Ketika saya sedang di Manado,
suatu kali saya menaiki sebuah mikro mini yang dikendarai oleh supir yang masih
muda, kira-kira usia 20an. Ketika ada seorang nenek hendak naik, dia dengan
sabar memberi saran agar hati-hati, awasi kepala dan kaki serta sabar menanti
nenek itu naik dan duduk nyaman. Hal itu amat jauh berbeda dengan supir-
supir
biasanya yang tidak sabar dengan penumpang yang hendak naik apalagi terhadap
mereka yang sudah tua. Supir umumnya akan segera bergegas sebelum penumpang
yang naik bisa duduk nyaman, dan saya berkali-kali mengalami itu. Saya pun
melihat beberapa penumpang pernah mengalami hal yang sama meski mereka ada yang
sudah tua. Namun supir yang satu ini berbeda meski dia masih muda.
Ketika
hendak menyeberangi lampu merah yang sudah berubah hijau, tiba-tiba ada dua
orang tua bergandengan tangan hendak menyeberang jalan. Biasanya para supir
akan marah dan kesal sebab terhambat dan akan memarahi dua orang tua itu karena
sudah telat menyeberang. Namun kembali anak muda ini berbeda, dia berhenti dan
berkata: “Satu saat nanti torang lei mo
tua sama dengan dorang, torang musti hormati katu’ pa dorang yang so lebe tua
dengan so pelang.” Saya jadi bengga akan supir itu. Ternyata masih ada
supir muda seperti ini pikir saya. Sepanjang
jalan kami berbincang-bincang karena kebetulan saya duduk di depan di samping
dia. Ketika penumpang turun dia selalu memberi salam dan mengingatkan kalau ada
yang lupa atau tidak.
Di lain waktu saya
pernah naik sebuah mikro jurusan Tondano - Eris, supirnya pun seorang anak
muda. Nah, dia membawa mobilnya dengan baik, hanya sikapnya cuek dengan
penumpang, itu biasa dan tidak mengapa. Hingga seorang kakek tua turun dan
hendak membayar. Kakek ini turun amat perlahan dengan kondisi usianya. Sudah
lama turun mobil, lama pula dia merogoh dompetnya untuk membayar. Ada sekitar
beberapa menit berlalu dan supir itu tampak gerah dan marah. Dia sekejap melaju
meninggalkan kakek itu sambil marah kesal
Kakek itu sebaiknya
memang menyediakan uang bayar terlebih dahulu, namun akan alangkah baiknya jika
si supir bersabar menunggu uang bayaran dan memberi saran kepada si kakek
dengan baik-baik. Sarankan agar berikut kakek itu dapat menyediakan uang bayar
terlebih dahulu mengingat keterbatasannya yang sudah lambat dalam bergerak.
Ya, hidup ini serba
cepat, serba ingin segera berhasil. Segala sesuatu diukur dengan uang dan
materi, jika terlambat sedikit langsung diukur dengan kerugian uang dan waktu.
Seolah dunia tiada berpengasihan lagi kepada manusia yang harus berpacu untuk
mencari nafkah dan bahkan ada yang berpacu mengejar harta dalam ketamakan.
Kita yang sudah di
dalam Yesus tidak akan memberi diri dikuasai oleh dunia dan segala beban
tuntutannya. Sebab Kasih Yesus di dalam kita lebih kuat dari segala gerah dan
panasnya dunia yang membuat manusia tidak lagi saling menghormati dan
menghargai sesama bahkan yang lebih tua. Kini kita belajar dari kedua
pengalaman di atas. Kita memilih yang mana sobat? Mari kita memilih kasih dan
perhatian yang mengalahkan segala beban tuntutan dunia yang fana, Amin.
“Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut dan sabar.
Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.”
Efesus 4 : 2
No comments:
Post a Comment