Saturday, March 2, 2019

Pertumbuhan Dan Penghambatan Kristen Di Persia


Agama Kristen lahir di suatu tempat dan pada suatu waktu di mana berbagai kebudayaan dan kepercayaan bertemu. Akarnya  ada dalam agama Yahudi. Dalam perkembangan teologi Kristen muncul berbagai perbedaan antara Gereja Timur dan Gereja Barat. Mengenai antara hubungan Allah dan manusia. Gereja Roma berpikir secara praktis dan etis. Pokok persoalan utama yang dibicarakan adalah kebenaran; yaitu masalah dosa dan akibat dosa, pertobatan, dan kasih karunia Allah dalam pengampunan dosa. Yesus dianggap terutama sebagai Juruselamat. Perjamuan Kudus diberi tempat yang pokok, oleh karena sakramen tersebut kematian Tuhan Yesus di Kayu salib kita peringati. Orang-orang Kristen Asia lebih menekankan perasaan dan pengertian daripada kelakuan. Pokok utama bagi gereja Asia adalah perbedaan antara yang abadi  dan yang fana; apa yang diketahui untuk memperoleh hidup yang kekal.
Kesimpulannya: kota Antiokhia menjadi pusat pekabaran Injil ke dunia bukan Yahudi. Sumber-sumber unutk penginjilan di luar Kekaisaran Romawi sebagian bergantung pada legenda-legenda. Namun, trdisi bahwa Rasul Tomas mendirikan gereja di India didukung oleh penemuan-penemuan ilmu purbakala lain. Sudah terbukti bahwa Injil cepat tersebar di lembah Tigris-Efra, dengan perkembangan gereja yang kuat, yang berpusat di kota Edessa. Terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Siria memainkan peran bermakna dalam perkembangan jemaat. Gereja Asia purba memandang Kristus dari segi pertentangan antara yang fana dan yang abadi, sebagai Guru dan Penebus. Pengertian Asia itu dianggap dualistis oleh beberapa tokoh Gereja Barat, tetapi sekarang diterima sebagai suatu usaha mewujudkan kekristenan dalam konteks Asia.
Pertumbuhan Dan Penghambatan Di Persia
A.    Gereja Purba di Partia
Kerajaan Persia telah menguasai daerah Barat Tengah mulai abad ke-6 sampai abad ke-4 SM. Persia dikalahkan oleh Aleksander Agung, perintis dinasti Seleucid (Yunani). Kemudia pada tahun 247 SM bangsa Partia, pengembara-pengembara dari bagian utara, merebut kekuasaan di Asia Barat Tengah. Disana banyak corak kebudayaan dan agama yang berbeda-beda. Agama utama adalah agama Zoroaster. Dan masih banyak penganut-penganut lain. Imam-imam Zoroaster sering merampas rumah orang Kristen, menangkap dan menyiksa para penghuninya. Pada tahun 160 Uskup Abraham pergi ke Ktesiphon, ibukota Kekaisaran Partia, dengan tujuan memohon agar kaisar mengeluarkan edik melarang penyiksaan orang Kristen oleh imam-imam. Meskipun  gereja menghadapi penghambatan dari para tokoh Zoroaster, namun gereja terus berkembang.
B.     Penghambatan di bawah Kekaisaran Persia
Pada tahun 225 M propinsi Persia memberontak melawan Kekaisaran Partia. Dalam waktu satu tahun mereka merebut kekuasaan di seluruh daerah Kekaisaran Partia, dan memproklamirkan Ardasyair sebagai raja pertama dinasti Sassandi. Dengan peristiwa tersebut mulailah zaman Kekaisaran Persia yang kedua. Dinasti Sassanid menganggap dirinya sebagai ahli waris bangsa Media dan Persia. Mereka mempunyai cita-cita untuk memulihkan kejayaan Persia yang dulu, dan mempersatukan kekaisaran dalam satu agama. Pada tahun 226 agama Zoroaster dinyatakan sebagai agama negara Persia. Pada mulanya gereja tidak mengalami penghambatan, malahan berkembang. Kerajaan Persia Sassanid meneruskan peperangan melawan Kekaisaran Romawi.  Permusuhan antara Persia dan Roma begitu dahsyat sehingga orang Kristen yang mengungsi dari Roma karena dianiaya semakin diterima di Persia. Gereja di Persia maupun di Roma dianggap sebagai satu umat.
Kesimpulannya: Gereja berkembang di Persia, namun tetap merupakan kelompok minoritas. Agama Zoroaster (agama negara sesudah tahun 226) mempunyai susunan kepercayaan yang kuat dan hierarki magus-magus melawan agama-agama lain. Hubungan umat Kristen dengan saudara-saudara seiman di negara-negara lain menimbulkan kecurigaan, dengan akibat kebijakan pemerintah terhadap gereja selalu dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah Roma, dan juga oleh baik buruknya hubungan Kekaisaran Persia dengan Kekaisaran Romawi.
Umat Kristen di Persia mengalami penganiayaan yang pasang surut. Tahun 339-379 merupakan puncak penganiayaan. Penganiayaan kali ini sampai-sampai melemahkan gereja. Meskipun demikian, gereja bertahan, sampai akhirnya pada tahun 410 diberi status minoritas resmi dalam negara bukan Kristen. Gereja di Persia mengembangkan suatu identitas yang kuat; dengan ciri-ciri teologi bercorak Nestorian, sehingga akhirnya dikenal sebagai gereja Nestorian; dengan penghargaan tinggi terhadap hidup beraskese; dan semangat  besar untuk mengabarkan Injil ke seluruh dunia.
Gereja Dan Islam
Perluasan agama Islam yang cepat pada abad ke-7 merupakan tantangan besar bagi Kekristenan di Asia, bahkan yang terbesar dalam sejarah gereja. Di Arabia dan di Afrika iman Kristen nyaris musnah. Di Siria dan di Palestina gereja dibiarkan sebagai minoritas resmi dalam sistem ‘dhimmi’. Penyerbuan bangsa Turki, bangsa yang sangat kejam, pada abad ke-11 menambahkan penganiayaan, sedangkan Perang Salib, dengan tujuan membebaskan Tanah Suci, akhirnya membawa penderitaan dan memperburuk hubungan Kristen-Islam.
Penindasan sosial dan ekonomi di bawah pemerintahan Islam melemahkan gereja. Penderitaan umat Kristen mencapai puncak yang paling dahsyat dengan pembunuhan besar-besaran oleh tentara Tamerlan. Akibatnya gereja Asia hampir hilang, kecuali di Siria, India Selatan dan beberapa jemaat kecil yang terpencar-pencar di Asia.

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...