Monday, October 8, 2018

Sejarah Gereja Protestan di Indonesia

1.  


     Pada 1550 di Belanda saat itu Negeri tersebut mengalami penjajahan dari Spanyol yang beragama Katolik. Sementara di Belanda muncullah kaum-kaum Calvinis. Kaum Calvinis yang beraliran protestan ini ditindas oleh raja Spanyol. Dengan demikian terjadilah pemberontakan dan akhirnya Belanda Utara dapat merdeka pada 1590. Saat itu perang di Belanda masih berlangsung selama setengah abad lamanya. Portugal yang saat itu turut menjadi jajahan Spanyol turut terjun dalam perang tersebut sebagai rekan Spanyol. Di Belanda Utara yang sudah lebih dulu merdeka agama Katolik menyusut sebab ditekan karena dicurigai menjadi mata-mata Spanyol.Jadi ketika awal Belanda tiba di Indonesia pada 1596 di Belanda masih berkecamuk perang melawan penjajah Spanyol dan Portugal.
     Saat tiba di Indonesia ternyata Portugal sudah lebih dahulu menjejakan kakinya di sini. semangat perlawanan kedua kubu di Eropa tersulut dan berlanjut di Indonesia. Hal ini turut berimbas pada persaingan agama kedua belah pihak. Di mana Portugal menyebarkan Katolik dan Belanda menyebarkan Protestan. Satu kemenangan bersejarah Belanda atas Portugal terjadi di Ambon. Di mana Belanda di bawah pimpinan Admiral Stephen Van der Haghen berhasil menumbangkan Portugal di Ambon dan merayakan kemenangan itu pada hari minggu tanggal 27 Februari 1605 dalam sebuah Ibadah syukuran. Dalam ibadah tersebutlah untuk pertama kali tata cara ibadah Protestan diperkenalkan di Indonesia.
     Pada 1602 Belanda membentuk VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) sebagai lembaga perdagangan dan pemerintahan yang wilayahnya meliputi Madagaskar hingga Magelhaes, wilayah itu mencakup Indonesia dan VOC bertanggung jawab penuh atas misi penginjilan Protestan di negeri-negeri jajahan Belanda. Lembaga inilah yang akhirnya menanamkan Kekristenan Calvinis di Indonesia. Ketika VOC dibubarkan pada 31 desember 1799 maka dengan sendirinya nusantara berada langsung di bawah jajahan pemerintah Belanda. Jadi periode 1605-1799 adalah periode di mana gereja protestan Indonesia berada di bawah kepengurusan VOC. Pada saat VOC mengurus sistem penginjilan dia menerapkan caranya dalam monopoli perdagangan. Siapa punya wilayah maka agamanya yang berlaku. Oleh karena itu Katolik merosot jauh saat Belanda menguasai Indonesia di mana para Imamnya diusir dan warga dipaksa memeluk protestan. Alasan para Imam katolik diusir karena dicurigai sebagai mata-mata musuh yaitu Portugal dan Spanyol.
2.       Hal yang menonjol
     Beberapa pendeta yang terkenal saat itu adalah Sebastian Danckaerts, Adrian Huselbos, dan Heurnius. Danckaerts selain pandai bahasa melayu juga memeperhatikan dunia sekolah. Atas usulnya setiap hari setiap murid sekolah mendapat jatah beras dari pemerintah Belanda. Dia membuka sekolah guru untuk melatih “penolong” yang cocok bagi pekerjaan di sekolah dan di jemaat. Di sinilah asal-usul kepengurusan gereja atau para pelayan pembantu. Huselbos adalah pendeta pertama yang membentuk Majelis Gereja di Jakarta. Di sinilah cikal-bakal Majelis dalam jemaat. Sementara Heurnius satu-satunya pendeta yang bekerja keras menginjil pada kaum tiong hoa di Indonesia, bahkan dia menerjemahkan pengakuan iman rasuli dan tulisan-tulisan Kristen ke dalam bahasa tiong hoa. Inilah cikal-bakal mengapa banyak orang tiong hoa Indonesia yang memeluk agama Kristen.
     Pada tahun 1733 terjemahan Alkitab ke dalam bahasa melayu secara utuh selesai dicetak. Alkitab bahasa melayu itu adalah terjemahan Melchior Leijdeker seorang pendeta Batavia  tahun 1678-1701. Gaya bahasanya amat tinggi sehingga perlu ditambahkan daftar kata-kata yang tidak dipahami. Sebelumnya sudah ada terjemahan Valentijn yang memakai bahasa sederhana namun banyak mengalami kesalahan dalam penerjemahannya karena mengikuti gaya bahasa sehari-hari. Terjemahan ini tidak diterima untuk dicetak, namun saat Valentijn berusaha menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa melayu, tidak ada pendeta lain yang giat menerjemahkan seperti halnya dia.


3.       Perbedaan tujuan
     Dalam naungan VOC yang lebih mengutamakan kepentingan dagang dan bisnis negara maka gereja akhirnya harus tunduk misi penginjilannya kepada misi perdagangan VOC. Para pendeta yang menginjil diawasi agar tidak ada yang sampai kegiatan kerohaniannya bisa menyulut pemberontakan terhadap Belanda. Para pendeta harus berhati-hati dan menempatkan kepentingan VOC di atas penginjilan. Hal itu nampak pada pemecatan dan pemulangan para pendeta yang dinilai VOC telah membahayakan dan menegur gaya hidup VOC yang berfoya-foya, menindas, dan bergelimang dosa. Dalam hal ini VOC memiliki kewenangan untuk memecat dan mengganti pendeta. Dalam kebaktian para pendeta diharuskan untuk memuji tindakan VOC dan berdoa memohonkan berkat Tuhan atas senjata-senjata mereka. Hal ini membuat para pendeta Belanda enggan datang ke Indonesia karena hanya akan menjadi budak VOC dan tidak bebas dalam memberitakan Injil. Mungkin hal inilah yang mnenyebabkan mengapa Belanda mendatangkan banyak penginjil dari Jerman. VOC juga menolak membangun suatu lembaga pendidikan Teologi dengan alasan keuangan. Selain itu VOC juga menolak mengangkat pendeta dari pribumi. Cornelis senen seorang tokoh penginjilan asal Banda tidak pernah ditahbiskan menjadi pendeta karena  ia tidak bisa lulus test menurut metodologi barat meskipun sepanjang hidupnya dia membaktikan diri dalam pelayanan. Akibatnya selama VOC berkuasa di Indonesia kekristenan mengalami kekurangan tenaga penginjil dan pengajar sehingga pengenalan Allah hanya seperti baju luar tanpa memahamai isi di dalamnya. Hal itu membuat jemaat masih terpengaruh tahyul kepercayaan leluhur dalam kekristenan mereka. Gereja Indonesia di bagian barat akhirnya menjadi gereja benteng dalam arti gereja yang dibentengi VOC dari penduduk mayoritas muslim. Di mana gereja tersebut menjadi Eropa Sentris sehingga dianggap umum sebagai rakyat yang terpisah dari pribumi yang seolah-olah kodratnya sebagai orang Indonesia asli pudar karena menganut agama barat. Sementara gereja di Indonesia timur menjadi gereja benteng pula dalam arti yang lain yaitu menjadi salah satu benteng kekuatan VOC untuk memperkuat dirinya dan kepentingannya dalam petualangannya di Indonesia.
Sesudah saman VOC
     Akibat kerugian terus-menerus oleh karena berbagai perlawanan dan ongkos perang serta para pejabat yang korupsi akhirnya VOC bubar pada 31 desember 1799. Sejak 1 Januari gereja yang tadinya diasuh VOC akhirnya dipegang oleh pemerintah Belanda secara langsung. Pemerintah lalu menyerahkan penginjilan kepada para lembaga swasta dan organisasi lingkungan Gereja Protestan di Indonesia atau GPI. Pada era ini munculah tokoh-tokoh Zendeling atau penginjil di Indonesia yang bersifat pietis atau revival.
1.       Para Zendeling (Pietis)
     Para Zendeling lebih kritis dan merdeka dalam menyampaikan suara Tuhan. Mereka bahkan berani menunjukan sikap kritis terhadap gereja, negara, dan kebudayaan setempat. Pemahaman mereka adalah sebagai berikut:
1.       Usaha penginjilan tidak perlu terikat dengan gereja sebagai lembaga yang mapan.
2.       Gereja tidak perlu terikat dengan negara.
3.       Kebudayaan setempat umumnya buruk karena itu perlu dijauhkan dari gereja.
4.       Bersifat individualistis di mana seseorang dicabut dari kolektifitas lingkungannya (keselamatan pribadi).
5.       Paternalistis, merasa lebih tinggi terhadap penduduk pribumi termasuk bagi mereka yang telah masuk Kristen.
6.       Mutu iman lebih bergantung pada manusia itu sendiri dan bukan lebih kepada kasih karunia Allah. Hal ini membuat banyak pelayan jemaat pribumi yang kompetensinya dalam pelayanan dan pengetahuan Firman dianggap rendah. Kalau sebelumnya para pelayan pribumi disepelekan karena ras maka sekarang mereka disepelekan karena ilmu dan keimanan.

2.       Dua wadah penginjilan
     Ada dua wadah penginjilan saat itu:
1.       GPI atau Indische Kerk, yaitu gereja negeri yang meliputi orang Kristen berkebangsaan Eropa dan kemudian turut bergabung orang Kristen pribumi.
2.       Lembaga-lembaga penginjilan swasta yang melakukan kegiatan di sejumlah daerah atas isin Belanda.
Ada dua hal alasan Belanda membentuk dua wadah penginjilan ini:
1.       Di Indonesia terdapat jemaat bekas asuhan VOC. Sebagai ahli waris VOC maka jemaat itu harus dipelihara dalam sebuah wadah gereja yang tertata baik yaitu GPI.
2.       Pemerintah Belanda sadar bahwa muslim umumnya memusuhi Belanda daripada memusuhi Kristen hingga ingin secepatnya agar daerah-daerah yang masih beragama suku dapat diinjili dan masuk Kristen bukannya islam. Karena itu Belanda meluaskan pekabaran injil lembaga-lembaga lain yang tidak di bawah pemerintah Belanda.
     Pada saat itu GPI terdiri dari gereja-gereja yang sudah mapan dalam struktur organisasi yaitu GPM Gereja Protestan Maluku, GMIM Gereja Masehi Injili di Minahasa, GMIT Gereja Masehi Injili Di Timor, GPIB Gereja Protestan Indonesia Barat, dsb. Selain wadah GPI ada juga gereja-gereja yang lain yang terbentuk secara sukuisme yaitu HKBP Huria Kristen Batak Protestan di Sumatera Utara, GKJW Gereja Kristen Jawi Wetan dan gereja-gereja minoritas hasil pekerjaan para Zendeling.
Perkembangan gereja di beberapa daerah di Indonesia
1.       Ambon
     Dalam kehidupan jemaat di Ambon pengaruh agama suku dalam hal totalitas kehidupan atau totalisme nampak nyata pada kehidupan bergereja saat itu. Paham gereja tersebut menolak tindakan Belanda yang ingin memisahkan antara Gereja dengan sekolah. Inilah salah satu alasan pecahnya perang saparua oleh Patimura pada 1817. Gereja Ambon menempatkan benda-benda keagamaan sebagai barang suci dan sakti misalnya gedung gereja, air baptisan, roti, atau anggur perjamuan dll. Sisa air baptisan sering diperebutkan untuk diminum atau dibawa pulang karena dipercaya menjadi obat. Demikian pula dengan roti dan anggur perjamuan dianggap dapat memberi kesaktian pada jemaat. Selain itu gereja di Ambon berkembang menjadi gereja yang bersifat fanatic eksklusif sukuisme di mana mereka berang dan menentang pemerintah Belanda yang berencana mau menyebarkan agama Kristen kepada muslim. Mereka terlalu berpegnag bahwa Kristen hanyalah milik mereka dan tidak layak dibagikan kepada orang lain.
     Sebelum Joseph Kam datang, Jabez Carey (anak William Carey yang terkenal di gereja Baptis) telah lebih dulu terkenal di Ambon pada 1814-1818. Dia adalah pemrakarsa dari jemaat-jemaat Evangelical yang bersifat kelompok ibadah kecil yang tidak perlu menjadi gereja rakyat. Di mana menurutnya kelompok kecil justru akan membuat jemaat menjadi jemaat yang saleh dan lebih terarah kepada Kristus dan tidak terikat menjadi sukuisme dan fanatik agamawi. Dari sinilah salah satu cikal-bakal ibadah evanglisasi rumah ke rumah. Jabez Carey memang terkenal amat kental dengan corak revival di mana ia dibesarkan. Joseph Kam sama hal nya dengan Carey di mana ia bersedia untuk membangun iman jemaat meskipun perbedaannya adalah Kam lebih terbuka dengan pelayanan yang besar. Dia bahkan bersedia melakukan baptisan massal. Meski dianggap kegiatan itu akan mengurangi hikmah dari sakramen baptisan Karena waktu persediaan yang terbatas untuk banyak orang dilayani sekaligus namun hal itu tetap bertahan hingga saat ini.
2.       Jawa
     Pelayanan injil di Jawa terjadi dalam dua cara yaitu dilakukan oleh orang Eropa seperti Johanes Emde (1774-1859) dan Coenraad Coolen seorang Eropa yang lahir di Jawa yang memakai tenaga penginjil pribumi (1775-1873). Emde meyakini bahwa seorang Kristen harus meninggalkan kebudayaan aslinya dan menjalani kebudayaan Eropa yang dianggap Kristen. Jadi jemaat jawa diajarkan bahasa belanda, meninggalkan pakaian adat, dilarang menonton wayang dan harus berpakaian Eropa serta menunjukkan kebiasaan gaya hidup barat. Hal ini membuat gereja Kristen di Jawa menjadi tidak merakyat. Sebaliknya Coolen melakukan penginjilan dalam bentuk kebudayaan Jawa dengan memakai wayang, musik Jawa, dan tarian khas Jawa. Dia mengajarkan bahwa Kristen adalah ngelmu atau ilmu tertinggi yang telah dinyatakan Allah melalui Yesus Kristus. Namun Coolen masuk amat jauh ke dalam kompromisasi budaya di mana ia akhirnya meringankan jemaat Jawa untuk tidak perlu mengikuti perjamuan kudus, tidak perlu dibaptis, dan beberapa sakramen lainnya yang menurutnya hanya bersifat kebarat-baratan saja. Dari usaha keduanya itulah maka didapati kesimpulan bahwa tidaklah mungkin menjadikan orang Jawa menjadi orang Belanda jika dia masuk Kristen serta tidak mungkin juga sepenuhnya menjawakan agama Kristen agar orang Jawa masuk Kristen.
     Tunggul Wulung adalah orang pribumi asli yang turut menyebarkan agama Kristen di Jawa (1803-1885). Dia bernama Kyai Abdulah sebelum akhirnya diberi nama Baptis Ibrahim. Dia amat giat menginjil terhadap penduduk Jawa hingga Belanda sendiri gelisah karena takut terjadi kericuhan antara muslim dan Kristen akibat usaha injili dari Tunggul Wulung. Namun herannya selama penginjilannya dia tidak mengahadapi tantangan dari penduduk pribumi. Dia mengajarkan Kristen sebagai Ilmu tertinggi yang disajikan lewat mujizat kesembuhan. Dia terkenal dengan lafal-lafal Kristen seperti doa Bapa kami yang dilafalkan dsb. Pada saat itu Tunggul Wulung menjadi pribadi Jawa yang unik dikarenakan kebiasaan orang Jawa yang merahasiakan ilmunya tapi Tunggul Wulung justru menyebarkannya. Pada masa ini penyebaran kekristenan di Jawa masuk pada era revival. Setelah meninggal penginjilan Tunggul Wulung diteruskan oleh Kyai Sadrach muridnya (1840-1924). Penginjil lainnya dari Pribumi adalah Paulus Tosari (1813-1882). Dia adalah murid Coolen yang memimpin jemaat-jemaat Jawa yang diusir oleh Coolen karena mereka menerima baptisan. Mereka lalu mendirikan sebuah desa di hutan dan menamainya Mojowarno pada 1884. Paulus Tosari menjadi guru jemaat mereka dengan ibadah yang memakai tatacara barat namun gaya hidup sehari-hari tetap beridentitas jawa.
3.       Batak
                     Penginijlan di Batak dilakukan oleh Ludwig Nomensen pada 1834-1918. Ia adalah seorang yang gigih dan pemberani yang menginjil pada suku batak yang amat keras. Dia tidak menginjil dari pinggiran wilayah seperti para penginjil lainnya tapi dia langsung ke pusat Tapanuli atau mulai dari tengah. Sekalipun berkali-kali menghadapi tantangan berat dan mengancam nyawa namun akhirnya Nomensen berhasil menaklukan suku batak kepada Kristus. Hingga kini Sumatera Utara adalah satu-satunya propinsi di Sumatera yang mayoritas Kristen hasil dari benih awal yang dibawakan oleh Nomensen. Nomensen memusatkan penginjilan pada pendidikan sekolah dan pendidikan pendeta bagi pribumi. Dia juga ahli dalam pengorganisasian gereja serta tata gereja. Dia menjadi Ephorus atau pemimpin gereja pertama bagi gereja Batak. Banyak orang Batak menyebutnya sebagai Rasul yang ditentukan bagi mereka seperti halnya orang katolik dan Protestan di Ambon yang meyakini Fransiskus Xaverius dan Joseph Kam sebagai Rasul yang dikhusukan Allah bagi mereka.

Awal Gerakan Pantekosta di Indonesia
Kisah 2:1-4 “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidahlidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” 
HARI kenaikan Isa Almasih diikuti dengan hari Pentakosta yang ditandai dengan pencurahan Roh Kudus. Murid-murid Tuhan Yesus yang menjadi rasulrasul menunggu selama 10 hari di Yerusalem.
Dan pada hari ke-10 bersamaan dengan hari ke-50 sejak Yesus bangkit dari kematian, sekitar 120 orang murid-murid mengalami baptisan Roh Kudus di sebuah kamar loteng yang ditumpangi oleh mereka di Yerusalem. Terjadi perubahan drastis, Petrus yang tadinya pengecut menjadi pemberani dan khotbahnya di serambi Salomo menyebabkan 3000 orang bertobat dan memberi diri dibaptis.
Fenomena ini berlanjut terus, rasul-rasul memberitakan Injil dengan kuasa Roh Kudus sehingga Injil terus merambah sampai ke seantero dunia. Dan kalau kita menjadi pengkikut Kristus hari ini, tidak terlepas dari peristiwa yang melanda murid-murid pada masa itu.
Awal abad ke-20, Kebangunan Rohani terjadi di Wales, Inggris tahun 1904, Kebangunan Rohani di Topeka Kansas, Amerika tahun 1906 menandai berkobarnya pekabaran Injil oleh kuasa Roh Kudus sampai kini bahkan sampai kepada Kedatangan Yesus Kristus kembali ke bumi ini.
Gerakan Pantekosta atau Pentakosta di Indonesia diawali dengan datangnya dua keluarga misionaris dari Amerika Serikat pada tahun 1921. Dari Pelabuhan Seattle, Washington, tanggal 4 Januari 1921, sebuah kapal berbendera Jepang, Suwa Maru, melepas jangkar untuk tujuan yang amat jauh, membelah samudera Pasifik. Seperti biasanya Suwa Maru mengangkut penumpang dan barang. Namun hari itu, kapal ini mengangkut enam penumpang yang sedang menuju Pelabuhan Internasional Batavia, kini Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Keenam penumpang itu sedang membuat sejarah penting untuk suatu gerakan besar di Indonesia. Mereka adalah Cornelis Groesbeek (46 tahun) dan istrinya Marie Groesbeek serta dua anaknya Jinny (8 tahun) dan Corrie (6 tahun), dan Dirk Richard Van Klaveren (43 tahun) bersama istrinya (40 tahun).
Mereka sedang dalam perjalanan misi penginjilan ke Indonesia menyebarkan pengajaran yang dalam 15 tahun terakhir amat menggetarkan Amerika, sejak kebangunan rohani di Azusa Street.
Perjalanan misi dua keluarga penginjil ini berawal dari sangat rajinnya mereka mengikuti kebaktian di Gereja Bethel Temple, Seattle. Bukan kebaktian biasa, memang. Di sana mereka menyaksikan banyak orang dibaptis Roh Kudus, di sembuhkan dari bermacam-macam penyakit, orang-orang bertobat dan menyerahkan diri dibaptis air.
Ketika mereka yakin dengan penglihatan yang diterima, mereka menyampaikannya kepada Gembala Sidang Rev. W.H. Offiler. Sang gembala mendapat konfirmasi bahwa perjalanan misi ke Indonesia adalah kehendak Tuhan.
Maka dikerahkannya seluruh anggota jemaat untuk mendukung misi tersebut.
Program pengiriman misionaris pun didukung para anggota jemaat. Di saat program pencarían dana sudah berhasil mengumpulkan 1.700 Dollar AS, bantuan yang datang berhenti.
Padahal tim misi membutuhkan 2.200 Dollar AS. Masih kurang 500 Dollar AS.
“Dalam beberapa waktu tak ada satu dollar pun yang kami terima, karena itu kami pun mulai ragu jangan-jangan kami keliru merestui dan merencanakan perjalanan misi ini,” kata Rev. Offiler.
Mereka pun bergumul, berusaha mencari tahu kehendak Tuhan. “Kami menyerahkan persoalan ini kepada Tuhan dan menunggu jawabannya, sementara waktu keberangkatan sudah semakin dekat. Keuangan tetap suram dan tidak berubah,” seperti dikutip Pdt.
Dr. Nicky J. Sumual dari malalah The Voice of Healing, Dallas, Texas, tahun 1952, untuk bukunya Sejarah Gereja Pentakosta. Angka 500 Dollar AS menjadi ganjalan, tapi itu membuat mereka banyak bertanya soal misi penginjilan ke Indonesia itu kepada Tuhan.
Suatu hari selesai kebaktian, ada seorang wanita penderita tumor ganas datang meminta pelayanan doa kepada Rev. Offiler. Menurut wanita itu ia diberitahu dokter yang sudah merawatnya selama lima tahun bahwa ia harus segera dioperasi. Jika dalam tiga hari tumor itu tidak diangkat dari tubuhnya, dokter sudah tidak mau bertanggung jawab lagi atasnya. Rev. Offiler pun mendoakannya.
Setelah didoakan wanita itu pulang karena dia mulai merasa ada perubahan yang baik di tubuhnya yang selama ini sakit.
Setelah beberapa saat ia di rumahnya, pada waktu dia berjalan tanpa ia sadari ada gumpalan daging yang jatuh dari tubuhnya. Ia kemudia sadar bahwa ia telah disembuhkan. Ia berdoa dan berkata, “Tuhan, saya akan pergi lagi ke dokter bedah yang menangai saya selam ini. Jika dokter itu membenarkan bahwa saya telah sembuh, saya akan memberikan 500 Dollar AS kepada Rev.
Offiler.” Memang wanita itu benar-benar sembuh, dan ia menunaikan nazarnya, memberikan 500 Dollar AS kepada Rev. Offiler. Dengan dicukupinya kebutuhan dana untuk rencana perjalanan misi ke Indonesia, keluarga Groesbeek dan Van Klaveren pun berangkat ke Indonesia dengan kapal Suwa Maru. Mereka tiba di Jakarta sekitar dua bulan kemudian, awal Maret 1921. Mereka memulai misinya di Jawa dan Bali dengan ditandai mujizat kesembuhan dan melalui murid-muridnya seterusnya ke seluruh nusantara.

Beberapa macam Gereja di Indonesia

Gereja di Indonesia sudah hadir sejak abad ke 2 masehi, pertama kali di Fansur/Barus, Sumatera Utara. Sejak saat itu, sampai sekarang i Indonesia telah terdapat/telah ada banyak sekali jenis-jenis (aliran/semacamnya) Gereja. Pada umumnya Gereja-gereja Kristen di Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga atau empat aliran utama (denominasi utama), yaitu: Gereja Katolik Roma dibawah kepemimpinan Bapa Sri Paus, Gereja-gereja Protestan yang merupakan hasil reformasi dan berdiri mandiri, dan Gereja Ortodoks dengan sistem Episkopal nya. Khusus untuk gereja-gereja dari aliran ritual Pentakosta kadang-kadang digolongkan terpisah dari kelompok Gereja-gereja Protestan karen perbedaan ritual dan pengakuan iman, meskipun dari sejarahnya mereka (Pentakosta) muncul dari denominasi-denominasi ajaran Protestan.
Gereja Katolik (Ritus Latin/Barat) dan Gereja Ortodoks (Ritus Oriental/Timur) di Indonesia biasanya tidak terbagi-bagi menurut denominasi sebagai mana hal nya yang ada pada gereja-gereja Protestan/Pentakosta. Karena gereja Protestan dan aliran Pentakosta terbagi-bagi menjadi unsur gereja yang lebih kecil maka gereja-gereja Kristen Protestan (dan Pentakosta) memiliki banyak cabang bahkan disetiap daerahnya. Gereja-gereja tersebut dapat diklasifikasikan menurut ajaran teologi, kelompok etnis, bahasa pengantar, atau gabungan dari ketiganya.

Gereja Protestan

Berikut beberapa gereja Protestan yang ada di Indonesia. Cabang/pemekaran/pecahan dari suatu gereja ditandai dengan sub-bagian.

Gereja Kesukuan/Kedaerahan

Banyak jenis atau cabang gereja yang ada di Indonesia (di level provinsi) merupakan gereja yang bersifat kesukuan atau kedaerahan tertentu. Hal ini terjadi karena adanya politik gospel masa lalu oleh pihak Penjajah (Portugal ataupun Belanda) yag memakai taktik pendekatan suku.
Gereja kesukuan/kedaerahan ini berciri kedaerahan atau kesukuan tertentu menurut adat istiadat daerah setempat, yang mana merupakan tempat Gereja tersebut pertama didirikan, namun Gereja-gereja ini tetap terbuka bagi suku lain (adapula gereja yang tertutup untuk suku lain,namun kemungkinannya sangat kecil)
Gereja tersebut antara lain:
Catatan kecil
  • Catatan 1: Gereja Kristen Rejang merupakan gereja kesukuan yang tertutup bagi suku lain di luar suku yang bersangkutan dikarenakan gereja itu memiliki privasi dalam hal keanggotaan.

Menurut Denominasi

Pembagian Gereja-gereja beraliaran Protestanisme di Indonesia menurut denominasinya yaitu:

Gereja Reformasi atau Calvinis - Gereja Protestan di Indonesia - GPI dengan dua belas Gereja Bagian Mandiri (GBM) dalam lingkup GPI:

Gereja Lutheran (Evangelikel Lutheran)

Gereja-gereja Methodis

Gereja Methodis Indonesia - GMI

Gereja-gereja Menonit

Gereja-gereja Pentakosta – karismatik

Gereja Pusat Pantekosta Indonesia (GPPI)

Gereja Baptis

Gereja Baptis Independen

Gereja non-denominasi

Lain-lain

Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (Gereja Advent)

Gereja Ortodoks

Gereja Ortodoks adalah kelompok Kristen/Gereja pendatang yang paling mutakhir di Indonesia. Namun, menurut penelitian dari pakar-pakar sejarah dan arkeologi lama, sebetulnya Gereja Ortodoks ini justru adalah gereja yang pertama hadir dan datang ke Indonesia yang ditandai dengan/melalui kehadiran Gereja Nestorian yang merupakan corak gereja Asyiria di daerah Fansur (Barus),di wilayah Mandailing Sumatera Utara.
Tanpa diketahui sebab-sebabnya, Gereja yang kehadirannya diketahui lewat prasasti dari tahun 600-an M ini kemudian hilang begitu saja yang mungkin akibat faktor peperangan dan baru muncul kembali di Indonesia sekitar akhir tahun 1960-an dengan kedatangan Kansiah Orthodox Syiria dikota Samarinda. Di negara-negara Eropa Timur,Asia Kecil, Anatolia, Timur Tengah, Asia Selatan dan di India, Gereja Ortodoks telah hadir selama berabad-abad dan tidak pernah hilang seiring zaman berganti, khususnya di Timur Tengah, Gereja ini telah hadir sejak abad pertama ketika kali pertama Gereja Kristen terbentuk oleh para murid Yesus.
Gereja Ortodoks di Indonesia hadir secara resmi tahun 1960 dan pada 1980 gereja ortodokas memiliki nama resmi Gereja Ortodoks Indonesia (GOI), namun baru mendapat izin Departemen Agama pada tahun 2006. Ada juga Gereja Ortodoks yang jemaatnya bernaung di bawah ROCOR, Gereja Koptik Mesir dan Gereja ortodoks Habsyi. Selain itu terdapat Kanisah Ortodoks Siria (KOS) yang bukanlah lembaga gereja. Kehadiran KOS di Indonesia hanya sebatas wacana.

Gereja lainnya

Selain Gereja-gereja di atas, ada pula Gereja-gereja lain yang ajarannya sering dianggap terlalu jauh bedanya dengan Gereja-gereja Kristen yang disebutkan diatas tadi, gereja-gereja itu antara lain seperti : Gereja Mormon yang memiliki ajaran yang bertentangan dengan Bible, Saksi Yehuwa atau menara kudus Yehovah, dan Christian Science yang merupakan gerakan restorasi gereja, (lihat Restorasionisme).











          

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...