1.
Unsur keturunan
2.
Masa kanak-kanak
kurang gembira.
Ada anak-anak yang mengalami
masa-masa tidak menyenangkan pada masa kanak-kanaknya. Misalnya perceraian orang tua, orang tua yang sering
bertengkar, pembunuhan, kekerasan fisik, orang tua meninggal karena musibah,
bencana, atau kriminal, sering dihina, dikucilkan, sampai sering pindah rumah
yang dapat membentuk mentalitas anak. Mereka akan menjadi anak-anak dengan
kemampuan sosial yang kurang, mudah putus asa, suka menghindar, dan tidak
berani bergaul serta penakut dalam arti selalu was-was.
3.
Kurang
bermasyarakat.
Keadaan keluarga yang terkucil secara
tempat tinggal atau secara hubungan sosial dengan masyarakat sekitar dapat
membuat anak kurang belajar tentang pergaulan dengan orang lain. Latar belakang
rumah tangga yang tertutup, disiplin yang ketat, dan mengasingkan diri membuat
anak akan sulit bergaul saat dia beranjak dewasa. Beberapa cenderung memiliki
sikap tinggi hati sebab membandingkan semua orang dengan orang tuanya atau
keluarganya yang dikenalinya sejak kecil. Itu jika keluarganya adalah orang
berada. Namun jika dia dari keluarga
serba berkesusahan maka yang terjadi sebaliknya. Dia akan selalu merasa rendah
diri sebab menilai semua orang dari sudut pandang keluarganya yang dia kenali
sejak kecil.
4.
Sering dilecehkan
karena masalah fisik dan strata sosial.
Perlakuan tersebut akan menumbuhkan
mental rendah diri dan minder pada anak. Mungkin ada dari mereka yang sejak
kecil cacat, atau dilecehkan serta menjadi bahan gurauan karena warna kulit,
kebiasaan buruk (latah), atau karena keadaan ekonomi dan sosial dari keluarga
yang terlampau memalukan bagi lingkungan. Mereka akan tumbuh menjadi anak anak
yang rendah diri dan merasa tidak layak dibandingkan dengan orang lain. Ada
yang akan menjadi sakit hati dan dendam tapi ada pula yang akan bermental “budak”
dalam arti dia hanya memahami bahwa hidupnya dan dirinya hanya lahir untuk
disuruh-suruh dan menjadi “barang” bagi orang lain.
5.
Pandangan orang lain
Ini adalah semacam invasi pada mental
anak. Sejak kecil dia sering disebut pemalu atau si bodoh, sehingga akan
membuat dia turut berpikiran demikian meskipun pada dasarnya kejiwaannya tidak
demikian. Disebabkan dia sering menerima perkataan seperti itu maka dia
menerimanya sebagai kebenaran dari keberadaan dirinya. Anak-anak seperti ini
sebenarnya adalah anak-anak yang seolah-olah hidup dari apa kata orang dan
hidup untuk mendapatkan penilaian orang. Mereka adalah korban dari pandangan
orang lain. Pada banyak kasus kita tidak perlu menemui kenyataan senyata di
atas, karena perilaku orang tua dalam pandangannya terhadap anak sejak anak itu
kecil turut pula membangun mentalitas dan sifat anak tersebut.
|
Perlu saya tambahkan di sini bahwa
anak-anak yang dirugikan lingkungan dalam terbentuknya mentalitas mereka
sebenarnya adalah anak-anak yang memiliki potensi masing-masing yang dapat
berkembang secara alami saat dia tumbuh dewasa disertai dengan pendidikan yang
dia jalani dan dorongan motivasi. Mereka kelak menjadi anak-anak yang
berprestasi dan berguna pada bidang
olahraga, sains, tehnologi, seni, dan pendidikan. Terutama adalah janganlah
kita justru sedang membuat lingkungan yang dapat “membunuh” anak kita sendiri
melainkan dalam Yesus kita membuat lingkungan yang akan membuat anak-anak kita
menikmati hidup dan pendidikan yang benar dan seimbang.
|

No comments:
Post a Comment