Agama
Kristen lahir di suatu tempat dan pada suatu waktu di mana berbagai kebudayaan
dan kepercayaan bertemu. Akarnya ada dalam agama Yahudi. Dalam
perkembangan teologi Kristen muncul berbagai perbedaan antara Gereja Timur dan
Gereja Barat. Mengenai antara hubungan Allah dan manusia. Gereja Roma berpikir
secara praktis dan etis. Pokok persoalan utama yang dibicarakan adalah
kebenaran; yaitu masalah dosa dan akibat dosa, pertobatan, dan kasih karunia
Allah dalam pengampunan dosa. Yesus dianggap terutama sebagai Juruselamat.
Perjamuan Kudus diberi tempat yang pokok, oleh karena sakramen tersebut
kematian Tuhan Yesus di Kayu salib kita peringati. Orang-orang Kristen Asia
lebih menekankan perasaan dan pengertian daripada kelakuan. Pokok utama bagi
gereja Asia adalah perbedaan antara yang abadi dan yang fana; apa yang
diketahui untuk memperoleh hidup yang kekal.
Kesimpulannya:
kota Antiokhia menjadi pusat pekabaran Injil ke dunia bukan Yahudi.
Sumber-sumber unutk penginjilan di luar Kekaisaran Romawi sebagian bergantung
pada legenda-legenda. Namun, trdisi bahwa Rasul Tomas mendirikan gereja di
India didukung oleh penemuan-penemuan ilmu purbakala lain. Sudah terbukti bahwa
Injil cepat tersebar di lembah Tigris-Efra, dengan perkembangan gereja yang
kuat, yang berpusat di kota Edessa. Terjemahan Alkitab ke dalam bahasa Siria
memainkan peran bermakna dalam perkembangan jemaat. Gereja Asia purba memandang
Kristus dari segi pertentangan antara yang fana dan yang abadi, sebagai Guru
dan Penebus. Pengertian Asia itu dianggap dualistis oleh beberapa tokoh Gereja
Barat, tetapi sekarang diterima sebagai suatu usaha mewujudkan kekristenan
dalam konteks Asia.
Pertumbuhan Dan Penghambatan Di Persia
A. Gereja Purba di
Partia
Kerajaan
Persia telah menguasai daerah Barat Tengah mulai abad ke-6 sampai abad ke-4 SM.
Persia dikalahkan oleh Aleksander Agung, perintis dinasti Seleucid (Yunani).
Kemudia pada tahun 247 SM bangsa Partia, pengembara-pengembara dari bagian
utara, merebut kekuasaan di Asia Barat Tengah. Disana banyak corak kebudayaan
dan agama yang berbeda-beda. Agama utama adalah agama Zoroaster. Dan masih
banyak penganut-penganut lain. Imam-imam Zoroaster sering merampas rumah orang
Kristen, menangkap dan menyiksa para penghuninya. Pada tahun 160 Uskup Abraham
pergi ke Ktesiphon, ibukota Kekaisaran Partia, dengan tujuan memohon agar
kaisar mengeluarkan edik melarang penyiksaan orang Kristen oleh imam-imam.
Meskipun gereja menghadapi penghambatan dari para tokoh Zoroaster, namun
gereja terus berkembang.
B. Penghambatan
di bawah Kekaisaran Persia
Pada
tahun 225 M propinsi Persia memberontak melawan Kekaisaran Partia. Dalam waktu
satu tahun mereka merebut kekuasaan di seluruh daerah Kekaisaran Partia, dan
memproklamirkan Ardasyair sebagai raja pertama dinasti Sassandi. Dengan
peristiwa tersebut mulailah zaman Kekaisaran Persia yang kedua. Dinasti Sassanid
menganggap dirinya sebagai ahli waris bangsa Media dan Persia. Mereka mempunyai
cita-cita untuk memulihkan kejayaan Persia yang dulu, dan mempersatukan
kekaisaran dalam satu agama. Pada tahun 226 agama Zoroaster dinyatakan sebagai
agama negara Persia. Pada mulanya gereja tidak mengalami penghambatan, malahan
berkembang. Kerajaan Persia Sassanid meneruskan peperangan melawan Kekaisaran
Romawi. Permusuhan antara Persia dan Roma begitu dahsyat sehingga orang
Kristen yang mengungsi dari Roma karena dianiaya semakin diterima di Persia.
Gereja di Persia maupun di Roma dianggap sebagai satu umat.
Kesimpulannya:
Gereja berkembang di Persia, namun tetap merupakan kelompok minoritas. Agama
Zoroaster (agama negara sesudah tahun 226) mempunyai susunan kepercayaan yang
kuat dan hierarki magus-magus melawan agama-agama lain. Hubungan umat Kristen
dengan saudara-saudara seiman di negara-negara lain menimbulkan kecurigaan,
dengan akibat kebijakan pemerintah terhadap gereja selalu dipengaruhi oleh
kebijakan pemerintah Roma, dan juga oleh baik buruknya hubungan Kekaisaran
Persia dengan Kekaisaran Romawi.
Umat
Kristen di Persia mengalami penganiayaan yang pasang surut. Tahun 339-379
merupakan puncak penganiayaan. Penganiayaan kali ini sampai-sampai melemahkan
gereja. Meskipun demikian, gereja bertahan, sampai akhirnya pada tahun 410
diberi status minoritas resmi dalam negara bukan Kristen. Gereja di Persia
mengembangkan suatu identitas yang kuat; dengan ciri-ciri teologi bercorak
Nestorian, sehingga akhirnya dikenal sebagai gereja Nestorian; dengan
penghargaan tinggi terhadap hidup beraskese; dan semangat besar untuk
mengabarkan Injil ke seluruh dunia.
Gereja Dan Islam
Perluasan
agama Islam yang cepat pada abad ke-7 merupakan tantangan besar bagi
Kekristenan di Asia, bahkan yang terbesar dalam sejarah gereja. Di Arabia dan
di Afrika iman Kristen nyaris musnah. Di Siria dan di Palestina gereja
dibiarkan sebagai minoritas resmi dalam sistem ‘dhimmi’. Penyerbuan bangsa
Turki, bangsa yang sangat kejam, pada abad ke-11 menambahkan penganiayaan,
sedangkan Perang Salib, dengan tujuan membebaskan Tanah Suci, akhirnya membawa
penderitaan dan memperburuk hubungan Kristen-Islam.
Penindasan
sosial dan ekonomi di bawah pemerintahan Islam melemahkan gereja. Penderitaan
umat Kristen mencapai puncak yang paling dahsyat dengan pembunuhan
besar-besaran oleh tentara Tamerlan. Akibatnya gereja Asia hampir hilang,
kecuali di Siria, India Selatan dan beberapa jemaat kecil yang terpencar-pencar
di Asia.

No comments:
Post a Comment