperbaiki tembok pertahanan
mereka hingga panjangnya menjadi 2400 km. Panjang tersebut adalah jarak lurus
antara kedua ujung tembok, jarak itu akan lebih jika diukur berdasarkan
belokan-belokan tembok yang melewati bukit dan lembah. Tembok raksasa itu
dikenal sebagai tembok besar China. Satu-satunya bangunan buatan manusia yang
dapat terlihat dari bulan .
Betapa besarnya ketakutan manusia, jika
anda ingin melihat besarnya ketakutan manusia maka lihatlah tembok besar China.
Sebuah tembok yang berkali-kali direnovasi untuk menahan serangan musuh yang
ganas saat itu. Tembok yang dibangun didasari oleh kuatir dan takut terhadap
serangan musuh.
Dalam sebuah kisah di Alkitab yaitu kitab
Yosua kita tentu tahu tentang kisah tembok Yerikho yang kokoh, tapi hancur juga
oleh puji-pujian kepada Allah. Ada juga tentang tembok tebal dan tinggi
kerajaan Babilonia yang tertulis dalam kitab Daniel. Di mana di atas tembok itu
bisa dilewati oleh dua kereta kuda. Namun pada malam hari tembok itu tanpa
perlawanan dapat ditembus oelh tentara Media Persia yang melewati saluran air
dibawahnya. Dalam semalam kerajaan Babilonia tumbang dan dikuasai kerajaan baru
yaitu Media Persia.
Kekokohan Allah nyata dalam FirmanNya.
Sebab kokoh berarti tidak goyang dan rapuh. Kekokohan manusia sesungguhnya
berawal dari dalam batin, hati, dan pikiran. Jika perkataan kita sanggup
selaras dengan hati dan pikiran serta tindakan kita maka itu dapat disebut
kokoh. Adakah manusia yang benar-benar kokoh dalam hidupnya? Yang kokoh dan
kuat itu sudah datang, Dia menunjukkan kualitas hidup yang kokoh dalam Firman
Allah. Sebab Firman itu adalah Dia sendiri.
Dia tidak tertembus oleh segala sengat
dosa dan maut dunia, Dia tidak kalah oleh panah api si jahat yang mencobai dan
menggodai. Melainkan Dia telah menunjukkan kekokohan diriNya yang setia dalam
perkataan dan keputusanNya yang telah Dia ambil. Yaitu tindakan penyelamatan
lewat jalan pengorbanan bagi kita.
Oleh Dia kita selamat dari dosa dan
diselamatkan daro maut, dan dalam Dia kita belajar untuk selalu kokoh. Adad
saatnya kita rapuh, kembali bangun pengokohan di dalam Dia, di dalam Kristus
Yesus Tuhan dan Benteng yang kokoh bagi kita. Sebab manusia tanpa Allah rapuh
adanya, tapi di dalam Allah kita diperkokoh oleh firmanNya. Dan FirmanNya itu
tidak hanya sebatas kitab tapi ada Firman hidup yang tinggal di dalam kita
yaitu Roh Kudus Allah.Pribadi Firman itulah yang akan menghidupkan firman kitab
yang kita baca dan renungkan setiap hari. Firman itulah sumber kekokohan bagi
kita.
Saat kita merenungkan kitab firman Allah
kita menikmati pengokohan, saat kita memohon permintaan kita menikmati
pengokohan, saat kita melewati masa-masa sulit kita pun menikmati pengokohan.
Sebab kita mulai belajar bahwa kekokohan Allah bukan bicara saat tertentu saja
dalam hal ibadah atau merasa suci jauh dari masalah dan dosa, tapi kekokohan di
hadapan Allah adalah hubungan setiap saat antara kita dengan Dia yang menjadi
kekokohan hidup kita.

No comments:
Post a Comment