“Tangan orang rajin memegang kekuasaan,tetapi kemalasan
mengakibatkan kerja paksa.”
Amsal 12:24
Kerajinan dalam
Kristus dan oleh Kristus mendatangkan kekuasaan.Ini tidak semata dinilai
lahiriah sebagai orang yang akan memegang suatu kekuasaan sebagai
pemerintah,bos perusahaan,atau ketua organisasi.Tapi ini adalah kekuasaan yang
nyata dalam hidup kita lewat kerajinan itu.Kerajinan yang mencerminkan bahwa
kita orang yang memiliki kuasa dalam diri kita,kuasa dalam penguasaan
diri,kuasa dalam hikmat menghadapi hidup dan pekerjaan.Tangan yang rajin mendatangkan
kekuasaan.Kerajinan Allah mendatangkan kekuasaanNya dalam diri kita,menjadikan
kita pribadi yang berkuasa atas diri kita oleh karena Dia dan di dalam
Dia,bukan oleh karena kita sendiri.Inilah kuasa yang sesungguhnya,kita
menikmati kuasaNya dan menikmati kekuasaan dalam kerajinan kita itu.Menjadikan
kita sebagai penguasa atas pekerjaan kita dan bukan budak dari pekerjaan
kita.Di sinilah letak perbedaan antara kerajinan manusia duniawi dan manusia
rohaniah milik Allah.Kerajinan dunia membawa kita menjadi budak pekerjaan dan
kerajinannya,tapi kerajinan Allah membawa kita menjadi penguasa atas pekerjaan
dan kerajinan kita.
Terkadang usaha
kerajinan kita didasari kekuatiran dan ketakutan hidup.Tidak salah sebab
demikian adanya pribadi manusiawi kita yang lemah,yang keliru adalah jika itu
semua tidak dibawa dalam Kristus.Dalam Kristus kita menikmati kerajinan dan
upaya kita itu semakin nikmat tanpa beban kuatir dan takut.Dasar dari kerajinan
atau usaha kita amat berpengaruh pada diri kita dan orang-orang di sekitar
kita.Ada banyak rumah tangga hancur akibat salah paham karena menjadi amat
sensitif dalam hal pekerjaan.hal itu disebabkan dasar kerajinan dan usahanya
adalah takut,kuatir,harta,dan uang semata.Bukan pada takut dan kuatir inti dari kesalahannya,bukan pula pada
keinginan harta inti dari kesalahannya tapi inti kesalahan terletak pada tidak
menyerahkan semua itu di dalam Kristus sebagai kemurnian dan kerajinan sejati
kita.Jika kepuasan yang kita cari,mengapa kita harus bersusah payah mencarinya
dalam tuntutan? sementara kita tidak pernah menikmati hasil yang kita capai
karena ternyata kita ada di dalam lingkaran waktu dari pekerjaan yang tidak
lagi menjadi syukur tapi menjadi rutinitas tuntutan hidup.Tapi saat kita
belajar setiap hari menyerahkan segala usaha dan kerajinan kita di dalam
Kristus maka kita akan menikmati rutinitas itu sebagai ibadah hidup yang
membebaskan.
Ada banyak orang
kehilangan sikap ramah dan gampang emosi atau bersikap arogan dalam
pekerjaannya karena bekerja dalam tuntutan hidup.Secara lahiriah tampak rajin
dalam rutinitas pekerjaannya tapi ketika itu menjadi suatu paksaan bagi dirinya
maka itu sesungguhnya wujud dari kemalasan.Keterpaksaan membawa kemalasan dan
beban adanya.Secara lahiriah rajin tapi kerajinan dunia bukanlah kerajinan
Allah.Kerajinan dunia yang tanpa mengandalkan Allah sebenarnya adalah wujud
kemalasan yang sesungguhnya.Kemalasan manusia yang tidak mau menyerahkan
dirinya kepada Allah dalam penguasaan Allah.Dasar bekerja dan kerajinan secara
dunia membawa keterpaksaan,dan beban dalam bekerja.Hingga yang terjadi adalah
saling merugikan dan kehilangan kasih dalam pekerjaan.Kehilangan kasih akan
diri sendiri karena terlalu diperbudak tuntutan dunia untuk terus berupaya
keras seolah tanpa batas ataupun kehilangan kasih kepada sesama karena hanya
dikuasai ketamakan.
Jangan diperbudak
lagi oleh apa yang tidak kita sadari.Kristus sudah datang dan tinggal di dalam
kita.Dialah yang membebaskan kita dari hari ke hari untuk semakin menikmati
hidup ini di dalam Dia.Mari kita saling menguatkan dalam keberimanan kita yang
satu di dalam Kristus.Kita saling menguatkan bahwa kita bukan lagi bekerja
semata untuk dunia tapi untuk Allah.Jika pekerjaan itu untuk Allah maka nikmat
adanya dan penuh kebebasan.Bukan berarti saya sudah lebih menikmati itu lebih
dari saudara tapi saya pun belajar dan kita semua belajar bersama dari Guru
kita yang sama yaitu Kristus untuk kita semakin masuk di dalam kebebasan dan
kenikmatan hidup yang sudah Dia berikan.Amin.

No comments:
Post a Comment