Thursday, June 18, 2020

Apa itu manja?

“Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.”Ibrani 5 : 14.     
  Ayat di atas menerangkan tentang kedewasaan Rohani yang digambarkan sudah layak memakan makanan yang keras yang mengatur hidup kita dalam kebenaran. Kita akan merenungkan bersama dengan keterkaitannya terhadap sikap hidup manja dan dewasa. Manusia hanya sanggup menilai kemanjaan dari pemandangan lahiriah semata, tetapi kita dalam Yesus Kristus akan membongkar segala sesuatu dan menemukan kebenaran dan keutuhan kemuliaan Kristus dalam segala hal. Hingga baru kita bisa membangun atas dasar Dia.
     Tersebutlah andy, dia seorang pemuda yang rajin membantu orang tuanya, namun karena dia tidak dipercayakan orang untuk pekerjaan-pekerjaan kasar, maka saudara-saudaranya menyebut dia manja. Sebutan itu muncul karena manja dinilai sebatas tidak bisa bekerja pekerjaan yang keras atau kasar. Ada juga Jono, dia anak yang jarang berolahraga dan lebih suka sendirian menulis dan melukis, dia juga disebut manja karena hal itu. Manja dinilai sebatas ketidakmauan seseorang di bidang olahraga. Sebut juga Kalo, dia anak tunggal dan amat disayang orang tuanya. Meski begitu Kalo tetap berdedikasi bekerja untuk keluarganya. Tetapi karena status sebagai anak satu-satunya maka dia pun sering dianggap anak manja. Ada juga Beno, karena tampak lebih lemah dibanding orang sebaya dia, maka dia disebut manja. Kemanjaan dinilai sebatas kekuatan fisik dan sikap lahiriah semata.
     Sebenarnya kemanjaan manusia bukan dilihat dari hal lahiriah semata sebagaimana beberapa contoh kasus di atas. Ada orang yang tampak tidak terbiasa dengan pekerjaan kasar atau kebun langsung di cap manja. Manja dinilai dari pekerjaan. Ada yang menilai manja dari sikap lahiriah yang halus, ada yang menilai manja dari sikap mental yang penakut, ada yang menilai manja dari sifat egois, ada yang menilai manja dari status dalam keluarga, ada yang menilai manja dari batas kemampuan fisik.
     Hingga meskipun orang tersebut memiliki banyak potensi di bidangnya namun dia sudah terlanjur dicap manja oleh lingkungan karena penilaian sebatas lahiriah yang tadi. Padahal jika kita telaah lebih dalam, dalam ukuran manusia pun kita akan temui kemanjaan adalah hal yang lebih dalam dari sebatas penampilan luar. Itu adalah sikap batin dan jiwa kita.
Seorang yang tampak lemah fisik atau dinilai bukan tipe pekerja kasar yang berotot belum tentu lemah yang sesungguhnya. Dia bisa saja mandiri dan berdedikasi dalam pekerjaan yang sedang dia tekuni. Inilah sikap dewasa dan tidak manja. Seorang yang mau menjalani hidup ini dalam kesabaran dan kasih sayang, yang mau mengalah, yang mau disiplin belajar dan bekerja, meskipun sehalus apapun pembawaan dan sikap atau gayanya itu bukanlah orang manja melainkan dewasa.
     Orang yang terlatih mandiri dalam mengembangkan usaha, terbiasa tidak banyak menyusahkan orang lain, jarang meminta bantuan, itu bukanlah orang manja meski secara lahiriah gaya dan sikapnya mungkin tampak lemah dan manja. Kemanjaan bukan soal gaya, sikap, atau tipe lahiriah semata tetapi soal kemandirian dan kebenaran hidup dalam pendewasaan Allah.
Ada banyak pribadi yang tampak secara jasmaniah amat kuat dan keras, tetapi suka mengambil keuntungan dengan merugikan orang lain, tidakkah itu manja? Ada yang mendapatkan hidupnya atau pekerjaannya dari cara yang tidak halal, tidakkah itu manja? Ada yang mendapat masa depan pekerjaanya dari berharap penuh pada orang lain, jika dinilai manja, tidakkah itupun bisa dianggap manja? Namun di satu sisi dia merasa sudah hebat dan berhak menghakimi sesamanya yang dia anggap tidak sama dengannya. Orang boleh jadi berbadan kuat dan pekerja kasar tetapi jika tidak jujur dalam pekerjaan, suka memeras, dll ini pun kemanjaan sesungguhnya. Bahkan saat kita menilai orang lain berdasarkan diri kita sendiri maka itu kemanjaan juga. Semua itu tersimpul dalam satu hal yaitu, kemanjaan adalah manusia yang tidak mau lepas dari dosa. Kemanjaan adalah manusia yang tidak mau menikmati Allah dalam hidupnya. Maunya menikmati hidup dalam dirinya sendiri dan bebas untuk diri sendiri dan bukan untuk Allah.
     Ada yang berat mengasihi, ada yang berat memahami, itupun manja. Ada yang berat mendengar, ada yang berat mencari Allah dalam segala sesuatu yang dia kerjakan dan cari, ini pun manja. Bahkan kemanjaan hidup yang sesungguhnya justru ditemui dalam ketidakmauan untuk berserah kepada Allah dan ketidakmauan untuk menyertakan Allah dalam hidupnya. Ketidakmauan untuk memahami kebenaran Allah, tinggal di dalamNya dan melakukan KebenaranNya.
     Jika standar dan ukuran kemanjaan yang sesungguhnya adalah semua itu maka kita akhirnya mendapati tidak ada manusia yang sempurna dalam kekuatan dan kedewasaan hidup dan memang tidak ada sesungguhnya manusia yang tidak manja. Hingga datang Yesus Kristus, satu-satuNya Manusia yang tidak manja dan utuh dalam kehendak Allah. Dia adalah Pribadi Kebenaran agar di dalam Dia kita tidak lagi menjadi anak-anak manja yang hidup sekehendak sendiri tetapi sekehendak Allah. Di dalam Yesus dan oleh karena Yesus kini kita bukan lagi anak-anak manja, yang hidup sekehendak sendiri yang berujung celaka tetapi menjadi orang-orang dewasa yang mau hidup dalam pendewasaan Allah yang berujung selamat.
Penilaian dan pemahaman kita adalah jauh sampai kedalaman batin agar oleh Kedewasaan Kristus kita selamat dari berbagai kemanjaan diri yang membebani. Hingga akhirnya kita menikmati segala sesuatu dalam kedewasaan Allah. Kita kembali berkeinginan dan berkemauan tetapi tidak lagi dalam kemanjaan dunia melainkan menikmati dan mencari itu dalam kedewasaan Allah. Inilah hidup penuh kemandirian Rohani dan berkebebasan.
     Jadikanlah Kristus sebagai Kedewasaan dalam diri kita dan bukan sebatas diri kita sendiri. Di dalam Dia dan oleh Dia kita menikmati pembebasan. Kita menikmati pembelaanNya dalam segala hal ketika kita semakin mengakui Dia dalam segala hal. Kita tidak manja sebagaimana dunia melainkan kuat dan dewasa karena Kristus. Ini tidak dilihat secara jasmaniah semata melainkan secara Rohaniah. Apapun yang kita kerjakan dan nikmati, rasakan dan pikirkan bawalah dan nikmatilah Kristus di dalamnya, itulah kedewasaan dan pendewasaan Allah.
Inilah Kedewasaan dan pendewasaan Allah yang sesungguhnya, Yesus Kristus di dalam kita dan bagi kita. Dosa di dalam kitalah yang mempermanja hidup kita, itulah yang dihancurkanNya. Bukan keinginan atau hasrat atau pekerjaan kita yang manja, tapi dosanya. Dosa itulah yang dikalahkan di dalam Yesus. Hingga olehNya kita semakin menikmati kebenaran dalam pembenaranNya bagi kita.
     Kristus memang keras, makanan yang keras karena Dia mematahkan inti dan pribadi dosa yang sudah lekat di dalam diri manusia. Agar ketika itu makin pupus kita semakin bebas dan berbahagia dalam segala hal dan kebenaranNya. Kita menjadi orang-orang yang tidak lagi terhukum dalam dosa dan kemanjaan, orang-orang yang tidak lagi terhakimi melainkan selalu menikmati pembelaanNya yang memberi keselamatan senantiasa hingga akhirnya. Amin!
 

No comments:

Post a Comment

DONASI DAN SPONSORSHIP

Untuk menunjang pelayanan kami di bidang media renungan dan berita, anda dapat beriklan di web/blog kami atau berdonasi.
Silahkan hubungi nomor telepon/WA kami di: 08991658370



Pekabaran Injil di Indonesia dan Pengaruhnya terhadap Pembaruan Masyarakat dan Negara.

Oleh: Merphin Panjaitan. I.Pendahuluan. Injil Yesus Kristus muncul di tengah bangsa Yahudi, dan pekabarannya pertama di tujukan kepada m...