“Barangsiapa
mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak
ada penyesatan.”
1
Yohanes 2 : 10.
Ketika saya menjalani
tugas kerja sebagai wartawan lepas di beberapa buletin dan media cetak lokal,
saya menimba begitu banyak pengalaman di jalan-jalan dan lingkungan umum. Ada
banyak kali saya bertemu orang dari latar belakang sosial dan ekonomi yang jauh
berbeda. Saya benar-benar merasa terjun langsung dalam kenyataan dunia yang
keras dan realita kesenjangan sosial yang begitu renggang. Di kota besar
berkembang seperti manado hal itu sudah mulai nyata terasa dan nampak.
Pada suatu kali saat
saya berada di lingkungan Sekolah tinggi Unsrat Manado saya melihat seorang
bapak setengah baya dengan badan renta mengais-ngais tumpukan sampah yang
menggunung di bak pinggir jalan. Dia lalu merogoh sebongkah kue panada yang masih terbungkus plastik dan
memakannya. Pakaiannya nampak amat kotor dan dia berjalan dengan sebuah karung
untuk menaruh apa-apa yang dapat diambilnya. Saya merasa iba, merogoh sejumlah
uang dan memberikan kepadanya lalu bergegas pergi tanpa mau dilihat orang.
Pada suatu malam
ketika saya hendak pulang dan menanti mobil penumpang jurusan Karombasan, saya
bertemu seorang ibu di ruas jalan Samrat-Wanea tepat di pertigaan dekat Ruko
Golden. Di situ ibu tersebut duduk dengan menggendong balita dan di sampingnya
ada seorang anak perempuan berusia 8-9 tahunan. Ini adalah malam kedua saya
melihat ibu tersebut di situ namun baru kali ini saya berkesempatan untuk
berbincang dengan dia. Dia bercerita tentang orang tua dari anak-anak yang
adalah cucunya itu. Ayah mereka meninggalkan mereka tanpa kabar hingga
bertahun-tahun. Ibu mereka pun demikian juga, pergi ke luar pulau bekerja dan
tiada lagi kabar dan kiriman uang sepeser pun. Ibu itu sendiri tinggal
dikontrakan dengan kedua cucunya dan telah menunggak bayaran selama beberapa
bulan hingga dikeluarkan oleh pemilik rumah. Prihatinnya lagi adalah dia
bekerja sebagai pencuci baju gajinya tidak dibayar beberapa kali. Putus asa dan
tak tahu harus kemana dan bagaimana membuat dia akhirnya duduk di pinggir
jalan. Terlepas dari gumaman banyak orang seputar kegiatan menipu dari
orang-orang tertentu, saya merasa iba dan tergerak memberikan sejumlah uang
yang setidaknya bisa meringankan keadaan ibu tersebut. Terlalu bodoh jika ada
orang yang tidak benar-benar susah lalu mau melakukan tindakan sememalukan itu.
Keesokan malamnya saya sudah tidak melihat ibu tersebut di tempat biasanya.
Semoga dia telah menikmati keadaan yang lebih baik dan mengalami solusi.
Saya pernah juga bertemu seorang lelaki tua yang
berpakaian compang-camping dan mengemis. Beberapa orang menyebut dia setengah
tidak waras, namun karena dia menatap terus pada bungkusan plastik milik saya
yang baru saya beli berisi kue, maka saya memberikan itu kepadanya beserta
sejumlah uang. Bekerja di tengah kehidupan jalanan yang keras dan penuh
tantangan membuat saya merasa peka dengan kesusahan orang lain. Saya masih
ingat dengan undang-undang negara kita
pada pasal 34 ayat 1 yang berbunyi fakir miskin dan anak-anak terlantar
dipelihara oleh negara. Amin, mari doakan agar itu benar bisa terlaksana.
Setiap orang punya rasa iba. Mari kita sertakan Yesus dan serahkan pada
Yesus rasa iba tersebut sebab jika tanpa adanya Dia maka rasa manusiawi kita
akan sia-sia. Lakukan segala sesuatu seperti untuk Tuhan. Ini artinya kita
memberi dalam Yesus. Jika kita hendak memberi baik berupa materi ataupun moril
hendaklah kita menikmati Kristus di dalamnya. Sebab segala sesuatu akan fana
jika tanpa adanya Yesus. Ingat peristiwa saat Petrus ada di serambi Salomo? Di
situ dia menyembuhkan seorang pengemis yang lumpuh. Petrus berkata bahwa emas
dan perak dia tidak punya tapi dia memberikan Yesus orang Nazareth itu kepada
pengemis tersebut. Pengemis itu sembuh dan pergi dari sana, sejak itu dia tidak
mengemis lagi.
Kita ada di dalam
terang Kristus. TerangNya menerangi diri kita, ini yang pertama dan inti dari
segala aspek hidup kita. Semua berawal dari diri kita sendiri, di mana Dia
hadir di dalam kita dan semakin hari semakin menerangi kita secara pribadi.
Kita semakin mengenali diri kita dan menguasai diri kita. Semua hal yang
sifatnya di luar itu akan nampak jelas dengan sendirinya, sebab diri kita sendiri
telah jelas nampak bagi kita karena Kristus.
Terang tanpa
mengasihi itu bukan terang, dan kasih tanpa menerangi itu bukanlah kasih
sejati. Keduanya satu di dalam Yesus. Yesus mengasihi dalam terang dan
menerangi dalam Kasih. KasihNya adalah terang dan terangNya adalah Kasih. Itu
satu dalam Yesus dan tidak terpisah. Kita yang menerima Yesus menikmati itu
pula dan makin mendalaminya dan melakukannya. Kasih tidak diukur sebatas
pemberian harta, uang, atau materi, itu hanya satu bagian dari kasih dan
pemberian. Kasih dan pemberian itu utuh dalam keseluruhan hidup kita dalam
Yesus. Pemberian diri kepada Allah, kepada keluarga dan sesama. Berbagai
dukungan moril, kepedulian, saling menguatkan, saling melengkapi, itu semua
adalah kasih. Hingga akhirnya kita mendapati bahwa semua yang dilakukan dalam Yesus
adalah kasih dan berarti mengasihi. Bukankah alkitab menulis dalam surat
Yohanes bahwa Allah adalah Kasih? Ya itu bicara keutuhan pribadiNya. Jadi kita
yang tinggal di dalam Allah berarti ada di dalam kasih. Seluruh aspek hidup
kita berarti mengasihi. Kasih itu bukan bicara sebatas sikap memberi, sikap
menyayang, sikap halus menghibur tetapi bicara segala sesuatu dalam Yesus.
Berhikmat dalam kasih, bertindak dalam Kasih, beriman dalam kasih, tegas dalam kasih,
mendidik dalam kasih, berencana dalam kasih, dan sebagainya. Seluruh aspek
hidup kita menjadi kasih di dalam Yesus. Jika kita selalu menempatkan ukuran
kasih sebatas materi ataupun hal-hal lahiriah semata maka kita akan temui bahwa
dunia pun memiliki kasih meskipun di
mata Allah itu bukan benar-benar kasih, tetapi kasih imitasi, kasih yang palsu.
Kasih sejati sudah datang dan tinggal di dalam kita, Dialah Yesus Kristus bagi
kita. Kita mengasihi bukan lagi sebatas dengan diri sendiri melainkan dengan
kasihNya dan kehadiranNya.
Ayat di atas berkata
dia yang mengasihi saudaranya berarti berada di dalam terang dan di dalam dia
tidak ada penyesatan. Pertama kita tahu bersama dan harus kita akui bahwa yang
utuh mengasihi saudaraNya dan sesamaNya adalah Yesus. Itulah mengapa Dia
disebut terang dunia, dan di dalam Dia tidak ada penyesatan sebab kasihNya
mendidik dan menguatkan dalam kebenaran dan bukan sebatas kasih dunia yang buta
dan fana. Kita yang sudah menerima Yesus dan tinggal di dalam Yesus menikmati
hidup dalam kasih akan sesama, berada dalam terang.
Kita hanya perlu
makin memberi diri kita dalam segala kelemahan dan keterbatasan kita agar kita
semakin menikmati terang Kristus di dalam kasih dan menikmati Kaish Kristus di
dalam terang. Kita semakin menikmati Kristus saat kita mengasihi dan semakin
menikmati Kristus saat kita menerangi sesama. Hingga yang muncul bukanlah
penyesatan dan menghakimi melainkan Kebenaran. Saya ingat ada seorang teman
dosen pernah berkata kepada saya menanggapi apa yang kami perbincangkan dengan
sebuah kesimpulan indah. Dia berkata; “Kita semakin memberi diri di dalam Dia
hingga akhirnya kitta melewati keterbatasan.”
Inilah penyempurnaan Allah yang dikerjakanNya di dalam kita, di mana di
dalamNya semua adalah Satu dan utuh.

No comments:
Post a Comment