Pendidikan Agama Kristen bagi anak-anak Kristen bukanlah
hanya tanggung jawab gereja dan sekolah sekuler tetapi itu adalah juga tanggung
jawab setiap keluarga Kristen. Pembahasan dalam materi ini adalah memandang
Pendidikan Kristen secara umum di setiap lini pendidikan, yaitu di gereja, di
sekolah, dan di rumah. Selain berisi pemaparan dari berbagai ilmuwan dan
psikolog anak baik sekuler maupun rohaniawan serta pemaparan dari hasil
penelitian para Theolog yang berkecimpung di dunia pendidikan Kristen, saya turut
menyertakan tinjauan pribadi tentang dunia pendidikan anak. Tinjauan saya itu
selain berbekal dari pengalaman diri pribadi yang pernah melewati masa
kanak-kanak, juga berbekal dari pengalam hidup dalam pergaulan dan pengalaman
menjadi tutor pengajar di salah satu pusat pengembangan anak selama 3 tahun
yang masih saya tekuni hingga saat ini.
Saya
menekankan bahwa pendidikan agama Kristen yang benar akan membawa peserta didik
pada pengenalan Kristus secara pribadi. Pendidikan yang tepat adalah pendidikan
yang membawa anak untuk mengalami Allah dalam dirinya dan menikmati pengurapan Allah
itu hidup di dalam diri oleh kuasa Roh Kudus. Inilah bedanya pendidikan dunia
dan pendidikan yang bersifat sebatas agamawi dengan pendidikan Kristen yang
hakikinya harus bersifat hubungan rohani secara pribadi dengan Allah dalam
Yesus Kristus. Demikianlah pendahuluan ini, dan pasti Allah yang penuh kasih
karunia akan semakin mencerahkan kita dalam segala hal untuk kemajuan
pendidikan agama Kristen yang berdampak bagi gereja dan negara.
“Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah
mengahalang-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang itulah yang
empunya kerajaan Sorga.” Lalu Ia meletakkan tanganNya atas mereka dan kemudian
Ia berangkat dari situ.”
Matius 19:14-15.
“Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya
seorangpun dari anak-anak ini hilang”.
Matius 18:14.
“Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya
di tengah-tengah mereka lalu berkata: “Aku berkata kepadamu sesungguhnya jika
kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, maka kamu tidak akan
masuk ke dalam kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan
menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam kerajaan Sorga. Dan
barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam namaKu, ia menyambut Aku.”
Matius 18:2-5.
“Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak
kecil ini yang percaya kepadaKu, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan
diikatkan pada lehernya lalu ditenggelamkan ke dalam laut.”
Matius 18:6.
1.
ANAK MENURUT PANDANGAN DUNIA.
Sebelum meninjau tentang pendidikan Kristen pada
anak-anak, di mana yang saya akan tinjau adalah anak-anak yang berusia sekolah
yaitu 6-17 tahun, kita perlu tahu bersama bahwa pendidikan dalam hal ini adalah
pendidikan yang bersifat umum di mana tidak hanya berbicara pendidikan di
sekolah nanti, tapi berbicara juga pendidikan di rumah, di gereja, dan
lingkungan. Namun untuk itu terlebih dahulu kita harus tahu secara umum tentang
pribadi anak-anak. Hal tersebut menyangkut kejiwaannya, mentalnya, lingkungannya,
dan dunianya. Di bawah ini adalah tinjauan yang berusaha mendefinisikan seorang
anak berdasarkan beberapa bidang yang umum disertai dengan tinjauan saya
pribadi di bawahnya.
1.
Anak
sebagai mahluk fisik.
Kita tidak boleh melupakan bahwa
seorang anak adalah manusia secara jasmani di mana dia memiliki organ-organ
tubuh biologis dengan kemampuan dan fungsinyanya masing-masing. Kondisi fisik
seorang anak tentu berbeda dengan fisik orang dewasa. Fisik seorang anak ada dalam
masa pertumbuhan. Panca indera seorang anak amat rentan dalam menerima masukkan
dalam apa yang mereka lihat, dengar, atau rasakan.
Tinjauan:
Dalam bidang ini anak bukanlah “orang
dewasa mini” dikarenakan dia memilki tubuh jasmani yang lengkap persis seperti
orang dewasa. Anak adalah manusia yang memilki daya tangkap tersendiri, daya
imajinasi tersendiri, daya berpikir tersendiri, dan daya intelejensia
tersendiri yang sesuai dengan dunianya. Sangat disayangkan akhir-akhir ini
anak-anak sedang diarahkan secara alamiah untuk masuk pada tahap pemikiran
sebagaimana orang dewasa berpikir, dan mungkin itu berlangsung tanpa kita
sadari. Salah satu buktinya adalah lagu-lagu dewasa yang justru disuguhkan dan
dinyanyikan oleh anak-anak. Bahkan dalam bidang pelayanan gereja anak-anak
disuguhi lagu-lagu rohani yang bersifat dewasa di mana terdapat banyak ungkapan
yang sama sekali belum bisa dipahami dengan benar oleh anak usia sekolah dasar.
Perlu kita ketahui pula bahwa dunia anak-anak adalah dunia bermain. Kita tidak
dapat menuntut seorang anak usia sekolah dasar untuk bersikap dewasa
sebagaimana kita, tapi setiap fase umur anak mereka punya tahap kedewasaan
sendiri yang sesuai perkembangan psikologinya.
2.
Anak
sebagai mahluk sosial.
Anak sebagaimana orang dewasa adalah
juga mahluk sosial yang butuh akan sesamanya. Mereka butuh pergaulan dengan
sesamanya, baik sejenis maupun lawan
jenis. Sebab anak adalah manusia yang sedang berlatih menghadapi dunia sosial
lewat pergaulan di masa kanak-kanaknya.
Tinjauan:
Anak adalah mahluk sosial yang
selayaknya menikmati pergaulan lebih banyak dengan sesama anak-anak dan belajar
dewasa seturut dengan umurnya lewat bersosialisasi di dunianya yaitu dunia anak-anak.
Hal itu tentu di luar dari pergaulannya dengan keluarga dan kerabatnya. Dalam
hal ini keluarga adalah pihak yang bertanggung jawab untuk mengawasi, memberi
masukkan sewajarnya, dan menyemangati anak dalam dunia sosialnya yang sedang
dia lewati di usianya.
3.
Anak
sebagai mahluk alam
Anak adalah mahluk yang berinteraksi
juga dengan alam atau lingkungan. Mereka memilki banyak keingintahuan tentang
alam sekitarnya hingga mereka sering melakukan tindakan-tindakan yang terkadang
itu tidak mereka sadari berbahaya. Mereka memiliki batasan tersendiri dalam
memahami alam sekitarnya yang jika tanpa tuntunan yang tepat dari orang dewasa
maka akan membahayakan anak tersebut atau orang lain.
Tinjauan:
Dalam tindakan anak-anak yang
terkadang membahayakan saat dia berinteraksi dengan alam, hal tersebut bukan
semata usil atau nakal tapi jiwa bermain yang mereka miliki. Pengecualian
mungkin terdapat pada anak-anak yang memilki kasus khusus. Pemahaman tentang
alam dan bagaimana seharusnya bersikap terhadap alam serta merawatnya harus disampaikan dengan
sederhana.
4.
Anak
sebagai mahluk rasional.
Anak adalah mahluk yang berpikir dan
sudah memiliki akal budi di mana mereka telah mulai tahu tentang hal buruk dan hal
baik meskipun masih dalam kemampuan yang sederhana dan terbatas sesuai
perkembangan usia.
Tinjauan:
Anak memang belum memilki daya pikir
sebagaimana orang dewasa namun hal itu bukan berarti mereka tidak bisa diajari
soal pengetahuan etika dan moral. Mereka adalah mahluk yang memiliki keterikatan
erat antara keadaan kejiwaan dan akal budinya. Anak adalah manusia dengan akal
budi yang rentan dalam menanggapi lingkungan sekitarnya dan apa yang dia lihat
atau alami. Keadaan masa kecilnya akan sangat berpengaruh bagi akal budi dan
cara pandangnya ke depan, dan biasanya itu bersifat permanen. Hal ini
menyangkut sifat dan kepribadian anak yang terbentuk sejak kecil hingga
akhirnya dia dewasa. Situasi dan cara hidup tentu saja berbeda tapi inti dari
sifat dan tindakannya akan tetap sama sebab telah terlatih secara alami sejak
kecil.
5.
Anak
sebagai mahluk spiritual
Anak adalah mahluk yang juga memiliki
imajinasi dan keingintahuan tentang Tuhan yang sudah ada secara alami dalam
dirinya.
Tinjauan:
Sejak Allah menciptakan manusia Dia
menghirupkan nafas atau rohNya kepada manusia hingga manusia itu hidup. Benih
Adam dan seterusnya tentu memilki roh yang sama yang berasal dari Allah.
Seorang bayi yang baru lahir tentu sudah memiliki sifat ketuhanan di dalam
batinnya hanya saja belum bisa mengungkapkannya secara nyata lewat kata-kata.
Jika pada perkembangannya seorang anak yang tidak percaya tentang keberadaan
Tuhan, hal tersebut hanyalah sebatas ide dan pemikirannya sendiri atau orang
lain. Sebab manusia memiliki kebebasan dalam berkreasi lewat daya pikirnya.
6.
Anak
sebagai mahluk bersuara hati
Anak adalah pribadi yang memiliki
suara hati dan perasaan yang secara khusus berbeda dengan orang dewasa, yaitu
perasaan kanak-kanak.
Tinjauan
saya pribadi:
Anak sesungguhnya memiliki perasaan
yang umum dialami pula oleh orang dewasa, meskipun ada perbedaannya. Maksud
dari kesamaan di sini adalah, anak-anak sudah memiliki rasa yang umum seperti
yang dimiliki orang dewasa, rasa ingin, rasa sayang, sakit hati, susah, kecewa,
geram, marah, atau senang, dan lain-lain. Hanya saja letak perbedaannya
terdapat pada keadaan yang di alami karena dunia yang berbeda dan tindakan atau
sikap yang muncul dalam menunujukkan perasaan itu.
2.
ANAK MENURUT PANDANGAN ALKITAB
Sekarang kita masuk pada tinjauan secara
alkitabiah tentang definisi anak. Bahwa sesungguhnya Tuhan menciptakan manusia
sebagai mahluk yang sempurna dibanding mahluk yang lain. Sempurna secara
jasmani, jiwa, dan roh. Kejadian 1:26-27 menjelaskan bahwa manusia adalah
ciptaan Allah yang membawa rupa dan gambaranNya. Kalau Allah berpribadi maka
manusia berpribadi juga. Allah memberikan berbagai potensi dalam diri manusia
oleh ketiga elemen jasmani, jiwa, dan Roh. Kemampuan itu misalnya, berkehendak,
berperasaan, berpikir, dan berbuat. Ibrani 4;12 mengindikasikan bahwa manusia
juga memiliki roh dan jiwa, itu berarti aspek roh (pneuma) memiliki perbedaan
dengan aspek jiwa (psyche). Roh manusia terkait dengan Tuhan dan jiwa manusia
terkait dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. Namun sesungguhnya kedua
aspek tersebut memilki keterkaitan yang
erat dan seharusnya dapat menjadi satu keutuhan dengan tubuh jasmaniah. Dalam
arti manusia yang berhubungan dengan Tuhan akan melewati tahap kehendak
rohaniah, masuk pada kehendak jiwani, dan berlanjut menampilkannya lewat
perbuatan jasmani yang Nampak. Hanya saja sejak dosa masuk menjadi bagian
manusia maka kesempurnaan dan kesatuan dari ketiga elemen tersebut rusak atau
terpisah karena telah kehilangan kemuliaan Allah. Yesus Kristus adalah Manusia
Allah yang telah menunjukkan keutuhan dan kesenyawaan dari ketiga elemen itu
dalam satu kesatuan yang sempurna. Di dalam Dialah kita belajar kesatuan
tindakan dari roh, jiwa, dan tubuh.
1.
Anak
sebagai mahluk fisik.
Alkitab
menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia secara fisik laki-laki dan
perempuan (Kejadian 1:27, matius 19:4). Alkitab juga menjelaskan bahwa Allah
telah membentuk manusia secara jasmani sejak dalam rahim seorang perempuan,
(Ayub 31:15, Pengkhotbah 11:5). Nabi Yeremia pernah secara gamblang menerima
firman Allah yang mengatakan bahwa Allah telah membentuk dia sejak dari rahim
ibunya, (Yeremia 1:5). Pemberitaan dalam kitab Yesaya yaitu di Yesaya 46:3 pun
sesungguhnya turut menyatakan bahwa Allah membentuk manusia secara jasmani dan
dalam hal ini anak-anak.
2.
Anak
sebagai mahluk sosial.
Alkitab menjelaskan bagaimana Allah
mengetahui dan memahami bahwa manusia memiliki kemampuan dan kebutuhan sosial
yang tidak hanya dengan Dia sendiri tapi juga dengan sesama manusia. Maka dari
itu Allah menciptakan Hawa bagi Adam sebagai pendamping. Ini adalah bukti
Alkitab bagaimana Allah menciptakan manusia sebagai mahluk sosial dalam lingkungannya
dan sesamanya (Kejadian 2:18,24,25). Lewat pergaulan sosial manusia ditempa dan
saling mengasah satu dengan yang lain, (Amsal 27:17). Apakah Allah bertujuan
juga agar manusia saling mengasah lewat berbagai permusuhan, pertikaian, dan persoalan?
Tidak, kita saling mengasah dalam segala kebaikan dan kepedulian kasih. Namun
sebab realita dunia yang penuh dengan konflik yang tidak lepas juga terjadi
dalam lingkungan kita komunitas seiman, maka Allah turut bekerja dalam segala
sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia. Itu artinya
masalah dan konflik bukanlah rencana dan tujuan Allah melainkan realita akibat
dosa yang masuk ke dalam dunia tapi oleh Kristus kita yang sekarang ada di
dalam Dia menikmati segala realita itu sebagai jalan Allah juga untuk mengasah
kita dalam iman dan kasih.
Ini pun demikian halnya dalam
pergaulan sosial anak-anak. Sehubungan anak-anak adalah pribadi yang masih
rentan secara emosional dan akal budi maka sangat baik adanya jika mereka
menikmati pengasahan lewat hubungan yang baik dalam lingkungan sosial yang
tepat baginya.
3.
Anak
sebagai mahluk alam.
Alam juga memiliki keterkaitan rohani
dengan anak, di mana lewat alam anak dapat belajar tentang Allah. Kitab amsal
berkali-kali mengajarkan bahwa manusia dapat belajar tentang Allah dan hidup
ini dari alam sekitarnya. Sebagaimana Adam diciptakan dan ditugaskan Allah
untuk memelihara dan mengelolah taman Eden, maka demikian juga kita termasuk
anak-anak memiliki tanggung jawab yang sama dalam keterkaitannya sebagai mahluk
alam. Hanya saja tentunya tanggung jawab dan penerapannya berbeda antara orang
dewasa dengan anak-anak. Pendekatan kepada anak-anak adalah lewat cara yang
sederhana yang dapat dipahami sesuai umur mereka.
4.
Anak
sebagai mahluk rasional.
Sebagai manusia tentu anak memilki
pikiran atau akal budi. Alkitab banyak menjelaskan tentang keberadaan manusia
dengan pikiran dan akal budinya. Dalam Ibrani 11:13 nyata menjelaskan bahwa
iman adalah pengembalian dari rasio kepada kebenaran Allah. Oleh sebab itu
penting sekali kehidupan akademis anak sejalan dengan kehidupan rohaninya. Ada
banyak ayat di alkitab yang menjelaskan bahwa manusia adalah mahluk yang
berakal budi dan berpikiran dan ini adalah beberapa di antaranya:, Roma 12:2,
Roma 1:21-28, dan 1 Korintus 9:8. Namun hal yang menarik adalah selain memiliki
pikiran sendiri, manusia juga harus menyadari bahwa ada pikiran Allah sebab
Allah pun adalah pribadi (Roma 1:20). Pikiran Allah itu nyata secara lahiriah
lewat ciptaanNya dan utuh dalam pribadi Manusia Allah yaitu Yesus Kristus. Itu
sebabnya kita harus memilki pikiran Kristus, agar pikiran kita tidak berdiri
sendiri dalam keberdosaannya tapi kini di bawa dan di isi oleh pikiran Kristus,
(1 Korintus 2:16).
5.
Anak
sebagai mahluk spiritual.
Kejadian 2:7 menyatakan bahwa Allah
meniupkan nafas (roh) kepada manusia hingga manusia itu hidup. Beberapa ayat
yang juga menjelaskan bahwa manusia adalah mahluk rohani yaitu:, Amsal 20:27, Ayub
32:8, Mazmur 51:10, Ayub 33:4, Mazmur
51:12, Mazmur 77:6, Mazmur 104:29. Dalam keberadaannya sebagai mahluk rohaniah
maka manusia tentu dari dalam batin memiliki keterikatan dengan sang Pencipta
dari mana sumber rohnya berasal. Hanya saja sejak jatuh dalam dosa maka selain
hubungan dan pengenalan akan sang pencipta yang rusak manusia pun memiliki
penghalang untuk mengenal Allah kembali yaitu dosa. Di dalam Kristus kita
kembali menikmati hubungan dan pengenalan itu dalam roh oleh Roh kudus.
6.
Anak
sebagai mahluk bersuara hati
Manusia termasuk anak-anak tidak dapat
dipungkiri memiliki hati di mana terletak perasaan, kemauan, keinginan, dan
kehendak. Alkitab banyak menuliskan tentang hati manusia tersebut. Beberapa
ayat di antaranya adalah: Pengkhotbah 9:3, Mazmur 76:10, Mazmur 104:15, Amsal
16:9, Kejadian 6:5, dan Amsal 19:21. Alkitab memaparkan kebenaran bahwa oleh
karena dosa maka kecenderungan hati manusia adalah jahat semata, dalam arti
tidak sejalan dengan kehendak Allah lagi. Maka dari itu kita memahami bahwa
sejak anak-anak manusia harus dididik dalam Kristus. Kita yang dalam Kristus
kini memiliki Roh kudus di dalam kita yang oleh Dia kita belajar kehendak Allah
dalam KebenaranNya. Anak sebagaimana manusia dewasa adalah mahluk sosial yang
memiliki hati untuk berkehendak, berkemauan, berkeinginan, dan berperasaan.
Adalah tanggung jawab orang dewasa untuk mendidik mereka dalam Kristus sejak
dini hingga saatnya mereka bisa mandiri dalam berpikir apa yang baik dan benar
bagi mereka.

No comments:
Post a Comment