“Aku
tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu.”
Yohanes
14 : 18.
Ada seorang yang baru saja
ditinggalkan ayahnya. Dia amat merasa kehilangan bahkan perasaan itu amat jelas
nyata dalam hidupnya sehari-hari meski telah beberapa bulan berlalu. Setiap
orang yang ditinggalkan tentu merasakan hal yang sama. Ada saat beberapa dari
mereka yang ditinggalkan mengalami mimpi di mana mereka bertemu dengan keluarga
yang telah meninggalkan mereka yaitu yang sudah meninggal menjumpai mereka dan
memanggil mereka untuk datang bersama-sama di alam akhirat. Kejadian mengalami
mimpi seperti itu bisa dipicu oleh betapa besar rasa sayang terhadap keluarga
yang meninggal itu atau pun bisa juga karena tindihan beban kehidupan dan
masalah hidup yang sedang dialami yang mengakibatkan rasa putus asa dan kepasrahan. Akhirnya jiwa yang dirundung duka itu
terbawa oleh suasana kerinduan terhadap keluarga yang sudah tiada dan akhirnya
terbawa mimpi. Umumnya mimpi mereka sama, dijumpai oleh orang terkasih yang
telah meninggal dan dipanggil untuk segera datang kepada kerabat yang telah
tiada itu. Padahal di dunia ini masih banyak dan masih ada kerabat serta orang
tua yang masih hidup dan harus ditemani untuk saling menjaga.
Ada
yang mengaku dijumpai ayahnya dalam mimpi untuk segera meninggalkan dunia dan
bergabung dengan kerinduan. Namun saya yakin jika itu benar oknum seorang ayah
maka permintaanya pasti bukan soal tinggalkan dunia dan bergabung dengannya di
alam sana melainkan mengingatkan agar terus saling menjaga dengan anggota
keluarga yang masih hidup di dunia. Saling menjaga dan menguatkan dalam Tuhan
Yesus. Jika saudara pernah mengalami mimpi serupa, marilah kita dalami dan peka
dalam Tuhan Yesus bahwa kita tidak akan mudah tertipu oleh dosa dan iblis yang
hendak menjembatani setiap perasaan dan pengalaman sedih kita. Sebab kebenaran
Yesus tentu menginginkan kita untuk tetap jalani hidup bersama keluarga yang
masih ada dengan kita untuk kita semakin saling peduli
dan menjaga satu sama lain. Demikian pula pastinya dengan mereka yang telah
mendahului kita, pasti mereka pun ingin kita menemani keluarga yang masih ada
dengan kita saat ini, dan bukan meninggalkannya. Perhatikanlah sekeliling kita
dalam pemahaman Kristus. Bahwa banyak orang di sekitar kita yang membutuhkan
kehadiran kita. Bukan saja mereka yang mengasihi kita tetapi mereka yang
membenci kita pun sebenarnya butuh akan kita. Mereka butuh Kasih Yesus lewat
kita meskipun mereka tidak menyadari itu. Hingga akan datang waktunya di mana
Yesus yang akan menyatakan diriNya atas mereka lewat kita untuk menyadarkan
mereka.
Ayat di atas adalah
janji Yesus untuk datang kembali dan tidak meningalkan kita sendiri. Ini bukan
hanya berarti kedatanganNya kedua kali saat akhir zaman tetapi berbicara Dia
kembali sejak setelah Dia terangkat ke surga. Dia kembali dalam wujud Roh,
yaitu Roh Kudus atau Roh Kristus sebagaimana sering disebut Paulus. Dia tinggal
di dalam kita. Itulah sebabnya Dia selalu bisa menyertai kita sebab Dia bukan
hanya ada sebatas di atas sana atau di luar kita tetapi intinya Dia ada dan
hadir di dalam kita oleh Roh Kudus yang adalah Dia sendiri, Allah kita.
Marilah saudara,
semakin kita dihimpit oleh duka biarlah semakin kita lekat dengan Yesus hingga
kita semakin menikmati kehadiranNya di dalam kita yang mengalahkan segala
sesuatu. Dia mengalahkan segala sesuatu berawal dari dalam diri kita di mana
perasaan kita sendiri pun ditaklukkan kepada Dia, apalagi realita hidup yang di
luar kita, itu takluk dengan sendirinya. Inilah kemenangan kita dalam Yesus,
menaklukkan segala sesuatu dari dalam diri kita. Inilah yang tidak bisa
dilakukan oleh siapapun di dunia ini kecuali oleh Yesus di dalam kita.
Semakin Yesus
menaklukkan semua perasaan kita kepada kebenaranNya hingga dosa di dalam kita
musnah maka semakin kita bebas menjalani hidup. Kebebasan bukan soal kita bebas
melakukan ini dan itu sebagaimana paham dunia yang terbatas oleh dosa tetapi
Kebebasan Allah di sini adalah soal kenyamanan dan kedamaian dan kepuasan dalam
batin secara Rohani. Itu hasil kerja Roh Kudus oleh penyerahan diri kita setiap
hari dan bahkan setiap saat.
Banyak orang merasa
sendiri dalam keadaan dirinya ataupun keadaan lingkungannya. Seolah tiada yang
menghibur mereka dan kehilangan gairah hidup. Tetapi kita memiliki Yesus dalam
segala hal hingga kita tidak benar-benar sendiri dan memang tidak sendiri.
Hingga akhirnya kita mendalami bahwa tanpa Yesus semua orang sejatinya telah
merasa sendiri, tidak ada yang benar-benar bisa memahami kita dengan jelas dan
benar bahkan orang terdekat sekalipun memiliki keterbatasan untuk mengenal dan
selalu memahami kita. Dalam hal ini kita sebenarnya sendiri. Tidak ada manusia
manapun yang benar-benar bisa selalu memahami kita dengan benar dan bisa
benar-benar merasakan apa yang kita rasakan. Hanya perbedaannya adalah ada yang
tampak memiliki banyak kerabat dan teman dan ada yang tampak tidak memiliki
siapapun. Namun jika ditelaah jauh kedalaman batin dan secara rohaniah maka
didapati semua manusia dalam keterbatasan dosa adalah sendirian. Sebab dosa pun
adalah tanggungan sendiri, keselamatan pribadi pun sifatnya adalah perorangan.
Nanti
di dalam Yesus baru kita dikatakan tidak sendiri sebab dalam Yesus baru ada hubungan
dengan Allah. Awal dari ketidaksendirian adalah keterhubungan dengan Allah
kembali. Sebab hanya Yesus yang benar-benar bisa selalu memahami kita dengan
benar. Hanya Yesus yang sanggup menanggung beban dosa kita dan mengalahkannya.
Hanya Yesus yang sanggup mengerjakan keselamatan bagi kita. Dalam hal ini
bagian kita hanyalah menyerahkan diri dan memberi diri setiap saat. Dialah yang
mengerjakan keselamatan di dalam kita sebagaimana Rasul Paulus sering
menuliskannya dalam surat-suratnya.
Tiada jua manusia yang sanggup mengerjakan keselamatan kecuali meluaskan
Allah yang mengerjakan itu di dalam diri kita dan bagi kita. Itu hanya terwujud
dengan hadirnya Yesus dalam hidup kita. Di dalam Yesus dan dalam penyertaanNya
selalu barulah kita bisa saling menemani dengan benar. Sebab menemani sesama
dengan benar berawal dari turut hadirnya Yesus di dalamnya. Inilah baru
dikatakan saling menemani dan tidak sendiri. Pertama kita memiliki Yesus
sebagai dasarnya yang kuat baru kita memiliki sesama dalam ikatan Kristus.
Hubungan sebatas
dunia itu sendirian dan kesepian sifatnya meski kelihatan tampak semarak dan
penuh banyak rekan. Sebab kesepian tidak dinilai dari suasana luar dan
sedikitnya kerabat dan teman yang engkau
miliki, tetapi kesepian dan kesendirian adalah keadaan batiniah jiwamu yang
merasa sendiri dan memiliki kekosongan. Setiap manusia ciptaan Allah sebenarnya
memiliki kekosongan sejak terpisah dari Allah oleh karena dosa. Namun kita yang
sudah dalam Yesus telah menikmati Dia mengisi kembali kekosongan diri kita agar
kita menikmati Dia dalam segala realita dunia yang kita alami. Hingga apapun
keadaan kita, kita tidak merasa sendiri karena kita memiliki Dia dalam segala
hal. Ada Yesus Kristus bagi kita.
Manusia duniawi
mencari dan mengisi kekosongan itu tidak dalam Yesus tetapi sebatas dalam
dunia. Mereka akan saling berhubungan untuk memenuhi hasrat diri namun tidak
akan pernah menemukan kehadiran sejati dari siapapun yang mereka harapkan.
Sebab kehadiran sejati yang bisa mengisi kekosongan dan ketidakpuasan kita
hanyalah Yesus Kristus. Dalam Dialah baru kita bisa belajar saling mengisi
kekosongan sesama dengan benar sebab kita menyertakan Yesus. Jika dahulu dosa
banyak membuat kita diperbudak oleh rasa ditinggalkan dan kehilangan maka sekarang
biarlah Kebenaran Kristus yang akan banyak membuat kita dibebaskan oleh iman
yang selalu merasakan kehadiran Allah yang tidak akan pernah menghilang dari
kita. Dia ada dan tetap ada, selalu ada bagi kita dari kekal sampai kekal.
Karena itulah kita tahu bersama bahwa Yesus disebut Allah Alfa dan Omega, yang
Awal dan yang Akhir di mana Dia tetap ada dalam kekekalan. Dia menjadi awal
bagi hidup kita dan menjadi akhir bagi hidup kita, baik di dunia saat ini
maupun dalam kekekalan.

No comments:
Post a Comment