Saturday, December 3, 2022

TINJAUAN KRISTOLOGI, SIAPAKAH KRISTUS BAGI KITA? (Bahasan terakhir)

Katamu, Siapakah Aku? “Dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus dan dapat mengenal kasih itu sekalipun is melampaui segala pengetahuan supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (Ef 3:17-19). Berbagai gambaran Yesus telah dikemukakan. Telah dibahas pula bagaimana Yesus diserahkan kepada berbagai kebudayaan, bagaimana Ia diterima dan ditanggapi. Tentu saja masih banyak yang dapat dikemukakan. Namun dalam hal ini tidak mungkin kita mencapai kelengkapan. Banyak persoalan dasariah yang diketengahkan dalam bab-bab terdahulu yang perlu mendapat jawaban. Baik pandangan Yahudi maupun pandangan Islam mengharuskan kita memikirkan pertanyaan apakah kita tidak terlalu sering membicarakan tentang Yesus, sehingga Ia kelihatannya sama dengan Allah. Keberatan Qur’an terhadap penafsiran Kristen mengenai pribadi dan peker¬jaan Yesus sebagian besar menyangkut masalah ini. “Suara-suara yang menentang” ini menegaskan agar kaum Kristen dari kebudayaan manapun hendaknya jangan berbicara tentang Yesus sedemikian rupa, sehingga kepercayaan kepada Allah Yang Maha Esa dibahayakan. Berdasarkan kesaksian dalam Perjanjian Baru, tidak disangsikan lagi, bahwa dalam pikiran dan kepercayaan Yesus yang historis itu, Allah sendirilah yang adalah pusat. Dalam Injil menurut Markus (12:29-30), Yesus mengutip pengakuan yang terkenal dari Ulangan 6:4, sebagai Hukum yang pertama: “Dengar¬lah, hai orang Israel, TUHAN Allah kita, TUHAN itu esa”. Dalam percakapan-Nya dengan pemuda kaya, Yesus menjawab sapaannya, “Guru yang baik”, dengan, “Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain daripada Allah saja” (Mrk 10:18, bnd. Luk 18:19). Gambar Yesus yang dirancang Naguib Mahfin mungkin tidak mewakili pandangan Islam pada umumnya, namun dengan cara yang luar biasa ia memberikan pengertian terhadap kehidupan, penderitaan dan kematian Yesus. Inilah suatu tantangan bagi seorang Kristen, bagaimana seorang muslim menggambarkan penjelmaan hidup Yesus, yang tanpa kekerasan yang tidak terikat pada kekuasaan atau kepunyaan, yang penampilan-Nya semata¬mata “rohani” (Yesus sebagai pengusir roh-roh jahat). Namun tindakan-tindakan-Nya dilihat sebagai ancaman oleh para penguasa. Itu juga sebabnya mengapa mereka mengadili Yesus. Teolog kulit hitam Gayraud Wilmore menegaskan, bahwa pada saat kaum Kristen berhubungan dengan ras-ras lain, Yesus akhirnya menjadi “putih”. Gagasan ini membenarkan pendapat bahwa gambar-gambar asli dari Yesus tidak dimaksudkan untuk mengemukakan ciri-Nya sebagai “keturunan Sem”. Akan tetapi ia mengungkapkan dengan tepat kenyataan bahwa dalam “penye¬rahan” Yesus oleh zending dan misi, perubahan warna kulit-Nya (sebagai orang Eropa dan berkulit putih) “lambat laun” merusak “penyerahan” yang sesungguhnya. Namun demikian adalah tidak mungkin untuk membahas seluruh aspek dari gambar-gambar tersebut dalam berbagai-bagai kebudayaan, begitu pula untuk menjawab semua pertanyaan yang timbul dalam hubungan ini. Yang selalu dipersoalkan ialah, apa yang dinamakan pemahaman kontekstual dari Yesus Kristus. Pectanyaan yang selalu timbul dalam hubungan ini ialah: yang mana kontekstualisasi asli dan yang mana yang palsu? Di mana Ia diserahkan dan di mana Ia dikhianati? Pertanyaan-pertanyaan yang penting sekali, yang telah dikemukakan dan akan dijawab dalam bab terakhir ini ialah: A. Bagaimana hubungan Yesus Kristus dengan kebudayaan¬kebudayaan? B. Apa hubungan gambar-gambar mengenai ini dengan Perjan¬jian Baru? C. Apakah Yesus Kristus penyelamat dan/atau pembebas? D. Akhirnya bagaimana hubungan antara mengenal Yesus Kristus dan mengikut Dia? A. Kristus dan kebudayaan-kebudayaan Dalam zaman kita ini kembali dipertanyakan dengan tegas bagaimana hubungan Yesus Kristus dan agama Kristen dengan kebudayaan. Pada suatu pertemuan yang diselenggarakan oleh Komisi Misi dan Penginjilan se-Dunia di Bangkok pada tahun 1973/74 dinyatakan: “Kebudayaan adalah suara manusia yang menjawab panggilan Kristus”. Teolog bangsa Asia, Choan Seng Song, mengatakan bahwa orang Kristen yang tidak dikaruniai mata “Jerman” tidak boleh dihalangi untuk melihat Yesus dengan cara lain. Mereka harus melatih diri untuk melihat Kristus melalui mata orang Cina, Jepang, Asia, Afrika dan Amerika Latin. Sebagai contoh is sendiri menunjuk pada gambar tentang salib Kristus, ciptaan seorang seniman Jepang. Gambaran Giichiro Hayakawa, menurut dia, adalah suatu contoh yang baik dari ketenangan di tengah amukan badai. Ia menyebut ungkapan itu Kristus-sibui. Sibui adalah kemahiran untuk mengalihkan pengen¬dalian din terhadap kehidupan dan dunia kepada orang lain. Sibui adalah kefasihan berbicara dalam berdiam diri, agresif dalam kepasrahan, kuat dalam menguasai difi. “Yang kita jumpa di sini adalah seorang Kristus-sibui, Kristus yang tidak menunjukkan perasaan batin dan hawa nafsu, Kristus yang menghadapi kemati¬an-Nya dengan tenting. Bukankah itu menunjukkan bahwa kerohanian Sibui dilihat berada dalam Penyelamat dunia?” Apakah semua gambar “lain” yang kita lihat benar dan berdasarkan kenyataan; apakah mereka merupakan bagian dari keseluruhannya dan apakah bersama-sama, mereka membentuk gambar Yesus Kristus secara lengkap? Atau apa mungkin ada pengkhianatan, penyangkalan, penggelapan terhadap gambar Yesus? Apakah benar tidak ada pandangan tentang Kristus, tidak ada gambar dari Dia tanpa pemalsuan, sebagaimana dikemukakan oleh Song? Dahulu H. Richard Niebuhr mengemukakan dalam karya tulisnya Kristus dan Kebudayaan lima kedudukan Kristus yang berbeda, yang dapat merupakan jawaban atas pertanyaan bagaima¬na hubungan Kristus dengan kebudayaan yang beraneka ragam. Niebuhr menyebut berturut-turut: 1. Kristus yang menentang kebudayaan; 2. Kristus milik kebudayaan; 3. Kristus di atas kebudayaan; 4. Kristus dan kebudayaan dalam hubungan paradoksal; 5. Kristus sebagai perubah bentuk kebudayaan. Posisi pertama menurut Niebuhr tidak memuaskan, sebab posisi tersebut menuju ke spiritualisme, yang membiarkan dunia terlantar. Mengenai kedudukan kedua, yang antara lain dapat dilihat dalam Protestanisme - kebudayaan, juga tidak menyenang¬kan hatinya. Dalam posisi itu Kristus menjadi kegenapan dari harapan-harapan yang terbaik dalam kebudayaan tertentu. Jelaslah di sini bahwa Niebuhr mengutamakan ketiga kedudukan yang terakhir, karena di satu pihak kedudukan tersebut membuat kebudayaan itu dapat dinilai, di lain pihak juga mencari cara untuk mengukuhkannya. Sebagai wakil dari posisi “Kristus di atas kebudayaan” is menyebut Thomas Aquino. Aquino mengatakan, bahwa orang dapat memperoleh sebagian kegenapan, tetapi kegenapan manusia yang tuntas hanya dapat dicapai oleh anugerah Allah. Salah satu keberatan yang dikemukakan Niebuhr dalam hubungan ini ialah, bahwa jika kits menerima kehidupan bermasyarakat yang demiki¬an, maka tercipta suatu agama yang konservatif dinilai dari segi budaya, sosial dan politik. Pada posisi yang keempat, “Kristus dan kebudayaan dalam hubungan paradoksal”, terlihat adanya perbedaan antara Kristus dan kebudayaan, namun kedua-duanya tetap dipegang teguh. Orang terkesan oleh pengampunan dan pendamaian Allah, dan karena itu juga oleh dosa manusia. Terutama Martin Luther yang berpegang pada pola pemikiran seperti itu, demikian menurut Niebuhr. Dari seluruh susunan bagan ini nyata bahwa Niebuhr men¬jurus ke posisi kelima, yang dirasakannya paling masuk akal. Pandangan ini, bahwa “Kristus mengubah bentuk kebudayaan”, didasarkan atas tiga pendapat teologis. 1. Umat manusia hidup oleh kuasa Sabda Pencipta; oleh karena itu kebajikan Allah melaiui daya cipta terdapat dalam kebudayaan manusia. 2. Manusia membalikkan kebajikan yang ada dalam ciptaan menjadi pemberontakan terhadap Allah. yang mengakibat¬kan kebinasaan. Kebudayaan boleh jadi berdosa, namun tidak perlu adanya suatu peninjauan kembali yang apokalip¬tis, atau suatu ciptaan baru. Tetapi yang dibutuhkan adalah hanya pertobatan radikal. 3. Sejarah akan menjadi interaksi dinamis yang terbuka antara Allah dan umat manusia. Bilamana bagan ini diterapkan pada Kristus dan berbagai kebudayaan, maka dapat dikatakan bahwa selalu ada banyak orang yang berpendapat, bahwa Kristus bersikap menentang langsung kebudayaan-kebudayaan lain. Baik di Asia maupun di Afrika dan tidak kurang dari itu di Amerika Latin (dalam hubungan dengan kebudayaan dan agama Indian asli), sikap zending dan misi adalah sesuai dengan “Kristus yang menentang kebudayaan”. Di Afrika lazimnya orang bersikap bermusuhan terhadap kepercayaan dan kebudayaan tradisional. Cara hidup Afrika kebanyakan kali ditolak sama sekali. Juga terhadap agama-agama di Asia pada umumnya tidak berbeda posisinya. Sebagai pembelaan dari sikap yang lebih menghargai kebudaya¬an dapat dikutip amanat Paus Paulus vi yang ditujukan kepada uskup-uskup Afrika di Kampala, Uganda, dalam bulan Juli tahun 1969. Ketika itu ia berkata bahwa langage, yakni cara untuk memanifestasikan kepercayaan yang satu-satunya itu, dapat saja dengan banyak bentuk. Karena itu cara itu dapat bersifat asli, selaras dengan bahasa, gaya, temperamen, bakat dan kebudayaan, dengannya kepercayaan yang satu-satunya itu dianut. “Dalam pengertian itu Saudara harus memiliki agama Kristen yang berciri khas Afrika.” Pada umumnya kalimat sebelumnya, yang agak meredakan keterbukaan pendapat itu, tidak disebut: “Di atas segalanya Gereja Saudara harus Katolik. Dengan kata lain, ia harus didasarkan seutuhnya atas tradisi para Bapa Gereja, yang secara hakiki sama isinya dengan ajaran Kristus, yang diaku oleh tradisi ash dan disahkan oleh gereja yang esa dan benar.” Teolog-teolog Katolik Roma dari India, seperti J.N. Farquhar dan Raymond Panikkar,7 dapat digolongkan sebagai penganut dari posisi yang ketiga, yaitu “Kristus di atas kebudayaan”. Bahkan mereka mungkin juga menyatakan apa yang disebut oleh Niebuhr bahaya konservatisme dalam bidang sosial dan politik, yang terkait dengannya. Pendekatan seperti yang dilakukan oleh Stanley Samartha lebih cocok dengan posisi kelima, “Kristus sebagai perubah kebudayaan”, karena is ingin menanggapi secara men¬dalam konteks Hindu, tetapi sekaligus mengemukakan kritikannya yang tajam terhadap ajaran tersebut. Betapapun jelas dan berguna, sampai tahap tertentu bagan ini ada kecenderungan untuk berkesimpulan, bahwa siapapun Yesus itu, Ia senantiasa dianggap sudah dikenal. Pertanyaan yang timbul bilamana mengutamakan posisi kelima ialah: Siapa yang meng¬adakan perubahan terhadap siapa? Apakah tidak mutlak perlu dinyatakan, bahwa ada pengaruh timbal balik antara Kristus dan kebudayaan-kebudayaan. Bukan Yesus Kristus saja yang mengubah atau mentransformasikan bentuk kebudayaan yang lain, tetapi kebudayaan dan agama lain itu juga menjelaskan aspek-aspek wajah Kristus yang belum dikenal dan belum pernah diungkapkan? Dan apakah tidak perlu ditambahkan di sini bahwa dengan demikian ditemukan aspek-aspek yang sebelumnya tidak dapat dikenal? Bukankah hanya Kristus yang mentransformasikan nganga (dukun), tetapi nganga itu juga mentransformasikan Kristus (J.M. Schoffeleers)? Berbagai teolog dari “dunia ketiga” telah coba mengungkapkan arti kebudayaan dan agama lain itu guna memahami Yesus Kristus. Menurut teolog kulit hitam Gayraud Wilmore, teologi hitam telah menemukan jejak-jejak dari kunjungan Allah dalam tradisi primitif, non-Kristen, dari zaman dahulu (dan yang jika memang begitu, tidak boleh disebut “non-kristen” lagi, dapat ditambahkan di sini). Ia menunjuk pada kejadian ketiga orang - yakni Allah - yang mengunjungi Abraham; dan pada Matius 25 - kehadiran Yesus Kristus dalam orang yang lapar, haus, asing, telanjang, sakit dan di penjara. Ch.B. Okolo dari Affika menga¬takan, “Pengakuan Kristen tentang Kristus menjadi kenyataan yang hidup dan yang dinamis, suatu 'keterlibatan' hakiki antara Kristus dan kebudayaan setempat, kuasa pertama yang mengubah bentuk dari yang terakhir Oleh karena itu kebudayaan Kristen adalah suatu kebudayaan di mana Kristus bukan orang asing, di mana persekutuan-persekutuan Kristen melihat Kristus di sepanjang jalan dan melalui sumber-sumber kebudayaan mereka sendiri, di dalam tanda-tanda, lambang-lambang dan golongan golongan batin ...” Agama Kristen yang berakar di dalam negeri Afrika hendaknya melihat Kristus sebagai orang Afrika Itu tidak berarti bahwa Kristus yang historis itu orang Afrika. Yang dimaksudkan di sini ialah orang Afrika itu hanya dapat mema¬hami-Nya secara otentik melalui kebudayaan dan kategori pemikir¬annya sendiri. Sebab lompatan iman itu, sama seperti anugerah, tidak memusnahkan tabiatnya, melainkan menggenapinya. Melihat Kristus sebagai orang Afrika, berarti, memandang Kristus sebagai “Imanuel” Afrika, sebagai seorang yang tinggal bersama orang¬orang Afrika, dalam dunia mereka yang penuh dengan tafsiran¬tafsiran, tanda-tanda dan lambang-lambang. Gagasan bahwa tafsiran kontekstual mengenai Kristus yang demikian dan pengkian yang mendalam dari konteks kebudayaan tertentu atau konteks agama lain, mutlak secara otomatis akan menjurus ke sinkretisme, disangkal oleh fakta-fakta. Sebagai contoh dapat disebut antara lain Charles de Foucauld, yang justru oleh penyelidikannya dalam dunia Islam di Timur Tengah dan terutama di Afrika Utara, menemukan (kembali) kepercayaannya kepada Kristus. Orang India yang bernama Manihal C. Parekh (1885¬1967) yang dipengaruhi teologi Ram Mohan Roy, Keshub Chunder Sen dan P.C. Mozoomdar, menerobos sampai pada kenyataan dari keselamatan dalam Yesus Kristus.” Rajarshi Ram Mohan Roy menceritakan bahwa oleh penelitian¬nya mengenai Vaishnavaisme, yaitu mazhab rohani Hindu yang percaya pada penjelmaan, ia dapat mengerti penjelmaan yang sempurna dari Allah dalam Yesus. Sementara itu ia terkesan oleh persamaan kedua agama dan merasa tertarik pada keduanya, namun ketidaksamaan antara kedua contoh itu dibayangkannya sebagai penjelmaan yang tertinggi. Inilah yang menyebabkan ia memilih agama Kristen di atas Vaishnavaisme. “Pengalaman hitam,” demikianlah menurut James Cone, “adalah sumber kebenaran, tetapi bukan kebenaran itu sendiri.”13 Dengan demikian “teks” dan “konteks” tidak dijadikan sejajar. Jadi yang diberitakan bukan “Kristus milik kebudayaan”, juga bukan Kristus milik budaya hitam. Seringkali hubungan antara Yesus Kristus atau kepercayaan Kristen dengan kebudayaan dan agama lain dilihat sebagai penggenapan. Maka memang benar orang berbicara tentang agama Kristen atau gereja Yesus Kristus yang menasranikan atau harus menasranikan kebudayaan atau agama lain. Pemikiran ini menjadi alasan bagi Aloysius Pieris untuk merenungkan kembali baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis dan artinya bagi metode penginjilan kita. Yohanes Pembaptis, demikianlah Pieris, hidup dalam tradisi Deuteronomis yang lama sebagai nabi pertapa. Di sini Yesus menemukan kerohanian aslinya dan titik tolak yang tepat untuk memulai tugas panggilan-Nya (misi). Mereka yang dibaptis oleh Yohanes Pembaptis adalah penduduk dari negeri itu yang miskin secara keagamaan, orang¬orang cacad dan orang-orang berdosa yang bertobat. Dengan dibaptis Yohanes Pembaptis Yesus menyamakan diri dengan mereka yang miskin dalam kepercayaan dari negeri itu. Tindakan yang pertama itu, yaitu permohonan-Nya kepada Yohanes Pembaptis untuk dibaptis, membawa Yesus pada pe¬ngenalan tugas asli-Nya. Pieris mengungkapkan harapannya agar gereja setempat di Asia juga bersedia merendahkan din seperti mempelainya, Tuhan. “Kiranya orang-orang Kristen berusaha untuk dibaptis, lebih daripada membaptis!” Maksudnya ialah bahwa agama Kristen tidak perlu terlalu menguatirkan budaya lain. Tidak perlu membaptis budaya pendahulu Kekristenan. Tetapi orang-orang Kristen justru harus seperti Yesus, yang dibaptis oleh yang mendahului-Nya dan bukan Dia yang membaptis pendahulu¬Nya. Demikian juga kebudayaan lain dapat membaptis orang Kristen! “Menyelamkan din ke dalam air baptisan dari agama¬agama Asia, yang mendahului agama Kristen.” “Hanya dalam sungai Yordan dari kepercayaan-kepercayaan Asia dapat kita memperoleh pengakuan sebagai suara yang cukup berarti untuk didengar semua orang! Dengarkanlah suara-Nya!” Pieris mengajak gereja agar sama seperti Gurunya sendiri duduk di kaki guru-guru Asia, tidak sebagai ecclesia docens (gereja yang menkar), tetapi sebagai ecclesia discens (gereja yang belajar), menghilang di antara orang-orang miskin yang percaya di Asia, di antara kaum anwawim (fakir miskin). Pieris bertanya, “Bukankah dengan menghapus diri-Nya di antara orang miskin yang percaya di negeri-Nya, maka Yesus menemukan pribadi asli-Nya sebagai Anak Domba Allah, yang membebaskan kita dari dosa, sebagai Anak yang dikasihi dan dituruti, sebagai Mesias yang menawarkan berita dan baptisan baru?” Jadi bagi Pieris ini tidak berarti, bahwa Yesus tidak membawa atau akan membawa sesuatu yang baru dan hanya melakukan dan menyatakan yang sama seperti Yohanes Pembaptis. Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis dan justru karena itu dan dengan jalan demikian Ia bangkit untuk memulai suatu hidup baru, dengan tugas baru dan dengan pandangan baru terhadap misi-Nya. Segi “baru” dari misi Yesus justru tampil ke depan melalui penyelaman diri itu. Sifat kerohanian Yohanes Pembaptis menurut Pieris, tradisional dan negatif. Sedangkan dari Yesus adalah positif dan sama sekali baru. Yohanes mengutuk pemimpin-pemimpin agama dan politik yang berusaha membenarkan diri. Yesus memberkati orang yang tidak dipandang dan orang cacad karena dosa. Si Pembaptis mencanangkan penghakiman yang akan datang, tetapi Yesus yang ia baptis dapat memberikan berita sukacita mengenai pembebasan yang telah dijanjikan. Anak yang dikasihi itu memilih kematian di alas salib demi pertobatan dunia. Yohanes menuntut pertobatan pribadi sedangkan Yesus menga,jak orang bertobat dalam per¬sekutuan kasih. Ia menyelamkan diri dalam arus kerohanian yang lama, tetapi Ia keluar dari situ dengan misi yang baru. Hanya baptisan memberikan identitas Kristen dan pembaruan Kristen yang kita dambakan. Permohonan Yesus untuk dibaptis adalah salah satu tindakan penghapusan diri yang paling nyata, di situ Ia berlutut di hadapan orang yang mendahului-Nya (Mrk 1:9-11). Tindakan penghapusan lain terjadi pada kayu salib (Mrk 10:35; Luk 12:50), ketika Ia, sebagai hamba yang menderita, mengakhiri misi duniawi-Nya seolah-olah dengan kegagalan. Pieris menggunakan fakta bahwa Yesus dibaptis oleh pen¬dahulu-Nya dan bukan Dia yang membaptis yang mendahului itu, untuk diterapkan sebagai sikap gereja menurut teladan Kristus. Untuk memenangkan kembali kewibawaannya, gereja di Asia harus melepaskan segala sesuatu yang berhubungan dengan kuasa. Ia harus cukup rendah hati untuk dibaptis dalam sungai Yordan dari kepercayaan-kepercayaan Asia dan cukup berani untuk dibaptis pada salib kemiskinan di Asia. Bukankah ketakutan akan kehilang¬an identitasnya, demikian ia bertanya, membuat gereja bersandar pada Mamon? Bukankah penolakannya untuk mati menghalangi dia untuk hidup?” Aloysius Pieris ingin membuktikan bahwa dalam pertanyaan¬pertanyaan mengenai pemahaman kontekstual dari anti Yesus Kristus dua aspek yang saling berkaitan dititikberatkan. Di satu pihak aspek kebudayaan c.q. aspek religius (selain Kristen) dan di pihak lain aspek sosial-politik. Yang dipentingkan pada aspek pertama ialah “inkulturasi”, yaitu bagaimana Yesus dihubungkan dengan kebudayaan tertentu dan bagaimana Ia masuk dalam kebudayaan tertentu. Aspek yang lain mementingkan hubungan dengan kenyataan sosial-politik, bagaimana Yesus dipandang sebagai Pembebas. Dengan menunjuk pada arti baptisan Yesus di sungai Yordan dan pada kayu salib, is ingin menjelaskan bahwa dengan menyelamkan diri dalam kepercayaan serta kemiskinan, dua kenyataan di Asia itu, Yesus Kristus bangkit dengan berita dan tugas baru. Dengan demikian belum terjawab semua pertanyaan yang timbul karena gambar-gambar Kristus, seperti yang dirancang oleh Setiloane dalam konteks Afrika, atau oleh Samartha dalam konteks Hindu atau oleh Lee dalam konteks Cina. Seperti pada contoh yang terakhir misalnya, dapat dipertanyakan apakah Yesus tidak terlalu banyak dilihat dalam suatu sistem kesatuan, sehingga agaknya tidak ada tempat lagi bagi skandal (skandalon, batu sandungan) dari kayu salib. Kelihatannya salib-Nya terlalu mudah dimasukkan ke dalam suatu konsep kesatuan, yang dapat menjem¬batani semua hal yang bertentangan. Rahasia Yesus Kristus, ketidak-adilan dan kesalahan, rupanya dengan demikian begitu mudah “dijelaskan”. Namun renungan Pieris mengenai baptisan Yesus dalam sungai Yordan dan pada kayu salib, memang dapat menuntun kita pada suatu pemahaman Yesus yang benar-benar baru dalam setiap konteks kebudayaan, keagamaan dan politik. Mengikuti teladan Kristus “Orang Kristen percaya pada salib, orang Yahudi memikul salib”, demikianlah kata Pinchas Lapide. Yang terakhir adalah kenyataan bagi banyak orang Yahudi sepanjang sejarah berabad¬abad sampai pada abad ini. Berjuta-juta. “pemikul salib” pernah ada di dunia dan masih ada saat ini. Dalam bukunya yang berjudul Anak Manusia, penulis Perancis terkenal Francois Mauriac berkata, Seumur hidupnya Simone Weil dihantui oleh penyaliban jutaan budak sebelum Kristus, oleh hutan tiang gantung yang mengerikan, di mana sekalian pelopor itu digantung: mereka yang tak terhitung banyaknya, untuk mereka tidak ada kesaksian oleh kepala pasukan ketika is mendengar jeritan mereka yang terakhir. Adapun aku — demikian dilanjutkan Mauriac — lebih banyak dihantui oleh semua salib sesudah Kristus, yang setiap kali dipasang lagi oleh Kekristenan yang buta dan tuli. Dan Kekristenan itu tidak sanggup melihat dalam tubuh-tubuh yang disiksa itu, Dia, yang tangan dan kaki-Nya yang tertikam mereka cium dengan khusyuknya pada setiap Jumat Agung ... Sebagai contoh dapat disebut Spanyol yang merebut Benua Baru untuk memberitakan Kristus. Untuk membawa Kabar Sukacita. Mengapa pembunuhan secara keji dan mengerikan terhadap banyak suku bangsa bisa terjadi pada waktu itu? Apakah karena mengejar keuntungan solo? Dan mengapa kita tidak mempedulikan tingkah laku para conquis¬tador? Aku berbicara tentang Spanyol, tetapi aku tidak buta terhadap balok yang ada di mata Perancisku ... Penguasaan terhadap bangsa yang terbelakang tetap berlangsung sepanjang sejarah dengan berbagai cars, yang membuktikan bahwa bukan teladan Yesus Kristus yang diikuti, tetapi teladan algojo-algojo Yesus Kristus, yang terlalu sering oleh dunia Kristen Barat dijadikan patokannya. Apapun alasan atau pembelaan kita setelah agama Kristen berusia sembilan belas abad, pars algojo masa kini tidak pernah melihat Kristus dalam diri korban mereka. Tidak pernah Wajah Suci akan terpantul dari muka orang Arab yang oleh komisaris ditinju mukanya. Betapa anehnya orang tidak mengingat Allah mereka, apalagi bilamana mereka berhadapan dengan salah satu wajah berkulit gelap dengan air muka keturunan Sem, tidak ingat Tuhan mereka terikat pada tiang dan dicambuk atau dipermainkan oleh prajurit-prAjurit. Mengapa jeritan dan rintihan korban mereka, tidak mampu membuat mereka mendengar suara-Nya yang merdu, yang berkata, “Akulah yang kamu perlakukan begitu!” Sekali waktu suara itu akan berbunyi nyaring dan tidak akan memohon dengan sangat, tetapi akan menyerukan kepada mereka dan kepada kita semua. Karena kita memasrahkan diri pada hal-hal semacam itu dan mungkin menyetujuinya: “Akulah pemuda yang mencintai tanah airku dan berjuang untuk rajaku; Aku adalah saudara yang engkau paksa untuk mengkhianati saudara kandungku.” Mengapa karunia ini tidak pernah diberikan kepada salah satu algojo yang telah dibaptis? Mengapa prAjurit-prajurit jaga tidak membuang cambuk¬cambuk itu untuk berlutut di kaki mereka yang dicambuk? Sama seperti Francois Mauriac dalam abad kita, maka dalam abad ke-16 Bartholome de las Casas mengenal wajah Kristus yang disalib dalam diri “mereka yang dicambuk”. De las Casas meng¬anggapnya ancaman yang amat besar, bahwa orang Spanyol di Amerika Latin, yang mengatakan bahwa mereka bekerja untuk keselamatan abadi orang-orang Indian, tetapi justru karena ulah mereka sendiri kehilangan keselamatan sendiri. Pernyataan Mauriac dan De las Casas merupakan peringatan bagi mereka yang beranggapan sudah mengenal Yesus Kristus tanpa mengikuti jalan¬Nya. Dan apa artinya jika banyak mengikuti jejak-Nya sebelum Kristus (Simone Weil) dan di luar Kristus (yang historis) — tanpa mengenal-Nya, dalam arti kata pengakuan iman percaya? Aloysius Pieris mengungkapkan “masalah” ini dengan mengutip pernyataan Fulton J. Sheen yang mengatakan: “Dunia Barat mencari Kristus tanpa salib, sedangkan dunia Timur memiliki salib tanpa Kristus.” Pieris menyebut pandangan ini tidak tepat. “Bilamana tidak ada Kristus tanpa salib, apakah mungkin ada salib tanpa Kristus? Apakah ada pihak yang dapat menceraikan apa yang Allah persatukan?” Mengenal Yesus sebagai Kebenaran hanya mungkin dengan menempuh Yesus sebagai Jalan. Kebenaran ini dapat “ditemukan”, “dibuka”, “dinyatakan” dengan menempuh jalan itu. Rupanya orang bisa menempuh jalan-Nya tanpa mengenal dan mengakui Dia. Ketika murid-murid-Nya mengetahui bahwa ada beberapa orang yang dapat mengusir roh-roh jahat, sedangkan mereka bukan murid-murid Yesus secara langsung, Yesus menjawab, “Siapa tidak menentang Aku, dialah memihak Aku.” Dalam Surat kepada Orang Ibrani, pasal 11, dikatakan bahwa Musa menganggap penghinaan karena Kristus, sebagai kekayaan yang lebih besar daripada semua harts Mesir, sebab pandangannya Ia arahkan pada upah (Ibr 11:26). Rupanya menurut penulis surat tersebut, Musa dapat dihubungkan langsung dengan Kristus tanpa mengenal Dia secara historis dalam arti harfiah. “Kebenaran dari Yesus akan nyata dengan mengikuti jalan hidup-Nya dan tugas panggilan hidup-Nya. Hanya dalam dan melalui proses pertobatan dan perubahan praktis kita diizinkan masuk kepada Allah Yesus Kristus.” J.B. Metz berbicara dalam hubungan ini tentang “Kristologi Peniruan Yesus.” Kristologi semacam ini menyatakan diri terutama bukan dalam pengertian-pengertian abstrak, tetapi dalam kisah¬kisah tentang hal meneladani Kristus. “Kristologi yang mengikuti teladan” itu menentang suatu agama Kristen yang melihat dirinya sebagai agama kejayaan, demikianlah menurut Metz. Dengan kata lain “Kristologi” ini berlawanan dengan gambar-gambar Kristus menurut pandangan Konstantinus, Bizantium dan Pantokratis (dalam arti kata duniawi), yang adalah gambar-gambar Kristus kolonial. Seharusnya diperhatikan di sini ialah Kristus yang tak berdaya lagi, yang telah menjadi cacad. Pertanyaan-pertanyaan yang kemudian dikemukakan Metz dapat disebut retoris, “Bukan¬kah cara kita mengikuti teladan Kristus terlalu bersifat rohani, cinta menjadi cinta rohani, penderitaan menjadi penderitaan rohani, pengasingan menjadi pengasingan rohani, penganiayaan menjadi penganiayaan rohani.”“ Bukankah kemiskinan menjadi (hanya) kemiskinan rohani dapat ditambahkan di sini. Sebagaima¬na telah kita lihat, Tissa Balasuriya menunjuk pada pengaruh buku Thomas a Kemp's, Imitatio Christi, yang menggairahkan orang-orang Kristen Asia untuk mengikuti teladan Kristus hanya secara rohani dengan tidak mengikuti teladan-Nya secara kongkret dalam kehidupan politik dan sosia1. Hal seperti itu disinggung juga dalam hubungan dengan perkembangan dalam pemahaman buku John Bunyan yang berjudul Perjalanan Seorang Musafir, dalam pekerjaan zending di Asia dan Afrika. Buku ini juga menitikberatkan arti rohani dalam usaha meneladani dan meng¬hayati berita Alkitab. Menurut Tissa Balasuriya, gereja-gereja harus diinjili oleh dunia, karena dunia dapat menyingkapkan beberapa segi dari arti yang lebih luas dari Injil Yesus Kristus, yang dilupakan atau belum ditemukan oleh gereja. Menurut pendapat saya, kedua hal yang digarisbawahi Tissa Balasuriya perlu diberi perhatian yang seksama. Bahwa dunia mempengaruhi gereja sering dikatakan dan diakui. Misalnya dikatakan bahwa orang-orang Kristen mulai mengerti kembali Khotbah di Bukit melalui Mahatma Gandhi. Mungkin itu benar, namun dengan pengertian bahwa orang-orang Kristen telah lupa akan hal itu. Gandhi hanya mengarahkan perhatian mereka pada sesuatu yang telah mereka tahu atau yang mereka harus ketahui. Hal yang kedua yang dikemukakan Tissa Balasuriya penting bahkan mungkin lebih penting, yaitu bahwa terjadi penemuan-penemuan baru karena peranan dunia, sehingga dapat dikatakan: sebelumnya kami tidak mengetahui hal itu dan malah tidak dapat mengetahuinya. Surat kepada orang Ibrani mulai dengan pernyataan, bahwa “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya” (Ibr 1:1,2a). Kadang-kadang pernyataan ini dijelaskan seakan-akan dengan sekali menyatakan itu, segala sesuatu tentang Yesus Kristus telah dikatakan. Apakah itu tidak lebih baik diartikan bahwa melalui banyak cara kita dapat dan harus berbicara mengenai pernyataan tentang Anak-Nya, bahwa proses pemahaman dan penemuan Anak-Nya belum selesai? Karl Rahner mengatakan bahwa kepercayaan Kristus yang eksplisit, seperti menjadi nyata dalam gereja masa kini, yang sendiri belum mencapai bentuk yang pasti selama kepercayaan-kepercayaan yang lain masih terselubung. Baru setelah kepenuhan bangsa-bangsa, dengan pengalaman agama dan tradisi mereka yang sangat berbeda-beda, memberi sumbangannya demi pembentukan wujud historis persekutuan Kristen, maka barulah pertentangan bangsa-bangsa terhadap Yesus dan umat¬Nya akan hilang. Dalam hubungan ini, gereja sendirilah yang berubah dalam relasinya dengan orang non-Kristen dan gerejalah yang butuh “Tetapi sekarang ini belum kita lihat bahwa segala sesuatu telah ditaklukkan kepadaNya. Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia” (Ibr 2:8,9). Memandang Yesus. Kita tidak akan memandang Dia (lagi) sebagai pemenang dalam arti kata duniawi, sekalipun kerajaan¬Nya dari dunia ini, kita tidak melihat Dia dalam suatu kemenang¬an seperti yang dipaksakan kepada orang Yahudi, dan dinyatakan kepada orang Muslim dalam Perang Salib Pandangan demikian, pemahaman demikian tidak mungkin jika kita melihat Yesus seperti dalam Surat kepada Orang Ibrani, yang belum menakluk¬kan segala sesuatu, yang dalam penderitaan-Nya dibuat lebih rendah daripada malaikat; dan yang masih menderita - dalam pergumulan dengan maut sampai pada akhir dunia (Pascal) ¬dengan saudara-saudara-Nya, yang paling hina di antara mereka. Yesus Kristus tidak dapat dan tidak boleh terikat pada suatu konteks tertentu, tidak pada konteks Barat maupun konteks Timur. Dari berbagai konteks yang berbeda telah ada dan akan ada tanggapan terhadap Dia. Hanya pada akhir zaman kita berakar serta berdasar di dalam kasih dan bersama-sama dengan segala orang kudus dari Asia, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan serta Eropa - dapat memahami betapa lebarnya dan panjangnya, tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun is melampaui segala pengetahuan (Ef 3:17 dst.).

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...