
PAK bagi anak digambarkan sebagai
sebuah proses yang menolong setiap anak untuk menempati setiap level
perkembangannya sampai pada kepenuhannya di dalam Kristus, dan juga dalam
menghadapi soal hidupnya dalam sebuah konteks konsep Kristen dan nilai dan
tuntunan kesaksian dari mereka yang lebih dewasa dalam iman. Juga sebagai
persiapan untuk hidup pada masa yang akan datang, yakni kehidupan pada masa
sekarang yang sedang menuju pada sebuah kapasitas yang paling penuh dari
jenjang usia dan dalam hadirat Allah.
Pada akhirnya anak dibawa pada
penggenapan diri dan kedewasaan iman yang dicirikan melalui:
1.
Penerimaan
dan pengalaman pribadi secara berkelanjutan akan Yesus sebagai Juruselamat dan
Tuhan di dalam segala realita hidup.
2.
Dewasa
dalam pengambilan keputusan dan dewasa dalam menghadapi resiko keputusan
hidupnya dengan menempatkan dan mengalami Kristus sebagai kedewasaan dalam
diri.
3.
Perilaku
yang mencerminkan kehidupan Kristiani yang bukan sebatas pelaku agamawi tapi
hakekat sejatinya adalah sebagai pribadi yang sudah mengalami Kristus dan
mengakui Kristus setiap hari dalam setiap perilaku hidupnya. Baik dalam segenap
kekurangan maupun kelebihan dirinya dia mau menyerahkan semua itu di dalam
pendidikan Allah secara pribadi.
4.
Kebenaran,
kekudusan sejati, dan mencapai kepenuhannya dalam meneladani Kristus. Ini bukan
dilihat dari perilaku lahiriah semata, tapi nampak secara batiniah kenyataan
Kristus yang didalami di dalam diri sebab inti dosa pun terletak bukan pada
perbuatan lahiriahnya tapi pada hukumnya yang ada di dalam diri.
Tingkat Usia anak dan perkembangannya.
Sebelum saya memberikan contoh sistem
pengajaran atau pendidikan yang tepat bagi anak-anak sesuai umur mereka, ada
baiknya kita kembali meninjau secara lebih detail tentang tingkat usia anak dan
keadaan emosional mereka sesuai tingkat usia tersebut. Adapun tinjauan di bawah
ini adalah pembagian tahap usia anak yang dikemukakan oleh R.C Miller seorang theolog
yang berpengaruh dalam pendidikan Kristen bagi anak-anak.
1.
Usia
0-15 tahun
a.
Perkembangan
jasmani/fisik.
Masa kanak-kanak dimulai setelah
melewati masa bayi yang penuh ketergantungan, yakni kira-kira usia 2 tahun
sampai anak matang secara seksual, kira-kira 13 tahun untuk wanita dan 14 tahun
untuk pria. Pertumbuhan selama masa awal kanak-kanak termasuk lambat
dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan masa bayi. Namun boleh dibilang semua
anggota-anggota tubuh walaupun masih dalam ukuran kecil sudah ada dan mulai
berfungsi. Sedangkan pada masa akhir kanak-kanak merupakan pertumbuhan yang lambat
dan relatif seragam sampai mulai terjadi perubahan-perubahan pubertas,
kira-kira dua tahun sebelum anak secara seksual menjadi matang pada saat mana
pertumbuhan berkembang pesat.
b.
Perkembangan
kognitif (belajar secara pribadi lewat pengalaman).
Pada stadium sensomotorik yaitu pada
usia 0-18 atau 24 bulan, anak menunjukkan daya intelegensianya yang nampak pada
aktivitas motorik sebagai reaksi stimulus sensorik. Pada usia ini yang
berlangsung adalah kegiatan bergaul dengan dunia lingkungan, dengan memakai panca
inderanya untuk menangkap segala sesuatu yang bergerak di sekitarnya.
Pada stadium pra operasional yaitu
pada usia 2-7 tahun,anak sudah mampu untuk melakukan tingkah laku simbolis.
Anak sudah mulai meniru dan dapat dikatakan kalau tahap ini adalah tahap
permulaan pemikiran kognitif walaupun belum sistematis dan kurang logis.
Pada stadium operasional konkrit
yaitu pada usia 7-11 tahun, anak mempunyai kapasitas mental untuk mengatur dan
menghubungkan pengalaman dalam suatu kesimpulan, memahami pembagian ruang,
waktu, membuat kategorisasi, menilai, mengerti hukum sebab-akibat, dan
sebagainya. Pada masa ini anak sangat menggemari aturan main yang mengatur
kegiatan bersama. Aktivitas logis tertentu dilakukan hanya dalam situasi yang
kongkrit.
Pada tahap operasional formal yaitu
pada usia 11-15 tahun, anak memasuki taraf kematangan intelektual di mana ia
mampu berpikir jauh melampaui dunia real dan keyakinan sendiri, yakni memasuki
dunia abstrak. Inilah awal berpikir hipoteris-dedukatif, yang merupakan cara
berpikir ilmiah. Anak mampu memakai pendekatan sistematis untuk memecahkan
problema dengan tidak hanya sekedar meniru dari orang lain di sekitarnya.
c.
Perkembangan
psikososial.
§
Pada
tahap kepercayaan dasar lawan kecurigaan dasar (usia 0-2 tahun), anak masih
sangat tergantung dengan pribadi yang mengasuhnya. Dengan kontak terhadap
pengasuh utamanya maka bangkitlah rasa kepercayaan anak terhadap orang lain.
§
Pada
tahap otonomi lawan rasa malu dan ragu (usia 2-4 tahun), anak mulai mengenal
wilayah kekuasaan orang tua terhadap dirinya dan wilayah kepemilikan dia
terhadap orang tua. Anak masih ragu-ragu menempatkan diri dalam batasan-batasan
wilayah antara dia dengan orang tua.
§
Pada
tahap inisiatif lawan rasa bersalah (usia 4-6 tahun), anak dengan kesanggupan
inderawi, motorik, dan kognitif yang sudah mulai berkembang telah merasa diri
cukup kuat untuk mengusahakan sesuatu, menyelediki, dan mencoba banyak hal
termasuk hal-hal yang sebenarnya belum mampu atau belum pantas dia lakukan. Di
tahap inilah kepercayaan diri anak dibentuk dengan kuat. Tahap di mana anak
rentan dengan masukan-masukan dari luar, apakah itu membangun atau tidak.
§
Pada
tahap kerajinan lawan rasa rendah diri (usia 6-11 tahun), anak akan
mengembangkan rasa kerajinan, daya konstruksi, dan semangat untuk mendapat
pengakuan dari orang lain.
d.
Perkembangan
pengambilan keputusan moral.
1.
Tahap
pra konvensional (usia 4-10 tahun).
§
Tingkat
1/Orientasi hukuman dan ketakutan.
Tahap ini anak mengetahui hal itu sebuah kebaikan jika tidak
menimbulkan kesakitan atau ketakutan.
§
Tingkat
2/Orientasi hukuman dan kepatuhan.
Tahap ini anak menilai perbuatan itu baik jika memuaskan
hati. Nilai-nilai hidup dinilai secara fisik dan pragmatis.
2.
Tahap
konvensional (usia 10-13 tahun).
§
Tingkat
3/Orientasi relativis instrumental.
Tahap ini anak mengenal perbuatan baik adalah perbuatan yang
menyenangkan dan yang dapat diterima oleh orang lain.
§
Tingkat
4/Orientasi hukum dan keadilan.
Anak mengenal perbuatan baik sebagai kewajiban diri sendiri,
menghormati otoritas dan menjaga tata tertib sosial yang ada sebagai yang
bernilai dalam dirinya sendiri.
e.
Perkembangan
iman.
1.
Tahap
kepercayaan elementer awal, (usia 0-3 tahun).
Tahap ini belum ada ciri-ciri iman secara nyata atau jelas
lewat ungkapan jasmaniah. Namun tahap ini adalah basis dari perkembangan rasa
percaya, berani, harapan, dan kasih untuk menunjang perkembangan emosionalnya
di tahap-tahap selanjutnya.
2.
Tahap
kepercayaan intuitif-proyektif, (usia 3-7 ahun).
Pada tahap ini anak berada dalam dunia fantasi dan imitasi
dari cerita-cerita yang disampaikan oleh orang-orang dewasa yang dekat
dengannya.
3.
Tahap
kepercayaan mistis-harafiah, (usia 8-11 tahun).
Pada tahap ini anak memasuki taraf di mana ia mengambil alih
cerita-cerita, kepercayaan serta tradisi dari persekutuan di mana ia menjadi
anggotanya, sebagai bagian dari dirinya.
R.C Miller mengungkapkan bahwa semua
lini sama pentingnya dalam memegang peran untuk mendidik anak menjadi pribadi
Kristen yang benar. Meskipun setiap lini memiliki ruang lingkup dan kapasitas
masing-masing. Lini tersebut adalah rumah, gereja, sekolah, dan masyarakat. Di
rumah pengajarnya adalah orang tua, di gereja pengajarnya adalah guru sekolah
minggu dan gembala, di sekolah pengajarnya adalah guru-guru, dan di masyarakat
pengajarnya adalah masyarakat itu sendiri. Pandangan ini tampaknya begitu sulit
terjadi mengingat ada banyak lingkungan masyarakat dan keluarga yang tidak
sepenuhnya Kristen ataupun hidup sebagai Kristen yang benar. Saya menyakini
bahwa sejak kanak-kanak seorang anak Kristen telah memiliki Roh Kudus dan Roh
Kudus itulah yang harus selalu dinyatakan kepada mereka agar mereka selalu
mengingat dan menikmati bahwa dalam diri mereka pribadi ada Pengajar yang
Sejati yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu.
No comments:
Post a Comment