Pada 1550 di Belanda saat itu Negeri
tersebut mengalami penjajahan dari Spanyol yang beragama Katolik. Sementara di Belanda
muncullah kaum-kaum Calvinis. Kaum Calvinis yang beraliran protestan ini
ditindas oleh raja Spanyol. Dengan demikian terjadilah pemberontakan dan
akhirnya Belanda Utara dapat merdeka pada 1590. Saat itu perang di Belanda
masih berlangsung selama setengah abad lamanya. Portugal yang saat itu turut
menjadi jajahan Spanyol turut terjun dalam perang tersebut sebagai rekan
Spanyol. Di Belanda Utara yang sudah lebih dulu merdeka agama Katolik menyusut
sebab ditekan karena dicurigai menjadi mata-mata Spanyol.Jadi ketika awal
Belanda tiba di Indonesia pada 1596 di Belanda masih berkecamuk perang melawan
penjajah Spanyol dan Portugal.
Saat
tiba di Indonesia ternyata Portugal sudah lebih dahulu menjejakan kakinya di
sini. semangat perlawanan kedua kubu di Eropa tersulut dan berlanjut di
Indonesia. Hal ini turut berimbas pada persaingan agama kedua belah pihak. Di
mana Portugal menyebarkan Katolik dan Belanda menyebarkan Protestan. Satu
kemenangan bersejarah Belanda atas Portugal terjadi di Ambon. Di mana Belanda
di bawah pimpinan Admiral Stephen Van der Haghen berhasil menumbangkan Portugal
di Ambon dan merayakan kemenangan itu pada hari minggu tanggal 27 Februari 1605
dalam sebuah Ibadah syukuran. Dalam ibadah tersebutlah untuk pertama kali tata
cara ibadah Protestan diperkenalkan di Indonesia.
Pada 1602 Belanda membentuk VOC
(Vereenigde Oost Indische Compagnie) sebagai lembaga perdagangan dan
pemerintahan yang wilayahnya meliputi Madagaskar hingga Magelhaes, wilayah itu
mencakup Indonesia dan VOC bertanggung jawab penuh atas misi penginjilan
Protestan di negeri-negeri jajahan Belanda. Lembaga inilah yang akhirnya
menanamkan Kekristenan Calvinis di Indonesia. Ketika VOC dibubarkan pada 31
desember 1799 maka dengan sendirinya nusantara berada langsung di bawah jajahan
pemerintah Belanda. Jadi periode 1605-1799 adalah periode di mana gereja
protestan Indonesia berada di bawah kepengurusan VOC. Pada saat VOC mengurus
sistem penginjilan dia menerapkan caranya dalam monopoli perdagangan. Siapa
punya wilayah maka agamanya yang berlaku. Oleh karena itu Katolik merosot jauh
saat Belanda menguasai Indonesia di mana para Imamnya diusir dan warga dipaksa
memeluk protestan. Alasan para Imam katolik diusir karena dicurigai sebagai
mata-mata musuh yaitu Portugal dan Spanyol.
2. Hal yang menonjol
Beberapa pendeta yang terkenal saat itu
adalah Sebastian Danckaerts, Adrian Huselbos, dan Heurnius. Danckaerts selain
pandai bahasa melayu juga memeperhatikan dunia sekolah. Atas usulnya setiap
hari setiap murid sekolah mendapat jatah beras dari pemerintah Belanda. Dia
membuka sekolah guru untuk melatih “penolong” yang cocok bagi pekerjaan di
sekolah dan di jemaat. Di sinilah asal-usul kepengurusan gereja atau para
pelayan pembantu. Huselbos adalah pendeta pertama yang membentuk Majelis Gereja
di Jakarta. Di sinilah cikal-bakal Majelis dalam jemaat. Sementara Heurnius
satu-satunya pendeta yang bekerja keras menginjil pada kaum tiong hoa di
Indonesia, bahkan dia menerjemahkan pengakuan iman rasuli dan tulisan-tulisan
Kristen ke dalam bahasa tiong hoa. Inilah cikal-bakal mengapa banyak orang
tiong hoa Indonesia yang memeluk agama Kristen.
Pada tahun 1733 terjemahan Alkitab ke
dalam bahasa melayu secara utuh selesai dicetak. Alkitab bahasa melayu itu
adalah terjemahan Melchior Leijdeker seorang pendeta Batavia tahun 1678-1701. Gaya bahasanya amat tinggi
sehingga perlu ditambahkan daftar kata-kata yang tidak dipahami. Sebelumnya
sudah ada terjemahan Valentijn yang memakai bahasa sederhana namun banyak mengalami
kesalahan dalam penerjemahannya karena mengikuti gaya bahasa sehari-hari.
Terjemahan ini tidak diterima untuk dicetak, namun saat Valentijn berusaha
menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa melayu, tidak ada pendeta lain yang giat
menerjemahkan seperti halnya dia.
3. Perbedaan tujuan
Dalam naungan VOC yang lebih mengutamakan
kepentingan dagang dan bisnis negara maka gereja akhirnya harus tunduk misi
penginjilannya kepada misi perdagangan VOC. Para pendeta yang menginjil diawasi
agar tidak ada yang sampai kegiatan kerohaniannya bisa menyulut pemberontakan
terhadap Belanda. Para pendeta harus berhati-hati dan menempatkan kepentingan
VOC di atas penginjilan. Hal itu nampak pada pemecatan dan pemulangan para
pendeta yang dinilai VOC telah membahayakan dan menegur gaya hidup VOC yang
berfoya-foya, menindas, dan bergelimang dosa. Dalam hal ini VOC memiliki
kewenangan untuk memecat dan mengganti pendeta. Dalam kebaktian para pendeta
diharuskan untuk memuji tindakan VOC dan berdoa memohonkan berkat Tuhan atas
senjata-senjata mereka. Hal ini membuat para pendeta Belanda enggan datang ke
Indonesia karena hanya akan menjadi budak VOC dan tidak bebas dalam
memberitakan Injil. Mungkin hal inilah yang mnenyebabkan mengapa Belanda
mendatangkan banyak penginjil dari Jerman. VOC juga menolak membangun suatu
lembaga pendidikan Teologi dengan alasan keuangan. Selain itu VOC juga menolak
mengangkat pendeta dari pribumi. Cornelis senen seorang tokoh penginjilan asal
Banda tidak pernah ditahbiskan menjadi pendeta karena ia tidak bisa lulus test menurut metodologi
barat meskipun sepanjang hidupnya dia membaktikan diri dalam pelayanan.
Akibatnya selama VOC berkuasa di Indonesia kekristenan mengalami kekurangan
tenaga penginjil dan pengajar sehingga pengenalan Allah hanya seperti baju luar
tanpa memahamai isi di dalamnya. Hal itu membuat jemaat masih terpengaruh
tahyul kepercayaan leluhur dalam kekristenan mereka. Gereja Indonesia di bagian
barat akhirnya menjadi gereja benteng dalam arti gereja yang dibentengi VOC
dari penduduk mayoritas muslim. Di mana gereja tersebut menjadi Eropa Sentris
sehingga dianggap umum sebagai rakyat yang terpisah dari pribumi yang
seolah-olah kodratnya sebagai orang Indonesia asli pudar karena menganut agama
barat. Sementara gereja di Indonesia timur menjadi gereja benteng pula dalam
arti yang lain yaitu menjadi salah satu benteng kekuatan VOC untuk memperkuat
dirinya dan kepentingannya dalam petualangannya di Indonesia.
Sesudah saman VOC
Akibat kerugian terus-menerus oleh karena berbagai
perlawanan dan ongkos perang serta para pejabat yang korupsi akhirnya VOC bubar
pada 31 desember 1799. Sejak 1 Januari gereja yang tadinya diasuh VOC akhirnya
dipegang oleh pemerintah Belanda secara langsung. Pemerintah lalu menyerahkan
penginjilan kepada para lembaga swasta dan organisasi lingkungan Gereja
Protestan di Indonesia atau GPI. Pada era ini munculah tokoh-tokoh Zendeling
atau penginjil di Indonesia yang bersifat pietis atau revival.
1. Para Zendeling (Pietis)
Para Zendeling lebih kritis dan merdeka
dalam menyampaikan suara Tuhan. Mereka bahkan berani menunjukan sikap kritis
terhadap gereja, negara, dan kebudayaan setempat. Pemahaman mereka adalah
sebagai berikut:
1. Usaha penginjilan tidak
perlu terikat dengan gereja sebagai lembaga yang mapan.
2. Gereja tidak perlu terikat
dengan negara.
3. Kebudayaan setempat umumnya
buruk karena itu perlu dijauhkan dari gereja.
4. Bersifat individualistis di
mana seseorang dicabut dari kolektifitas lingkungannya (keselamatan pribadi).
5. Paternalistis, merasa lebih
tinggi terhadap penduduk pribumi termasuk bagi mereka yang telah masuk Kristen.
6. Mutu iman lebih bergantung
pada manusia itu sendiri dan bukan lebih kepada kasih karunia Allah. Hal ini
membuat banyak pelayan jemaat pribumi yang kompetensinya dalam pelayanan dan
pengetahuan Firman dianggap rendah. Kalau sebelumnya para pelayan pribumi disepelekan
karena ras maka sekarang mereka disepelekan karena ilmu dan keimanan.
2. Dua wadah penginjilan
Ada dua wadah penginjilan saat itu:
1. GPI atau Indische Kerk,
yaitu gereja negeri yang meliputi orang Kristen berkebangsaan Eropa dan
kemudian turut bergabung orang Kristen pribumi.
2. Lembaga-lembaga penginjilan
swasta yang melakukan kegiatan di sejumlah daerah atas isin Belanda.
Ada dua hal alasan Belanda
membentuk dua wadah penginjilan ini:
1. Di Indonesia terdapat jemaat
bekas asuhan VOC. Sebagai ahli waris VOC maka jemaat itu harus dipelihara dalam
sebuah wadah gereja yang tertata baik yaitu GPI.
2. Pemerintah Belanda sadar
bahwa muslim umumnya memusuhi Belanda daripada memusuhi Kristen hingga ingin
secepatnya agar daerah-daerah yang masih beragama suku dapat diinjili dan masuk
Kristen bukannya islam. Karena itu Belanda meluaskan pekabaran injil
lembaga-lembaga lain yang tidak di bawah pemerintah Belanda.
Perkembangan gereja di beberapa daerah di Indonesia
1. Ambon
Dalam kehidupan jemaat di Ambon pengaruh
agama suku dalam hal totalitas kehidupan atau totalisme nampak nyata pada kehidupan
bergereja saat itu. Paham gereja tersebut menolak tindakan Belanda yang ingin
memisahkan antara Gereja dengan sekolah. Inilah salah satu alasan pecahnya
perang saparua oleh Patimura pada 1817. Gereja Ambon menempatkan benda-benda
keagamaan sebagai barang suci dan sakti misalnya gedung gereja, air baptisan,
roti, atau anggur perjamuan dll. Sisa air baptisan sering diperebutkan untuk diminum
atau dibawa pulang karena dipercaya menjadi obat. Demikian pula dengan roti dan
anggur perjamuan dianggap dapat memberi kesaktian pada jemaat. Selain itu gereja
di Ambon berkembang menjadi gereja yang bersifat fanatic eksklusif sukuisme di
mana mereka berang dan menentang pemerintah Belanda yang berencana mau
menyebarkan agama Kristen kepada muslim. Mereka terlalu berpegnag bahwa Kristen
hanyalah milik mereka dan tidak layak dibagikan kepada orang lain.
Sebelum Joseph Kam datang, Jabez Carey
(anak William Carey yang terkenal di gereja Baptis) telah lebih dulu terkenal
di Ambon pada 1814-1818. Dia adalah pemrakarsa dari jemaat-jemaat Evangelical
yang bersifat kelompok ibadah kecil yang tidak perlu menjadi gereja rakyat. Di
mana menurutnya kelompok kecil justru akan membuat jemaat menjadi jemaat yang
saleh dan lebih terarah kepada Kristus dan tidak terikat menjadi sukuisme dan
fanatik agamawi. Dari sinilah salah satu cikal-bakal ibadah evanglisasi rumah
ke rumah. Jabez Carey memang terkenal amat kental dengan corak revival di mana
ia dibesarkan. Joseph Kam sama hal nya dengan Carey di mana ia bersedia untuk
membangun iman jemaat meskipun perbedaannya adalah Kam lebih terbuka dengan
pelayanan yang besar. Dia bahkan bersedia melakukan baptisan massal. Meski
dianggap kegiatan itu akan mengurangi hikmah dari sakramen baptisan Karena
waktu persediaan yang terbatas untuk banyak orang dilayani sekaligus namun hal
itu tetap bertahan hingga saat ini.
2. Jawa
Pelayanan injil di Jawa terjadi dalam dua
cara yaitu dilakukan oleh orang Eropa seperti Johanes Emde (1774-1859) dan
Coenraad Coolen seorang Eropa yang lahir di Jawa yang memakai tenaga penginjil
pribumi (1775-1873). Emde meyakini bahwa seorang Kristen harus meninggalkan
kebudayaan aslinya dan menjalani kebudayaan Eropa yang dianggap Kristen. Jadi
jemaat jawa diajarkan bahasa belanda, meninggalkan pakaian adat, dilarang
menonton wayang dan harus berpakaian Eropa serta menunjukkan kebiasaan gaya
hidup barat. Hal ini membuat gereja Kristen di Jawa menjadi tidak merakyat.
Sebaliknya Coolen melakukan penginjilan dalam bentuk kebudayaan Jawa dengan
memakai wayang, musik Jawa, dan tarian khas Jawa. Dia mengajarkan bahwa Kristen
adalah ngelmu atau ilmu tertinggi
yang telah dinyatakan Allah melalui Yesus Kristus. Namun Coolen masuk amat jauh
ke dalam kompromisasi budaya di mana ia akhirnya meringankan jemaat Jawa untuk
tidak perlu mengikuti perjamuan kudus, tidak perlu dibaptis, dan beberapa
sakramen lainnya yang menurutnya hanya bersifat kebarat-baratan saja. Dari
usaha keduanya itulah maka didapati kesimpulan bahwa tidaklah mungkin
menjadikan orang Jawa menjadi orang Belanda jika dia masuk Kristen serta tidak
mungkin juga sepenuhnya menjawakan agama Kristen agar orang Jawa masuk Kristen.
Tunggul Wulung adalah orang pribumi asli
yang turut menyebarkan agama Kristen di Jawa (1803-1885). Dia bernama Kyai
Abdulah sebelum akhirnya diberi nama Baptis Ibrahim. Dia amat giat menginjil
terhadap penduduk Jawa hingga Belanda sendiri gelisah karena takut terjadi
kericuhan antara muslim dan Kristen akibat usaha injili dari Tunggul Wulung.
Namun herannya selama penginjilannya dia tidak mengahadapi tantangan dari
penduduk pribumi. Dia mengajarkan Kristen sebagai Ilmu tertinggi yang disajikan
lewat mujizat kesembuhan. Dia terkenal dengan lafal-lafal Kristen seperti doa
Bapa kami yang dilafalkan dsb. Pada saat itu Tunggul Wulung menjadi pribadi
Jawa yang unik dikarenakan kebiasaan orang Jawa yang merahasiakan ilmunya tapi
Tunggul Wulung justru menyebarkannya. Pada masa ini penyebaran kekristenan di
Jawa masuk pada era revival. Setelah meninggal penginjilan Tunggul Wulung
diteruskan oleh Kyai Sadrach muridnya (1840-1924). Penginjil lainnya dari
Pribumi adalah Paulus Tosari (1813-1882). Dia adalah murid Coolen yang memimpin
jemaat-jemaat Jawa yang diusir oleh Coolen karena mereka menerima baptisan.
Mereka lalu mendirikan sebuah desa di hutan dan menamainya Mojowarno pada 1884.
Paulus Tosari menjadi guru jemaat mereka dengan ibadah yang memakai tatacara
barat namun gaya hidup sehari-hari tetap beridentitas jawa.
3. Batak
Awal Gerakan Pantekosta di Indonesia
Kisah 2:1-4
“Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang
memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka
lidahlidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka
masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai
berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu
kepada mereka untuk mengatakannya.”
HARI kenaikan
Isa Almasih diikuti dengan hari Pentakosta yang ditandai dengan pencurahan Roh
Kudus. Murid-murid Tuhan Yesus yang
menjadi rasulrasul menunggu selama 10 hari di Yerusalem.
Dan pada hari
ke-10 bersamaan dengan hari ke-50 sejak Yesus bangkit dari kematian, sekitar 120
orang murid-murid mengalami baptisan Roh
Kudus di sebuah kamar loteng yang ditumpangi oleh mereka di Yerusalem. Terjadi
perubahan drastis, Petrus yang tadinya pengecut menjadi pemberani dan
khotbahnya di serambi Salomo menyebabkan 3000 orang bertobat dan memberi diri
dibaptis.
Fenomena ini
berlanjut terus, rasul-rasul memberitakan
Injil dengan kuasa Roh Kudus sehingga Injil terus merambah sampai ke seantero
dunia. Dan kalau kita menjadi pengkikut Kristus hari ini, tidak terlepas dari
peristiwa yang melanda murid-murid pada masa itu.
Awal abad
ke-20, Kebangunan Rohani terjadi di Wales, Inggris tahun 1904, Kebangunan
Rohani di Topeka Kansas, Amerika tahun 1906 menandai berkobarnya pekabaran
Injil oleh kuasa Roh Kudus sampai kini bahkan sampai kepada Kedatangan Yesus
Kristus kembali ke bumi ini.
Gerakan
Pantekosta atau Pentakosta di Indonesia diawali dengan datangnya dua keluarga
misionaris dari Amerika Serikat pada tahun 1921. Dari Pelabuhan Seattle,
Washington, tanggal 4 Januari 1921, sebuah kapal berbendera Jepang, Suwa Maru,
melepas jangkar untuk tujuan yang amat jauh, membelah samudera Pasifik. Seperti
biasanya Suwa Maru mengangkut penumpang dan barang. Namun hari itu, kapal ini
mengangkut enam penumpang yang sedang menuju Pelabuhan Internasional Batavia,
kini Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Keenam
penumpang itu sedang membuat sejarah penting untuk suatu gerakan besar di
Indonesia. Mereka adalah Cornelis Groesbeek (46 tahun) dan istrinya Marie
Groesbeek serta dua anaknya Jinny (8 tahun) dan Corrie (6 tahun), dan Dirk
Richard Van Klaveren (43 tahun) bersama istrinya (40 tahun).
Mereka sedang
dalam perjalanan misi penginjilan ke Indonesia menyebarkan pengajaran yang
dalam 15 tahun terakhir amat menggetarkan Amerika, sejak kebangunan rohani di
Azusa Street.
Perjalanan misi
dua keluarga penginjil ini berawal dari sangat rajinnya mereka mengikuti
kebaktian di Gereja Bethel Temple, Seattle. Bukan kebaktian biasa, memang. Di
sana mereka menyaksikan banyak orang dibaptis Roh Kudus, di sembuhkan dari
bermacam-macam penyakit, orang-orang bertobat dan menyerahkan diri dibaptis
air.
Ketika mereka
yakin dengan penglihatan yang diterima, mereka menyampaikannya kepada Gembala
Sidang Rev. W.H. Offiler. Sang gembala mendapat konfirmasi bahwa perjalanan
misi ke Indonesia adalah kehendak Tuhan.
Maka
dikerahkannya seluruh anggota jemaat untuk mendukung misi tersebut.
Program
pengiriman misionaris pun didukung para anggota jemaat. Di saat program
pencarían dana sudah berhasil mengumpulkan 1.700 Dollar AS, bantuan yang datang
berhenti.
Padahal tim
misi membutuhkan 2.200 Dollar AS. Masih kurang 500 Dollar AS.
“Dalam beberapa
waktu tak ada satu dollar pun yang kami terima, karena itu kami pun mulai ragu
jangan-jangan kami keliru merestui dan merencanakan perjalanan misi ini,” kata
Rev. Offiler.
Mereka pun
bergumul, berusaha mencari tahu kehendak Tuhan. “Kami menyerahkan persoalan ini
kepada Tuhan dan menunggu jawabannya, sementara waktu keberangkatan sudah
semakin dekat. Keuangan tetap suram dan tidak berubah,” seperti dikutip Pdt.
Dr. Nicky J.
Sumual dari malalah The Voice of Healing, Dallas, Texas, tahun 1952, untuk
bukunya Sejarah Gereja Pentakosta. Angka 500 Dollar AS menjadi ganjalan, tapi
itu membuat mereka banyak bertanya soal misi penginjilan ke Indonesia itu
kepada Tuhan.
Suatu hari
selesai kebaktian, ada seorang wanita penderita tumor ganas datang meminta
pelayanan doa kepada Rev. Offiler. Menurut wanita itu ia diberitahu dokter yang
sudah merawatnya selama lima tahun bahwa ia harus segera dioperasi. Jika dalam
tiga hari tumor itu tidak diangkat dari tubuhnya, dokter sudah tidak mau
bertanggung jawab lagi atasnya. Rev. Offiler pun mendoakannya.
Setelah
didoakan wanita itu pulang karena dia mulai merasa ada perubahan yang baik di
tubuhnya yang selama ini sakit.
Setelah
beberapa saat ia di rumahnya, pada waktu dia berjalan tanpa ia sadari ada
gumpalan daging yang jatuh dari tubuhnya. Ia kemudia sadar bahwa ia telah
disembuhkan. Ia berdoa dan berkata, “Tuhan, saya akan pergi lagi ke dokter
bedah yang menangai saya selam ini. Jika dokter itu membenarkan bahwa saya
telah sembuh, saya akan memberikan 500 Dollar AS kepada Rev.
Offiler.”
Memang wanita itu benar-benar sembuh, dan ia menunaikan nazarnya, memberikan
500 Dollar AS kepada Rev. Offiler. Dengan dicukupinya kebutuhan dana untuk
rencana perjalanan misi ke Indonesia, keluarga Groesbeek dan Van Klaveren pun
berangkat ke Indonesia dengan kapal Suwa Maru. Mereka tiba di Jakarta sekitar
dua bulan kemudian, awal Maret 1921. Mereka memulai misinya di Jawa dan Bali
dengan ditandai mujizat kesembuhan dan melalui murid-muridnya seterusnya ke
seluruh nusantara.
Beberapa macam Gereja di Indonesia
Gereja di Indonesia sudah hadir sejak abad ke 2 masehi, pertama kali di Fansur/Barus, Sumatera Utara. Sejak saat itu, sampai sekarang i Indonesia telah terdapat/telah ada banyak sekali jenis-jenis (aliran/semacamnya) Gereja. Pada umumnya Gereja-gereja Kristen di Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga atau empat aliran utama (denominasi utama), yaitu: Gereja Katolik Roma dibawah kepemimpinan Bapa Sri Paus, Gereja-gereja Protestan yang merupakan hasil reformasi dan berdiri mandiri, dan Gereja Ortodoks dengan sistem Episkopal nya. Khusus untuk gereja-gereja dari aliran ritual Pentakosta kadang-kadang digolongkan terpisah dari kelompok Gereja-gereja Protestan karen perbedaan ritual dan pengakuan iman, meskipun dari sejarahnya mereka (Pentakosta) muncul dari denominasi-denominasi ajaran Protestan.Gereja Katolik (Ritus Latin/Barat) dan Gereja Ortodoks (Ritus Oriental/Timur) di Indonesia biasanya tidak terbagi-bagi menurut denominasi sebagai mana hal nya yang ada pada gereja-gereja Protestan/Pentakosta. Karena gereja Protestan dan aliran Pentakosta terbagi-bagi menjadi unsur gereja yang lebih kecil maka gereja-gereja Kristen Protestan (dan Pentakosta) memiliki banyak cabang bahkan disetiap daerahnya. Gereja-gereja tersebut dapat diklasifikasikan menurut ajaran teologi, kelompok etnis, bahasa pengantar, atau gabungan dari ketiganya.
Gereja Protestan
Berikut beberapa gereja Protestan yang ada di Indonesia.
Cabang/pemekaran/pecahan dari suatu gereja ditandai dengan sub-bagian.
Gereja Kesukuan/Kedaerahan
Banyak jenis atau cabang gereja yang ada di Indonesia (di level provinsi)
merupakan gereja yang bersifat kesukuan atau kedaerahan tertentu. Hal ini
terjadi karena adanya politik gospel masa lalu oleh pihak Penjajah (Portugal ataupun Belanda) yag
memakai taktik pendekatan suku.Gereja kesukuan/kedaerahan ini berciri kedaerahan atau kesukuan tertentu menurut adat istiadat daerah setempat, yang mana merupakan tempat Gereja tersebut pertama didirikan, namun Gereja-gereja ini tetap terbuka bagi suku lain (adapula gereja yang tertutup untuk suku lain,namun kemungkinannya sangat kecil)
Gereja tersebut antara lain:
- Gereja Kristen Jawa - GKJ (memakai adat Jawa)
- Gereja Kristen di Sumatera
Bagian Selatan -
GKSBS (memakai adat Jawa dan Melayu)
- Greja Kristen Jawi Wetan - GKJW (memakai adat Jawa)
- Gereja Masehi Injili di Minahasa - GMIM (memakai adat Minahasa)
- Huria Kristen Batak Protestan - HKBP (memakai adat suku Batak Toba)
- Gereja Toraja - GT (Memakai adat Toraja)
- Gereja Batak Karo Protestan - GBKP (memakai adat suku Batak Karo)
- Gereja Kristen Protestan
Simalungun - GKPS
(memakai adat suku Batak Simalungun)
- Huria Kristen Indonesia - HKI
- Banua Niha Keriso Protestan - BNKP (memakai adat Nias)
- Orahua Niha Keriso Protestan - ONKP (memakai adat Nias)
- Gereja Kristen Kalam Kudus - GKKK (Tionghoa)
- Gereja Kebangunan Kalam Allah - GKKA (Tionghoa)
- Gereja Kristen Pasundan - GKP (memakai adat Sunda)
- Gereja Kristen Rejang - GKR1 (memakai adat Suku Rejang, tertutup bagi suku-suku lainnya)
- Gereja Kristen Injili Indonesia - (GKII melayani suku Anak Dalam dan
ornag-orang pribumi (bumi putera) seperti Rejang dan Lembak di sebagian besar Bengkulu dan
sebagian Sumatera Selatan)
Catatan kecil
- Catatan 1: Gereja Kristen Rejang merupakan gereja kesukuan yang tertutup bagi
suku lain di luar suku yang bersangkutan dikarenakan gereja itu memiliki
privasi dalam hal keanggotaan.
Menurut Denominasi
Pembagian Gereja-gereja beraliaran Protestanisme di Indonesia menurut
denominasinya yaitu:
Gereja Reformasi atau Calvinis - Gereja Protestan di Indonesia - GPI
dengan dua belas Gereja Bagian Mandiri (GBM) dalam lingkup GPI:
- Gereja Masehi Injili di Minahasa - GMIM
- Gereja Masehi Injili di
Sangihe Talaud -
GMIST
- Gereja Protestan Maluku - GPM
- Gereja Masehi Injili di Timor
- Gereja Protestan di
Indonesia bagian Barat - GPIB
- Gereja Protestan Indonesia
di Donggala - GPID
- Gereja Protestan Indonesia
di Buol Toli-Toli -
GPIBT
- Gereja Protestan Indonesia
di Gorontalo - GPIG
- Gereja Kristen Luwuk Banggai - GKLB
- Gereja Protestan Indonesia
di Papua - GPI
Papua
- Gereja Protestan Indonesia Banggai
Kepulauan GPIBK
- Indonesian
Ecumenical Christianity Church - IECC
- Gereja Masehi Injili di Talaud - GERMITA
- Gereja Batak Karo Protestan - GBKP
- Gereja Kristen Indonesia - GKI
- Gereja Kristen Indonesia
Sumatera Utara - GKI
SUMUT
- Gereja Kristen di Sumatera Bagian
Selatan - GKSBS
- Gereja Kristen Pasundan - GKP
- Gereja Kristen Jawa - GKJ
- Gereja Kristen Jawa Tengah Utara - GKJTU
- Gereja Kristen Jawi Wetan - GKJW
- Gereja Kristen Sulawesi Tengah - GKST
- Gereja Kristen Sulawesi Barat - GKSB
- Gereja Kristen Sulawesi Selatan - GKSS
- Gereja Protestan di Sulawesi
Tenggara - GEPSULTRA
- Gereja Protestan Indonesia di Luwu - GPIL
- Gereja Kristen Sumba - GKS
- Gereja Kristen Injili di
Tanah Papua - GKI di
Tanah Papua
- Gereja Kristus
- Gereja Kristus Yesus - GKY
- Gereja Reformed Injili Indonesia - GRII
- dll.
Gereja Lutheran
(Evangelikel Lutheran)
- Gereja Huria Kristen Batak Protestan
- Gereja HKBP
- Gereja Kristen Protestan Simalungun
- GKPS
- Gereja Kristen Protestan Angkola -
GKPA
- Gereja Kristen Protestan Pakpak
Dairi - GKPD
- Gereja Kristen Protestan
Indonesia - GKPI
- Gereja Kristen Protestan Mentawai - GKPM
- Gereja Kristen Protestan Indonesia - GKPI
- Gereja Kristen Rejang - GKR
- Huria Kristen Indonesia - HKI
- Banua Niha Keriso Protestan - BNKP
- Gereja Kalimantan Evangelis - GKE
Gereja-gereja Methodis
Gereja Methodis Indonesia - GMI
Gereja-gereja Menonit
- Gereja Kristen Muria Indonesia - GKMI
- Gereja Injili di Tanah Jawa - GITJ
Gereja-gereja Pentakosta – karismatik
Gereja Pusat Pantekosta
Indonesia (GPPI)
- Gereja Isa Almasih
- Gereja Berita Injil
- Gereja Bethany Indonesia - Bethany
- Gereja Bethel Injil Sepenuh - GBIS
- Gereja Bethel Indonesia - GBI / Bethel
- Gereja Bethel Tabernakel - GBT
- Gereja Bukit Zaitun - GBZ
- Gereja Duta Injil
- Gereja Injili
Sepenuh Indonesia -
IFGF GISI
- Gereja Kemenangan
Iman Indonesia -
GKII
- Gereja Mawar Sharon - GMS
- Gereja Pantekosta di Indonesia - GPdI
- Gereja Pentakosta Indonesia
- Gereja Rumah Doa
Segala Bangsa -
Gereja RDSB
- Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah (Assemblies of God)
- Gereja Tiberias Indonesia - GTI / Tiberias
- Gereja Yesus Kristus Tuhan (Abbalove Ministries)
- Charismatic Worship Service - CWS
- dll.
Gereja
Baptis
Gereja Baptis Independen
- Gereja Baptis di Papua
- Gereja Kristen
Baptis Jakarta
- Gereja Perhimpunan
Baptis Injili Indonesia
- Kerapatan Gereja
Baptis Indonesia
- Gereja Baptis Indonesia
Gereja non-denominasi
Lain-lain
Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (Gereja Advent)
Gereja Ortodoks
Gereja Ortodoks adalah
kelompok Kristen/Gereja pendatang yang paling mutakhir di Indonesia. Namun,
menurut penelitian dari pakar-pakar sejarah dan arkeologi lama, sebetulnya
Gereja Ortodoks ini justru adalah gereja yang pertama hadir dan datang ke
Indonesia yang
ditandai dengan/melalui kehadiran Gereja Nestorian yang merupakan corak gereja Asyiria di daerah Fansur (Barus),di wilayah Mandailing Sumatera Utara.Tanpa diketahui sebab-sebabnya, Gereja yang kehadirannya diketahui lewat prasasti dari tahun 600-an M ini kemudian hilang begitu saja yang mungkin akibat faktor peperangan dan baru muncul kembali di Indonesia sekitar akhir tahun 1960-an dengan kedatangan Kansiah Orthodox Syiria dikota Samarinda. Di negara-negara Eropa Timur,Asia Kecil, Anatolia, Timur Tengah, Asia Selatan dan di India, Gereja Ortodoks telah hadir selama berabad-abad dan tidak pernah hilang seiring zaman berganti, khususnya di Timur Tengah, Gereja ini telah hadir sejak abad pertama ketika kali pertama Gereja Kristen terbentuk oleh para murid Yesus.
Gereja Ortodoks di Indonesia hadir secara resmi tahun 1960 dan pada 1980 gereja ortodokas memiliki nama resmi Gereja Ortodoks Indonesia (GOI), namun baru mendapat izin Departemen Agama pada tahun 2006. Ada juga Gereja Ortodoks yang jemaatnya bernaung di bawah ROCOR, Gereja Koptik Mesir dan Gereja ortodoks Habsyi. Selain itu terdapat Kanisah Ortodoks Siria (KOS) yang bukanlah lembaga gereja. Kehadiran KOS di Indonesia hanya sebatas wacana.
No comments:
Post a Comment