Tuesday, October 9, 2018

Agama masa anak-anak



A. Pendahuluan 

Manusia dilahirkan di dunia ini dalam keadaan lemah, fisik maupun psikis. Walaupun dalam keadaan yang demikian ia telah memiliki kemampuan bawaan yang bersifat laten. Potensi bawaan ini memerlukan pengembangan melalui bimbingan dan pemeliharaan yang mantap lebih-lebih pada usia dini.
Fisik atau jasmani manusia baru akan berfungsi secara sempurna jika dipelihara dan dilatih. Akal dan fungsi mental lainnya pun baru akan berfungsi jika kematangan dan pemeliharaan serta bimbingan dapat diarahkan kepada pengeksplorasian perkembangannya. Kemampuan itu tidak dapat dipenuhi secara sekaligus melainkan melalui pentahapan. Demikian juga perkembangan agama pada diri anak.

B. Rumusan Masalah

Dari sekilas pendahuluan di atas, maka pemakalah dapat merumuskan beberapa masal, antara lain:
1. Bagaimana agama pada masa anak-anak?
2. Meliputi apa saja tahap perkembangan beragama pada anak-anak?
3. Bagaimana sifat agama pada anak-anak?

C. Pembahasan
1. Agama Pada Masa Anak-Anak
Pendapat Kohnstam mengenai tahap perkembangan pada kehidupan manusia dibagi menjadi lima periode, yaitu: pertama, Periode vital (umur 0-3 tahun), kedua, periode estetis/masa mencoba dan bermain (umur 3-6 tahun), ketiga, periode intelektual ”masa sekolah” (umur. 6-12 tahun), keempat, masa adolescence atau masa pemuda (umur 12-21), kelima, masa kematangan fisik dan psikis-dewasa (umur 21 keatas). 
Elizabeth B. Hurlock membagi masa kanak-kanak menjadi tiga periode, yaitu :
1. 0-2 tahum (masa vital)
2. 2-6 tahun masa(kanak-kanak)
3. 6-12 tahun (masa sekolah)
Ada dua pendapat yang menyatakan bahwa anak dilahirkan bukan sebahgai makhluk religius, melainkan tak ubahnya seperti makhluk lainnya. Dan yang kedua pendapat para ahli mengemukakan bahwa anak dilahirkan telah membawa fitrah keagamaan, dan baru berfungsi kemudian setelah melalui bimbingan dan latihan sesuai dengan tahap perkembangan jiwanya.
Sejalan dengan sependapat diatas, seperti yang telah popular sebuah statement yang dikemukakan oleh William Stem dalam faham konvergensinya bahwa perkembangan individu itu baik dasar (bakat dan keturun) maupun lingkungan keduanya memerankan peranan penting. 
Berdasarkan pada kenyataan dan gabungan dari beberapa pemyataan di atas penulis menyimpulkan bahwa melalui pengalaman-pengalaman yang diterima dari lingkungan itu kemudian terbentuklah rasa keagamaan pada diri anak. Sementara Woodwort berpendapat bahwa bayi yang dilahirkan sudah memiliki insting keagamaan yang mkendapat sanggahan berbagai ahli yang bertensi dengan sebuah referensi hdits Nabi Muhammad sebagai berikut:
Definisi fithrah didalam hadits diatas bukanlah disamakan sebagai insting, akan tetapi lebih cenderung diartikan sebagai potensi. Pengembangan potensi sehingga timbulnya kepercayaan tergantung pada faktor yang mempengeruhinya. Sehingga ketika anak dibiarkan tanpa didikan agama dan hidup dalam lingkungan yang tidak mengenal agama, ia akhimya akan menjadi dewasa tanpa agarna.
Anak mengenal Tuhan pertarna kali melalui bahasa, dari kata-kata yang ada dalam lingkungannya, yang pada awalnya diterima secara acuh. Namur setelah ia menyaksikan reaksi orang-orang disekelilingnya yang disertai dengan emosi atau perasaan tertentu, yang makin lama makin meluas, maka mulailah perhatiannya terhadap Tuhan itu timbul.
Menurut Zakiah Drajat, sebelum usia 7 tahun, perasaan anak terhadap Tuhan pada dasarnya negatif. la berusaha menerima pemikiran tentang kebesaran dan Kemuliaan Tuhan sedang gambaran mereka tentang Tuhan sesuai dengan emosinya. Setelah pada masa kedua tujuh tahun keatas perasaan anak terhadap Tuhan berganti positif (cinta dan hormat) dan hubungannya dipenuhi oleh rasa percaya dan merasa aman.

2. Tahap Perkcmbangan Beragarna Pada Anak
Sejalan dengan kecerdasannya, perkembangan jiwa beragama pada anak dapat dibagi menjadi tiga bagian
a. Tingkat Dongeng ( The Fairly Tale Stage )
Pada tahap ini anak yang berumur 3-6 tahun konsep mengenal Tuhan banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi sehingga dalam menanggapi agama, anak masih menggunakan konsep fantastik, yang diliputi oleh dongeng-dongeng. Menurut hasil penelitian Dr. Hanni mengindikasikan bahwa kemampuan berfikir tentang konsep agama pada anak sangat sedikit, kalau tidak dikatakan tidak ada artinya dan itu hanyalah permainan bebas dari fantasi dan emosinya. Hal ini menjadi wajar, karena konsep agama biasanya cukup rumit dan mengatasi daya tangkap intelektual anak, sehingga terjadi penerimaan atau penolakan itu merupakan hal yang wajar. Dan itu terjadi tentunya bukan pemahaman secara intelektual melainkan pada alasan lain.
Pada usia ini, perhatian anak lebih tertuju pada pemuka agama daripada isi ajarannya, dan cerita akan lebih menarik jika berhubungan dengan masa anak-anak karena sesuai dengan jiwa kanak-kanaknya.
b. Tingkat Kepercayaan (The Realistic Stage)
Pada fase ini ide-ide tentang Tuhan muncul dan telah tercermin dalam konsep yang realistik, dan biasanya muncul dari lembaga agama atau pengajaran orang dewasa. Ide keagamaan muncul dari anak didasarkan atas emosional, sehingga melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Tahap ini dimulai sejak usia masuk sekolah 7 tahun. Yang perlu dicatat pada tahap ini adalah bahwa pada tahap usia tujuh tahun dipandang sebagai permulaan perturnbuhan logis, sehingga wajar ketika Rosulullah mernerintahkan untuk menyuruh anak-anak umatnya untuk melaksanakan shalat pada usia tujuh tahun dan memberi sanksi berupa pukulan apabila melanggarnya.
c. Tingkat Individu ( The Individual Stage )
Pada tingkat ini, anak telah memiliki kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang individualistic ini terbagi menjadi tiga golongan:
1) Konsep ketuhanan yang konvensioal adan konservatif dengan dipengaruhi sebagian kecil fantasi
2) Konsep ketuhanan yang lebih murni, dinyatakan dengan pandangan yang bersifat personal
3) Konsep ketuhanan yang humanistik yaitu agama telah menjadi etos humanis dalam diri mereka dalam menghayati ajaran agama.

Pemikir Islam Imam Bawani membagi fase perkembangan agama pada masa anak menjadi empat bagian, yaitu : 
a. Fase dalam kandungan, perlu dicatat bahwa pada fase ini seorang bayi yang berada dalam kadungan sudah berjani pada Rabbnya, sebagaimana yang telah tertulis dalam Firman Allah yang artinya “...........dan A11ah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya) berfirman: bukankah Aku ini tuhanmu?, mereka menjawab: '”betui, (Engkau Tuhan kami)…………” QS. Al-Araf [7]: 172). 
b. Fase Bayi, isyarat pengenalan keagamaan tercermin pada memperdengarkan suara adzan pada telinga bayi.
c. Fase Kanak-kanak, pada masa ini anak mengenal Tuhan melalui ucapan-ucapan orang-orang disekelilingnya. Anak pada usia ini tidak memahami dalam melaksanakan ajaran agama Islam, akan tetapi disinilah peran orang tua sangat penting untuk membimbing dan mengenalkan serta mengarahkan mengenai tindakan-tindakan keagamaan pada anak untuk perkembangan agama anak pada masa selanjutnya. 
d. Fase Masa anak Sekolah, seiring dengan perkembangan jiwa Yang lainnya, perkembangan agama juga menunjukkan perkembangan Yang sernakan reslistis seiring dengan perkembangan daya nalar yang dimiliki anak.

3. Sifat Agama Pada Anak
Sifat Agama pada anak mengikuti pola concept on authority yaitu konsep keagarnaan, yang dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka anak itu sendiri. Ketaatan dan tidaknya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, orang tua atau guru mereka.
Sifat Keagamaan pada anak dapat dibagi menjadi enam bagian, antara lain :
a. Unreflektif (kurang mendalam dangkal/tanpa kritik)
Pada fase ini anak memahami kebenaran agarna kurang begitu mendalam, mereka merasa puas dengan penjelasan/keterangan walaupun kurang masuk akal. Menurut penelitian, pikiran kritis baru muncul ketika umur 12 tahun.
b. Egosentris
Anak lebih menonjolkan kepentingan dirinya dan lebih menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dan kesenangan dirinya. Sebagai contoh tujuan do'a dan sholat yang mereka lakukan adalah untuk mencapai keinginan pribadi. Mereka meminta sesuatu yang diinginkannya, minta ampun atas segala dosa yang telah diperbuatnya, dan minta tolong atasa ketidakmampuan yang mereka hadapi. Sifat ini muncul berkisar antara usia 5-9 tahun. Pada usia 9-12 tahun ide tentang do’a sebagai komunikasi antara anak dengan yang ilahimulai tampak. Setelah itu isi do’a beralih dari keiniginan egoistis menuju masalah yang tertuju pada orang lain yang bersifat etis.
c. Andiromorphis 
Konsep anak mengenai ketuhanan pada umumnya berasal dari pengalaman. Ketika berhubungan dengan orang lain , pertanyan anak mengenai "banaimana" dan "mengapa" biasanya mencerminkan usaha mereka menghubungkan penjelasan religius yang abstrak dengan dunia pengalaman mereka yang bersifat subjektif dan konkrit.
Hasil penelitian Praff misalnya anak usia 6 tahun, kebanyakan menggambarkan Tuhan seperti manusia yang mempunyai wajah, telinga, mata, dsb. Dan memberi ganjaran atau hukuman misalnya dihubungkan dengan oiang tua ketika memberi hadiah.
d. Verbalis dan Ritualis
Kehidupan agama pada anak sebagian besar tumbuh dari sebab ucapan (verbal). Mereka menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan dan mengajarkan amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman Yang diajarkan kepada mereka.
e. Imitatif
Peranan orang tua terhadap anak sangatlah penting, karena perbuatan tindak keagamaan anak yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya diperoleh melalui imitasi (meniru). Pendidikan sikap religius anak pada dasarnya tidak berbentuk pengajaran akan tetapi berupa teladan atau peragaan hidup yang nyata (riil). 
Pepghayatan keagamaan anak-anak sebenarnya belum merupakan keseriusan, sebab tingkat perkembangan pikirannya baru pada tingkat imitative.
f. Rasa Baran
Rasa heran dan kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan pada anak. Berbeda dengan rasa heran pada orang dewasa, rasa heran dan kagum anak belum didasari dengan kritis dan kreatif. Mereka hanya kagum dengan keindahan lahiriyah saja. Untuk itu perlu bagi orang tua memberi pengertian dan penjelasan sesuai dengan perkembangan pemikirannya.

D. Keimpulan
Agama pada masa anak-anak terbentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diterima dari lingkungan lalu terbentuk sifat keagamaan pada anak, Woodwort berpendapat bahwa bayi memiliki insting keagamaan, akan tetapi disanggah oleh pemikir Islam bahwa bayi tidak mempunyai insting keagamaan melainkan itu merupakan fitrah yang cenderung kearah potensi keagamaan.
Tahap perkembangan keagamaan pada anak melalui tiga tahapan yaitu tingkat dongeng, tingkat kepercayaan, dan tingkat individu
Sifat Agama pada anak mengikuti pola concept on authority yaitu konsep keagamaan yang dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka (anak) itu sendiri. Memahami sifat agama pada anak berarti memahami sifat agama itu sendiri.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...