Saturday, December 3, 2022

MENYEMBAH YAHWEH BERHALA GAYA BARU?

Paskalis Edwin Nyoman Paska dan Yohanes Sukendar
Abstrak YHWH, nama kudus untuk Yang Ilahi, pada awalnya diucapkan oleh orang Yahudi, meski belum bisa dipastikan bagaimana mereka mengucapkannya. Namun, dalam perkembangannya, nama itu tidak diucapkan demi penghormatan kepada Yang Ilahi. Ketika bertemu dengan nama ini, orang Yahudi melafalkannya dengan Adonai (Tuanku), atau Hasyem (Nama itu). Cara melafalkan ini mempengaruhi cara menerjemahkan Kitab Suci. Pada umumnya, untuk menghindari penyebutan nama YHWH penerjemahan mengikuti gaya Yahudi, yakni dengan mengikuti lafalnya. Inggris, misalnya, dengan The Lord, atau Italia dengan Il Signore. Dalam bahasa Indonesia kata itu dilafalkan dengan TUHAN. Sekelompok orang di Indonesia salah memahami makna pelafalan itu, sehingga mereka menuduh TUHAN itu menerjemahkan kata YHWH yang tidak bisa diterjemahkan. Mereka menekankan kata YHWH harus diterjemahkan dengan Yahweh, padahal nama itu tidak biasa diucapkan, bahkan oleh orang Israel sendiri. Pernyataan bahwa memakai kata TUHAN adalah sesat dan orang hanya boleh memakai terjemahan Yahweh merupakan sebuah bentuk berhala, karena mempunyai ciri-ciri berhala, yakni membuat Allah lain dengan menyempitkan Allah hanya pada konsepnya sendiri. Kata kunci: hwhy (YHWH), l{a? ((’el), ~yhil{a/ (’elohîm), (H;l{a/) (’Eloah), yn"doa] (’ădonāy), TUHAN, Allah. 1. PENGANTAR Sejak tahun 1980-an, gerakan yang dikenal dengan “Pemuja Nama Yahweh” mulai berkembang di Indonesia. Gerakan yang dirintis oleh Hamran 1 Penulis pertama adalah Dosen Paska Sarjana Prodi Pastoral IPI Malang, penulis kedua adalah dosen Prodi PPAK STP IPI Malang 119 Ambrie, orang Islam yang bertobat menjadi Kristen, kini telah merambah berbagai pelosok wilayah Indonesia, bahkan Bajawa, kota kecil di Flores. Sejalan dengan perkembangan waktu, kelompok ini pun berkembang baik dalam jumlah maupun ajarannya. Gerakan ini sebenarnya bukan asli Indonesia. Inspirasinya didapat dari gerakan Zionisme pada abad ke-19 yang dicetuskan untuk mendirikan Negara Yahudi di Palestina. Di mata beberapa orang Yahudi ortodoks tujuan ini bisa dicapai terutama dengan mengembalikan orang Yahudi kepada agama dan bahasa mereka, yakni Ibrani. Gerakan ini meluas di Eropa dan ke Amerika Serikat. Dari sini muncullah sekte yang ingin mengembalikan Nama “YHWH” yang sudah bertahun-tahun tidak diucapkan oleh kaum Yahudi tradisional karena dianggap suci. Anehnya, banyak orang Kristen masuk dalam gerakan ini. Persoalan utama yang sering mereka ungkit adalah pemakaian nama TUHAN dan Allah oleh orang Kristen, yang mereka anggap sesat. Bagi mereka Yahweh adalah nama Yang Ilahi, sehingga tidak boleh diterjemahkan, sedangkan Allah adalah nama dewa Arab (dewa bulan atau pengairan pada masa jahiliah. Mereka pun mengganti nama TUHAN, Allah, dan Yesus dengan Yahweh, Elohim, dan Yeshua. Kritik mereka berimbas pada pemakaian nama TUHAN dan Allah dalam Alkitab yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Misalnya, kalimat ^yh,ê_l{a/ hw"åhy> ‘ykiÞnOa'( (ʼānōkî YHWH ʼělōheykā) yang diterjemahkan LAI dengan “Akulah TUHAN, Allah-mu” menurut mereka seharusnya diterjemahkan dengan “Akulah Yahweh, ’elohîm-mu” (Kel. 20:2)? Bahkan mereka mencetak Alkitab di mana semua kata TUHAN diganti dengan Yahweh dan kata Allah diganti Elohim. Apakah memang harus demikian? Bagaimana sebetulnya kebijakan LAI dalam menerjemahkan nama ilahi? Perjanjian Lama mengenal paling tidak lima kata yang berhubungan dengan Allah atau nama Allah, yakni: l{a? ((’el), 120 ~yhil{a/ (’elohîm), (H;l{a/) (’Eloah), hwhy (YHWH), dan yn"doa] (’ădonāy). Bagaimana sebutan-sebutan ini diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan apa maknanya? 2. ʼĔl , ʼĔlōhîm, ’Eloah sebagai sebutan untuk Yang Ilahi ʼEl adalah sebutan umum untuk Allah di dunia Semit kuno. Dalam masyarakat yang berbahasa Semit ini ʼEl juga banyak dipakai sebagai nama dewa, yang dipercaya dan disembah sebagai pemimpin para dewa sekaligus selaku bapa dan pencipta. ʼEl juga dianggap memiliki kuasa untuk mengatur kehidupan manusia dan para dewa. Israel mengambil term ini untuk menyebut sembahannya, namun sekaligus memberinya makna khas Israel: ʼEl mengacu ke Allah sebagai yang 'universal', abstrak, gelap, transendens dan pencipta dunia. Term ʼEl dalam Alkitab TB dipakai sebagai gelar atau sebutan untuk yang ilahi, namun kadang ada kesan term ini dipakai sebagai nama pribadi. Karena dipakai sebagai gelar, maka tidak mengherankan bila term ini sering dipakai sebagai kata gabungan, misalnya:lae-tyBe lae ’El- Betel (Kej. 35:7), laer"f.yI lae ’El Israel (Allah Israel; Mzm 68:36), bqo[]y: lae ’El Ya’kob (Mzm. 146:5).’Eloah merupakan bentuk panjang dari ʼěl, sedangkan ʼělōhîm merupakan bentuk jamak dari ’el namun sering juga dipakai dalam arti tunggal sebagai nama atau gelar Allah Israel, yang berbeda dengan ilah-ilah lain. Alkitab Terjemahan Baru menerjemahkan ketiga kata ini dengan Allah atau allah dengan kebijakan yang kurang lebih sebagai berikut: ’El atau ’Elohîm sebagai sebutan untuk Allah Israel; diterjemahkan dengan Allah (“A” huruf besar). Contoh: ’El-ʽelyôn (!Ay*l.[, laeî) Allah Yang Mahatinggi (Kej 14:18.19.20.22) atau’Elohîm-ʽelyôn (!Ay=l.[, ~yhiäl{a/) ( Mzm 57:3; 78:56.), ’El-Shaddai (yD:êv; laeä) Allah yang Mahakuasa (Kej 17:1; 28:3; 35:11); ’Elohîm-tsebā’ôt (tAab'c.â ~yhiäl{a/) 121 Allah semesta alam (Mzm. 84:8; bdk. tAaßb'c. hwhy YHWH Tsebaot TUHAN Semesta Alam dalam 1Sam 1:3) o’Elohîm sebagai nama Allah Israel (“Allah berfirman kepada Yakub” (Kej 35:1); 1Raj. 11:23: Allah membangkitkan pula seorang lawan Salomo) (Kej. 1:1.3; 35:3.5.9.10; dll.). Untuk membedakan Allahnya dengan allah-allah yang lain, Israel menyebut Allahnya’Elohîm. Kata ini seperti dalam bentuk jamak, namun ia dipakai dalam arti tunggal (Allah), semacam bentuk pluralis mayestatis dari ’el. Term ’Elohîm tampaknya mengacu ke Allah sebagai yang 'universal', abstrak, gelap, transendens dan pencipta dunia; bentuk jamak mungkin menekankan keagungan. Juga dipakai dalam arti superlatif: ~yhiªl{a/ vaeä ’es ’elohîm artinya, api yang besar sekali (Ayb 1:16) ’El atau ’Elohîm sebagai sebutan untuk ilah-ilah atau dewa-dewa bangsa lain; diterjemahkan dengan allah (“a” huruf kecil). Contoh: (rxE+a; laeä) ʼělʼahēr allah lain (Kel.34:14; Ul 6:14), (!Amåa'-la, ʼěl ’Amon) dewa Amon (Yer. 46:52), (~yrI+xea] ~yhiäl{a/ʼělōhîmʼahērîm) allah-allah lain (Kel. 20:3; 23:13 1Raj. 11:4.10; 2Raj. 17:37), allah-allah mereka (istri-istri Salomo) (1Raj 11:8), “sujud menyembah kepada Asytoret, dewi orang Sidon (è!ynIdoci(yheäl{a/) ʼělōhê Sidonîn), kepada Kamos, allah orang Moab (ba'êAm yheäl{a/ʼělōhêMô’āb) dan kepada Milkom, allah bani Amon (!AM+[;-ynE)b. yheäl{a/ʼělōhê bene-Amon)” (1Raj. 11:33), ~h,Þyhel{a/ !Agðd"l. ledagon ʼělōhêhem) kepada Dagon, allah mereka (Hak 16:23), (rk'NEh; yheÛl{a/ʼělōhêhannekar) dewa-dewa asing (Kej. 35:2.4), (hk'êSem; ‘yheäl{a/ʼělōhê massēkāh) dewa tuangan (Im 19:4). Di beberapa tempat ‘El mengalami perubahan bunyi menjadi ‘ilu atau ‘il. Contoh yang dengan jelas menunjukkan bagaimana ’elohîm diterjemahkan dengan dua cara berbeda ada dalam 1Raj 11:4:”Pada waktu Salomo sudah tua, 122 istri-istrinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain (~yrI+xea] ~yhiäl{a/;’elohîm ’aharîm), sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN (hw"åhy>;YHWH) , Allahnya (wyh'êl{a/’elohāw), seperti Daud, ayahnya. ʼělōah: merupakan bentuk panjang dari ’El, maka seperti ’El kata ini juga diterjemahkan dengan Allah (Ul. 32:15; Neh. 9:17; Ayb. 3:4.23; Mzm 18:31) atau allah (2Taw. 32:15). Dalam bahasa Aram dipakai kata Hl'a/ (’elah) atau ah'Þl'a/ (’elaha; Ezr 5:16 Allah) untuk sebutan yang ilahi. Kata ini pun diterjemahkan dalam Alkitab TB dengan Allah atau allah. Misalnya dalam Dan 2:47: “Berkatalah raja kepada Daniel: "Sesungguhnyalah, Allahmu (!Akªh]l'a/) itu Allah (Hl'óa/) yang mengatasi segala allah (!yhi²l'a/) dan Yang berkuasa atas segala raja, dan Yang menyingkapkan rahasia-rahasia, sebab engkau telah dapat menyingkapkan rahasia itu." 3. YHWH (hwhy), dan ʼĂdōnāy sebagai nama yang ilahi? Ketika Musa menanyakan nama Allah untuk meyakinkan orang Israel bahwa ia memiliki otoritas menyampaikan pesan ilahi, Allah (~yhil{a/) berfirman kepada Musa “hy), Allah nenek moyangmu (~k,yteboa] yhel{a/ hw"hy>), Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun”. Jadi, hwhy (yod heh vav heh) (YHWH), empat huruf Ibrani yang biasa disebut tetragrammaton (= empat huruf) dalam bahasa Yunani, adalah nama Allah. 123 Hal ini dipertegas dalam Kel. 6:1-2 “Selanjutnya berfirmanlah Allah (~yhil{a/) kepada Musa: "Akulah YHWH (hw"hy>). Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku YHWH (hw"hy>) Aku belum menyatakan diri. YHWH sebagai nama Allah diterjemahkan dalam Alkitab TB dengan TUHAN, sebagai pelafalan nama YHWH secara tak langsung. Misalnya: (tAaøb'c. hw"“hy>YHWH tsebaoth TUHAN semesta Alam (1Sam 1:3.11; 4:4; Amos 4:13). Kombinasi antara gelar yang ilahi (Allah) dan nama-Nya sering kita jumpai dalam Alkitab, misalnya dalam ungkapan: laeêr"f.yI yheäl{a/ ‘hw"hy> (Yehowah ’elohe yisrael) TUHAN, Allah Israel (1Raj. 11:9), ^yh,l{a/ hw"hy>TUHAN, Allahmu (Hos. 12:10; 13.4); ~k,yhel{a/ hw"hy> ynIa] Akulah TUHAN, Allahmu (Kel 16:12; Hak. 6:10; Yoel 2:27); Doa Israel yang terkenal berbunyi "laeªr"f.Yi yheäl{a/ hw"÷hy> %Wr’B') baruk YHWH ’elohe yisrael) Terpujilah TUHAN, Allah Israel (1Raj. 1:48). tAab'c.â ~yhiäl{a/ hw"Üh«y> TUHAN, Allah semesta alam (Mzm. 84:8; Hos. 12:6).Yes 45:5 ~yhil{a/ !yae ytil'Wz dA[ !yaew> hw"hy> ynIa] (Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah). Nama YHWH juga dikenal dalam bentuk singkat “YH (hy)”, seperti nama panggilan (Kel 15:2; Mzm. 68:5, 19; 89:9; 94:7, 12; 102:19; 115:17-18; 118:5, 14, 18-19; 130:3; 135:4; 150:6; Yes. 12:2; 26:4; 38:11). Dalam penulisannya bentuk singkat ini sering digabungkan dengan kata lain dan selalu dilafalkan dengan YaH (Hy"). Contoh yang paling dikenal ialah seruan “Halleluyah” / “Haleluya” (Hy"“Wll.h;() artinya “pujilah YaH (YHWH)” (Mzm. 104:35; 105:45; 106:1, 48; 111:1; 112:1; 113:1, 9; 115:18; 116:19; 117:2; 135:1, 21; 146:1, 10; 147:1, 20; 148:1, 14; 149:1, 9; 150:1, 6; Wahyu 19:1-6). 124 yn"doa]ʼĂdōnāy Kata ʼādōnāy berasal dari kata !Ada'’Adon yang berarti tuan; tuan bukan dalam arti pemilik sesuatu melainkan yang berwenang atas seseorang. Sebutan ini sering dikenakan untuk manusia dalam bentuk panggilanynI©doa]’ădonî, artinya “tuanku” (Kej. 23:6). Namun, dari kata ini juga dibentuk panggilan untuk YHWH, yakni katayn"doa]’ădonāyyang diterjemahkan dalam Alkitab TB dengan Tuhan (Kej. 18:27.31; 20:4; 23:11.15). Adakalanya kata ini dipakai bersamaan dengan kata YHWH:hwIhy> yn"doa] ’ădonāyYèHoWiH. Untuk menghindari pengulangan atau pendobelan kata Tuhan (Tuhan TUHAN) dalam terjemahannya, Alkitab TB menerjemahkan kata YHWH dengan Allah dan bukan dengan TUHAN. Contoh:hwIhy> yn"doa] ’ădonāyYèHoWiH diterjemahkan dengan Tuhan ALLAH (huruf besar semua), dan bukan Tuhan TUHAN (Kej. 15:2.8; Amos 1:8; 3:8). 4. Pentingnya Menyebut Nama YHWH Masing-masing bangsa atau bahkan suku bangsa mempunyai budaya tersendiri dalam hal menyebut nama. Di Bali, misalnya, anak tidak biasa menyebut nama orang tuanya, karena dianggap kurang sopan. Untuk menghindari penyebutan nama orang tua, ayah atau ibu biasanya diberi nama sesuai dengan nama anak pertamanya. Misalnya, bapak saya disebut Pan (Pak) Rusni, karena kakak tertua saya bernama Rusni. Di beberapa budaya ada kecenderungan menghindari penyebutan nama untuk menghormati kedudukan seseorang. Karena itu, seseorang yang mempunyai jabatan terhormat biasanya tidak dipanggil dengan namanya, melainkan gelarnya (misalnya: Pak Presiden, Pak Menteri, dsb.) atau dengan memakai sebutan kehormatan lain. Misalnya seorang raja disapa dengan “Yang Mulia”, “Baginda”. 125 Nama merupakan pembeda identitas, karena itu kemampuan menyebut nama seseorang atau sesuatu menunjukkan kemampuan membedakan identitas seseorang atau sesuatu itu. Gagasan ini bisa kita temukan antara laindalam Kej. 2:19-20 yang mengisahkan manusia “memberi nama” kepada segala binatang. Manusia memberi nama kepada binatang-binatang itu artinya ia memahami, mengenal, mengatur dan menguasai binatang-binatang itu. Ia bisa menggolong-golongkan mana binatang laut, darat, dan amphibi; mana binatang buas dan jinak, mana ayam dan mana bebek. Demikian, bisa menyebut nama seseorang menandakan kita mengenal orang itu. Oleh karena itu, kalau seseorang menyebut nama kita, kita merasa senang karena dikenal dan dipedulikan. Sebaliknya kalau orang menyebut nama kita secara keliru, kita tidak suka karena merasa dilecehkan atau kurang sungguh-sungguh dikenal. Itulah sebabnya banyak orang memilih untuk tidak menyebutkan nama seseorang apabila ia tidak tahu melafalkan nama seseorang secara benar. Apalagi menyebut nama memiliki nuansa menguasai orang yang namanya disebut, sehingga kalau nama kita disebut sesuka hati, kita merasa dikuasai dan diperlakukan secara tidak benar, atau nama kita disalahgunakan. Nama itu penting bukan saja karena menunjukkan identitas seseorang melainkan juga, khususnya dalam budaya di Timur Tengah, penuh kuasa, terutama nama seseorang yang luar biasa. Dari sudut pandang ini kita mengerti betapa pentingnya nama TUHAN. Nama itu bukan saja memungkinkan kita membedakan Dia dengan ilah-ilah lain, melainkan juga mendapat kuasa dari- Nya. “Nama TUHAN adalah menara yang kuat” (Ams. 18:10). “Barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan,” (Yoel 2:32a; Rm. 10:13). Perjanjian Baru cukup sering menyebutkan dahsyatnya kuasa Nama Yesus: “Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" (Kis. 3:6); “Karena kepercayaan dalam nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kamu kenal ini” (Kis 3:16); “Demi nama Yesus 126 Kristus aku menyuruh engkau keluar dari perempuan ini." Seketika itu juga keluarlah roh itu (Kis. 16:18). Persoalannya, siapakah nama Allah kita dan bagaimana persisnya kita harus melafalkan nama-Nya tidaklah begitu pasti dan hingga kini masih menjadi bahan diskusi para ahli. 4.1. Arti Nama YHWH Pada umumnya disetujui bahwa term YHWH berasal dari kata kerja hwh atau hyh yang berarti "ada" dan mendapat maknanya dari ungkapan (’ehyeh ’asher ’ehyeh). Ada beberapa tafsiran atau cara membaca kata ’ehyeh. Menurut Fredman hy<+h.a,(’ehyeh merupakan bentuk hiphil imperf. 3 masc. tunggal dari akar kataywh / hwh,( (Ibrani:hyh hayah, Inggris: to be), artinya “ia menyebabkan ada”, “ia menciptakan”.2Sedangkan Norman Walker mengatakan bahwa ’ehyeh merupakan bentuk Qal artinya “Aku adalah”.YHWH bisa jadi bentuk orang ketiga dari akar kata yang sama sehingga berarti “Ia adalah” (Inggris: He is). Namun, Walker tidak melihat itu sebagai bentuk orang ketiga, karena menurutnya nama ilahi “YHWH” aslinya berasal dari bahasa Mesir: i-w-i (“Aku adalah”), nama Yang ilahi di jaman kuno. Nama ini kemungkinan diberi vocal iāwei dan diucapkan yāwey.3 Berbeda dengan ʼělōhîm, nama YHWH tampaknya mengacu ke paham Allah sebagai yang ada, yang nyata hadir, masuk dan bertindak dalam sejarah umat-Nya. YHWH dialami dalam sejarah dan dihayati sebagai pribadi yang menjalin relasi dengan Israel, yang peduli akan nasib umat-Nya.4Nama ini 2D.N. Freedman, “The Name of the God of Moses,” JBL 79 (1960) 152, 154; Cf. W.F. Albright, “Contribution to Biblical Archeology and Philology,” JBL 18 (1924) 370-378; see also W.H. Brownlee, “The Ineffable Name of God,” BASOR 226 (1977) 39-46. 3Lihat “Critical Note Concerning Exod. 34:6,” JBL 79 (1960) 277. 4Lih. H. Ringgren, "~yhil{a/" ’Elohîm, Theological Dictionary of the Old TestamentI (Michigan 1977) 284; bdk. E. Martasudjita, Allah, Bapa Semua Orang (Kanisius, Yogyakarta 1999) 27 127 menekankan kedaulatan Allah yang tidak bisa dibandingkan dengan ilah-ilah lain; Dia adalah Allah segala ilah. 4.2 Pengucapan Nama YHWH Pada mulanya teks Kitab Suci ditulis hanya dengan huruf mati.Meskipun demikian orang Yahudi jaman itu tidak menemukan banyak kesulitan dalam mengucapkannya.Karena itu, bisa dipastikan bahwa dahulu, paling tidak sampai dengan dihancurkannya Bait Allah pada tahun 586 SM, Nama YHWH yang semuanya berupa huruf mati dilafalkan oleh orang Israel dengan huruf hidupnya. Sesudah pembuangan, pada zaman Ezra dan Nehemia atau pada zaman yang dikenal dengan sebutan Yudaisme (sekitar abad ke-5/4 SM), orang Yahudi tidak lagi mengucapkan namaYHWH yang kudus. Mereka menggantinya dengan pelbagai gelar kehormatan, misalnya ’ădonāy yang berarti tuan atau lae(r"f.yI vAdªq.÷ qedôs yisrāʼēl“ Yang Mahakudus, Allah Israel”5 dsb. Berikut ini beberapa alasan mengapa Israel menghindari atau tidak mengucapkan nama YHWH: a) Tuhan yang jauh melampaui mereka, sebagai ungkapan rasa segan dan hormat mereka tidak memanggil Dia dengan nama-Nya, melainkan hanya menyebut gelar kehormatan-Nya. b) Tuhan bukan salah satu dari sekian banyak allah (ilah) melainkan satu- satunya Allah. Allah yang disembah bangsa lain, seperti Baal, Milkom, dan Kamos, sebenarnya tidak ada (bdk. Mzm. 95:5a), sehingga tidak diperlukan lagi namaYHWH untuk membedakan Allah Israel dengan allah bangsa-bangsa lain. Penggunaan nama YHWH justru akan menghilangkan 5Secara harfiah berarti “Yang Kudus (dari) Israel”. TB tidak konsisten dalam menerjemahkan ini, kadang “Yang Kudus Israel” (Mzm. 71:22; 89:18), “Yang Kudus dari Israel” (Mzm. 78:41), “Yang Mahakudus, Allah Israel” (Yes.5:19.24; 10:20; 12:6). 128 gagasan itu dan memberi kesan bahwa YHWH hanya Allah orang Israel sedang Kamos allah bangsa Moab, dsb. c) Mereka ingin mencegah penyalahgunaan nama YHWH oleh orang kafir untuk ilmu sihir, untuk menghujat nama YHWH, dll. Jika nama YHWH ditulis dengan jelas, bisa saja tulisan itu jatuh di tangan orang kafir lalu diinjak-injak, dinodai dsb. (band. Ul. 12:3-4). d) Mereka takut melanggar hukum ke-2 yang melarang menyebutkan nama YHWH dengan sia-sia (Kel. 20:7). Demikian ketika mereka menemukan nama YHWH (hwhy),mereka tidak membacahwhydengan Yahweh melainkan ’ădonāy (“Tuhan”). Pada abad ke-3 SM nama ini diucapkan hanya oleh imam agung sekali setahun, yakni pada hari Yom Kippur. Setelah Bait Allah kedua dihancurkan, dan jabatan imam agung pun lenyap pada tahun 70 M, mengucapkan nama Allah dianggap tidak pantas lagi. Akhirnya tidak seorang pun tahu dengan pasti bagaimana mengucapkan nama Allah (YHWH) dan bagaimana Israel dulu mengucapkan nama ini. Bisa jadi tetragrammaton ini dulu diucapkan dengan “Yahweh” “Yahwe”, “Yehwah”, “Yahwa”, atau “Yawe”atau “Yehovah”. Namun, dengan mempertimbangkan pengucapan bentuk singkatnya “Yah”, para ahli Kitab Suci cenderung menerima bahwa nama Allah diucapkan dengan Yahweh. Mulai abad ke-7 hingga abad ke-10 M, Kaum Masoretik, yakni para ahli tulis Yahudi, melengkapi teks-teks Kitab Suci yang berupa susunan huruf mati saja dengan huruf hidup dan tanda baca. Hal ini mereka lakukan karena banyak orang, baik Yahudi maupun Kristen tidak mampu lagi membaca teks-teks Kitab Suci tanpa huruf hidup. Dalam rangka itu huruf mati YHWH diberi vokalisasi sesuai dengan kata’ădonāy (yn"doa]) sehingga menjadihw"Ohy>. (YeHoWaH), untuk menandai bahwa menurut keyakinan Yahudi nama YHWH harus dibaca ’ădonāy. Adakalanya 129 nama YHWH tergabung dengan sebutan ’ădonāy (hAihy/ yn"doa]’ădonāyYHWH yang menurut kebiasaan yang berlaku mestinya dibaca ’ădonāy ’ădonāy). Untuk menghindari pengulangan penyebutan ’ădonāy YHWH tidak dibaca ’ădonāy melainkan èlohim sehingga kedua kata itu dibaca ’ădonāy ’èlohim (Tuhan ALLAH) dan bukan (Tuhan TUHAN). Dalam hal yang demikian itu, kaum masoret memberi vokal pada YHWH sesuai dengan pengucapan’èlohim, sehingga menjadihAihy/ YèHoWiH. Lihat misalnya hAihy/ yn"doa]’ădonāyYèHoWiH), yang harus dibaca ’ădonāy YèHoWiH (“Tuhan ALLAH”). Dalam terjemahan Alkitab TB perbedaan antara ’èlohim yang asli dengan ’èlohim yang merupakan pengganti term YHWH ditunjukkan dalam cara penulisan: Allah dan ALLAH. 5. Nama Tuhan dalam Septuaginta Keberhasilan Yunani dalam melancarkan gerakan helenisme pada abad ke-4 SM, membuat bahasa Yunani menjadi bahasa pengantar di Timur Tengah, termasuk di Israel. Banyak kaum muda Israel lebih menyukai dan memahami bahasa Yunani daripada bahasa Ibrani, terutama mereka yang berdomisili di luar Palestina. Untuk membantu mereka ini, Kitab Suci Ibrani pun diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Hasil terjemahan itu selesai sekitar abad ke-2 SM dan diberi nama Septuaginta (LXX). Dalam LXX gelar ʼělōhîm diterjemahkan denganqeo,j(Theos = Allah). Nama YHWH biasanya diterjemahkan dengan ku,rioj(kyrios = Tuhan) tetapi adakalanya juga dengan theos, mungkin karena pada waktu itu nama YHWH dalam bahasa Ibrani dibaca ’ădonāy (“Tuhan”). Nama YAH pun di Septuaginta diyunanikan sebagai kyrios atau theos. Hanya seruan “Halleluyah” (Hy"“Wll.h;() saja yang ditransliterasi dengan huruf Yunani menjadi allèluia (allhlouia). Kata ’ădonāy pun biasanya diterjemahkan dengan kyrios(Kej. 18:3; 19:18; Amos 1:8), kadang despo,thjdespotes (Kej. 15:2), namun ’ădonî diterjemahkan dengan kyrios (Kej 23:6). 130 6. Nama Tuhan dalam Perjanjian Baru Para penulis Perjanjian Baru mengikuti kebiasaan Septuaginta dalam menerjemahkan nama TUHAN. YHWH diterjemahkan bukan dengan mempertahankan nama YHWH, melainkan dengan kyrios (Tuhan). Ibrani: YHWH (TUHAN); LXX: kyrios; PB: kyrios; TB: Tuhan; sedangkan ʼělōhîm (LXX: qeo.j) diterjemahkan denganqeo.jtheos. Yesus Ketika mengutip Syahadat Yahudi: “Dengarlah, hai orang Israel: YHWH itu Allah kita (WnyheÞl{a/ hw"ïhy>) YHWH itu esa!” (Ul. 6:4), mungkin Yesus mengutipnya dalam bahasa aslinya (Ibrani). Dari terjemahan Yunaninya, sebagaimana ditulis oleh Markus 12:29b (“Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah [ku,rioj o` qeo.j] kita, Tuhan [ku,rioj] itu esa!”) nampak bahwa kemungkinan besar Yesus melafalkan YHWH dengan ’ădonāy (“Tuhan”). Hal ini nampak pula ketika Ia mengutip Ul. 6:5 (“Kasihilah TUHAN, Allahmu (.^yh,_l{a/ hw"åhy>; LXX: ku,rion to.n qeo,n), dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu); bdk. Mat. 22:37 “Kasihilah Tuhan, Allahmu (ku,rion to.n qeo,n), dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (lihat juga Mrk. 12:30; Luk. 10:27). Yesus memanggil Allah dengan sebutan Bapa (Mat.11:25.26), juga mengajak kita memanggil Allah bukan dengan kata YHWH melainkan Bapa (Mat. 6:9). Paulus Ketika Paulus mengutip Yoel 2:32 (jle_M'yI hw"ßhy> ~veîB. ar"²q.yI-rv,a] lKoô hy"©h'w> = Dan barangsiapa yang berseru kepada nama YHWH [hw"ßhy>] akan diselamatkan), dia tidak mengajak orang Roma untuk mengucapkan nama YHWH melainkan kyrios (Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan[kuri,ou], akan 131 diselamatkan); lih. Rm 10:13.Paulus juga membaca YHWH sebagai ’ădonāy dengan kyrios. Rasul Paulus tidak mengajari orang Roma untuk berseru kepada nama YHWH mungkin karena alasan berikut: a) YHWH menurut Yoel 2:32a adalah Allah Israel, yang disebut ’ădonāy atau kyrios (“Tuhan”) oleh orang Yahudi pada zaman rasul Paulus. Namun, rasul Paulus juga menyembah Yesus dari Nazaret sebagai Tuhan (band. 1Kor. 8:6). Demikian, dengan memanggil nama kyrios (“Tuhan”), umat beriman akan memanggil nama YHWH dan nama Tuhan Yesus sekaligus. b) Bagi rasul Paulus bukan nama YHWH, melainkan nama Yesus adalah “nama di atas segala nama” (Fil. 2:9-10) c) Bagi murid Kristus, Allah bukan hanya disebut Tuhan. Murid Kristus sebagai anak Tuhan boleh juga memanggilnya sebagai Bapa (Rom. 8:15; Gal. 4:6). Tidak lazim dan tidak pas kalau anak memanggil bapaknya dengan nama, apalagi sebagai “Bapa Yahwe”. d) Sama seperti orang Yahudi, rasul Paulus yakin bahwa hanya ada satu Tuhan. Meskipun rasul Paulus percaya bahwa Sang Pencipta langit dan bumi telah menjelma dan menyatakan diri dalam Tuhan Yesus. Namun, tetap tidak ada Tuhan atau ilah lain (band. 1Kor. 8:5-6). Maka rasul Paulus tidak merasa perlu memakai nama YHWH untuk membedakan Tuhan YHWH dari “Tuhan-Tuhan” lain, seolah-olah masih ada “Tuhan-Tuhan” lain. Penulis Ibrani Penulis surat Ibrani menulis surat kepada orang Kristen yang berlatarbelakang Yahudi. Meskipun demikian, ketika mengutip Yes. 8:18a dalam Ibrani 2:13b ia tidak menerjemahkan nama YHWH dengan Yahweh melainkan dengan theos (Allah). 132 Yes. 8:18a: “Sesungguhnya, aku dan anak-anak yang telah diberikan TUHAN (TM :hw"ëhy> = YeHoWaH/TUHAN; LXX: qeo,j theos = Allah) kepadaku …” Ibr. 2:13b: "Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah (qeo,j theos = Allah) kepada-Ku" (Ibr. 2:13b). 7. YHWH dalam Perjanjian Baru Ibrani Pada tahun 1979/1986 Lembaga Alkitab Israel menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam bahasa Ibrani. Dalam terjemahan ini bahasa Ibrani ditulis tanpa vokal karena orang Israel sudah fasih membaca bahasa Ibrani. Ketika PB mengutip PL, bunyi kutipannya disamakan dengan apa yang tertulis dalam PL, maka kita menemukan adanya namahwhy (YHWH). Tetapi, orang Yahudi, baik yang percaya kepada Yesus Kristus maupun tidak, akan membaca nama itu dengan ’ădonāy (“Tuhan”), dan bukan Yahwe, Yahwa, apalagi Yehuwa. Mereka sangat berhati-hati dalam mengucapkan nama itu, sampai-sampai mereka mengganti namahwhy dengan kata~Veh;(hashēm = “NAMA itu”). 8. Allah Bagi Orang Kristen Siria & Arab Kata Allah sebenarnya sudah dipakai sejak abad ke-3M oleh orang kristen yang tinggal di antara suku-suku Arab di sekitar Petra. Dalam ibadah dan percakapan sehari-hari orang-orang kristen ini ada yang mamakai bahasa Arab ada pula yang memakai bahasa Siriani, salah satu cabang bahasa Aram. Mereka yang berbahasa Siryani memakai kata Alaha sedangkan yang berbahasa Arab memakai kata Allah. Bahkan sudah sekitar abad ke-2 M terjemahan Alkitab dalam bahasa Siryani memakai kata Alaha untuk menerjemahkan’el, ’elohîm, ’Eloah. 133 Misalnya, inskripsi umat Kristen Siria yang berasal dari tahun 512 M, yang ditemukan di kota Zabad dekat Aleppo pada tahun 1881. Inskripsi ini diawali dengan kata Bism al-Ilah (bentuk singkatnya:Bismillah), artinya ’Dengan Nama Allah’ yang disusul dengan tanda salib dan daftar nama diri orang Kristen Siria. Selain itu, inskripsi Umm al-Jimmal (abad 6 M) bertuliskan ’Allah Ghafran’, artinya Allah Mahapemurah. Pemakaian kata Allah dalam Kitab Suci berbahasa Indonesia Albert Cornelisz Ruyl, orang pertama yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu (Injil Matius dan Markus, tahun 1629), menerjemahkan kata Yunani theos dengan Allah. Brouwerius yang menerjemahkan Kitab Kejadian pada tahun 1661, memakai kata “alla” dan Deos untuk menerjemahkan ’elohîm dan ’el. Dalam terjemahan-terjemahan di tahun berikutnya, seperti Alkitab Leijdecker (1733), Alkitab terjemahan H.C. Klinkert (1879), terjemahan W. Shellabear (1912), Alkitab Melayu Bab (1913), dan PB terjemahan W.A. Bode (1938), Alkitab Terjemahan Baru (1974), Alkitab BIMK (1985), Perjanjian Baru Terjemahan Baru 2 (1997, edisi revisi 1974), kata Allah tetap dipakai untuk menyebut yang ilahi. Beberapa terjemahan Alkitab dalam bahasa daerah pun memakai kata Allah, seperti Jawa, Gorontalo, Madura, Bugis Makassar, dan Bima. Beberapa bahasa daerah memakai nama sendiri, misalnya: Debata (Toba), Naibata (Simalungun), dan Uis Neno (Timor). 9. Larangan menyebut nama TUHAN dan berhala 134 Salah satu isi Dasa Firman ialah larangan menyebut nama TUHAN (Kel. 20:7). Larangan ini berkaitan erat dengan larangan menyembah berhala, dosa pertama dan yang paling dikecam dalam PL. Berhala bukanlah pertama-tama soal membuat patung, tapi soal mempunyai Allah lain. “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku” (Kel 20:3). Allah lain itu bukanlah Allah yang sesungguhnya, melainkan allah buatan kita sendiri, yang bisa dikontrol dan kendalikan. Hal ini tersirat dari kisah anak lembu emas, berhala pertama yang dibuat Israel (Kel 32). Dikisahkan dalam Kel 32:1-6 bahwa Israel jatuh ke penyembahan berhala karena Allah, partner perjanjian mereka, tidak kelihatan, demikian pun Musa, perantaranya, tidak turun-turun dari gunung. Karena tidak kelihatan, maka Allah tidak bisa dikontrol atau dikendalikan. Oleh karena itu Israel merasa sulit mempercayakan diri kepada-Nya. Mereka pun berkata kepada Harun, "Mari, buatlah untuk kami allah, yang akan berjalan di depan kami sebab Musa ini, orang yang telah memimpin kami keluar dari tanah Mesir kami tidak tahu apa yang telah terjadi dengan dia" (Kel 32:1). Dengan kata lain, penyembahan berhala merupakan bentuk ketakutan atau ketidaksediaan manusia menerima Allah itu misteri, lalu ia membuat allah lain yang dapat dilihat, dijamah, artinya yang bisa dikontrol, dikuasai, dan manipulasi, seperti anak lembu emas. Kiranya benar apa yang dikatakan oleh Stamm (1967:89), “The image puts God and what concerns him into a category …. is tantamount to having God at one’s disposal and control”. Berhala tiada lain dari menolak kenyataan bahwa Allah adalah misteri, bahwa Ia di luar daya tangkap manusia, bahwa ia tidak dapat dikuasai, dimiliki dan dikontrol. Atau meminjam kata-kata Barton (1979:7), “rather than being a sign of unfaithfulness to the covenant with YHWH, idols are a symptom of human desire to have the divine realm under one’s control”. Orang menyembah berhala karena ia ingin menguasai Allah, ingin memiliki Allah, ingin Allah menjadi seperti apa yang ia inginkan atau pikirkan. Aspek “ambisi untuk menguasai” dalam berhala juga 135 diungkapkan oleh Kaufmann dalam definisi berhala yang dibuatnya: “idolatry is no mere arrogance and rebellion against God, but is inextricably bound up with man’s ambition for dominance over his fellow man” (1966:13). Dalam konteks pemahaman yang demikian, mudah bagi kita memahami larangan menyebut nama Tuhan (Kel 20:7) yang menyusul larangan penyembahan berhala. Menyebut nama Tuhan dilarang karena menyebut nama seseorang berarti mengenal orang itu, mempunyai kuasa atas orang itu atau menguasainya. Berhala berarti memenjarakan Allah dalam kepicikan manusia Kata yang sering dipakai untuk berhala ialah patung (ls,P, pesel). Patung ilahi ini mempunyai fungsi mewujudnyatakan sang ilahi, bahkan orang kafir menganggap yang ilahi hadir dalam gambar atau patungnya (Leo Oppenheim, 1964: 183-184). Ciri-ciri sebuah patung: statis, tidak bergerak, bisa dimanipulasi, berupa gambaran yang menggambarkan sesuatu yang sudah terjadi. Konsekuensinya, ketika sebuah patung menggambarkan Allah, ia hanya menggambarkan Allah yang statis dan Allah yang terbelenggu di masa lampau. Padahal Allah itu hidup, aktif, dan dinamis. “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir (Why 22:13). Dengan demikian, dalam usahanya menggambarkan Allah, sebuah patung justru mempersempit, mengurangi gelar-gelar essensial Allah. Ia memenjara Allah dalam ruang masa lampau. Jadi larangan menyembah berhala bukanlah sekedar larangan membuat patung atau menyembah patung, tetapi lebih jauh dari itu ialah larangan memanipulasi Allah, memenjarakan Allah dalam kepicikan manusia, mengecilkan Allah ke dalam kategori pikir manusia, menciutkan attribut- attribut Allah ke dalam satu attribut atau attribut tertentu yang statis, yang bisa dikontrol. Allah selalu lebih besar dari apa yang manusia bisa gambarkan. Ia tidak dapat dibandingkan dengan apa pun di dunia ini. Ketika manusia mencoba 136 menggambarkan Allah dengan suatu perbandingan, ia tidak menggambarkan Allah yang sebenarnya, melainkan hanya satu aspek atau aspek tertentu Allah. Kesalahan yang dibuat manusia bukanlah pertama-tama pada penggambaran yang tidak sempurna itu melainkan pada sikap manusia yang mengklaim apa yang tidak sempurna itu sebagai sempurna, apa yang hanya sebagian itu sebagai keseluruhan, kepenuhan. Dengan kata lain, dosanya terletak dalam mengabsolutkan apa yang sebenarnya relatif. Tepat apa yang dikatakan oleh Paul Bauchant, bahwa untuk menyembah berhala orang tidak perlu menampilkan Allah sebagai anak lembu, rajawali, merpati, dsb. Tetapi cukup bahwa ia memperkenalkan Allah sebagai Yang kuat tanpa kelemahlembutan, penuh kasih tanpa menghukum, sabar tanpa menuntut, memberi kebebasan tanpa kebijaksanaan (1999:64-65). Demikian, bila orang membuat gambar Allah kemudian memutlakkan gambar itu dengan menyangkal semua gelar Allah yang lain, ia melakukan penyembahan berhala. Dalam konteks ini mengharuskan orang menyebut YHWH dan menuduh yang mengganti Nama itu dengan TUHAN, Lord, Herr, Signore, dsb. Sebagai orang sesat dapat digolongkan sebagai bentuk penyembahan berhala. Pertama, dia melawan perintah yang berkaitan dengan menyembah berhala (jangan menyebut nama TUHAN). Kedua, dia memasukkan Allah dalam kategori pikiran yang sempit. Allah haruslah seperti yang dia pikirkan, jika orang lain berpikir tentang Allah tidak seperti yang dia pikirkan berarti sesat. Ketiga, pandangannya itu tidak memiliki dasar historis atau tradisi yang kuat. 10. PENUTUP Gelar Allah (’el, ’elohîm, ’Eloah, dan ’ădonāy) dan nama YHWH telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa. Setiap bangsa mempunyai caranya sendiri menyebut dan menamai Allah yang esa dan sama ini. Bagaimana menerjemahkan ’elohîm ke sebuah bangsa yang dimiliki oleh suatu bangsa yang bukan bangsa Yahudi tentulah tidak mudah. Memang akan sangat bagus 137 bila bangsa itu memiliki istilah tersendiri untuk menyebut yang ilahi agar sebutan itu tidak menjadi sesuatu yang asing dan aneh baginya. Di lain pihak, sebutan itu haruslah memiliki kandungan makna yang tidak berbeda dengan makna ’elohîm yang dimiliki Israel. Dalam hal ini, kita harus bersyukur sebagai orang Indonesia, karena kita memiliki kata Allah. Kata ini sudah dikenal oleh bangsa ini sejak ratusan tahun yang lalu dan kata ini bukan saja dekat dengan kata ’elohîm melainkan juga memiliki makna yang tidak berbeda dengannya. Bisa jadi ia masuk ke Indonesia melalui agama Islam karena kata ini berasal dari bahasa Arab, al ilah, artinya sang ilah. Namun, harus diingat kata ini sudah dikenal sebelum lahirnya Islam. Selain itu, kalau kata ini dianggap kata serapan dari bahasa Arab, maka kita pun tidak boleh lupa bahwa Israel pun dahulu mengadopsi kata ’elohîm dari gelar yang ilahi yang lazim pada zaman itu di Timur Tengah Kuno dan memberinya makna baru. Keberanian Israel mengambil nama sembahannya dari nama dewa-dewa bangsa lain, menunjukkan kematangan imannya. Dia tahu persis membedakan sembahannya dengan sembahan bangsa lain; Dia tahu persis siapa yang dia sembah. Kenyataan bahwa orang Islam pun memakai gelar ini semakin membantu orang Indonesia memahami Allah sebagai gelar yang ilahi meskipun mungkin ada sedikit perbedaan dalam konsep tentang yang ilahi. Bagaimana dengan nama hwhy. Pertama-tama dengan rendah hati harus kita akui bahwa tidak seorang pun yang tahu dengan pasti bagaimana orang Israel dulu melafalkan tetragrammaton ini. Nama Yahweh yang sering didengung-dengungkan hanyalah rekayasa dan dugaan semata. Kaum Masoretik pun tidak pernah memakai nama itu, mereka malah mem”vokalisasikan”nya dengan YeHoWah (hw"Ohy>>; mengikuti vokalisasi Adonai) danYeHoWih (hAihy/ ; mengikuti vokalisasi ’elohîm). Selain itu, demi penghormatan terhadap nama ilahi ini orang Yahudi pun tidak melafalkan nama ini, walaupun mereka menuliskannya. 138 Kata Tuhan atau TUHAN yang dipakai di Indonesia bukanlah istilah yang mengganti nama YHWH yang tidak diketahui bagaimana mengucapkannya. TUHAN hanyalah cara kita melafalkan Nama YHWH yang agung secara tidak langsung demi menghormati nama yang penuh kuasa itu. Kelebihannya, kita bisa menuliskannya dan sekaligus mengucapkannya, dan maknanya pun kita ambil dari makna YHWH. Bagaimana pun juga, Allah itu misteri, tidak seorang pun dapat mengetahui-Nya secara sempurna, termasuk juga nama-Nya. Kita bersyukur bahwa Yang Mahaagung dan Dahsyat itu telah menjelma menjadi manusia, sehingga kita mengenal-Nya secara lebih baik dan telah memberi kita nama di atas segala nama, yakni Yesus Kristus. Dalam nama Dialah kita memperoleh keselamatan. DAFTAR PUSTAKA 1. Ackerman, Susan, Under Every Green Tree: Popular Religion in Sixth-Century Judah, Atlanta, GA: Scholars Press, 1992 2. Albright, W.F., “Contribution to Biblical Archeology and Philology,” JBL 18 (1924) 370-378 3. Barton, John ‘Natural Law and Poetic Justice’, Journal of Theological Studies, 30 (1979) 1-14. 4. Beauchamp, Paul, La Legge di Dio, Casale Monferrato: Piemme, 1999. 5. Brownlee, W.H., “The Ineffable Name of God,” BASOR 226 (1977) 39-46. 6. Childs, Brevard S., The Book of Exodus: A Critical, Theological Commentary, Philadelphia: The Westminster Press, 1974 7. Edelman, Diana Vikander (ed.) The Triumph of Elohim: From Yahwism to Judaism, Kampen: Kok Pharos, 1995. 8. Freedman, D.N., “The Name of the God of Moses,” JBL 79 (1960) 151-155 9. Hernández, E. J., Il Decalogo: Dieci Parole di Vita, Napoli: Chirico, 2001. 10. Houtman, Cornelius, Exodus III, Leuven : Peeters, 2000. 11. Keel, Othmar & Uehlinger, Christoph, Dieux, déesses et figures divines: Les sources iconographiques de l’histoire de la religion d’Israël, Paris: Cerf., 2001. 12. Keel, Othmar & Uehlinger, Christoph, God, Goddesses, and Images of Gon in Ancient Israel, Minneapolis: Augsburg Fortress, 1998 139 13. Lewy, I., “The Late Assyro-Babylonian Cult of the Moon and Its Culmination at the Time of Nabonidus,” Hebrew Union College Annual, 19, (1945-46), 405-489. 14. Margalit, B., ‘The Meaning and Significance of Asherah’, Vetus Testamentum, 40 (1990) 264-297. 15. Martasudjita, E., Allah, Bapa Semua Orang. Yogyakarta: Kanisius, 1999 16. Obbink, H. Th., ‘Jahwebilder’, Zeitschrift für die Alttestamentliche Wissenschaft, 47 (1929) 264-274. 17. Rad, G. von. (1962): Old Testament Theology I (Edinburgh 1962:216). 18. Ringgren, H., "~yhil{a/" ’Elohîm, Theological Dictionary of the Old Testament. Michigan, 1977, 283-288. 19. Smith, Mark S., The Early History of God: Yahweh and the Other Deities in Ancient Israel. San Francisco: Harper & Row, 1990

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...