Wednesday, October 10, 2018

HIDUP OLEH PEDANG BINASA OLEH PEDANG (Kisah hidup Julius Caesar)



Siapa tidak kenal Julius Caesar, seorang diktator terkenal Romawi kuno yang bergelimang prestasi kekuasaan dan penaklukkan. Jenderal besar ini hidup antara 100sm – 44sm. Dia memulai karirnya sebagai anggota senat di kekaisaran Romawi dan terkenal amat lihai dalam berpolitik serta jago strategi perang. Pada 71sm dia terpilih menjadi Quaestor di sebuah propinsi di Spanyol selatan dan berlanjut dia menjadi seorang konsul sekaligus Praetor di Spanyol pada 61sm. Keberhasilannya dalam menyatukan wilayah jajahan Romawi di Sapnyol di bawah pemerintahannya untuk kemudian membayar pajak utuh ke Roma membuat dia diangkat menjadi Konsul dan mengalahkan dua lawan politiknya di Roma yaitu Pompey dan Crassus. Sang Jenderal kini sudah berada di pusat Kekaisaran.
     Pada Maret 58sm Julius Caesar memimpin penaklukkan atas Gaul (sekarang Prancis). Bersama prajuritnya yang loyal dan disiplin mereka berhasil mengalahkan suku-suku di Gaul dan bangsa Helvetia. Tidak berhenti di situ, Jerman yang kala itu masih menjadi duri bagi Romawi turut dikalahkan Caesar. Saat pertempuran di Gaul Caesar dikepung oleh bangsa Belgae dan Nervia juga. Namun sekali lagi total seluruh wilayah Gaul jatuh ke tangan Caesar. Roma pun bersuka atas kegemilangan ini.  Namun lawan-lawan politik Caesar di Roma termasuk Pompey amat berang dan merasa tersaingi. Pada 55sm Caesar masih asyik memperluas wilayah Romawi di seputaran Eropa barat. Kali ini Britania (sekarang Inggris) adalah sasarannya. Namun kegigihan orang-orang Briton membuat Caesar terpukul mundur.  Kekalahan ini membuat Caesar kembali fokus menguasai Gaul dan meredam segenap pemberontakan di sana. Di kemudian hari sejarah mencatat bahwa Caesar berhasil pula menaklukkan Britania setelah dia memimpin penyerangan dengan terlebih dahulu membakar kapal-kapal mereka sendiri. Para prajurit Romawi tidak ada jalan lagi untuk kembali pulang selain bertarung habis-habisan agar menguasai daratan di depan mereka.
     Pada 50sm Caesar kembali ke Romawi dan terjadi gejolak politik yang rumit di sana. Caesar bahkan harus memimpin pasukannya mengelilingi Roma dan menundukkan setiap pihak yang bertentangan dengannya. Perang saudara antara Caesar dan Pompey akhirnya tidak terelakkan. Pompey yang saat itu menguasai Makedonia mengumpulkan kekuatan dan menghalau serangan Caesar. Pertempuran besar terjadi di Dyrrachium, dan Pompey beserta angkatan berkudanya yang terkenal itu akhirnya takluk. Markas mereka diduduki Caesar namun Pompey berhasil meloloskan diri. Caesar tetap berniat menghabisi lawan politiknya itu agar tidak ada lagi hambatan meraih kursi kaisar nanti. Kabarnya Pompey mencari perlindungan di Mesir pada Ptolemy yang saat itu memerintah Mesir bersama saudara tirinya yang cantik ratu Cleopatra. Ketika Caesar pergi ke Mesir dengan segenap kekuatannya mereka disambut dengan baik oleh Ptolemy dan hadiah di depan mata ternyata adalah kepala Pompey musuh bebuyutannya. Meski senang tapi Caesar merasa Ptolemy telah melecehkan harkat pejabat Romawi. Ratu Cleopatra melihat peluang bagus untuk mendekati Caesar sebab ia yakin Caesar adalah pemimpin masa depan Rowa. Dia menjalin hubungan asmara dengan Caesaryang membuat sang Jenderal haus kekuasaan itu betah berlama-lama di Alexandria Mesir. Belakangan Ptolemy muak dan berontak melawan Caesar namun pertempuran dahsyat yang pecah di Alexandria serta di laut tengah itu menghasilkan kekalahan dan kematian bagi Ptolemy. Setelah Cleopatra mengandung, Caesar menuju Asia kecil (sekarang Turki) dan meruntuhkan kekuasaan Parnaches di sana. Di sanalah terkenal semboyannya “Vini, Vidi, Vici” atau “aku datang, aku lihat, dan aku menang.” Pada Oktober 47sm Caesar kembali dinobatkan sebagai Kaisar diktator untuk kedua kalinya dengan mahkota daun kebanggaan Romawi.
     Belum lama dilantik datanglah kabar dari Afrika utara. Anak-anak Pompey memimpin 14 legiun dan menyatukan kekuatan Afrika utara melawan Roma. Caesar kembali ke Mesir dan mulai melakukan penaklukan terhadap gerakan baru ini. Pertempuran hebat terjadi di Thapsus pada 46sm. Pada Oktober 46sm Caesar kembali ke Roma dengan penuh kejayaan perang. Para tawanan dijadikan tontonan sebelum dieksekusi dan hidangan pesta mencapai 22 ribu meja. Caesar banyak membangun bangunan-bangunan megah di masa jayanya untuk membuat dia tetap dikenang. Atas saran istrinya Cleopatra, dia menobatkan dirinya sebagai dewa Romawi. Kemenangannya yang dianggap setara dengan Aleksander Agung dari Athena yang melegenda itu menjadi alasan atas klaim tersebut. Nah, pada Desember 46sm kembali sisa-sisa anak Pompey yang ternyata masih hidup menyulut perang. Kali ini mereka membangun kekuatan di Spanyol. Pertempuran besaar kembali terjadi dan untuk pertama kalinya Caesar merasakan maut hampir di depannya. Dia berkata telah berkali-kali menang dan baru kali itu dia harus bertempur hanya untuk bertahan hidup dan bukan untuk menang. Namun akhir dari perang itu tampaknya masih berpihak pada sang jenderal. Lebih dari 30 ribu musuh tewas dan dikalahkan.
     Di Roma Caesar amat disegani rakyat. Mereka sangat mengidolakan dia, namun para senator dan bangsawan banyak yang memusuhinya. Mereka muak dengan tingkah sok kuasa dan haus kekuasaan Caesar. Apalagi sejak 18 Maret 44sm di mana Caesar menobatkan dirinya sebagai diktator seumur hidup dalam Ides of March yang diyakininya sebagai suratan takdirnya. Hal itu mulai memancing kemarahan sejumlah senator yang segera melakukan pertemuan-pertemuan rahasia. Adalah senator Longinus pemrakarsa dan pemimpin dari pertemuan itu. “Kita harus bersatu dan membunuh Caesar” ujar mereka sepakat dalam rapat rahasia itu.

Caesar saat ditikam beramai-ramai

     Tiga hari sebelum berangkat ke pertempuran melawan orang Parthia, Caesar tewas dibunuh saat sedang menuju ke rapat senat di graha Pompey. Dia tewas diberondong pukulan dan tikaman bertubi-tubi oleh musuh-musuh politiknya. Rupanya “dewa” itu lengah sebab hanya disertai orang kepercayaannya Marc Anthony yang berhasil dikelabui untuk meninggalkan Caesar sendiri. Saat itulah Caesar dibantai dengan sadis dan jatuh bersimbah darah di bawah kaki patung dari mendiang musuh bebuyutannya Pompey. Setelah Jaman Caesar berlalu demokrasi Romawi mengalami guncangan selama 50 tahun. Ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh rezim Caesar saat itu.
     Apa yang dapat kita timba dari fakta sejarah di atas? Kita jadi ingat ungkapan penuh makna dan wahyu dari Tuhan Yesus di malam saat Dia akan ditangkap dan diserahkan. Saat itu Petrus mengambil sebilah pedang dan menyambar telinga Malkus hingga putus. Namun Yesus mengambil telinga itu dan menyembuhkan Malkus sambil menyuruh Petrus menyarungkan pedangnya kembali. “Barangsiapa menggunakan pedang akan binasa oleh pedang” ujar Yesus, (Matius 26:51-52).
     Sejak dosa masuk ke dalam dunia maka hukum karma atau hukum alam berlaku atas manusia. Apa yang diungkapkan Yesus di atas menyatakan realita itu. Bahwa hukum tabur tuai secara dunia itu pasti berlaku. Manusia yang hidup hanya untuk mencari kepuasan dunia semata akan berputar-putar dan mengalami resiko dari hukum dosa atau hukum karma itu. Bagi kita yang sudah terima Yesus dan selalu tinggal di dalam Dia, kita mengalami hukum Kasih karunia Allah. Hukum yang membebaskan kita dalam kebenaranNya yang memerdekakan dari berbagai tuntutan hukum dosa dunia. Kita tidak lagi bersikap sebagaimana dunia dan mencari dunia semata tetapi kini beroleh kasih sukacita dan sejahtera Allah untuk kita nikmati dan usahakan setiap hari. Inilah yang membuat kita menabur Kristus dalam segala hal dan menuai Kristus dalam segala hal. Dalam hal ini tidak ada lagi kerugian dan kesusahan duniawi bagi orang percaya.

     Lihatlah kegelimangan dunia yang tercermin dari kisah hidup Julius Caesar. Dia mencapai segala sesuatu dengan penuh jerih lelah ambisi dan hanya untuk berakhir tragis oleh senatornya sendiri. Banyak istilah jika mati tidak ada yang kita bawa sedikitpun dari dunia ini. Ya benar adanya, namun terlebih benar lagi bahwa kita membawa Kasih Kristus yang tinggal tetap dan kekal bersama kita sampai kita mati sekalipun dan hidup bersama dengan Dia nanti. Jadi mereka yang hanya hidup sebatas dalam dunia ini dan mencari segala ambisi dalam dunia akan berakhir sebagaimana dunia berakhir yaitu fana. Itulah karma akibat dosa yang ada dalam dunia. Tapi kita dikatakan sudah bukan milik dunia lagi tapi milik Allah dalam Kristus. Jadi kita sekarang tahu bahwa dalam apapun juga kita hendak mencari Dia, menikmati Dia, dan memuliakan Dia, tidak semata untuk kepuasan duniawi. Inilah hidup yang sesungguhnya yang Tuhan nyatakan kepada kita oleh Yesus Kristus. Agar oleh hidup seperti itulah maka kita menikmati kekekalan dan bukan karma dosa yaitu kefanaan.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...