Wednesday, October 24, 2018

Beberapa penyebab lingkungan yang turut berpengaruh dalam terbentuknya sifat anak



1.                   Unsur keturunan
          Hal ini merupakan faktor yang masih menjadi perdebatan. Di mana karakter atau sifat seseorang telah digariskan sejak dari kandungan dan garis keturunan. Jika dia lahir dari keluarga dengan tradisi pemarah dan keras maka dia akan menjadi anak yang keras. Bukan nanti lewat pengalaman didikan nanti yang akan dia alami dari keluarga tersebut namun sudah ada tertanam dalam dirinya sejak dia lahir. Faktor ini juga termasuk dengan kondisi ibunya saat mengandung. Jika ibunya sedang mengalami tekanan jiwa dan fisik saat mengandung maka kemungkinan besar anak yang lahir adalah anak yang penakut dan berpembawaan sensitif.

2.                   Masa kanak-kanak kurang gembira.
          Ada anak-anak yang mengalami masa-masa tidak menyenangkan pada masa kanak-kanaknya. Misalnya perceraian orang tua, orang tua yang sering bertengkar, pembunuhan, kekerasan fisik, orang tua meninggal karena musibah, bencana, atau kriminal, sering dihina, dikucilkan, sampai sering pindah rumah yang dapat membentuk mentalitas anak. Mereka akan menjadi anak-anak dengan kemampuan sosial yang kurang, mudah putus asa, suka menghindar, dan tidak berani bergaul serta penakut dalam arti selalu was-was.
3.                   Kurang bermasyarakat.
          Keadaan keluarga yang terkucil secara tempat tinggal atau secara hubungan sosial dengan masyarakat sekitar dapat membuat anak kurang belajar tentang pergaulan dengan orang lain. Latar belakang rumah tangga yang tertutup, disiplin yang ketat, dan mengasingkan diri membuat anak akan sulit bergaul saat dia beranjak dewasa. Beberapa cenderung memiliki sikap tinggi hati sebab membandingkan semua orang dengan orang tuanya atau keluarganya yang dikenalinya sejak kecil. Itu jika keluarganya adalah orang berada.  Namun jika dia dari keluarga serba berkesusahan maka yang terjadi sebaliknya. Dia akan selalu merasa rendah diri sebab menilai semua orang dari sudut pandang keluarganya yang dia kenali sejak kecil.
4.                   Sering dilecehkan karena masalah fisik dan strata sosial.
          Perlakuan tersebut akan menumbuhkan mental rendah diri dan minder pada anak. Mungkin ada dari mereka yang sejak kecil cacat, atau dilecehkan serta menjadi bahan gurauan karena warna kulit, kebiasaan buruk (latah), atau karena keadaan ekonomi dan sosial dari keluarga yang terlampau memalukan bagi lingkungan. Mereka akan tumbuh menjadi anak anak yang rendah diri dan merasa tidak layak dibandingkan dengan orang lain. Ada yang akan menjadi sakit hati dan dendam tapi ada pula yang akan bermental “budak” dalam arti dia hanya memahami bahwa hidupnya dan dirinya hanya lahir untuk disuruh-suruh dan menjadi “barang” bagi orang lain.
5.                   Pandangan orang lain
          Ini adalah semacam invasi pada mental anak. Sejak kecil dia sering disebut pemalu atau si bodoh, sehingga akan membuat dia turut berpikiran demikian meskipun pada dasarnya kejiwaannya tidak demikian. Disebabkan dia sering menerima perkataan seperti itu maka dia menerimanya sebagai kebenaran dari keberadaan dirinya. Anak-anak seperti ini sebenarnya adalah anak-anak yang seolah-olah hidup dari apa kata orang dan hidup untuk mendapatkan penilaian orang. Mereka adalah korban dari pandangan orang lain. Pada banyak kasus kita tidak perlu menemui kenyataan senyata di atas, karena perilaku orang tua dalam pandangannya terhadap anak sejak anak itu kecil turut pula membangun mentalitas dan sifat anak tersebut.


          Perlu saya tambahkan di sini bahwa anak-anak yang dirugikan lingkungan dalam terbentuknya mentalitas mereka sebenarnya adalah anak-anak yang memiliki potensi masing-masing yang dapat berkembang secara alami saat dia tumbuh dewasa disertai dengan pendidikan yang dia jalani dan dorongan motivasi. Mereka kelak menjadi anak-anak yang berprestasi  dan berguna pada bidang olahraga, sains, tehnologi, seni, dan pendidikan. Terutama adalah janganlah kita justru sedang membuat lingkungan yang dapat “membunuh” anak kita sendiri melainkan dalam Yesus kita membuat lingkungan yang akan membuat anak-anak kita menikmati hidup dan pendidikan yang benar dan seimbang.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...