”Tuhan
telah membuat segala kebenaran kita menjadi nyata,
marilah
kita ceritakan di Sion perbuatan Tuhan Allah kita.”
Yeremia
51:10
Pada awal tahun ini, bersamaan dengan kasus bom Thamrin di
Jakarta, publik kita dihebohkan dengan kasus kopi beracun yang mengakibatkan
korban tewas Mirna Salihin. Jessica Wongso yang adalah teman dekat Mirna
menjadi orang yang diduga kuat sebagi pelaku pembunuhan terencana itu. Sampai
saat ini kasus tersebut menjadi perhatian publik dan menjadi amat pelik dengan
adu saksi ahlinya yang alot. Para saksi ahli baik ahli toksikologi, ahli media
IT, ahli forensik, dan banyak lagi para pakar yang diundang untuk menjadi saksi
ahli dalam kasus tersebut saling beradu argumen untuk membela kepentingan klien
masing-masing. Baik saksi ahli yang dihadirkan penuntut maupun pembela kedua
belah pihak terlibat adu intelejensia yang alot.
Mereka yang adalah
praktisi hukum dan bukan orang awam hukum amat tertarik dengan kasus unik ini
sebab kesulitannya bukti-bukti fisik yang kuat dan nyata yang dapat dijadikan
pegangan untuk mengambil keputusan yang tepat dan seadil-adilnya. Dari kasus
hukum yang pelik ini kita bisa menemukan sebuah barometer akan keadaan rapuhnya
manusia dalam usaha mencari kebenaran. Kita tidak hendak mengecilkan atau
menyepelekan hukum sebagai alat manusia untuk memutuskan suatu perkara dan
menertibkan kehidupan manusia tetapi jika kita menimba dengan seksama sepanjang
sejarah manusia, sudahkah manusia mencapai kehidupan yang lebih baik antar
sesama dengan hukum yang dia miliki?
Pertanyaan itu saya
sempat tanyakan pada beberapa mahasiswa saya yang notabene beberapa dari mereka
adalah sarjana hukum. Mereka terdiam dan raut wajahnya seolah mengatakan bahwa
memang hukum manusia hingga saat ini belum pernah menjadi solusi untuk
kehidupan yang lebih baik. Malah kita sering melihat bagaimana hukum diadu
sedemikian rupa oleh berbagai kepintaran manusia untuk kepentingan
masing-masing sebagaimana kita lihat terjadi alot dalam persidangan kasus kopi
beracun dengan terdakwa Jessica.
Manusia sejak dahulu berusaha saling memperbenar diri, ya itu
terjadi sejak manusia kehilangan kebenaran Allah dalam dirinya akibat dosa.
Sejak itu manusia saling berselisih sebab saling memperbenar diri dan
berlelah-lelah dalam upayanya mencari pembenaran dan kebenaran. Jika manusia
tidak bertemu dengan Kebenaran dan pembenaran bagi dirinya maka konflik adalah
hal yang lumrah dalam kehidupannya. Itu realita yang terjadi di dalam hidup
ini. Namun syukur kepada Allah sebab Dia berkenan mendatangkan Kebenaran dan
Pembenaran bagi manusia itu lewat Pribadi Yesus Kristus. Agar di dalam Dia
manusia beroleh Kebenaran dan Pembenaran dari Allah. Aagar di dalam Yesus
manusia berhenti dari lelahnya mencari pengakuan dan pembenaran dunia serta
bahagia dipuaskan oleh pembenaran dan pengakuan Allah. Sebenarnya inilah yang
bisa memuaskan hasrat kita manusia, apa yang kita cari dalam dunia ini
sebenarnya hakikinya ada dalam Yesus.

No comments:
Post a Comment