Tuesday, October 9, 2018

BAGAIMANA PANDANGAN DUNIA TERHADAP ANAK-ANAK DAN PERBANDINGANNYA DENGAN PANDANGAN SECARA ALKITABIAH



Pendidikan Agama Kristen bagi anak-anak Kristen bukanlah hanya tanggung jawab gereja dan sekolah sekuler tetapi itu adalah juga tanggung jawab setiap keluarga Kristen. Pembahasan dalam materi ini adalah memandang Pendidikan Kristen secara umum di setiap lini pendidikan, yaitu di gereja, di sekolah, dan di rumah. Selain berisi pemaparan dari berbagai ilmuwan dan psikolog anak baik sekuler maupun rohaniawan serta pemaparan dari hasil penelitian para Theolog yang berkecimpung di dunia pendidikan Kristen, saya turut menyertakan tinjauan pribadi tentang dunia pendidikan anak. Tinjauan saya itu selain berbekal dari pengalaman diri pribadi yang pernah melewati masa kanak-kanak, juga berbekal dari pengalam hidup dalam pergaulan dan pengalaman menjadi tutor pengajar di salah satu pusat pengembangan anak selama 3 tahun yang masih saya tekuni hingga saat ini.
          Saya menekankan bahwa pendidikan agama Kristen yang benar akan membawa peserta didik pada pengenalan Kristus secara pribadi. Pendidikan yang tepat adalah pendidikan yang membawa anak untuk mengalami Allah dalam dirinya dan menikmati pengurapan Allah itu hidup di dalam diri oleh kuasa Roh Kudus. Inilah bedanya pendidikan dunia dan pendidikan yang bersifat sebatas agamawi dengan pendidikan Kristen yang hakikinya harus bersifat hubungan rohani secara pribadi dengan Allah dalam Yesus Kristus. Demikianlah pendahuluan ini, dan pasti Allah yang penuh kasih karunia akan semakin mencerahkan kita dalam segala hal untuk kemajuan pendidikan agama Kristen yang berdampak bagi gereja dan negara.
“Tetapi Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah mengahalang-halangi mereka datang kepadaKu; sebab orang-orang itulah yang empunya kerajaan Sorga.” Lalu Ia meletakkan tanganNya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.”
Matius 19:14-15.
“Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang”.
Matius 18:14.
“Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka lalu berkata: “Aku berkata kepadamu sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, maka kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam kerajaan Sorga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam namaKu, ia menyambut Aku.”
Matius 18:2-5.
“Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepadaKu, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ditenggelamkan ke dalam laut.”

Matius 18:6.

1.        ANAK MENURUT PANDANGAN DUNIA.
          Sebelum meninjau tentang pendidikan Kristen pada anak-anak, di mana yang saya akan tinjau adalah anak-anak yang berusia sekolah yaitu 6-17 tahun, kita perlu tahu bersama bahwa pendidikan dalam hal ini adalah pendidikan yang bersifat umum di mana tidak hanya berbicara pendidikan di sekolah nanti, tapi berbicara juga pendidikan di rumah, di gereja, dan lingkungan. Namun untuk itu terlebih dahulu kita harus tahu secara umum tentang pribadi anak-anak. Hal tersebut menyangkut kejiwaannya, mentalnya, lingkungannya, dan dunianya. Di bawah ini adalah tinjauan yang berusaha mendefinisikan seorang anak berdasarkan beberapa bidang yang umum disertai dengan tinjauan saya pribadi di bawahnya.
1.                    Anak sebagai mahluk fisik.
          Kita tidak boleh melupakan bahwa seorang anak adalah manusia secara jasmani di mana dia memiliki organ-organ tubuh biologis dengan kemampuan dan fungsinyanya masing-masing. Kondisi fisik seorang anak tentu berbeda dengan fisik orang dewasa. Fisik seorang anak ada dalam masa pertumbuhan. Panca indera seorang anak amat rentan dalam menerima masukkan dalam apa yang mereka lihat, dengar, atau rasakan.
Tinjauan:
          Dalam bidang ini anak bukanlah “orang dewasa mini” dikarenakan dia memilki tubuh jasmani yang lengkap persis seperti orang dewasa. Anak adalah manusia yang memilki daya tangkap tersendiri, daya imajinasi tersendiri, daya berpikir tersendiri, dan daya intelejensia tersendiri yang sesuai dengan dunianya. Sangat disayangkan akhir-akhir ini anak-anak sedang diarahkan secara alamiah untuk masuk pada tahap pemikiran sebagaimana orang dewasa berpikir, dan mungkin itu berlangsung tanpa kita sadari. Salah satu buktinya adalah lagu-lagu dewasa yang justru disuguhkan dan dinyanyikan oleh anak-anak. Bahkan dalam bidang pelayanan gereja anak-anak disuguhi lagu-lagu rohani yang bersifat dewasa di mana terdapat banyak ungkapan yang sama sekali belum bisa dipahami dengan benar oleh anak usia sekolah dasar. Perlu kita ketahui pula bahwa dunia anak-anak adalah dunia bermain. Kita tidak dapat menuntut seorang anak usia sekolah dasar untuk bersikap dewasa sebagaimana kita, tapi setiap fase umur anak mereka punya tahap kedewasaan sendiri yang sesuai perkembangan psikologinya.

2.                    Anak sebagai mahluk sosial.
          Anak sebagaimana orang dewasa adalah juga mahluk sosial yang butuh akan sesamanya. Mereka butuh pergaulan dengan sesamanya, baik sejenis maupun  lawan jenis. Sebab anak adalah manusia yang sedang berlatih menghadapi dunia sosial lewat pergaulan di masa kanak-kanaknya.
Tinjauan:
          Anak adalah mahluk sosial yang selayaknya menikmati pergaulan lebih banyak dengan sesama anak-anak dan belajar dewasa seturut dengan umurnya lewat bersosialisasi di dunianya yaitu dunia anak-anak. Hal itu tentu di luar dari pergaulannya dengan keluarga dan kerabatnya. Dalam hal ini keluarga adalah pihak yang bertanggung jawab untuk mengawasi, memberi masukkan sewajarnya, dan menyemangati anak dalam dunia sosialnya yang sedang dia lewati di usianya.

3.                    Anak sebagai mahluk alam
          Anak adalah mahluk yang berinteraksi juga dengan alam atau lingkungan. Mereka memilki banyak keingintahuan tentang alam sekitarnya hingga mereka sering melakukan tindakan-tindakan yang terkadang itu tidak mereka sadari berbahaya. Mereka memiliki batasan tersendiri dalam memahami alam sekitarnya yang jika tanpa tuntunan yang tepat dari orang dewasa maka akan membahayakan anak tersebut atau orang lain.
Tinjauan:
          Dalam tindakan anak-anak yang terkadang membahayakan saat dia berinteraksi dengan alam, hal tersebut bukan semata usil atau nakal tapi jiwa bermain yang mereka miliki. Pengecualian mungkin terdapat pada anak-anak yang memilki kasus khusus. Pemahaman tentang alam dan bagaimana seharusnya bersikap terhadap alam serta  merawatnya harus disampaikan dengan sederhana.

4.                    Anak sebagai mahluk rasional.
          Anak adalah mahluk yang berpikir dan sudah memiliki akal budi di mana mereka telah mulai tahu tentang hal buruk dan hal baik meskipun masih dalam kemampuan yang sederhana dan terbatas sesuai perkembangan usia.
Tinjauan:
          Anak memang belum memilki daya pikir sebagaimana orang dewasa namun hal itu bukan berarti mereka tidak bisa diajari soal pengetahuan etika dan moral. Mereka adalah mahluk yang memiliki keterikatan erat antara keadaan kejiwaan dan akal budinya. Anak adalah manusia dengan akal budi yang rentan dalam menanggapi lingkungan sekitarnya dan apa yang dia lihat atau alami. Keadaan masa kecilnya akan sangat berpengaruh bagi akal budi dan cara pandangnya ke depan, dan biasanya itu bersifat permanen. Hal ini menyangkut sifat dan kepribadian anak yang terbentuk sejak kecil hingga akhirnya dia dewasa. Situasi dan cara hidup tentu saja berbeda tapi inti dari sifat dan tindakannya akan tetap sama sebab telah terlatih secara alami sejak kecil.

5.                    Anak sebagai mahluk spiritual
          Anak adalah mahluk yang juga memiliki imajinasi dan keingintahuan tentang Tuhan yang sudah ada secara alami dalam dirinya.
Tinjauan:
          Sejak Allah menciptakan manusia Dia menghirupkan nafas atau rohNya kepada manusia hingga manusia itu hidup. Benih Adam dan seterusnya tentu memilki roh yang sama yang berasal dari Allah. Seorang bayi yang baru lahir tentu sudah memiliki sifat ketuhanan di dalam batinnya hanya saja belum bisa mengungkapkannya secara nyata lewat kata-kata. Jika pada perkembangannya seorang anak yang tidak percaya tentang keberadaan Tuhan, hal tersebut hanyalah sebatas ide dan pemikirannya sendiri atau orang lain. Sebab manusia memiliki kebebasan dalam berkreasi lewat daya pikirnya.

6.                    Anak sebagai mahluk bersuara hati
          Anak adalah pribadi yang memiliki suara hati dan perasaan yang secara khusus berbeda dengan orang dewasa, yaitu perasaan kanak-kanak.
Tinjauan saya pribadi:
          Anak sesungguhnya memiliki perasaan yang umum dialami pula oleh orang dewasa, meskipun ada perbedaannya. Maksud dari kesamaan di sini adalah, anak-anak sudah memiliki rasa yang umum seperti yang dimiliki orang dewasa, rasa ingin, rasa sayang, sakit hati, susah, kecewa, geram, marah, atau senang, dan lain-lain. Hanya saja letak perbedaannya terdapat pada keadaan yang di alami karena dunia yang berbeda dan tindakan atau sikap yang muncul dalam menunujukkan perasaan itu.

2.        ANAK MENURUT PANDANGAN ALKITAB

     Sekarang kita masuk pada tinjauan secara alkitabiah tentang definisi anak. Bahwa sesungguhnya Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk yang sempurna dibanding mahluk yang lain. Sempurna secara jasmani, jiwa, dan roh. Kejadian 1:26-27 menjelaskan bahwa manusia adalah ciptaan Allah yang membawa rupa dan gambaranNya. Kalau Allah berpribadi maka manusia berpribadi juga. Allah memberikan berbagai potensi dalam diri manusia oleh ketiga elemen jasmani, jiwa, dan Roh. Kemampuan itu misalnya, berkehendak, berperasaan, berpikir, dan berbuat. Ibrani 4;12 mengindikasikan bahwa manusia juga memiliki roh dan jiwa, itu berarti aspek roh (pneuma) memiliki perbedaan dengan aspek jiwa (psyche). Roh manusia terkait dengan Tuhan dan jiwa manusia terkait dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. Namun sesungguhnya kedua aspek tersebut  memilki keterkaitan yang erat dan seharusnya dapat menjadi satu keutuhan dengan tubuh jasmaniah. Dalam arti manusia yang berhubungan dengan Tuhan akan melewati tahap kehendak rohaniah, masuk pada kehendak jiwani, dan berlanjut menampilkannya lewat perbuatan jasmani yang Nampak. Hanya saja sejak dosa masuk menjadi bagian manusia maka kesempurnaan dan kesatuan  dari ketiga elemen tersebut rusak atau terpisah karena telah kehilangan kemuliaan Allah. Yesus Kristus adalah Manusia Allah yang telah menunjukkan keutuhan dan kesenyawaan dari ketiga elemen itu dalam satu kesatuan yang sempurna. Di dalam Dialah kita belajar kesatuan tindakan dari roh, jiwa, dan tubuh.

1.                    Anak sebagai mahluk fisik.
Alkitab menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia secara fisik laki-laki dan perempuan (Kejadian 1:27, matius 19:4). Alkitab juga menjelaskan bahwa Allah telah membentuk manusia secara jasmani sejak dalam rahim seorang perempuan, (Ayub 31:15, Pengkhotbah 11:5). Nabi Yeremia pernah secara gamblang menerima firman Allah yang mengatakan bahwa Allah telah membentuk dia sejak dari rahim ibunya, (Yeremia 1:5). Pemberitaan dalam kitab Yesaya yaitu di Yesaya 46:3 pun sesungguhnya turut menyatakan bahwa Allah membentuk manusia secara jasmani dan dalam hal ini anak-anak.

2.                    Anak sebagai mahluk sosial.
          Alkitab menjelaskan bagaimana Allah mengetahui dan memahami bahwa manusia memiliki kemampuan dan kebutuhan sosial yang tidak hanya dengan Dia sendiri tapi juga dengan sesama manusia. Maka dari itu Allah menciptakan Hawa bagi Adam sebagai pendamping. Ini adalah bukti Alkitab bagaimana Allah menciptakan manusia sebagai mahluk sosial dalam lingkungannya dan sesamanya (Kejadian 2:18,24,25). Lewat pergaulan sosial manusia ditempa dan saling mengasah satu dengan yang lain, (Amsal 27:17). Apakah Allah bertujuan juga agar manusia saling mengasah lewat berbagai permusuhan, pertikaian, dan persoalan? Tidak, kita saling mengasah dalam segala kebaikan dan kepedulian kasih. Namun sebab realita dunia yang penuh dengan konflik yang tidak lepas juga terjadi dalam lingkungan kita komunitas seiman, maka Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi Dia. Itu artinya masalah dan konflik bukanlah rencana dan tujuan Allah melainkan realita akibat dosa yang masuk ke dalam dunia tapi oleh Kristus kita yang sekarang ada di dalam Dia menikmati segala realita itu sebagai jalan Allah juga untuk mengasah kita dalam iman dan kasih.
          Ini pun demikian halnya dalam pergaulan sosial anak-anak. Sehubungan anak-anak adalah pribadi yang masih rentan secara emosional dan akal budi maka sangat baik adanya jika mereka menikmati pengasahan lewat hubungan yang baik dalam lingkungan sosial yang tepat baginya.

3.                    Anak sebagai mahluk alam.
          Alam juga memiliki keterkaitan rohani dengan anak, di mana lewat alam anak dapat belajar tentang Allah. Kitab amsal berkali-kali mengajarkan bahwa manusia dapat belajar tentang Allah dan hidup ini dari alam sekitarnya. Sebagaimana Adam diciptakan dan ditugaskan Allah untuk memelihara dan mengelolah taman Eden, maka demikian juga kita termasuk anak-anak memiliki tanggung jawab yang sama dalam keterkaitannya sebagai mahluk alam. Hanya saja tentunya tanggung jawab dan penerapannya berbeda antara orang dewasa dengan anak-anak. Pendekatan kepada anak-anak adalah lewat cara yang sederhana yang dapat dipahami sesuai umur mereka.

4.                    Anak sebagai mahluk rasional.
          Sebagai manusia tentu anak memilki pikiran atau akal budi. Alkitab banyak menjelaskan tentang keberadaan manusia dengan pikiran dan akal budinya. Dalam Ibrani 11:13 nyata menjelaskan bahwa iman adalah pengembalian dari rasio kepada kebenaran Allah. Oleh sebab itu penting sekali kehidupan akademis anak sejalan dengan kehidupan rohaninya. Ada banyak ayat di alkitab yang menjelaskan bahwa manusia adalah mahluk yang berakal budi dan berpikiran dan ini adalah beberapa di antaranya:, Roma 12:2, Roma 1:21-28, dan 1 Korintus 9:8. Namun hal yang menarik adalah selain memiliki pikiran sendiri, manusia juga harus menyadari bahwa ada pikiran Allah sebab Allah pun adalah pribadi (Roma 1:20). Pikiran Allah itu nyata secara lahiriah lewat ciptaanNya dan utuh dalam pribadi Manusia Allah yaitu Yesus Kristus. Itu sebabnya kita harus memilki pikiran Kristus, agar pikiran kita tidak berdiri sendiri dalam keberdosaannya tapi kini di bawa dan di isi oleh pikiran Kristus, (1 Korintus 2:16).

5.                    Anak sebagai mahluk spiritual.
          Kejadian 2:7 menyatakan bahwa Allah meniupkan nafas (roh) kepada manusia hingga manusia itu hidup. Beberapa ayat yang juga menjelaskan bahwa manusia adalah mahluk rohani yaitu:, Amsal 20:27, Ayub 32:8, Mazmur 51:10, Ayub 33:4,  Mazmur 51:12, Mazmur 77:6, Mazmur 104:29. Dalam keberadaannya sebagai mahluk rohaniah maka manusia tentu dari dalam batin memiliki keterikatan dengan sang Pencipta dari mana sumber rohnya berasal. Hanya saja sejak jatuh dalam dosa maka selain hubungan dan pengenalan akan sang pencipta yang rusak manusia pun memiliki penghalang untuk mengenal Allah kembali yaitu dosa. Di dalam Kristus kita kembali menikmati hubungan dan pengenalan itu dalam roh oleh Roh kudus.

6.                    Anak sebagai mahluk bersuara hati
          Manusia termasuk anak-anak tidak dapat dipungkiri memiliki hati di mana terletak perasaan, kemauan, keinginan, dan kehendak. Alkitab banyak menuliskan tentang hati manusia tersebut. Beberapa ayat di antaranya adalah: Pengkhotbah 9:3, Mazmur 76:10, Mazmur 104:15, Amsal 16:9, Kejadian 6:5, dan Amsal 19:21. Alkitab memaparkan kebenaran bahwa oleh karena dosa maka kecenderungan hati manusia adalah jahat semata, dalam arti tidak sejalan dengan kehendak Allah lagi. Maka dari itu kita memahami bahwa sejak anak-anak manusia harus dididik dalam Kristus. Kita yang dalam Kristus kini memiliki Roh kudus di dalam kita yang oleh Dia kita belajar kehendak Allah dalam KebenaranNya. Anak sebagaimana manusia dewasa adalah mahluk sosial yang memiliki hati untuk berkehendak, berkemauan, berkeinginan, dan berperasaan. Adalah tanggung jawab orang dewasa untuk mendidik mereka dalam Kristus sejak dini hingga saatnya mereka bisa mandiri dalam berpikir apa yang baik dan benar bagi mereka.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...